
"Selamat pagi!" sapa seorang suster,masuk ke kamar rawat Mita yang dibalas 'selamat pagi juga!' mungkin non muslim,itu yang dipikirkan Mita.
Bersyukur,tadi habis subuh Dani sudah membersihkan lantai dengan tisu basah. Jadi suster masuk lantai sudah bersih tapi sayangnya tisu mahal-mahal cuma buat ngepel lantai kotor.
"Masih pusing?" tanya suster itu ramah sambil mengecek tekanan darahnya.
"Alhamdulillah sudah mendingan banyak." Suster tersenyum sambil mengangguk.
"Bagus...tekanan darahnya sudah normal."
"Masih lemes?"
"Sedikit." suster mengangguk lagi.
"Semalam bisa tidur nyenyak?"
"Enggak suster."
"Itu penyebabnya..." suster mengecek kantong infus masih tersisa setengah lalu mengecek frekuensi tetesan infus dan membenahi.
"Nanti sekitar jam sembilan dokter Shiela akan ke sini mengontrol sekiranya masih ada keluhan bisa dikatakan biar dipriksa lebih lanjut,dikasih obat yang sesuai keluhan dan biar cepet sembuh." pesan suster itu.
"Iya suster...makasih!" balasnya ramah.
"Ini kenapa wadah makannya penyok begini?" sambung suster itu saat matanya melihat wadah makannya penyok.
"Hehehe...semalem gak sengaja terlempar dan tertimpa kakak saya yang jatuh pas jalan ke sofa. Maklum masih ngantuk jadi gagal fokus." mana mungkin Mita jujur,malu.
"Nanti bisa diganti sama saya sekalian dimasukkan ke biaya perawatan suster."
"Ya sudah gak pa-pa namanya juga kecelakaan. Saya pamit permisi!"
Sendiri lagi! Mau main hp masih dibawa Dani. Insiden tengah malam membuatnya tidak berdaya. Jangankan minta hp ngomong saja tak berani.
Seperti pahlawan kepagian,Yahya datang menenteng kantong ditangannya.
"Assalamu alaikum...!" sapa Yahya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Waalaikum salam wr wb...pucuk dicinta ulam pun tiba,kak Yahya selalu bisa diandelin..." balasnya ceria pakai puja dan puji segala pasti ada maunya.
"Mau apa?" tembak Yahya dengan muka datar. Sudah hafal banget sama sifat gadis didepannya kalau ada maunya.
"Hehehe...tahu saja!" dia nyengir.
"Bentar...mau duduk dulu,capek!" berpura-pura narik napas panjang supaya terlihat meyakinkan dan sengaja mengulur waktu,merasakan sensasi menjadi orang yang sangat dibutuhkan oleh orang lain. Jika Mita tahu niatnya pasti mencak-mencak,Yahya menahan tawa saat membayangkan reaksi Mita.
"Nih tadi ku beliin bubur ayam...rasanya jelas beda sama buatan rumah sakit,iya kan?" Yahya meletakkan bawaannya di meja sebelah tempat tidurnya lalu mengernyit heran sekilas matanya menangkap sesuatu.
"Ini kok penyok?" tunjuknya pada wadah makan itu. Mita melengos.
"Jangan bahas itu!" justru membuat Yahya makin penasaran.
"Tapi aku pengen tahu!" terdengar memerintah bukan permintaan. Mita tidak berdaya demi hpnya ia terpaksa cerita.
"Semalam karena pengen ke kamar mandi karena dipanggil gak bangun-bangun jadi ku lempar itu wadah,baru kak Dani bangun." Mita jeda sejenak sambil minum air. Rupanya haus sampai habis setengah botol tanggung.
"Selesai dari kamar mandi dia jalan setengah merem menahan kantuk akhirnya kepleset pas nginjek bubur yang berceceran,pantatnya menimpa wadah itu sampe penyook..." Yahya tersenyum mendengar cerita Mita yang terdengar konyol.
"Kasihan banget sih kakak kamu...kamu juga main lempar pasti kagetlah."
