
Survei membuktikan,perempuan lebih dominan dengan sifat ceriwis dan rame. Meskipun ada yang pendiam tapi begitu bertemu dengan yang ceriwis dan rame biasanya juga akan terbawa.
"Duduk di kloset biar ibu bantuin lepas baju...nih pegang infusannya!"
"Biar Mita sendiri Bu!" tolak Mita dengan suara manja.
"Jadi gak nurut nih oke sabun sama teman-temannya ibu bawa keluar kamu mandi pake air saja!" Bu Indah terdengar merajuk. Yahya yang diluar tersenyum mendengar istilah sabun dan teman-temannya. Lucu memang orangnya.
"Ibu...Mita malu..." terdengar manis dan imut suaranya,yang diluar jadi merinding disko. Tadi lepas baju terus suara manja dan malu-malu bikin hati ser-seran. Otak langsung traveling ke mana-mana.
"Ih kok kepala ku jadi mesum gini sih!" gerutu Hafiz sambil memukul kepalanya sendiri. Yahya yang mendengar hanya menarik napas panjang. Ia pun sama tapi berusaha mengendalikan diri.
"Sesama perempuan malu apalagi nanti sama suami aduuh gimana coba...kasihan dong suami kamu nanti punya istri gak mau ditengok...hahaha...kecewa berat." Mita langsung cemberut sambil melengos.
"Sudah sah tapi merana...hahaha...!" sambungnya,bahagianya menertawakan kepolosan Mita yang mendengus sebal.
"Dulu ibu juga awalnya saja malu,geli dipegang sedikit...begitu sudah ngerasain nikmatnya jadi...ke ta gi han..." masih nyambung teruuus sambil kebayang-bayang dengan senyum malu membuat mata Mita membulat,telinganya tidak terbiasa mendengar kalimat yang fulgar,yang diluar pun jadi panas dingin.
"Mama buruan...mandi saja ributnya bikin pusing kepala atas bawah!" Hafiz menimpali dengan kesal,maunya fokus sama hp jadi buyar dengan obrolan nyeleneh dikamar mandi. Mita terbelalak kaget,lupa sama yang diluar.
"Ibu ih...aku malu!" teriak Mita yang disambut kekehan Bu Indah.
"Masa bodoh sama yang diluar kita sama-sama perempuan...hehehe..." malah dianggap sepele sama orangnya,Mita memutar matanya malas sambil berdecak sebal. Mau marah juga tidak sopan masalahnya yang ia hadapi adalah orang yang lebih tua jadi harus tetap bersikap sopan.
"Kita memang sama-sama perempuan tapi diluar sama-sama lelaki Bu..." ucap Mita datar. Jika bukan Bu Indah sudah pasti digetok kepalanya sama Mita. Rupanya omongan ceplas-ceplos Hafiz turunan dari mamanya.
"Biarin mereka ikut belajar!" Mita melotot tapi langsung diam. Malas menanggapi daripada makin jauh ngomongnya. Akhirnya Mita menurut saja lalu menghela napas. Dipikir jadi makin pusing
"Nih pegang...ibu buka..." Mita kaget saat Bu Indah akan mulai ngomong hal "dalam" langsung meletakan jari telunjuk dibibir sebagai kode jangan berisik tidak mau didengar yang lain dan Bu Indah lagi-lagi terkekeh membuat Mita menarik napas.
__ADS_1
"Eh iya kemarin kok bisa sakit?" pertanyaan aneh,Mita mengerutkan dahi heran. Tapi ini lebih baik daripada dengar kata-kata asoy.
"Ya bisalah Bu...orang sakit itu karena banyak dosa." Bu Indah melotot tak percaya dengan dahi berkerut bingung.
"Dosanya orang banyak pikiran semuanya dipikirin lupa disyukuri,makan gak enak tidur gak nyenyak semuanya dibawa berat akhirnya sakit deh...!" sambungnya keceplosan,Mita langsung menutup bibirnya rapat takut ada yang mengorek isi hatinya karena rasa ingin tahu berlebihan. Jangan sampai ada yang tahu masalahnya.
