
Mita POV
Rasa senang yang membuncah tiba-tiba menguap berganti dengan kekecewaan. Baru juga berbaikan kak Dani sudah menyulut emosi. Bagaimana gak? Saat ku tanya kok belum ngurus administrasi jawabannya...
"Gak punya uang." jelas aku kaget spontan ku tanya...
"Kok bisa?" suaraku meninggi efek kaget tapi langsung tarik napas panjang,berusaha belajar sabar. Teringat Bu Indah pas beliau marah aku mengingatkan untuk 'jangan marah bagimu surga' tapi kalau sekarang aku gak bisa mengamalkannya maka aku akan berdosa.
"Kan kamu pinjem buat modal usaha." aku langsung syok bisa-bisanya kak Dani bilang begitu. Kalau bisa milih aku bakalan milih sholat tahajud delapan rakaat daripada menghadapi ujian seperti ini,menahan hawa nafsu marah.
"Apa kakak amnesia selama ini sudah ku cicil dua juta sebanyak enam kali totalnya duabelas juta...astaghfirullahaladzim...lalu ke mana uangnya?" mau diluapkan takut dosa,ditahan sesak didada tapi tetap sebisa mungkin berbicara pelan. Malu juga jika didengar banyak orang berdebat tentang uang dirumah sakit.
"Ya kamu gak bisa nyalahin aku dong berapa bulan aku gak kerja uangnya aku buat bayar kuliah dan beli buku sama yang lain juga." kak Dani tak kalah emosi langsung berdiri.
"Setidaknya kak Dani kemarin-kemarin bisa ngomong sama aku kalau uangnya kepake ini tiba-tiba ngomong habis pas kondisi darurat terus aku bayarnya pake apa?" protesku masih dengan suara normal. Kak Dani melengos kesal dan gak berani menatapku.
"Kamu sudah punya penghasilan sendiri usaha kamu juga cukup berhasil jadi gak mungkin kan kamu gak punya uang." sanggahnya balik menyerang ku dan aku hanya bisa diam kemudian menarik napas panjang berulang kali lebih baik mengendalikan diriku sendiri. Percuma juga dibahas semakin sedih,semakin kecewa dan semakin marah satu-satunya jalan adalah meminta bantuan kak Yahya yang dari tadi menyimak perdebatan kami.
"Kak Yahya aku minta tolong bayarin dulu yah!" ucapku pelan sambil menunduk menyembunyikan air mata yang sudah mulai merembes dari dari bendungannya. Sedih karena harus meminta bantuan pada orang lain didepan saudara kandungku.
"Aku mau ke kamar mandi!" aku segera beranjak pergi sambil menutup mulutku menahan suara tangisan agar gak terdengar.
__ADS_1
Didalam kamar mandi aku berpura-pura mengguyurkan air ke lantai dan ke dalam lubang toilet untuk menutupi kegiatan menangis ku. Aku gak ingin orang lain tahu jadi hal itu ku lakukan agar orang lain percaya kalau aku memang butuh ke kamar mandi bukan untuk tujuan menangis.
Saat perasaan sedang galau obat ampuhnya adalah menangis karena dengan menangis semua beban dihati dan pikiran berkurang. Maunya berdoa juga tapi dikamar mandi gak boleh berdoa.
Tok...tok...tok...
"Dek sudah belum?" itu suara kak Yahya.
"Sudah beres mau pulang gak?" sambungnya, mau jawab malu ini aja masih mangap-mangap napasku tersendat akibat nangis lama. Tapi gak dijawab nanti ditinggalin.
"Ben...bentar." balasku susah payah. Aku bisa membayangkan dia pasti sedang menertawakan ku.
"Tung...tungguin!" sambungku,sudah narik napas panjang juga masih susah ngomongnya.
Begitu membuka pintu dengan lebar dia menyambutku dengan seulas senyum manis membuat dadaku berdesir gak nyaman kemudian langsung menunduk. Berjalan ke arah tempat tidur lalu mengambil tas berisi baju kotor dan alat mandi yang langsung direbutnya membuatku kaget saja.
"Biar ku bawa ayo pulang!" aku bingung kemana kak Dani? Kenapa aku dibiarin pulang sama orang lain.
"Kakakmu sudah pulang!" teganya dia.
"Sudah jangan banyak mikir mulai hari ini kamu harus pandai-pandai mengendalikan diri,mana yang harus diprioritaskan,mana yang harus dikesampingkan kamu harus paham itu!" aku mengangguk paham lalu menghela napas panjang. Aku merasa ke depannya akan terasa lebih berat.
__ADS_1
"Sabar ya!" aku mengangguk lagi.
"Ayo katanya tadi mau pulang!" aku mengangguk lalu kami berjalan beriringan menuju tempat parkir.
"Makasih...aku jadi kepikiran beli rumah sendiri." ucapku setelah berada didalam mobil. Aku sengaja memilih duduk dibelakang kursi kemudi. Bukan apa-apa kami hanya berdua dan gak pantes rasanya duduk bersebelahan dengannya.
"Insya Allah aamiin aku doain ada rezekinya." sambil menyalakan mesin.
"Sudah siap?"
"Bismillahirrohmanirrohiim...siap." lalu kak Yahya melajukan mobilnya.
"Untuk sekarang jangan mikir ketinggian kalau punya rezeki lebih baik ditabung setidaknya nanti kalau kakakmu menikah kamu bisa membiayai hidupmu sendiri ya walaupun kakakmu punya kewajiban membiayai kebutuhanmu tapi kan lebih baik mandiri daripada bergantung sama yang namanya manusia." aku mengangguk,terharu akan kepedulian kak Yahya padaku.
"Ya...gak boleh bergantung pada manusia."
"Rasanya aku pengen tuker aja kak Yahya jadi kakak kandungku kak Dani jadi anaknya Bu Tita." sambungku gak jelas masih terbawa suasana haru.
"Sabaaar...gak boleh ngomong gitu itu sama aja gak nerima ketetapan Allah,bener gak?" ucapnya menohok,selalu lupa jika sudah emosi.
"Astaghfirullah...ampuni aku ya Allah!"
__ADS_1
Mulai hari ini aku bertekad untuk belajar lebih ikhlas lagi dalam hal apapun karena aku gak ingin terus kecewa atas apa yang gak ku dapatkan didunia ini.