
Setelah beberapa saat termenung didalam kamar dia tetap tidak mendapatkan solusi hanya makin terbebani. Akhirnya ia meraih hp yang tergeletak dimeja akan menghubungi seseorang.
"Assalamu alaikum...kak posisi dimana?" dengan menghilangkan rasa ragu-ragu langsung tekan send hingga setelah beberapa saat belum ada jawaban. Mungkin sedang sibuk jadi tanpa menunggu lebih lama ia menelpon Yahya supaya bisa disegerakan,mengabaikan rasa malu karena keputusannya yang tidak ingin bertemu takut tidak bisa menahan perasaan pada akhirnya dia sendiri yang melanggarnya.
Setelah menunggu beberapa saat telepon kemudian tersambung.
"Halo assalamu alaikum kak posisi dimana?" mendahului untuk menutupi rasa malu.
"Waalaikum salam...aku diresto."
"Oh oke aku ke sana ya assalamu alaikum!" hanya itu dan langsung menutup sambungan telepon secara sepihak sebelum sempat Yahya membalas salam dengan muka merah menahan malu. Sedangkan orang diseberang tersenyum sambil menggelengkan kepala bisa membayangkan jika saat ini Mita sedang malu kepadanya karena sudah melanggar keputusannya sendiri.
Mita keluar dari kamar menuju teras depan setelah bersiap dengan pakaian yang pantas dan disambut dengan suara ribut yang berasal dari saudari iparnya.
"Ada apa? Kenapa ribut sekali? Malu didengar orang." sambil mendekati Nuri yang ternyata Irham disitu pula.
"Kamu juga kenapa kalau sudah gak ada kerjaan Irham gak diliburkan aja?" bukannya dapat jawaban dia ikut dapat semprotan emosi Nuri.
"Buang duit keenakan dia mending buat yang lain." sambung Nuri dengan muka marah dan kesal. Mita menarik napas.
"Kata siapa Irham gak punya kerjaan?" tanyanya datar berusaha untuk menahan diri agar tidak terpancing emosi. Dilihatnya muka Irham yang menahan kesal atas tuduhan Nuri kepadanya.
"Lha dari tadi gayanya celingak-celinguk ngelihatin pohon jambu memang aku bodoh sampe gak tahu dia pura-pura sibuk biar bisa makan gaji buta kan?" kembali Nuri menuduh sesuai prasangkanya membuat Mita kembali menghela napas. Hampir setiap hari seperti itu.
"Mbak...Irham ngecek apa ada ulatnya dan itu ada yang berbuah waktunya dibungkus biar gak dimakan lalat buah." jelas Mita dan Nuri seakan tidak peduli jika dia salah.
"Hanya bungkus buah aja lama." ucapnya mengejek,menutupi kesalahannya.
"Lagian mana ada ulat dipohon jambu?" masih juga tidak mau mengaku salah. Irham memetik daun jambu digunakan untuk mengambil seekor ulat bulu yang berjalan dibatang pohon jambu dan diperlihatkan pada Nuri yang langsung bergidik geli membayangkan jika dirinya terkena ulat bulu akan terasa gatal.
"Nih nih ulatnya sekarang percaya kan makanya jangan sok tahu jadi orang." dengan sengaja agak mendekatkan ke arah Nuri yang nampak ketakutan.
"Buang dan bunuh ulat itu!" teriaknya tidak sabar takut terkena bulu ulat itu. Irham segera melempar ke tanah lalu menginjaknya dengan kuat seperti sedang melampiaskan kekesalannya pada ulat tersebut yang sebetulnya tidak bersalah.
"Sudah puas mbak?" tanya Mita,Nuri tidak menjawab dan langsung pergi tanpa meminta maaf pada Irham.
"Maaf ya..." tahu jika Irham sedang menahan kesal dia mewakili Nuri meminta maaf.
"Bukan kak Mita yang harusnya minta maaf. Coba aja gak hamil aku lempar ulat tadi biar tahu rasa seenaknya menuduh orang mana gak mau ngaku salah." omelnya dengan cemberut,tidak rela dituduh tanpa bukti.
"Sabar ya!" ucap Mita dengan muka prihatin dan dibalas anggukan.
__ADS_1
"Ayo ikut!" ajak Mita,mengalihkan kekesalan Irham dengan mengajaknya keluar.
"Ke mana?" tanyanya dengan malas.
"Makan." matanya langsung berbinar mendengar kata makan dan kembali bersemangat.
"Ok aku ganti baju dulu!"
"Ngapain ganti baju pake itu aja kelamaan entar." Irham kembali cemberut sambil memperhatikan penampilannya sendiri yang seperti gembel.
"Kaya gembel gini." Mita nyengir.
"Ya udah sana ganti baju tapi jangan lama-lama." sudah diizinkan masih juga diam ditempat,nampak berpikir panjang.
"Tunggu apa lagi?"
"Hehehe...aku bawanya baju jelek bisa dibilang compang-camping boleh pinjem kaos mas Dani gak?" Irham mencoba merayu dengan mengerjap-ngerjapkan mata dan Mita menarik napas lalu mengangguk pasrah. Meminjam baju Dani artinya dia siap menghadapi kemarahannya tapi apa boleh buat ini semua juga karena sikap istrinya yang membuat Irham sakit hati dan saat ini yang ia lakukan adalah sebagai penebusan rasa bersalah. Jika nanti ketahuan oleh pemiliknya hanya itu alasan yang tepat agar Dani tidak murka kepadanya.
