
"Hoam..." Mita menguap dengan tangan menutup mulut.
Gara-gara telat minum obat siangnya kemarin jadi jatah malamnya ikut molor. Lha bagaimana tidak? Saking asiknya julid sama Irham dia lupa akhirnya sholat mepet-mepet masih harus makan dulu sekitar pukul tiga baru minum obat.
Memang tokcer efek obat ditambah perut kenyang,belum sampai satu jam matanya berat seperti kena lem pengennya bulu mata saling melekat erat tak ingin lebih lama terpisahkan. Padahal habis mandi harusnya mata segar kan ini malah sebaliknya.
Mikirnya nanggung lewat asar jadi dialihkan dengan menonton televisi tapi kok ya tidak mempan begitu punggung nempel kursi bukannya menonton tv malahan tv nonton orang tidur.
"Neng bangun kalau ngantuk pindah ke kamar!"
Sampai dibangunkan emak tapi dia masih ingat untuk tidak tidur ba'da asar. Ada yang bilang dilarang tidur ba'da asar katanya bisa membuat gila. Memang siapa yang mau gila???
Akhirnya dia memutuskan menyibukkan diri sampai dilarang sama emak katanya jangan capek-capek baru sembuh disuruh istirahat tapi kan nanggung juga tidur setelah sholat Maghrib kalau belum minum obat jadi menunggu sampai jam minum obat.
Baru selesai minum obat mau berangkat tidur ada yang mengetuk pintu ternyata Bu Indah sekeluarga datang menjenguk mana mungkin baru sebentar langsung disuruh pulang. Mau tidak mau ya menunggu sampai mereka pulang. Padahal matanya tinggal lima Watt.
Satu belum pulang sudah datang yang lain mana rombongan,pak ustad sekeluarga sama ibu-ibu pengajian. Rumah jadi rame banget. Ditanya jawab seperlunya banyak kelirunya. Diajak ngobrol iya iya saja.
Emak ikut kena imbasnya bolak balik ke dapur buat minuman.
Bersyukur sekitar pukul sembilan malam pak ustad mengawali pamit duluan dan diikuti sama yang lain. Senang mereka mengerti keadaannya yang butuh istirahat. Sudah mau menutup pintu eh datang lagi tetangga sekitar juga sama ingin menjenguknya. Tidak jadi lagi istirahatnya. Rasanya sudah mau pingsan saja.
Akhirnya duduk lagi sekedar menghormati tamu,diajak ngobrol bener-bener sudah tidak nyambung ibarat kabel hampir putus.
"Ayok deh kita pulang kasihan mbak Mita kelihatan ngantuk banget sampek gak nyambung gitu diajak ngobrol!" celetuk salah satu dari mereka yang kompak undur diri setelah mendoakan agar cepat sembuh.
Akhirnya bisa bernapas lega. Sudah mengunci pintu depan dan menutup semua tirai terdengar suara mesin motor berhenti didepan rumah. Makin lemes saja. Dia berharap tamu orang lain tapi harapannya pupus ketika mendengar ketukan dipintu.
"Dek...!" itu suara kakaknya. Terpaksa buka pintu dan terlihatlah beberapa orang dibelakang melambaikan tangan sambil cengengesan.
"Nih temen-temen kakak pengen jengukin kamu!" Mita tampak putus asa lalu kembali duduk dengan malas. Kali ini dia sudah tidak bisa bertahan lagi memilih membuka kedok. Sengaja menguap berulang kali supaya tamu yang dibawa kakaknya sadar akan kondisinya yang sangat mengantuk. Sadar diri juga untuk tidak berlama-lama bertamu mengingat sudah lewat jam sembilan malam. Kan tidak baik bertamu ke rumah anak gadis malam-malam takut terjadi fitnah juga.
"Hoam..." matanya sampai berair. Terdengar helaan napas Dani.
