
Percakapan yang baik adalah yang membawa kebaikan dan manfaat,dipikir dulu bagaimana menyampaikannya agar tidak menyakiti hati orang lain namun pada kenyataannya tidak semua orang bisa berpikiran dan bersikap baik. Contohnya yang satu ini.
"Gimana soal ayam-ayam yang jatuh sakit? Apa sudah punya solusi?" tanya Yahya dengan muka serius,ini mengenai soal hidup dan mati makhluk bernyawa tentu saja harus serius.
"Tadi aku coba kasih jamu tradisional yang dicampur air hangat ya supaya badannya ayam hangat bisa mengurangi flunya kemarin gitu caranya di yutub." Yahya mengangguk paham.
"Segitu repotnya ngurusin ayam!" komentar Hafiz yang tidak direspon sama mereka bertiga dianggap nyamuk hanya melirik saja.
"Kenapa gak dikasih lampu aja musim hujan begini hawanya dingin kan butuh kehangatan?" usul Dani santai.
"Kehangatan? Kaya manusia saja." Masih bisa dianggap angin lalu.
"Bagus sih idenya tapi apa kak Dani bisa masang kabel sama lampunya?"
"Hehehee...gak bisa cari orang saja." Mita mengangkat alis,itu berarti akan ada tambahan biaya untuk pemasangan lampu dan obat. Jadi kepikiran budidaya tanaman obat kan bisa lebih hemat pikirnya.
"Saya bisa tapi besok ya masangnya pas hari minggu..." Yahya unjuk diri artinya gratisan tapi tidak juga agar tidak merasa berhutang budi harus balas budi setidaknya menyiapkan makan,cemilan dan minuman sebagai ungkapan terima kasih.
"Beneran ni pak,saya gak enak masak bapak masang lampu ini di kandang ayam lho kotor bau?" Yahya menghela napas. Sudah diingatkan jangan panggil bapak tapi sulit.
"Iya...kita bukan murid dan guru."
"Sudah jadi rekan kerja jadi jangan panggil bapak lagi kedengarannya saya tua banget." keluh Yahya yang disambut kekehan Mita.
"Memang sudah tua dibandingkan kita..." Yahya sama sekali tidak terpengaruh tetap tenang.
"Sepakat...dipanggil kakak saja ya...duh Alhamdulillah senengnya jadi punya tiga kakak insya Allah terhebat." ucap Mita penuh dengan ekspresi ceria dan bahagia.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau jadi kakak kamu?" protes Hafiz dengan muka cemberut. Mita pura-pura tidak mendengar,yang tidak bermanfaat dianggurin saja beres hemat tenaga.
"Dek...sebaiknya kamu cari orang untuk bantu-bantu ngurus ayam!"
"Kakak kasihan sama kamu pasti capek kan ngurus rumah,ngurus ayam,ngurus tanaman takut kamu sakit juga tuh lihat mata mu berkantung dan hitam kaya mata panda." matanya melotot kaget.
"Huh.....beneran?" Dia mencoba berkaca di kaca jendela tepat berada dibelakang kursi yang diduduki Hafiz namun buram tidak begitu jelas.
"Awas minggir kak Hafiznya aku mau lihat!" perintahnya dan Hafiz menurut saja agak memiringkan badan dan kepala ke samping.
"Gak kelihatan kak coba miring lagi!" sambungnya terus fokus berkaca tapi sama hasilnya hanya kelihatan bulatan mata dikaca.
Dani melihatnya mengerut heran dan bingung mana bisa kaca jendela dibuat berkaca,suka aneh-aneh saja,pikirnya sementara Yahya menahan tawa menurutnya Mita itu pinter tapi terkadang terlihat tidak masuk akal juga.
"Aduh kok tetep gak jelas hanya kelihatan bulatan mata saja." gerutunya sambil tengok kanan tengok kiri siapa tahu kelihatan.
"Aw......sakit remuk badan ku." suaranya terdengar menderita.
"Hah......Ya Allah kok bisa ambruk begini sih!" Mita langsung panik dan melompat mendekati Hafiz yang meringis menahan sakit. Mita ingin membantu tapi dia masih ingat menjaga batasan lagipula ada dua orang lelaki yang bisa membantunya.
"Ayo bangun mas Hafiz!" Yahya sudah berjongkok di dekat kepala ingin mendudukkan Hafiz namun langsung ditolak,niatnya kan ingin menarik perhatian Mita. Sesakit-sakitnya dia masih lelaki tidak perlu diperlakukan seperti wanita pakai diangkat kepalanya untuk bangun.
"Aku masih bisa berdiri sendiri..." tolaknya sambil mendengus sebal.
"Gara-gara kamu ini ngaca kok dijendela jelas mana kelihatan jadinya jatuh kan!" keluh Hafiz sambil menepuk pelan bajunya yang terkena debu.
"Kamu itu aneh-aneh saja dek!" gerutu Dani, Mita garuk kepala menyadari kebodohannya. Yahya menggelengkan kepala antara kasihan dan ingin tertawa.
__ADS_1
"Kamu juga nurut aja disuruh miring kenapa gak pindah tempat asalnya mau aku ingetin, badan segede gaban ya pasti ambruklah...cinta sih cinta tapi jangan sampai buta itu namanya setor nyawa untung gak disuruh nyemplung sumur...bakalan koid." sambung Dani sambil membuat gerakan memotong leher. Mendengarnya Hafiz melengos kesal.
"Hehehe...maaf...aku gak sadar!" Mita mengacungkan dua jari tengahnya tanda perdamaian.
"Ada yang sakit gak?" tanyanya sambil menilik tubuh Hafiz.
"Ya sakitlah." balasnya sewot.
"Lebih sakit lagi saat kamu gak mau nolongin aku tadi."
"Mana tanggung jawab mu sama aku?" Mita bingung tangung jawab untuk hal apa? Memangnya dia menghamili seorang gadis dimintai tanggung jawab.
"Tanggung jawab apaan? Tadi udah diwakilin sama kak Dani dan kak Yahya juga lagian situ jatuh sendiri bukan aku dorong."
"Tetep aja gara-gara kamu...kalau gak disuruh miring sama kamu aku gak akan jatuh." ucapnya kesal.
"Aku gak ngerasa bikin kak Hafiz jatuh biar lebih nyata sekarang duduk lagi dikursi terus aku dorong biar jelas aku yang ngejatuhin.....gimana?" ucapnya kesal sambil cemberut.
"Stop....kalian ini kaya anak kecil dari tadi ribut terus apa gak capek hah?" omel Dani meninggikan suara.
"Sabar Mas Dani hadapi dengan kepala dingin saya balik dulu udah sore....assalamu alaikum." Setelah memberi nasehat sambil menepuk pundak Dani Yahya pergi.
"Ada apa nak Dani kenapa ribut-ribut?" tanya Bu Indah tiba-tiba keluar rumah saat mendengar teriakan Dani.
"Ini Bu mereka berdua ribut terus pusing kepala saya." Dani yang emosi langsung masuk ke rumah disusul Mita tanpa memandang ke arah Hafiz.
"Pulang kamu! Laki-laki kok ngajak ribut anak gadis...malu-maluin mama aja!"
__ADS_1