"Iya juga sih...!"
"Bisa dibayangin deh...usaha kamu kan termasuk berhasil jelas banyak pikiran..." eh nyambung ke situ,Mita bisa bernapas lega. Sudah deg-degan saja dari tadi takut ada yang curiga dan banyak tanya 'ada masalah apa?' rupanya tidak.
"Iya Bu...resiko punya usaha." jawabnya singkat.
"Terus sekarang siapa yang handle?" tanya Bu Indah sambil terus menyabun seluruh tubuh Mita.
"Keramas gak?" Mita berpikir dengan muka bingung.
"Pengennya keramas tapi gak tahu boleh apa gak soalnya gak nanya..." jawabnya samar.
"Nanti kak Yahya yang bantuin handle katanya,selama ini dia sudah tahu dasar-dasarnya." BuIndah nampak kaget.
"Kok ibu gak tahu?"
"Kan gak nanya..."
"Kok Yahya gak bilang sama ibu?"
"Itu tanya saja sama orangnya."
"Pantes kemarin pas ibu minta tolong diomongin ke papanya Yahya suruh ngasih kerjaan ke Hafiz jeng Tita bilang langsung ngomong ke Yahya katanya Yahya sudah terjun nerusin usaha papanya. Ditanya gak ngajar lagi katanya sudah gak." Kini Mita yang kaget.
__ADS_1
"Eh...Mita malah gak tahu kalau kak Yahya sudah gak ngajar. Ngerasa aneh selama beberapa bulan ini kok jadi sering datang ngecek sendiri ke rumah kalau lagi butuh telur kalau gak ada langsung cari ke tempat lain,rupanya begitu." Mita mengangguk-angguk.
"Sempet mau tanya tapi lupa terus...jadi punya waktu hilir mudik." sambungnya.
"Memang usaha keluarganya kakYahya apa Bu?"
"Buanyaaaak...restoran ada,properti ada,apa-apa ada..." dahi Mita berkerut bingung,kesannya ucapan Bu Indah seperti main-main. Mau percaya kok susah.
"Apa Hafiz ikut bantuin kamu saja kan setelah ini kamu masih harus istirahat belum boleh yang berat-berat?" Mita bingung jawabnya. Selama ini Bu Indah tidak tahu jika putra bungsunya seperti kucing garong kalau sudah bertemu sama Yahya main cakar saja bawaannya. Bukannya malah bikin pusing kepala.
"Bukan apa-apa...minta dikawinin sama kamu tapi belum punya kerjaan..."
"Harusnya pas masih kuliah nurut disuruh magang jadi sekarang sudah pengalaman tinggal cari kerjaan enak...ini gak main-main terus...huh..."
"Sekarang baru tahu rasa dia takut kamu dikawinin orang duluan!"
"Belum tahu rasanya cari duit sudah ngeyel pengen ngawinin kamu yang jelas-jelas jauh bersinar..." Bu indah terus mengomel tentang anaknya sambil geleng kepala. Mita meringis mendengar kata 'kawin' yang diucapkan Bu Indah berulang-ulang,terdengar asing ditelinganya.
"Aku mau Ma..." teriak Hafiz dengan suara ketus,merasa diremehkan pastinya.
"Tuh denger sendiri kan!" ucap Bu Indah sambil tersenyum hangat.
"Tapi aku gak bisa kasih gaji besar." ucapnya lesu.
"Gak digaji juga gak pa-pa!" sambung Hafiz
"Tuh denger kan! Biar belajar kerja keras nanti kalau banyak ngeluh geplak saja kalau kamu gak berani biar ibu yang wakilin..." seperti sudah tahu saja kemudian harinya.
"Terserah deh..." jawabnya pasrah sambil menunduk.
__ADS_1
"Sekalian Yahya bisa tinggal dirumah ibu gak usah bolak-balik pulang ke rumahnya kasihan capek."
Ini seperti mencari perkara.