Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 162 Menjaga perdamaian


__ADS_3

Beberapa minggu ia abaikan panggilan dan pesan dari Dani tentang permintaannya yang menginginkan emak membantu mengasuh si kembar dan hari ini adalah penentuan. Sekitar pukul delapan pagi emak diantar ke rumah Dani dengan didampingi semua orang kecuali pak Bowo karena harus menjaga rumah lagipula tidak begitu penting juga.


Tidak tahu bagaimana bisa terjadi hanya saja Irham keukeuh ingin ikut dengan alasan ingin melindungi saudari perempuannya yaitu Mita sedangkan pak Darman yang sedari kemarin mengetahui Irham sudah emosi terpaksa ikut demi menjaga perdamaian ahh Mita sampai pening melihat Irham yang keras kepala saat sudah punya keinginan. Mereka sudah seperti anggota pahlawan power rangers datang berlima.


Dani yang melihat merasa heran dengan segerombolan orang yang mendatangi rumahnya dihari Minggu hari dimana dia bisa bersantai namun mendadak menjadi hari tersibuk dalam sepekan. Itu karena kehadiran si kembar saat dirumah dia merasa diwajibkan membantu mengurus mereka kalau tidak maka istrinya akan mengamuk dan ia terpaksa menurut,malas mendengar ocehan perempuan yang tidak bisa berhenti kalau sudah mengomel kupingnya sampai keriting.


"Ada apa kalian semua ikut ke sini?" tanyanya dengan malas.


"Nganterin emak sekalian ngejenguk si kembar apa gak boleh?" kilah Mita sambil mempersilahkan semua orang duduk karena penghuni rumah tidak peka dan songong.


"Mana si kembar?" tanya Mita lagi.


"Didalam lagi tidur tapi awas jangan gangguin mereka barusan tidur entar rewel kalau sampai kebangun lagi." jawabnya sambil mengancam dan Mita hanya menarik napas mendengar ucapan kakaknya yang kasar.


"Kamu kan kebiasaan kalau ke sini suka gangguin ketenangan orang." sindir Dani tersenyum mengejek. Mita sudah kebal hanya merespon dengan senyuman berbeda dengan Irham yang langsung dongkol mendengar Mita dikatai "suka mengganggu ketenangan orang" bukannya kebalik ya situ yang suka mengganggu ketenangan orang pikir Irham kesal. Tapi untung diberi kode sama bapaknya kalau tidak pasti sudah dibalas berkali lipat olehnya.


"Ok." hanya itu jawaban Mita.


"Ya udah mau apalagi emak sudah selamat sampai dirumah ini kalian bisa pergi lagian aku capek ngurusin dikembar mau istirahat." adeeh ini orang makin lama makin nyebelin. Makin seenaknya,tidak tahu diri dan tidak tahu sopan santun. Setidaknya bisalah memandang ada yang lebih tua bicara yang sopan.


"Masih ada urusan." ucap Mita langsung ke intinya.


"Oh...." dia berlagak peduli padahal kebalikannya.


"Pentingkah?" suaranya terdengar meremehkan membuat Irham geram namun ditahan atas perintah bapaknya.


"Emak mau ngomong." sambung Mita memberi kode pada emak mempersilahkan untuk bicara.


"Mau ngomong silahkan." gayanya seperti yang dibutuhkan padahal dianya yang butuh. Mita sampai menghela napas berulang kali melihat kecongkakan kakaknya yang entah tertular dari siapa perasaan dulu tidak begitu pikirnya.

__ADS_1


"Sebelumnya emak minta maaf mas Dani dan....mbak Nuri...." kebetulan Nuri hadir dengan membawa minuman untuk disuguhkan kepada semua orang kemudian ikut duduk disebelah Dani yang hanya melirik.


"Iya Mak gak pa pa sudah dibantuin kami makasih sekali." jawab Nuri mewakili karena Dani diam saja. Rupanya disini Nuri yang justru jauh berubah tidak seperti dulu syukur Alhamdulillah pikir emak.


"Emak disini cuma bisa bantu sedikit seperti mengarahkan dan menggendong sebentar saat mas Dani dan mbak Nuri sedang sibuk kalau untuk yang lain emak kayanya gak bisa....tahulah sendiri emak ini kan sudah tua takut salah...." cerdas emak,kata-kata pancingan sudah diutarakan.


"Lagian kata neng Mita hanya sementara kan ya jadi insya Allah emak siap membantu." sambung emak dengan tersenyum yang langsung disambut Dani dengan ekspresi tidak rela.


