Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 108 Sebelum ajal menjemput


__ADS_3

Yahya pov


Kayanya dia terlalu mempedulikan komentar orang lain akhirnya jadi begini. Tadinya seneng bisa ketemu nyatanya cuma sebentar banget,perasaan bokong baru nempel dikursi tapi sudah disuruh pergi. Tahu begitu aku balik aja tadi pas ngelihat banyak orang didepan. Sekarang aku merana karena cinta. Cinta yang belum pasti bisa berlabuh dan seakan terombang-ambing tanpa tujuan pasti. Adeeeh bucin akunya padahal belum apa-apa huft......


Dan tadi dia bilang "kita sama-sama gak bisa mengendalikan perasaan masing-masing" itu semakin menguatkan bahwa dia juga punya rasa terhadap aku. Semoga saja kami berjodoh aamiin.


Ya Allah aku lupa kalau masih didepan rumahnya. Memandang ke arah depan aku melihat mereka masih stay juga dengan muka-muka penasaran,aku masih jadi pusat perhatian. Perempuan memang tidak bisa jauh dari yang namanya gosip. Mending aku balik ke resto. Semangat mengumpulkan uang buat biaya nikahan sekalian kalau ada rezekinya beli rumah sederhana cukup untuk menampung keluarga kecil aku nanti.


"Mas...ada bapak didalam." sesampainya diresto seorang pegawai perempuan memberitahu tentang kehadiran big bos. Aku hanya mengangguk dan melewatinya dengan langkah panjang.


"Assalamu alaikum pa......" sapaku pada papa yang sibuk memandang layar laptop dihadapannya.


"Waalaikum salam...dari mana?" dahinya tampak berkerut dalam lalu terdengar tarikan napas panjang,menyenderkan punggung dengan menatapku lekat. Pasti ada sesuatu yang membuat papa tidak puas.


"Dari rumah Mita." jawabku singkat jelas dan padat. Papa melepas kaca matanya.


"Sudah berapa lama kamu mengelola resto ini?" tanya papa datar.


"Kalau tidak salah...hampir setahunan." aku masih menunggu ke mana arah pembicaraan papa.


"Nak...papa memberi kebebasan untuk kalian anak-anak papa memilih jurusan kuliah sesuai keinginan kalian karena papa yakin apapun jurusannya akan memiliki nilai lebih terutama dari segi pengalaman. Makanya dulu saat kalian masih kuliah papa mendorong kalian untuk magang supaya mendapat pengalaman yang lebih banyak."


"Papa izinkan kamu membantu usaha Mita sekalian belajar berwirausaha."


"Walaupun kita orang berada papa mengajarkan kalian untuk bekerja keras,memenuhi kebutuhan kalian sesuai porsinya agar kalian tidak menjadi anak yang manja."

__ADS_1


"Harta bisa habis jika kita hanya berfoya-foya tanpa bekerja keras."


"Kamu tahu...resto ini peninggalan kakek kalian yang diteruskan oleh papa yang hanya anak tunggal." ucap papa dengan pandangan menerawang.


"Dan sekarang papa serahkan ke kamu untuk dikelola dengan baik,berharapnya sama kamu yang lebih muda bisa berinovasi,memunculkan ide-ide luar biasa agar resto ini makin berkembang atau beranak pinak sampai memiliki cabang." papa kembali menatapku dengan wajah serius.


"Hingga pada saatnya nanti resto ini akan dikelola oleh keturunan-keturunan papa yang lain,bisa cucu papa mungkin dan kamu mengelola resto milik kamu sendiri." papa mengambil jeda sambil menghela napas.


"Papa bicara begini bukannya sedang menuntut kamu untuk bisa lebih sukses dari papa...bukan seperti itu."


"Papa cuma mau mengingatkan kamu,usia kamu sudah tidak muda lagi 27 tahun kan?"


"Belum pa masih mau 27 tahun." papa menggelengkan kepala mendengar jawaban ku yang memang tidak mau dituakan.


"Kamu itu...tetep aja 27 tahun kan."


"Iya pa buat biaya nikahan insya Allah sudah ada."


"Untuk yang lain-lain kamu ada?"