Kemudian beranjak ke kamar Dani mengambilkan kaos untuk Irham. Mengambil kaos ditumpukan paling bawah,ia menebak kemungkinan yang paling bawah jarang dipakai atau mungkin tidak pernah dipakai lagi ia beranjak ke dapur sekalian pamit sama emak.
Rupanya Nuri ada disana sedang makan entah untuk yang ke berapa kali. Semenjak hamil memang banyak makan apalagi ini kehamilan kembar sudah pasti porsi makan berkali lipat.
"Eheeem...makan nih itu kok masakan aku dimakan entar habis lho. Aku masak buat yang kerja sama aku." sengaja menegur biar Nuri tahu diri dan Mita ingin tahu reaksinya merasa bersalah tidak.
"Ya Allah lama amat sih Ham!" tegur Mita melihat Irham keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan putih habis cuci muka dengan sabun muka.
"Mandi tadi kan habis pegang ulat bulu,biar kinclong juga." Jawabnya sambil nyengir.
"Iya kamu kinclong tapi bedak aku luntur kelamaan nungguin kamu."
"Ceileh...kaya mau ketemu calon suami aja takut gak kelihatan cantik!" Mita terhenyak kaget guyonannya seperti dibalas dengan sindiran yang sebetulnya bukan niat Irham menyindir hanya asal ngomong.
"Sudah jangan banyak omong buruan nih ganti baju!" menyodorkan kaos pada Irham yang menerima dengan senang hati. Nuri langsung sigap mendongak,ingin tahu kaos yang diberikan pada Irham apakah sesuai perkiraannya milik suaminya. Ketika di buka lipatannya ia yakin itu milik suaminya lagipula darimana Mita mendapatkan kaos laki-laki kalau bukan milik Dani.
"Stop...gak boleh dipake!"
"Itu punya suamiku kan?"
"Balikin!" perintahnya tegas sambil berusaha merebut,tidak terima milik suaminya dipakai orang lain dan Irham berusaha terus menghindar. Kali ini Mita lepas kendali melihat gerakan Nuri yang tampak susah payah dengan perut besarnya merebut kaos itu tanpa mempedulikan anak dalam kandungannya. Mita yang melihat samai panik,takut terjadi sesuatu pada Nuri.
"Berhenti!" teriaknya keras.
__ADS_1
"Mbak ingat kondisi!" tanpa sadar membentak Nuri yang tak kalah emosi.
"Ini salah kamu lancang meminjamkan kaos milik suamiku padanya!" Nuri balik membentak dengan mata melotot sambil menunjuk Irham.
"Mbak juga lancang selalu ikut campur sama urusanku dan ini buktinya mbak lancang memakan masakan ku tanpa izin ku." jawabnya sengit.
"Sudah neng...sabar!" emak mendekat berusaha menenangkan Mita yang sedang emosi.
"Biarin Mak aku mau menyadarkan dia."
"Kamu...!" tunjuk Nuri ke wajah Mita.
"Kenapa? Apa mbak pikir selama ini aku gak tahu perbuatan mbak dibelakang aku?"
"Aku diam bukan berarti aku gak tahu. Aku masih menganggap mbak keluarga tapi apa mbak pernah menganggap aku keluarga?"
"Mbak gak sadar sudah menyakiti perasaan orang dengan ucapan dan sikap kasar mbak...aku sudah gak tahan sama semua sikap mbak. Menjelekkan aku didepan orang juga kak Dani yang katanya gak pernah ngasih jatah belanja,iya kan?"
"Dan tiap hari menghabiskan jatah makan emak sama yang lain lalu mbak ke manakan jatah belanja dari kak Dani?"
"Mbak simpan sendiri buat beli barang online...iya?" suara Mita terdengar tegas dan penuh keberanian.
"Ya Allah hanya gara-gara meminjam kaos kak Dani,mbak marah gak karuan...apa ini setimpal dengan sikap kasar mbak ke Irham?"
"Dia sakit hati mbak marahin tiap hari. Kaya tadi mbak asal menuduh dan gak mau minta maaf ya Allah..."
"Terbuat dari apa sih hati mbak?"
"Batu?"
"Apa mbak gak punya rasa kasihan ke orang?"
"Emak juga mbak omelin...beliau orang tua mbak."
"Pak Darman,pak Bowo...mbak perintah sesuka hati astaghfirullah...mereka bekerja untuk aku tapi mbak berlagak seperti bos tiap kali komentar gak jelas padahal mbak gak tahu apa-apa." Nuri diam tak berkutik tapi terlihat sikap angkuhnya yang menolak menerima kebenaran ucapan Mita,merasa paling benar. Mata Mita berkaca-kaca,menyayangkan sikapnya yang kali ini lepas kendali.
"Astaghfirullahaladzim...berdosa marah-marah begini tapi mbak seperti sengaja memprovokasi aku." ia menghela napas.
"Sepertinya aku memang harus pindah dari rumah ini...aku butuh ketenangan."
"Bapak...ibu...maafin aku!" airmatanya mengalir perlahan.
__ADS_1
Tidak ada yang menyadari bahwa sejak tadi Dani mendengar ucapan Mita. Pantas saja muka Mita nampak keruh dan kusut ternyata ini penyebabnya pikir Dani.