Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 101 Bukan ujian sekolah


__ADS_3

Sementara para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disiapkan Mita menggiring kakaknya masuk ke kamar.


"Ayo!"


"Ke mana?"


"Katanya mau direndem."


"Apanya?" Mita menatap jengah.


"Jas yang kakak pake. Mumpung masih baru."


"Baru?" ulangnya dengan dahi berkerut.


"Baru kena ingus aku kelamaan jadi kering sulit nyucinya." jelasnya dengan wajah memerah menahan malu mengingat sikap joroknya tadi.


"Kamu itu dek jorok kok didepan banyak orang." protes Dani yang disambut melengos,malas menanggapi.


"Untung saja gak pada ilfil mereka sama kamu." Mita manyun.


"Sekalian kemejanya basah nih!" melepas kemeja dan melemparkan ke atas kasur yang langsung Mita pungut dan dibawa ke belakang untuk direndam ke dalam ember cucian baju.


"Aduuuh ribet gini!" keluhnya sambil sibuk menjepit gamis dengan kedua kakinya supaya tidak melorot dan basah kena air.


"Alhamdulillah selesai." sekalian dia mencuci muka dengan sabun muka.


"Paket komplit ini gak perlu touch up sudah kaya bedakan." gumamnya saat melihat pantulan dirinya sendiri melalui cermin didalam kamar mandi. Begitu keluar dari kamar mandi dia melihat kakaknya makan didapur sendirian pula.


"Loh kok makan disini bukannya didepan?"


"Gak pa pa." Mita menghela napas lalu beranjak pergi ke depan.


Mita bukannya tidak tahu isi pikiran kakaknya yang sejak tadi berusaha menghindar dari keluarga istrinya. Nampak malas dan ogah-ogahan tapi dia malas berdebat dengan kakaknya. Akhirnya dia memutuskan kembali ke depan mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol baik-baik dan tidak bikin kesel.


Baru juga nongol sudah ada yang menyambutnya dengan teriakan kecil nan menggemaskan.


"Maira rindu kak Mita." disusul si kecil Zidan ikut-ikutan nemplok memeluk kakinya membuatnya gemes dan langsung jongkok.


"Kakak juga kangen banget sama kalian." Mita memeluk keduanya dengan gemas.


"Aduduh lama gak ketemu adek Zidan sudah bisa lari yah?" Zidan menganguk-angguk lucu sambil tertawa membuat Mita makin gemes.

__ADS_1


"Sudah makan?"


"Sudah tapi adek Zidan belum lari-lari terus dari tadi."


"Ya sudah sini kita duduk sambil nyemil,mau?"


"Mau...." jawab Maira,Zidan hanya ikut-ikutan. Nurut saja digandeng tangannya oleh Mita dan digiring untuk duduk.


"Sini adek Zidan dipangku sama kakak." ucap Mita sambil mendudukkan Zidan dipangkuannya,mengingat Maira sudah lebih besar jelas tidak kuat memangkunya.


"Aku juga." rengek Maira,tidak mau mengalah dengan adiknya,membuat Mita meringis menahan ngilu saat Maira tiba-tiba saja menjatuhkan bokong diatas pahanya yang sebelah.


"Kakak Maira berdiri,sakit ini kaki kak Mita nya."


"Sini dipangku sama om."


"Gak mau...maunya sama kak Mita,Maira kangen dipeluk sama kak Mita." tolaknya tegas.


"Kakak kan sudah besar harus ngalah sama adiknya."


"Gak mauuuu." tolaknya keras dengan muka yang sudah menyek-menyek hampir menangis. Rupanya bukan hanya para lelaki yang memperebutkan Mita anak kecil ikut memperebutkannya,bikin pusing kepala.


"Ya sudah biar adil kakak Maira duduk disamping kanan adek Zidan duduk disamping kiri." sambil memindahkan Zidan ke samping kiri tanpa penolakan.


"Adek Zidan sini dipangku sama om!" Zidan melihat ke arah Yahya dengan tatapan polos.


"Ndak mau." tolaknya dengan gaya cadelnya.


"Adek sini sama mama!" ucap Latifa ikut membujuk tahu jika si kakak ngambek sambil melambaikan tangan yang disambut gelengan Zidan.


