Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 93 Rukun iman ada enam


__ADS_3

Hari itu rupanya menjadi hari terakhir teman-teman Dani datang ke rumahnya,kecuali Adnan bersama putra kecilnya yang masih suka datang tiap weekend,katanya mengajak jalan-jalan. Tiap ditanya kenapa tidak ke mall seperti yang lain kan banyak permainan disana alasannya membiasakan hal baik sejak dini. Aneh menurutnya.


"Maksudnya ke sini membiasakan hal baik yang gimana?" tanyanya dengan heran.


"Disini kan bisa mengenalkan dia sama hewan dan tumbuhan sebagai ciptaan Allah." masuk akal.


"Tapi kan gak terus-terusan ke sini sesekali mengenalkan sama permainan dan ketemu sama temen-temennya kan baik juga. Belajar berinteraksi dengan hal baru dan temen baru. Kebanyakan ngeliat hewan dan tumbuhan yang sama bosan,dia perlu belajar yang lain. Ini sih alesan bapaknya aja males ngajak ke tempat lain,takut ngabisin duit kan? Ngeles aja kaya bajaj." Adnan tertawa. Mita memandang Adnan heran.


"Kenapa?" tanya Adnan dengan menaikkan alis.


"Ngerasa woow ngeliat orang yang jutek terus tertawa." Adnan masih tersenyum.


"Masak? Gak seneng?"


"Bukannya gitu yah senenglah ngeliat orang jutek berubah lebih baik itu kan bisa dianggap dapat hidayah dari Allah masalahnya aneh buat aku terkesan mendadak,belum terbiasa atau jangan-jangan mas Adnan lagi suka sama sesuatu jadi kebawa seneng terus jadinya?" ucapan Mita barusan menohok ke dasar hatinya,seperti menyadarkan dirinya dari sesuatu yang tidak disadarinya.


Setelah ngobrol sama bapaknya giliran ngobrol sama anaknya yang dari tadi dicolek pipinya langsung dipegang erat jarinya.


"Assalamu alaikum adek Dayu......" begitu disapa langsung dia bergerak lincah dengan senyuman ceria. Tangannya ke depan minta digendong disambut ekspresi penyesalan Mita.


"Maaf sayang kakak repot!" Dayu tampak kecewa.


"Maaf nanti yah nunggu kakak gak repot ok!" seperti mengerti saja itu bayi sama omongan Mita,senyum lagi sambil tepuk tangan. Mita jadi gemes langsung menjembel pipi gembulnya.


"Eh aku penasaran deh kenapa tiap ke sini gak sama ibunya adek Dayu?" pertanyaan Mita membuat Adnan bungkam dan bisa dimengerti olehnya jika saat seseorang diam artinya tidak ingin orang lain tahu.


"Aku ke sana dulu yah......" belum selesai ngomong sudah dipotong.


"Kami sudah cerai." ucapnya pendek. Ada perasaan bersalah,dia seperti membuka luka lama Adnan. Terlihat ekspresi Adnan yang dingin dan menyimpan kemarahan.


"Maaf aku gak tahu...aku ke sana dulu bay adek Dayu." Mita pamit dengan dadah-dadah. Perasaannya jadi campur aduk. Pikiran juga jadi ke mana-mana,menerka-nerka dan merasa kasihan.


"Ya Allah astaghfirullah..." sambil menggeleng kuat berusaha mengusir pikiran yang tidak seharusnya ia pikirkan. Bukan urusannya juga.


Mencari tahu dan menjadi tahu masalah orang lain ternyata sangat berbahaya bisa membuat hati dan pikiran jadi tidak tenang dan berdosa pula. Lebih baik fokus dengan hal baik yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Melihat ke sudut lain,Mita hanya bisa menarik napas panjang. Ita bisa kerja tapi baru sebentar sudah lemes,mengeluh capek dan ngos-ngosan kalau tidak begitu mual dan muntah,teler tidak bisa apa-apa akhirnya disuruh istirahat dikamar,takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Mita pusing sendiri. Mau disuruh berhenti tidak tega mengingat ceritanya dia butuh uang untuk membiayai hidup,disuruh melakukan pekerjaan tapi kok teler. Jadinya khawatir saat melihat kondisi Ita yang pucat dan lemas.


Pada akhirnya sore itu sebelum Ita pulang,Mita memberanikan diri untuk bicara dari hati ke hati. Memilih kata-kata yang pantas dan tidak menyinggung perasaan sahabatnya.


"Ada apa Mit?" tanyanya heran dan Mita mencoba tersenyum seperti biasa tapi yang muncul senyum kaku. Ita bisa melihatnya.


"Maaf sebelumnya..." jeda tarik napas dulu,rasanya seperti dimedan perang,Mita merasa gugup.


"Ngomong terus terang!" seperti mengetahui kegelisahannya dan Mita menyadari itu. Lebih baik jujur daripada memendam perasaan.


"Lebih baik kamu istirahat dirumah aja yah nanti kalau kondisi kamu membaik boleh kerja disini lagi!" jelas Mita pelan dengan ekspresi takut menyinggung. Ditatapnya lekat Ita yang menundukkan kepala,sedih.


"Aku tahu ini berat buat kamu tapi aku gak tega lihat kondisi kamu yang kaya gitu takutnya ada apa-apa sama kandungan kamu kalau dipaksain."


"Kandungan kamu masih trisemester pertama,rentan apalagi dengan kondisi mual muntah,teler." Ita mengangguk pasrah.


"Maaf yah!" Mita memegang tangan Ita sambil menyelipkan sedikit uang. Dia kaget dan spontan menolak.