"Sorry bro adik gw ngantuk berat nih mungkin efek minum obat jadi tolong kalian pulang aja yah adik gw butuh istirahat!"
Tidak menunggu mereka keluar Mita langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Dani menatap jengah adiknya yang terus menguap saat dia akan sarapan.
"Tidur sana!" Mita menggeleng.
"Aku mau ke depan aja gak baik tidur pagi-pagi resiko terkena penyakit mematikan. Jam segini nyamuk DB biasa berkeliaran juga gak mau aku digigit sama dia." bangkit dengan malas seperti memaksakan diri. Dani terlihat bodo amat dan melanjutkan sarapan pagi sebelum berangkat kerja.
Hari masih pagi. Matahari nampak malu-malu memunculkan diri tapi pancaran sinarnya cukup menghangatkan tubuh. Mita berjemur sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku apalagi dibagian leher,pundak dan punggung bagian atas.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara klakson motor.
__ADS_1
"Hai dek! Pagi!" celetuk satu orang lalu melepas helm.
"Assalamualaikum hai juga pagi juga!" bukan niat menyindir tapi membiasakan salam sebagai seorang muslim kemudian tersenyum tipis dan mengangguk sebagai adab sopan santun.
"Waalaikum salam..." jawab mereka serempak. Lalu pada tebar pesona sayangnya Mita tidak tertarik.
"Kak ditungguin temennya tuh!" teriaknya dari pintu depan lalu kembali sibuk dengan aktifitas sendiri.
"Mama kami berangkat!" pandangannya teralih pada suara tadi yang rupanya berasal dari rumah sebelah.
"Assalamualaikum Tante!" kalau yang ini suara Yahya. Mereka keluar bersamaan hanya berbeda arah. Satunya main lompat pagar pembatas,satunya berjalan santai sesuai jalur yang ada. Itu seperti memperlihatkan kepribadian masing-masing ibaratnya satunya lurus satunya lagi bengkok. Mita hanya bisa menghela napas.
"Assalamualaikum neng Mita!" satu rombongan datang lagi siapa lagi kalau bukan Irham,pak Darman dan pak Bowo.
"Waalaikum salaaam wr wb dikasih bonus komplit salamnya sama aku."
"Assalamu alaikum..." giliran Yahya mengucap salam.
"Waalaikum salam wr wb...Alhamdulillah seneng deh pagi-pagi didoain."
"Ngomong-ngomong aku baru sadar kok banyak kaum Adam yah jadi pengen nambah kaum hawa deh." sambil melihat ke sampingnya dimana Hafiz berdiri dengan salah kostum menurutnya. Santai tapi tidak sesuai sama pekerjaan yang akan dilakukan,bisa dibilang masih terlalu bagus sayang saja sama bajunya diajak kotor-kotoran. Melihat ke depan dimana Yahya berdiri seperti menyetarakan diri sama yang lain. Dapat darimana kostumnya,rakyat jelata banget? pikirnya.
"Weis nambah pasukan perempuan boleh dong neng biar ada temen cewe." minta disambit memang ini anak,pikirnya.
"Bang Yahya...." Irham yang melihat ke samping tampak terkejut sambil memperhatikan Yahya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Hafiz..." jawab Hafiz pendek.
"Ah iya bang Hafiz pake baju santai tetep kelihatan ganteng dan keren. Bang Yahya juga pake baju rakyat jelata kenapa malah makin ganteng aku yang paling muda ngerasa kalah saing." celetuk Irham yang langsung dapat keplakan dari bapaknya. Hafiz langsung membusungkan dada disebut ganteng dan keren. Yahya merespon dengan gelengan kepala.
"Jangan asal ngomong!" ucap pak Darman sambil mendelik. Yang lain terkekeh merasa lucu dengan tingkah mereka berdua.
"Hehehe...mereka sih bawaan orok dan gak usah dibandingin,sama saja kamu protes sama Allah."