"Adek kok gitu sih sama mama?" Latifa berpura-pura ngambek. Tersenyum saat melihat Zidan langsung berdiri mengira Zidan akan kembali padanya namun diluar dugaan Zidan malah memeluk leher Mita dari samping dan mencium pipi Mita hingga mengeluarkan suara keras,bertepuk tangan dengan tawa bahagia. Seperti sengaja menggoda kakaknya yang langsung menangis kejer. Yahya melongo melihat keganjenan Zidan.


"Anak siapa sih itu berani banget cium pipi pujaan hati gw?"


"Adeh gw kalah set sama bocah."


"Menang banyak dia bisa bebas cium cewe cantik." komentar-komentar yang mengandung iri dengki karena tidak bisa bersikap bebas seperti Zidan. Mendengar itu Latifa hanya melengos sedangkan Hanif menunduk karena menahan tawa.


"Cup...cup...sayang aduh jangan nangis!" Mita berusaha menenangkan Maira yang terus menangis histeris seperti tidak terima Mita dicium adiknya.


"Adek Zidan kan cuma nyium pipi kakak."

__ADS_1


"Enak yah jadi bocah bisa minta cium sama cewe cantik hehehe..." Mita langsung menatap tajam ke sumber suara yang tampak cengengesan. Siapa lagi yang berani bicara seperti itu selain temannya Dani.


Maira yang masih kesal dan tidak terima,berdiri dan berjalan ke samping kiri sambil mendorong adiknya lalu mengusap bekas ciuman adiknya dipipi Mita. Seperti balas dendam Maira menciumi pipi Mita seakan menghilangkan bekas ciuman Zidan. Seprotektif itu...


Semua orang yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala. Bersyukur Yahya menyadari langsung menangkap tubuh kecil bocah laki-laki itu dengan sigap,yang langsung menangis karena kaget akan jatuh.


"Hua...." ruangan dipenuhi suara tangisan kedua anak kecil itu. Selanjutnya sibuk membujuk kedua anak itu supaya diam.


**********


Keesokan harinya,dikamar Dani mulai mengeluarkan amplop dari orang-orang yang datang ke acara akad nikahnya. Diluar dugaan,setelah akad nikah selesai para tetangga malah berdatangan mengucapkan selamat sambil menyelipkan amplop ke tangannya.


"Wow dua ratus ribu,siapa ini?" Dani mengecek tertulis nama Adnan.


"Seratus ribu dari Dion."


"Seneng dapet duit tapi nanti mereka nikah aku juga kan gantian ngamplop mereka,sama saja dong kaya hutang huh..."


"Harus dicatat ini biar gak lupa."


"Nanti mereka ngebatin aku kalau gak dibalikin sama." memang yah kebiasaan orang punya hajat dapat amplop dicatat biar bisa mengembalikan dengan jumlah yang sama pas mereka giliran punya hajat. Harusnya kan tidak begitu. Menghadiri undangan itu wajib hukumnya dengan atau tanpa amplop itu menurut kesanggupan dan keikhlasan setiap orang tapi ini seperti jadi ajang hutang piutang. Inilah yang dilarang dalam agama.


Sekitar setengah tujuh pagi Mita ke dapur untuk sarapan,bertemu dengan Nuri yang duduk dimeja makan sambil menikmati sarapannya.


"Sarapan yah mbak!" sapanya sekedar basa basi.


"Iya." jawabnya pendek padahal Mita berharap bisa mengobrol panjang.


"Mak sarapan bareng yuk!"


"Nanti neng nanggung masih cuci piring." aslinya sudah selesai semua dan sungkan sama orang baru tapi disibuk-sibukkan agar Mita tidak curiga.


"Oh yah sudah tapi nanti jangan lupa sarapan!"


Nuri selesai sarapan,beranjak mencuci tangan dengan meninggalkan piring kotor dimeja makan. Mita tidak berani menegur karena merasa ini masih diawal.


"Maaf yah Mak biar Mita yang cuci." ucapnya setelah Nuri pergi.


"Gak pa pa neng biar emak yang cuci."


"Jangan Mak!"

__ADS_1


"Gak pa pa sudah tugas emak." Mita mengalah meskipun merasa tidak enak hati. Belum sehari tapi terasa berat ketika ada orang baru yang bersikap seenaknya tapi mau bagaimana lagi,ini ujian untuk seisi rumah tapi bukan ujian sekolah.


__ADS_2