
"Ibu....aku pergi!" Mita memeluk Bu Indah erat.
Bu Indah mengangguk dibahunya dengan penuh kerelaan,melepas putri angkatnya untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Merungkai pelukan sambil tersenyum dan mengelus lengan Mita,memberi dukungan.
Mita melongok ke rumah Bu Indah,berharap Hafiz akan keluar untuk mengantarkan kepergiaannya. Yah...mereka memang masih terlibat cinta bertepuk sebelah tangan tapi tidak bisakah Mita berharap kebaikan dalam hubungan mereka setidaknya menjadi adik dan kakak ketemu gede.
"Sudah....jangan kau harapkan lagi!" Bu Indah menggeleng,tampaknya masih kesal pada putranya,Mita tersenyum lembut.
"Ibu....kendalikan amarah,yang aku tahu kemarahan seorang ibu bisa membuat hidup anaknya serba terkendala." Bu Indah menatap lekat Mita seraya mengelus pipinya sayang.
"Andai dia seperti kamu...." Mita menggenggam tangan Bu Indah.
"Insya Allah atas doa seorang ibu semoga Allah menijabah.....aamiin."
"Makasih....." Bu Indah tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah.....rumahnya gak jauh juga masih didaerah sini juga kan...." mau nangis tapi dibuat tertawa biar situasinya tidak menyedihkan. Untuk mencapai kebahagiaan lain memang biasanya akan mengorbankan sesuatu yang berharga.
"Kejarlah impian mu!" Bu Indah membingkai wajah Mita.
"Ibu akan mendoakan yang terbaik untukmu." Mita kembali merasakan kehangatan dari seorang ibu.
"Aamiin....makasih Bu,aku sayang ibu!" dipeluknya lagi Bu Indah dengan erat.
"Aku pasti akan merindukan ibu." bisiknya. Tidak mudah memang meninggalkan orang-orang yang kita sayangi.
"Dek...ayo!" ucap Dani,tidak ingin berlama-lama atau ketegaran yang ia bangun sejak pagi akan roboh. Dia sama sedihnya.
"Pergilah!" Bu Indah mengangguk dan tersenyum,menarik tangan Mita masuk ke dalam mobil.
"Maaf....ibu gak bisa mengantar ke sana insya Allah lain kali ibu usahakan datang ke sana." Dani membuka pintu mobil untuknya.
"Masuklah!" tapi Mita enggan masuk,masih berdiri berhadapan dengan Bu Indah sambil mengamati rumahnya yang akan ia tinggalkan,seakan sedang merekam setiap sudut rumah itu sebagai memori didalam hati dan pikirannya.
Bayangan masa kecil seolah kembali muncul didalam rumah itu hingga membuatnya tersenyum dan langsung sedih saat teringat jika saat ini dia akan pergi meninggalkan semua kenangannya dirumah itu.
"Jika kau ragu kenapa harus pergi,tetaplah tinggal disini." ternyata Dani masih terus berusaha menghentikannya. Mita tersenyum lalu masuk. Menarik napas panjang seakan menguatkan hatinya.
"Bu....aku pergi assalamu alaikum..." pamitnya dengan tatapan lurus ke depan,tidak ingin menoleh lagi atau dia akan merasa semakin berat untuk pergi.
"Iya nak waalaikum salam....hati-hati!" Bu Indah melambaikan tangan.
Mita dan Dani pergi dengan mobil online sedangkan kedua motor mereka sudah dibawa oleh Irham dan yang lain.
"Rumah itu akan sangat sepi setelah kepergian mu..."
"Sebentar lagi rame stelah anak kembar kak Dani lahir."
"Itu gak sama." Mita mengerutkan dahi.
"Mereka masih bayi gak bisa disuruh-suruh." Mita melotot lalu mencubit perut kakaknya yang meringis kesakitan.
__ADS_1
"Galak banget sih....kasihan suamimu nanti dikit-dikit nyubit." Mita melengos,menyenderkan kepala dipintu mobil,menatap jalanan.
#############
Dari jarak satu meter tampak orang berkerumun didekat rumahnya.
"Dek...rame amat,ada tontonan yah?" Mita mengangkat bahu karena dia sendiri tidak tahu. Mobil berhenti tepat dihalaman rumahnya.
"Gila.....sebesar ini luasnya?"
"Dua kali lipat luas rumah kita ini."
"Kamu beli dengan harga berapa?" Dani terus bertanya.
"Murah kok...." Dani tidak percaya.
"Hampir dilelang tanah ini jadinya murah." Dani mengangguk paham.
"Iya murahnya berapa?" Dani kesal dari tadi ditanya tentang harganya malah jawabannya lain. Mita menghela napas,tidak ingin berdebat.
"Gak ada waktu buat ngambek kasihan drivernya kelamaan disini nanti gak bisa kejar setoran....ayo keluar!" didorongnya Dani yang menggerutu untuk keluar dari mobil.
"Aku juga yang disalahin bukannya tadi kamu kelamaan terkenang-kenang jadinya gak berangkat-berangkat..."