"Mana bisa begitu aku kan kerja pulangnya pengen langsung istirahat cape." sanggahnya keras. Mita langsung mendelik heeh manusia tidak tahu diuntung sudah dibantuin juga masih banyak maunya pikir Mita tapi berusaha menyabarkan diri. Dari tadi tangannya sudah digenggam terus oleh Yahya supaya tidak terpancing emosi.


"Maaf mas Dani bukannya saya lancang tapi maksud emak adalah membantu bukan sebagai pengasuh bayi kalaupun mas Dani berkeinginan seperti itu bisa mencari yang lain yang lebih muda dan bisa diandalkan tenaga dan waktunya." jelas Yahya gamblang dengan memukul mundur Dani yang seakan ingin kembali menyanggah tapi urung.


"Emak sendiri memang gak bisa....lihat usia beliau....tubuh beliau yang sudah ringkih apa mas Dani tega kalau emak sakit gimana?" bujuknya dengan kalimat yang sopan.


"Mas Dani yang pulang kerja pengennya langsung istirahat apalagi emak yang sudah berusia." skakmat Dani langsung melengos kesal.


"Iya kak lagian aku juga kurang setuju kalau emak disuruh bantuin ngurus si kembar tahu sendirilah kaya apa rasanya lagian gak enak juga sama keluarga emak kalau sampai emak sakit karena kelelahan." kepalang basah sekalian nyebur,akting musti meyakinkan dengan menunjukkan gayanya yang kelewat memelas dan penuh rasa tidak tega agar manusia didepannya berempati.


"Kalau bantuin sementara bolehlah." disini yang berkuasa adalah dirinya jadi jangan mau diperdaya.


Setelah mendengar penuturan Mita,Nuri tampak menunduk dengan muka bersalah tapi juga tersudut seakan tidak punya jalan keluar,suaminya yang enggan mencari pengasuh dan setiap kali diajak bicara pasti bilangnya biar emak saja yang bantuin.


"Tapi bukannya selama ini emak kerja dan digaji sama kamu jadi apa salahnya kalau ngurusin si kembar?" eh ini orang dikasih hati minta jantung. Kemarahan Mita langsung memuncak tapi kemudian menarik napas panjang.


"Kak....selama ini emak aku anggap keluarga sendiri jadi bukan kerja sama aku." balasnya dengan suara tertahan.


"Kalaupun aku ngasih uang ke emak itu untuk pegangan biar bisa nabung." sambungnya masih berusaha menahan diri.


"Ya ya terserah kamulah." jawaban Dani yang terdengar sungguh menjengkelkan.

__ADS_1


"Ya iyalah terserah aku." akhirnya pertahanannya jebol,Irham yang menyaksikan malah tersenyum puas melihat kemarahan Mita. Sedari tadi dia seperti terkungkung karena tidak bisa melampiaskan kekesalannya.


"Sekarang gini aja maunya kak Dani apa?" tanyanya dengan tatapan tajam,Dani terdiam.


"Kalau maunya yang bisa diajak nge full mending cari orang." putusnya tegas tidak mau bertele-tele dan Dani masih diam tidak menjawab entah apa yang dipikirkannya. Memalingkan muka untuk menutupi rasa malunya.


"Sabaar...." sela Yahya,keputusannya untuk ikut serta ternyata tidak sia-sia dari tadi dia bertindak sebagai berdera perdamaian saat terjadi letupan emosi disisi istrinya.


Mita langsung kembali menarik napas panjang. Akhir-akhir ini dia memang mudah sekali marah yang berujung pada kepala yang berdenyut. Ia menyadari bahwa penyebabnya adalah cara berpikirnya yang salah dihadapan Allah.


"Astaghfirullahaladzim...."


"Minum dulu!" perintah Yahya sambil menyodorkan segelas air ke mulut Mita yang langsung meminum sampai setengahnya.


"Kalau sedang marah lebih baik duduk." ditariknya tangan Mita pelan supaya duduk.


"Masih marah?" tanyanya sambil membingkai muka Mita yang langsung mendapat cibiran dari Irham.


"Halah malah mesra-mesraan didepan orang." memandang malas pada dua orang didepannya yang tampak tidak peduli.


"Udah deh bubar aja biarin yang punya urusan menyelesaikan sendiri lagian anak-anak sendiri ngapain kita yang jadi ribet."


"Gak hanya dia kok semua orang punya urusan kali." sindir Irham dengan tajam mengalahkan sebilah pedang.


"Ayo Mak kita pulang aja ngapain juga disini yang dipeduliin gak peduli sama kita....malah songong."


"Lagian kita masih manusia biasa kalau gak sanggup ya jangan dilakuin begitu aja kok repot."


"Biar dia rasakan sendiri betapa gilanya diriku...." suara semakin menghilang karena pak Darman langsung menyeret Irham keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2