"Allah tahu apa yang terbaik untuk umatnya jadi jangan iri sama kelebihan orang lain." sambung Mita.
"Tuh dengerin neng Mita jadi orang kok gak bersyukur banget bapak gak pernah ngajarin kamu begitu."
"Yah tapikan semua orang pasti kalau disuruh milih pengennya ganteng kalau perempuan cantik." Mita terkekeh.
"Sayangnya Allah gak ngasih pilihan. Bisa repot dengerin pilihan setiap orang milihnya pasti yang bagus semua hehehe...."
"Gak mau ngebayangin juga pusing." Mita menggelengkan kepala.
"Jelas itu neng..." ucapnya yakin.
"Jadi orang ganteng kan enak nanti dapetnya istri cantik." Mita menggeleng tidak setuju.
__ADS_1
"Belum tentu gak semua perempuan cantik memilih suami ganteng. Ganteng tapi buruk akhlaknya. Ganteng tapi gak kerja. Jelas perempuan gak mau mending mukanya pas-pasan tapi setia,baik akhlaknya,Sholeh lah."
"Intinya semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
"Kalau gitu aku kelebihannya apa?" Mita tersenyum.
"Pertama...kamu itu pengertian milih kerja demi membantu orang tua."
"Kedua peduli...gak melanjutkan sekolah karena kasihan sama orang tua dan demi adik-adik supaya mereka bisa sekolah."
"Ketiga...pekerja keras seusia kamu banyak kok yang sukanya main-main tapi kamu sudah kerja."
"Keempat...cekatan dalam melakukan pekerjaan."
"Kelima...bertanggungjawab sama pekerjaan selama aku gak ada kamu bisa diandelin padahal mah bisa aja kamu males-malesan mumpung gak diawasi. Kerja bagus..." diacungi jempol.
"Artinya aku gak ganteng kan?" bibirnya sudah manyun.
"Kamu salah...kamu itu maniiiiis."
"Masaaak?" dipuji manis dia langsung klepek-klepek. Mita balas mengangguk.
"Apalagi kalau ngomongnya lebih ramah,lebih sopan insya Allah cewe yang cantiknya kaya Syahrini bisa termehek-mehek sama kamu."
"Beneran?" matanya tampak berbinar.
"Insya Allah jika Allah mengizinkan... Kun fayakun deh pokoknya apapun yang Allah kehendaki bisa terjadi."
"Kamu pikir istri cantik gak butuh modal?" sahut pak Darman sambil mendengus kasar. Dari tadi kesal mendengarkan omongan anaknya. Ngomong asal ngejeplak.
"Cantik itu duitnya banyak. Butuh perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki." sambung pak Darman.
"Gak percaya...setahu aku nih pak neng Mita gak pernah perawatan tapi cantik,iya kan neng?" Mita menarik napas panjang. Anak ini ngeyel.
"Sudah sudah jangan diterusin mas Irham gak boleh berdebat sama orangtua dosa."
"Pada dasarnya semua perempuan itu cantik dan semua pria itu ganteng tergantung dari cara pandang orang."
"Contohnya bapaknya mas Irham beliau menikah sama ibunya mas Irham karena apa tentunya karena cantik dan baik menurut pandangan beliau,iya kan pak?"
"Iya betul itu neng. Istri yang mungkin gak sempurna bagi orang lain tapi menyenangkan untuk bapak. Mau menerima bapak apa adanya,sholehah. Satu lagi selalu spesial dihati bapak." Pak Darman terlihat malu-malu diantara semua orang yang terkikik geli mendengar suara hati beliau.
"Isy bapak romantisnya...jadi ngiri saya. Tuh dengerin bapaknya mas Irham yang sudah makan asam garamnya kehidupan. Lebih berpengalaman."
"Jadi 'ojo dibanding- bandingke!"
"Kalau gitu menurut neng Mita dari kami semua siapa yang paling ganteng?" tanya Irham tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Ini namanya pertanyaan jebakan.