
Mereka menarik napas bersamaan masih bisa mendengar suara Irham yang seakan belum puas mengeluarkan kekesalannya pada Dani padahal disini yang dizalimi adalah Mita tapi justru Irham yang seperti kebakaran jenggot merasa tidak terima.
Langsung disusul dengan teriakan pak Darman yang sejak tadi berusaha menghentikannya untuk secara halus terus berbicara namun tidak diindahkan dan terpaksa beliau bicara keras sebagai perintah.
"Diam kamu!" teriak pak Darman akhirnya.
"Bapak sebetulnya gak mau kasar sama kamu tapi kamunya kaya yang gak ngerti." ucap pak Darman kesal,mukanya berubah merah karena menahan marah.
"Aku cuma mau ngebela kak Mita pak." sanggahnya dengan kesal,merasa sikapnya sudah benar.
Pak Darman langsung menatapnya tajam.
"Jadi kamu ngerasa benar sama yang kamu lakukan saat ini?" tanyanya dingin tapi Irham seperti yang bingung seperti terjebak pada ucapannya sendiri yang seketika meragukan perbuatannya barusan,apakah benar atau salah dia merasa ditengah-tengah. Tahu salah karena marah dan benarnya ingin membela Mita,itu menurut pendapatnya
"Kamu sudah ngerasa benar?" tanya pak Darman lagi memastikan. Kebungkaman putranya menandakan si empunya sendiri tidak tahu. Pak Darman menghela napas mencoba meredakan amarah yang sempat memuncak kemudian langsung duduk.
"Apapun alasannya....kemarahan tidak dibenarkan didalam agama nak." ucap pak Darman kemudian memberi tanda pada Irham untuk duduk didekatnya,merangkul pundak putranya.
Didalam rumah mereka berempat masih bisa mendengar suara pak Darman dan Irham yang sebelumnya bersitegang tapi kemudian suara pak Darman mengendur sesaat setelah suara Irham tak lagi terdengar.
"Kita semua ini milik Allah jadi terserah sama Allah mau dijadikan seperti apa....tergantung juga maunya kita apa...."
"Mau jadi orang baik atau buruk....kita yang menentukan sendiri....dan Allah yang akan menggiring hati kita...."
"Jadi gak perlu kamu marah kaya gitu ke orang."
"Urusan salah dan dosa itu urusan mereka sama Allah bukan urusan kita....yang mustinya kita lakuin adalah mengembangkan diri menjadi orang yang baik dihadapan Allah bukan baik didepan mata manusia."
"Yang baik dimata manusia belum tentu baik dihadapan Allah....kamu paham." Irham terus menyimak ucapan bapaknya yang kemudian mengangguk paham,menyadari kesalahannya.
__ADS_1
Mita tersentak dan tercenung. Secara tidak langsung ucapan pak Darman seakan mengingatkannya bahwa ia pun sama seperti Irham,tadi sempat tersulut emosi.
"Kamu yang rugi sendiri."
"Dimulai dari bangun pagi itupun termasuk sunnah rosul insya Allah diganjar pahala sama Allah terus sholat....ngebantuin emak dirumah terus kerja insya Allah pahala semua itu...."
"Terus kamu habiskan buat marah-marah ngomong kasar pula....bukankah sayang....usaha kamu yang hampir setengah hari ini habis cuma untuk itu." pak Darman menggelengkan kepala.
"Yah kalau impas sama dosa kamu kalau masih kurang bukannya pahala kemarin ikut berkurang buat nebus dosa kamu hari ini." dahi pak Darman langsung berkerut teringat anaknya yang sudah dari kemarin juga sama menggerutu dan kesal.
"Nggak tau yang kemarin masih punya pahala apa enggak kemarin kamu juga menggerutu dan kesal kan?" Irham langsung cemberut kalau sudah diingatkan antara pahala dan dosa. Pahala belum tentu dapat dosa iya karena pada dasarnya hati manusia cetek gak sebesar itu menjalankan kata "ikhlas karena Allah" dalam setiap pengerjaannya entah sholat yang orang cenderung pengen balasan dunia dan pekerjaan pula ada mengeluhnya apalagi pas cape-capenya terus darimananya diganjar pahala.
"Sungguh rugi besar kamu nak!" sambung pak Darman prihatin sambil kembali menggelengkan kepala dengan menunduk.
"Bapak jangan ngomong gitu....yah anak didoakan yang baik-baik ini didoakan yang buruk." keluhnya dengan menggerutu.