"Gak usah,aku sudah cukup merepotkan kamu." Mita sedih mendengar ucapan Ita.


"Insya Allah ini demi kesehatan ibu dan bayinya." Ita menatap haru,merasa terenyuh mendapatkan perhatian Mita. Semakin sedih saat mengingat orang yang seharusnya mengurus dan memperhatikannya justru abai dan seakan menolak kehadirannya. Rasanya dunianya seperti terbalik,dulu diatas sekarang dibawah dan serasa hampir tenggelam.


"Makasih untuk perhatian kamu tapi ku mohon jangan ini..." Ita kembali menyerahkan uang itu,merasa tak enak hati untuk menerima.


"Ini buat beli susu keponakan aku bukan buat kamu." Ita langsung mewek sambil memeluk Mita.


"Makasih!"


Akhirnya masalahnya terselesaikan dan bisa bernapas lega.


Dihari-hari berikutnya semuanya berjalan lancar. Kemarin bibit buah pesanannya datang dan hari ini rencananya akan dipindahkan ke pot yang lebih besar,mau dijadikan tabulampot,pasti lucu dengan pohon kecil tapi berbuah lebat.


"Kak...yakin nih nambah tanaman? Gak takut kalau misalnya gak laku soalnya ada yang jual sama kaya kita deket sini makanya tempat kita pengunjungnya berkurang." Mita menanggapi dengan senyuman.


"Rezeki sudah diatur jadi bismillah kita berharapnya semoga apa yang kita kerjakan membawa keberkahan dan ridho Nya Allah." Irham tampak tidak bersemangat.

__ADS_1


"Masalahnya aku gak dapet tambahan bonus kalau sepi begini." Mita menggelengkan kepalanya.


"Istighfar gak boleh ngomong begitu! Selain dicatat sama malaikat Atid ucapan kamu tadi mengandung beberapa dosa lain." Irham terhenyak kaget. Sebagai umat muslim dia paham bagi orang berdosa akan dimasukkan ke dalam neraka dan ini dikatakan mengandung beberapa dosa lain jelas hatinya seperti disentil juga ada rasa takut.


"Jangan nakut-nakutin!" dahinya tampak berkerut dalam dengan bibir manyun.


"Kamu ingat rukun Iman ada enam?" Irham mengangguk dengan dahi berkerut dalam,ucapannya tadi dikaitkan dengan rukun iman.


"Tadi kamu mengeluh bisa diartikan protes pada ketetapan Allah dan kufur nikmat,itu gak boleh,dosa."


"Ingat selain dapet bonus masih banyak nikmat yang diberikan Allah ke kita misalnya bisa makan dengan kenyang,sehat,bisa melakukan aktifitas,tubuh yang sempurna dan nikmat lain yang gak terhitung banyaknya. Pernah ngelihat orang yang sakit mulai dari ringan sampe berat,apa yang mereka rasakan?"


"Semuanya serba gak enak,gak nyaman." jawab Irham dengan tatapan sedih. Sepertinya obrolan mereka begitu mengena dihati.


"Kedua...Mau enak dan gak enak itu termasuk qodho dan qadarnya Allah. Saat mengeluh itu artinya gak beriman pada qodho dan qadarNya."


"Jadi tetap bersyukur meskipun merasa gak enak kita dikasih kesehatan,bisa melakukan apapun." Irham mengangguk.


"Pengen terus dapet bonus kan?" Irham kembali mengangguk.


"Ketiga...Ini salah satu tanda cinta dunia."


"Maksudnya?" Irham menuntut penjelasan lebih dalam.


"Kamu pengennya rame terus dapet bonus bisa diartikan apa yang kamu lakukan tujuannya mencari uang saja itukan cinta dunia bukan karena mengharap ridhonya Allah untuk tujuan akhirat jadinya saat gak dapet bonus kamu kecewa,sedih."


"Kamu inget iman kepada Malaikat Allah bahwa kita harus yakin jika setiap saat kita sedang diawasi selain Allah yah malaikat Roqib dan Atid,yang akan mencatat semua amal baik dan buruk kita bahkan dihati dan pikiran kita gak ada yang terlewat,semua akan dicatat rapi." terdengar napasnya yang berat,seperti menanggung beban berat.


"Astaghfirullah sulit banget kak?" ucapnya sambil menggelengkan kepala,merasa berat menjalankannya.


"Awalnya kakak juga gak tahu itu semua Alhamdulillah Allah memberi petunjuk,mempertemukan kakak dengan unggahan channel yutub dari seorang pak ustad yang mengajarkan untuk memperbaiki akhlak."


"Sama dek kakak ngerasa gitu juga mulanya tapi meyakinkan diri harus belajar. Harus terus memohon ampun secara mendetail disebutkan satu-satu kesalahan kita dengan lillahi ta'ala jangan lupa bismilah dan diakhiri Alhamdulillah jadinya lebih tenang." Irham meneteskan airmata mengingat kebiasaan yang sering ia lakukan rupanya adalah kesalahan yang selalu ia kumpulkan selama hidupnya. Baru ia sadari belajar bukan hanya di sekolah tapi setiap hari adalah belajar,belajar memahami kekuasaan sang pencipta.


"Untuk apa kita hidup adalah untuk mengejar akhirat karena ada kehidupan lain setelah kiamat yang harus terus dingat agar kita gak lalai untuk terus beriman kepada Allah...aamiin." sambung Mita yang ikut meneteskan air mata mengingat selama hidupnya juga sama melakukan banyak kesalahan dan dosa.

__ADS_1


"Insya Allah kak."


__ADS_2