"Itu alasannya gak berani minta hp sendiri?" tanya Yahya.
"Iya..." jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Tolong dong telpon kak Dani mintain hp aku!" dia mengatupkan tangan didada dengan tatapan memohon.
"Jangan deh! wa saja kalau telpon ketahuan banget aku gak berani minta sendiri begini kan jadi ada alasan hehehe..." sambung Mita kelihatan plin plannya. Yahya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sudah di wa ni..." Yahya menunjukkan layar hp pada Mita yang melihat dipojok atas ada tulisan mengetik.
"Itu kak Dani balas..." tunjuknya senang. Benar saja langsung terdengar nada pertanda pesan masuk. Yahya mengangkat alisnya saat membaca balasan dari Dani.
"Kakakmu otw ke pabrik katanya!"
"Hah...alasan itu otw kok bisa balas." dengusnya sebal.
__ADS_1
"Ish...gimana sih? pulang gak pamit mana gak pegang hp terus kalau butuh apa-apa memang mau telepati..." dia terus menggerutu,terlihat lucu dimata Yahya. Iya...orang itu kalau lagi jatuh cinta 'tahi ayam saja dikira cokelat'
"Telepati?" ulang Yahya tak mengerti maksudnya.
"Komunikasi lewat batin...itu kalau ngilmu."
"Apaan lagi itu ngilmu?"
"Ilmu rahasia batin..."
"Ada-ada saja kamu." Yahya geleng kepala.
"Aduh...bilangin suruh anterin ke sini!" Yahya langsung kirim pesan ke nomer Dani dan dibalas...
"Sudah nyampek pabrik katanya!" Mita langsung lemas seperti kehilangan harapan untuk hidup.
"Arghhh..." Mita kesal setengah mati dan cemberut.
"Istighfar...masih ada aku disini!" Mita melengos.
"Gak mau ditungguin kak Yahya...maunya sama perempuan nanti kalau aku butuh ke kamar mandi siapa yang anterin? gak mungkin kak Yahya..." Mita menatap Yahya horor lalu cemberut.
"Assalamu alaikum...!" Mita mengenal suara itu.
"Waalaikum salam...ibu!" sambil menoleh ke pintu dengan senyuman lebar. Begitu Bu Indah masuk rupanya masih ada antrian dibelakang siapa lagi kalau bukan Hafiz.
"Itu permohonan kamu langsung terkabul." ucap Yahya. Kesedihannya menguap begitu saja. Yahya dan Hafiz hanya menyimak interaksi diantara kedua perempuan beda generasi itu. Meskipun berbeda mereka tetap satu jua,cocok. Dari tadi sibuk bercerita seperti tak bertemu sangat lama hingga ketukan dipintu menghentikan obrolan mereka. Shiela datang lengkap dengan seragam dinasnya.
"Dokter Shiela...cantik banget!" puji Mita yang terpukau dengan kecantikan Shiela. Yang dipuji malah bersikap biasa seperti sudah biasa dipuji.
"Saya mah belum mandi..." ucapnya cemberut sambil menciumi badannya sendiri.
"Pasti bau asem ini..." Shiela menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya dengan rasa bangga. Ternyata ia tidak bisa dibandingkan dengan anak ingusan didepannya,bisa-bisanya membuka aib sendiri didepan para pria sama saja menjatuhkan diri sendiri,pikirnya.
"Wajarlah kan belum ada yang bisa bantuin kamu ke kamar mandi!" Yahya terdengar membela Mita membuat Shiela muak.
Tidak mau berlama-lama,setelah menjalankan tugasnya dia pergi sambil berpamitan dengan ramah terutama pada Yahya yang terlihat berbeda,seperti enggan berpisah dengan Yahya. Melihat itu Mita terkekeh.
__ADS_1
"Cie...cie...ada yang naksir nih!" goda Mita sambil melirik Yahya dengan senyum tertahan. Yang digoda santai saja.
"Sudah ayo mandi malu sama cowo-cowo!" acara goda menggoda dibubarkan sama Bu Indah yang langsung memapah ke kamar mandi.