"Lah bapak cuma mengingatkan kenapa jadinya nuduh bapak ngedoa in yang buruk sama anak sendiri." jawab pak Darman dengan pandangan heran.
"Sayang kamu sama yang namanya kemaharan sampai gak eling begitu." ucapnya sinis,Irham menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Au ah...." ucapnya melengos,menutupi kesalahannya.
"Makanya kalau dikasih tau sama orang tua itu didengerin untung aja tadi gak ada cewe cantik lewat beuuh bisa bahaya....mana ada yang mau sama cowo kaya kamu udah kasar suka teriak-teriak pula...." Irham langsung melotot kesal seperti didoakan tidak laku.
"Bapaaak...." teriaknya kesal.
"Apa?" balas pak Darman kesal.
"Emang bener kan tanya aja neng Mita kenapa suka sama mas Yahya terus mau diajak nikah....jelas karena sifatnya mas Yahya yang bikin nyaman dideketinya." Mita mengangkat kening mendengar namanya disebut dan dikaitkan dengan suaminya yang hanya klamas klemes sambil memandangnya,mendengar dirinya dipuji setinggi gunung Himalaya jelas menyenangkan.
__ADS_1
"Apa kamu denger dek?" Mita langsung melengos dengan hidung kempas kempis menahan malu.
"Udah ganteng....tajir....perhatian....baik....lembut pula sama istri duh wanita mana yang gak jatuh hati paket komplit pokoknya." pak Darman menyebutkan kelebihan Yahya dengan tatapan memuja membuat Irham mencebik merasa tidak terima dengan lelaki yang ditakdirkan lebih segalanya dibandingkan dirinya.
"Ahahaa...." didalam rumah Yahya tertawa senang mendengar pujian pak Darman.
"Heeh bapak kira-kira dong kalau ngebandingin aku sama orang....masak pemuda sekelas kakap kaya bang Yahya dibandingin sama aku yang masih bau kencur gak imbanglah." balasnya dengan nada sinis.
"Dia berada sedangkan aku orang gak punya."
"Dia udah dewasa aku masih remaja."
"Alaah bilang aja ngebela diri sendiri." sanggah pak Darman yang tidak mau kalah. Terkadang orang tua lebih tidak bisa mengontrol diri kalau sudah berhadapan dengan anak sendiri kaya Irham yang mahir dalam beradu argumen.
"Apaan....aku bener kok kaya bapak sekarang yang udah gak muda lagi walaupun dulu ada masanya bapak berkilau tapi hari ini bapak tetap seorang bapak dari empat anak ahaaahaaa...." pak Darman terlihat menahan kesal dan akhirnya diam karena merasa tidak bisa menyaingi cara berdebat Irham.
"Nanti sepuluh tahun lagi yang jelas bang Yahya juga sama kaya bapak udah gak semuda dan segagah saat ini pada akhirnya umur gak bisa membohongi ada masanya aku akan lebih unggul daripada dia." ucapnya bangga. Giliran Mita menertawakan suaminya yang tersenyum kecut,sekali hantam bisa langsung terkapar oleh ucapan Irham.
"Hihihi....ada saatnya akan ada orang lain yang lebih unggul daripada Abang makanya jangan sombong dulu jadi orang tuh mesti rendah hati ahaaahaaa...." Mita menirukan perkataan Irham kemudian tertawa terbahak.
"Awas kamu nanti malam Abang bikin kamu minta ampun." Mita terhenyak mendengar ancaman suaminya. Teringat kalau dia akan selalu kalah kalau berhubungan dengan kegiatan malam.
Dani yang memahami arah pembicaraan mereka berdua langsung menimpali dengan ketus.
"Apaan sih kalian...." dengus Dani yang sampai dilupakan keberadaannya. Nuri yang disisinya tampak tidak tertarik hanya diam sambil menyimak. Saat ini pikirannya hanya terfokus pada masalahnya sendiri.
Masih terdengar percakapan yang unfaedah diluar hingga terpaksa dihentikan karena hanya akan membuat yang lain yang mendengarnya ikut terprovokasi dan melakukan hal-hal yang diluar batas.
"Adeeh Irham udah dong ngomongnya kita pulang....dengerin kamu ngomong bikin pusing kepala." gerutu Mita sambil beranjak mendahului masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Akhirnya tragedi tidak sampai ******* malah menjadi sesuatu hal yang mengusik kenyamanan antara dirinya dan suaminya.