"Rumah sama kendaraan belum punya,semuanya masih numpang sama papa." aku tersenyum kecut,tidak memungkiri hal tersebut sedangkan perempuan yang aku lamar jauh melebihi aku,sudah punya rumah sendiri,kendaraan juga walaupun hanya motor,punya usaha sendiri dan penghasilan yang besar sebagai yutuber.


Yah aku seperti dingatkan tentang posisiku,dia yang jauh lebih muda dariku bisa berpikir cepat dan bergerak tangkas seakan tidak mau berhenti tumbuh dan berkembang sementara aku seperti duduk ditempat,belum ada pencapaian. Dari segi pendidikan pun dia hanya lulusan SMA dan aku lulusan sarjana. Keadaan sepertinya mempengaruhi pemikiran seseorang. Mungkin selama ini aku terlalu nyaman dengan keadaan ku hingga aku melupakan untuk belajar tumbuh dan berkembang. Sedangkan dia dengan kondisi terjepit seperti dipaksa untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat demi kehidupan yang lebih baik.


"Kok melamun?"

__ADS_1


"Iya pa aku tahu apa yang harus aku perbaiki." papa tersenyum sambil mengacungkan jempol.


"Papa sarankan kamu meminta bantuan sama Mita,kayanya anaknya punya potensi dalam hal ini." aku mengangguk patuh. Papa berdiri dan mendekatiku. Sedikit mencondongkan badan lalu berbisik pelan.


"Ini adalah kesempatan bagus untuk bisa lebih dekat dengannya." seraya menepuk-nepuk pundak ku,memberi semangat.


"Anak itu tipe pekerja keras kalau diajak ngobrol tentang kerjaan bakalan semangat." aku tersenyum,membenarkan ucapan papa.


"Paling sulit kalau diajak ketemuan tanpa alasan jelas." tebakan papa bener lagi,pengaruh umur kali ya,sudah makan asam garamnya banyak jadi hafal diluar kepala.


"Makanya dia tidak kepincut sama kegantengan kamu hehehe..." papa menertawakan aku.


"Kekayaan yang bukan dari hasil kamu sendiri." narik napas aja mendengar tebakan papa yang benar semua. Papa kembali terkekeh pasti karena melihat ekspresi muka aku yang asem.


"Makanya aku bisa suka sama dia yah karena itu pa,tidak matre dan punya prinsip yang kuat tentang agama. Memilih suami bukan dari tampang dan harta tapi dari akhlaknya."


"Pantesan kamu banyak berubah sekarang,jadi rajin sholat juga."


"Bukan rajin papa tapi kewajiban seorang muslim sholat lima waktu. Semenjak mengenal Mita aku jadi sadar jika selama ini aku menyia-nyiakan nikmat hidup yang diberikan Allah swt terus kepikiran mengulangi belajar mengaji yang banyak lupanya daripada ingatnya. Aku ngerasa berdosa pa terlalu sibuk mengejar urusan duniawi sampai lupa akhirat. Aku ingin lebih memperbaiki diri pa sebelum mengemban tugas yang lebih berat sebagai seorang suami,pemimpin rumah tangga." papa memandangku dengan tatapan penuh arti lalu tersenyum.


"Alhamdulillah..." aku kaget mendengar papa mengucap hamdalah. Selama ini tidak pernah sekalipun mendengar dari mulut papa tapi hari ini seperti dilancarkan.


"Subhanallah..." aku terharu,tidak aku sangka begitu mudahnya Allah memberi petunjuk sekaligus memberi hidayah kepada papa yang selama ini tidak pernah mengajarkan sholat pada anak-anaknya karena beliau pun tidak pernah sholat. Aku bersyukur karena sejak kecil aku seperti dituntun untuk memilih sekolah yang kental dengan agama sampai sekolah menengah atas,itupun atas didikan mama.


"Semoga papa bisa segera menyusul ketertinggalan papa mengemban tugas sebagai pemimpin dalam rumah tangga sebelum ajal menjemput papa."

__ADS_1


"Aamiin aamiin pa." aku mengangguk cepat. Nyatanya kita hidup tidak akan pernah puas ketika selalu menatap dunia.


__ADS_2