"Coba tadi gak aku ajak berangkat makin lama....."
"Isy ngomel terus kaya Mak nenek..." Mita ikut keluar setelah membayar ongkosnya.
Semua mata memandang ke arah mereka berdua yang saling memandang karena heran,rupanya orang-orang ini sedang menyambut kedatangannya.
Menoleh ke samping,Mita bengong dari tadi melihat respon Dani yang menurutnya berlebihan.
"Heh....kamu terpesona begitu." Mita mendengus.
"Geer...." melangkah dengan pelan dengan anggukan kepala dan senyum simpul. Aneh tidak ya,pikirnya.
"Namanya Mita,calon mantu saya......" dahinya tampak berkerut dan menoleh ke arah suara. Bapak RT rupanya,menyebut dirinya sebagai calon mantu. Mita kembali menarik napas dan melangkah dengan cepat. Sedangkan Dani berjalan dengan percaya diri dan berwibawa sambil tebar pesona pada cewe-cewe yang ia lewati. Terdengar bisik-bisik....
"Ya ampun....ganteng banget."
"Sudah punya gandengan belum yah...."
"Eh siapa dia?"
"Jangan-jangan pacar,tunangan atau suaminya!"
"Masih kosong itu disebelahnya.....hahaha..."
"Aduuh....bisa ganteng dan cantik gitu yah."
"Eh....ngelihat wajahnya kayanya mereka saudara." Dani merasa bangga pada dirinya sendiri,dipuja dan dikagumi banyak cewe.
Hingga dua mobil memasuki halaman dan orang-orang kembali dibuat terpesona setelah orang-orang didalamnya keluar.
__ADS_1
"Eh.....ada apa ini ya kok rame,pake disambut segala." komentar mamanya Yahya dengan bingung.
"Kamu tahu?" Yahya menggeleng.
"Gak tahu Ma,Mita gak bilang apa-apa."
"Kamu dan kak Hanif tolong bawa kuenya masuk yah." Bu Tita dan suaminya masuk duluan bersama Latifa dan kedua cucunya meninggalkan para jagoan yang akan membawa barang bawaan dibelakang.
Kembali terdengar bisik-bisik.
"Kalangan orang tajir ini lihat kue-kuenya kelas atas...."
"Iya....."
"Beneran ini calon mantunya pak RT?" Yahya yang melewati,mendengar jelas orang-orang menyebut calon mantu pak RT tapi siapa itu hanya tersimpan didalam hati,mengingat kondisinya belum tepat untuk meminta penjelasan.
Didalam rumah,semua orang kebingungan terutama Mita sebagai tuan rumah,bertanya pada emak dan yang lain kenapa bisa ada banyak orang?
"Bapak RT itu ngaku-ngaku ke semua orang katanya kak Mita calon mantunya." jelas Irham bersingut-sungut.
"Jadi aja pada penasaran,kak Mita famous..."
"Apaa?" Mita melotot kaget.
"Dari pagi itu mereka disini pengen lihat calon mantunya pak RT katanya...."
"Kamu kali dek ngasih harapan palsu!" ucap Dani yang disambut tatapan tajam Mita.
"Sembarangan....tanya Irham,dia saksinya aku gak ngomong apa-apa kok ke pak RT kecuali ngasih tahu kepindahan ku sama ngasih KK KTP...iya kan Ham?"
"Iya...."
"Dia tuh yang ngasih harapan,makan banyak ditempatnya pak RT." ucap Mita kesal,menatap Irham.
"Lho kok aku?"
"Disuguhi makanan ya aku makan lah." tidak menyadari jika Yahya dan keluarganya ikut mendengar percakapan mereka. Yahya merasa harus mengambil tindakan,mumpung bersama keluarga sekalian melamar secara resmi tapi masalahnya dicincin.
Yahya memanggil mamanya dan berbisik-bisik untuk menyampaikan niatnya.
"Masalah cincin bisa pake punya mama!" Yahya merasa lega,tidak punya kendala kebetulan juga mereka membawa banyak kue bisalah dijadikan seserahan. Niat awal biar dibuat suguhan dan dibagikan pada tetangga baru yang datang ternyata ada hikmah lain.
"Halo....semuanya...." bapak RT menyapa.
"Kita semua disini pengen kenalan sama tetangga baru."
Masalah baru,Mita tidak menduga akan seperti ini. Dia memang membawa makanan dan kue tapi melihat banyaknya orang yang datang mana cukup. Dia tampak gelisah.
Bu Tita mendekat dan berbisik pada Mita,memberitahu untuk menyuguhkan kue yang dibawanya dari rumah.
"Sebentar yah pak RT biar kami siapkan tempatnya." Mita meminta Irham dan yang lain menggelar tikar diruang tamu dan teras.
"Kak...tolong bantu dibawa ke belakang yah!" diamankan langsung ke belakang.
__ADS_1
Sedangkan Mita menyiapkan kue untuk ditata diatas piring.