
Lupakan kejadian tadi,hidup itu sulit jadi jangan lebih dipersulit lagi. Ada baiknya belajar untuk legowo. Belajar percaya bahwa sesuatu yang tak mengenakkan adalah bagian dari ketetapan Allah,ujian bagi yang bernyawa. Dengan begitu hidup akan terasa lebih mudah untuk dijalani.
"Bang kita naik motor aja yah." pintanya saat Yahya berjalan menuju garasi mobil. Sebetulnya dia lebih nyaman mengendarai motor daripada naik mobil,lebih cepat sampai karena bisa nyelip-nyelip diantara kendaraan besar seperti mobil dan truk. Bisa melihat pemandangan luas juga yang membuatnya tersenyum penuh syukur dan takjub akan ciptaan Allah yang tak terhitung banyaknya. Dari situ ia seperti diberi petunjuk akan kebesaran Allah.
"Malah ngelamun sambil senyum-senyum,mikirin apa?" tanya Yahya jadi ikutan tertular senyumnya. Sepertinya suasana hatinya perlahan kembali ke mode awal.
"Hehehe....enggak cuma memanfaatkan suami jadi supir pribadi kayanya menyenangkan duduk dibelakang sambil nyenderin kepala terus lihat pemandangan luas." jawab Mita asal. Yahya mengangkat dahi lalu menjepit hidungnya gemas.
"Dasar suka memanfaatkan orang."
"Ah aw sakit Abang....gak bisa napas ini." keluhnya sambil menepis tangan Yahya yang mendengar keluhannya yang tidak bisa bernapas langsung melepaskan.
"Ya Allah maaf maaf gak sengaja,mana sini Abang lihat merah gak hidungnya." Yahya panik,memegang muka Mita sambil meneliti hidungnya yang ternyata tampak kemerahan.
"Eh beneran merah itu hidungnya,sakit?" masih nanya,merah jelas sakitlah pikir Mita dengan muka ditekuk,merasakan pengar dihidung karena dijepit agak kuat.
"Sini dicium biar gak sakit lagi." Mita menatap kaget eh malah mencari kesempatan mencium hidungnya berkali-berkali. Dia yang tidak siap jelas kecolongan apalagi melawan kekuatan laki-laki jelas kalah.
"Apaan sih bang,diluar ini?" protesnya kesal,seenaknya saja berbuat tidak senonoh ditempat umum kan malu kalau dilihat orang.
Yahya langsung tertawa entah mentertawakan dirinya ataukah merasa senang karena mendapat keberuntungan berhasil menciumnya secara diam-diam ah menyebalkan pikir Mita.
"Udah ah males sama Abang suka memanfaatkan kelemahan aku apa masih kurang sama yang tadi? masih belum puas?" tanyanya dengan mata melotot,Yahya hanya tertawa senang,akhirnya bisa merasakan interaksi normal seperti pasangan lain yang penuh cinta dan dimabuk asmara.
"Kalau urusannya sama kamu Abang selalu kurang puas ahahahaa...." Mita melengos malu. Kemana kekesalannya tadi cepat sekali menghilang.
Tanpa mereka sadari ada yang sedang memperhatikan sambil menggelengkan kepala.....papa melipat tangan didada.
"Halah malah pacaran disini kirain sudah berangkat." cibir papa kemudian menarik napas,ada-ada saja kelakuan anak muda suka tidak sadar lingkungan.
__ADS_1
"Jangan disinilah kalau mau mesra-mesraan masih ada dua anak kecil didalam rumah kalau tiba-tiba keluar terus lihat adegan kaya gini gimana? Bukannya jadi contoh yang buruk?" sambung papa mengingatkan.
"Maaf pa...." ucap Yahya sambil tersenyum kecut sedangkan Mita menunduk malu,merasa kesal akan ulah suaminya yang tidak tahu tempat yang pada akhirnya membuatnya ikut terseret.
"Kamu itu nak ck....papa tahu pengantin baru masih anget-angetnya tapi mbok ya dikondisikan kalau tiba-tiba ada tamu gimana?" kan jadi panjang urusan.
"Kalau masih kurang mending ke kamar kunci pintu biar gak ada yang gangguin." nasehat papa yang membuat Mita makin tertunduk malu. Disinggung soal keintiman yang dianggapnya hal tabu tapi layak untuk diperbincangkan membuatnya tidak nyaman maunya langsung pergi tapi kesannya tidak sopan. Orangtua bicara malah ditinggal pergi,itu tidak mungkin ia lakukan.
"Mentang-mentang sudah halal tapi gak boleh lah mengumbar kemesraan diluar mesti diprivasikan." ucap papa lembut sambil memandang keduanya lekat. Bukan menyalahkan hanya saja meluruskan supaya lebih bisa menahan diri terutama putranya yang terlihat bucin-bucinnya sama istri,suka tidak terkendali.
"Bahayanya dilihat sama orang yang gak punya pasangan terus kepengen gimana....sama aja kamu menularkan keburukan." papa menatap tajam putranya yang mengawali aktifitas tadi,bisa-bisanya berbuat aktif diteras rumah. Yahya tidak berani menatap wajah papanya karena dia memang bersalah.
"Terus ditiru sama anak bau kencur karena mikirnya kalian bisa bebas kenapa mereka enggak terus gimana?" lanjut papa memberikan gambaran yang lain.
"Kalian bakalan dapat tambahan dosa dari mereka yang menirukan sikap kalian." Yahya dan Mita terhenyak,tidak menampik ucapan papa yang benar adanya,makin merasa bersalah mereka berdua.
"Makasih pa atas nasehatnya insya Allah kami akan belajar untuk tidak mengulanginya....maaf ya pa." ucap Mita mewakili sambil membungkukkan kepala sebagai permohonan maaf yang sebesar-besarnya lalu menarik napas panjang.
"Buruan berangkat!" usir papa sambil mengibaskan tangan dan mereka langsung pergi.
____________________________________________
Mita Pov
Ah senangnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pulang ke rumah sendiri,tempat yang paling nyaman bagiku.
"Maaf sayang aku langsung pergi sudah siang soalnya." ucap suamiku dengan sedih,seperti tidak rela berpisah denganku. Aku terkekeh.
"Jangan lebai kita berpisah hanya sebentar nanti juga ketemu lagi." salim dulu sebelum masuk tapi langsung ditahan olehnya.
__ADS_1
"Kiss dulu biar semangat kerjanya." aduuh manja banget suamiku ini.
"Gak boleh ngumbar kemesraan kata papa juga." ucapku mengingatkan mengamati ekspresinya yang tampak murung kaya anak sekolah yang dikasih uang jajan merasa kurang banyak ahahaha....
Kayanya aku punya ide lain.
"Mau dikasih semangat?" dia mengangguk dengan tersenyum lebar.
"Masuk....kita ke kamar." tatapannya berubah berbinar ditambah lengkungan bibirnya yang sampai ke telinga. Mungkinkah dia terpikir hal yang lebih dahsyat. Aku harus mulai memikirkan agar dia bisa mengendalikan nafsunya.
"Ekheem assalamu alaikum wr wb pengantin baru....duhai senangnya penganti baru telolet telolet duduk bersanding bersendau gurau tapi kok ya lupa ngucap salam...." aih anak ini bergaya kaya artis k pop yang akan menunjukkan kemampuan dan kemudian menyindir kami dengan nyanyian bikin aku gak bisa marah apa itu dia bernyanyi menggantikan suara orgen dengan telolet kaya permainan anak kecil di hp yang pas bus nya lewat "om telolet om" aku terkikik geli melihat.
"Waalaikum salam wr wb....bilang aja cape kan,butuh tambahan?" anak ini kalau banyak bicara begini artinya suasana hatinya lagi gak baik pasti gak jauh dari urusan kesejahteraan keluarga,kekurangan uang pastinya.
"Hem enggak." masih juga bohong tuh kan gak berani melihat aku artinya dia menyembunyikan sesuatu. Aku sudah mulai bisa memahami bahasa tubuhnya ketika dia dalam masalah.
Aku hampiri dia yang terlihat menyibukkan diri dengan tanaman didekatnya.
"Butuh berapa?" tanyaku. Kebetulan tadi sehabis melayani keinginan suami,dia langsung membayar kontan dengan nafkah lahir bisalah dibuat bantuin orang yang membutuhkan nanti kan bisa potong gaji. Irham berpura-pura tidak mendengar.
"Lima ratus cukup." ku keluarkan uang dari dompet yang langsung ia tolak.
"Apaan sih kak aku lagi gak butuh uang." jawabnya tidak jelas. Eh aku kaget tiba-tiba suamiku merebut uang ditanganku langsung diberikan pada Irham dengan paksa.
"Anggap aja ini bonus dari kak Yahya ok....asal kamu jangan biarin istri kakak cape udahlah kakak masih ada urusan sama istri kakak." aku melongo dia merubah panggilannya untuk Irham dari Abang menjadi kakak dan untuk aku kakak menjadi Abang....muter-muter gak jelas ini sih. Mau protes keburu ditarik tangan aku langsung dibawa masuk ke dalam kamarku yang mulai saat ini berubah menjadi kamar kami berdua secara otomatis.
"Akh....Abang gak gini juga kan." dia langsung menyerang ku tanpa ampun hingga berakhir tanpa baju untuk kedua kalinya dari semenjak pagi tadi. Apa-apaan bukan ini maksudku.
Tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur. Akhirnya aku hanya bisa menikmati permainannya sampai selesai dan terkapar dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Minggir ih berat." ku dorong tubuhnya supaya turun dari atasku. Masih sempat-sempatnya dia me***** bibirku lalu berguling ke sisi lain tempat tidur dengan puas. Berbeda denganku yang kembali merasakan pedih dibagian inti langsung meringkuk menahan rasa mungkin karena terlalu sering dipake terhitung sejak menikah sudah empat kali yang berakhir dua ronde untuk ketiga kalinya,sekali untuk saat ini.
"Sayang....boleh nambah?" langsung ku bungkus tubuhku dengan selimut tebal sebagai tanda penolakan.