
Sepanjang perjalanan Irham terus mengoceh dan hanya dijawab ham hem ham hem,tidak jelas bicara apa karena suaranya terbawa angin. Mungkin efek senang jadi dia banyak bicara. Yang terpenting bagi Mita adalah Irham sudah kembali ceria. Itu saja sudah membuatnya lega dan bonusnya ia ikut terbawa suasana ceria.
Sampai direstoran,Irham tidak henti-hentinya berdecak kagum. Biasalah bagi kalangan sederhana begitu melihat hal bagus yang belum pernah dilihat langsung heboh hingga menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung. Mita tersenyum canggung sambil mengangguk dan ditariknya Irham masuk ke dalam agar tidak mempermalukan diri sendiri,bisa-bisa jadi bahan ejekan orang.
"Ayok!" menarik Irham terlalu melelahkan baginya yang tenaga seorang perempuan sementara yang punya badan seakan tidak mau beranjak dari tempatnya masih asik mengagumi interior resto.
"Ih beraaat tauuuu...ayooook masuuuk!" hingga berubah mendorongnya dengan sekuat tenaga dan bisa bernapas lega saat bertemu dengan Yahya yang memandangnya dengan bahagia. Setidaknya akan ada yang membantunya dengan tenaga yang lebih besar mengungguli beban tubuh berat Irham.
"Kenapa?" tanya Yahya yang melihat muka lelah Mita yang tampak mengatur napas.
"Tolong bawa dia masuk!" ucapnya masih dengan napas ngos-ngosan.
"Kamu habis apa sih?" tanya Yahya heran.
"Nanti aja jelasinnya aku butuh minum!" langsung ke dapur resto memanggil seseorang untuk bertanya tentang letak air minum.
"Disini dek!" mengetahui Mita yang butuh air dengan segera laki-laki tersebut tidak banyak bertanya,memilih menunggunya selesai minum air baru bertanya.
"Kamu siapa?" bukannya menjawab Mita melihat ke dadanya yang tersemat name tag bertuliskan nama Fadil Ahmad.
"Anak baru?" Mita balik bertanya dan dijawab anggukan. Belum sempat bicara lebih banyak Yahya datang menyela.
"Ekheem...dia Mita calon istriku!" jelas Yahya dingin langsung berdiri ditengah diantara Mita dan Fadil. Dahinya tampak berkerut antara bingung dengan situasi yang mendadak tegang namun seketika teringat keberadaan Irham yang tadi dititipkan pada Yahya.
"Dimana anak itu?"
"Kakak tinggal dimana dia?"
"Tenang...dia aman diruangan aku ini mau dipesankan makan katanya pengen kepiting asam manis." begitu bicara dengan Mita suaranya berubah lembut. Mita memandang keduanya secara bergantian tampak ada sesuatu yang tersembunyi dihati masing-masing tapi kemudian menghela napas bukan urusannya,pikirnya. Semua akan ada waktunya.
"Kamu mau apa?" Mita menggeleng cepat.
"Belum laper nanti aja."
"Katanya Irham kamu belum makan." Mita mencurigai sesuatu,baru ditinggal sebentar Yahya tahu dia belum makan.
"Ngomong apa lagi dia?" tanya Mita dengan menyelidik dan dibalas dengan senyum sambil melirik ke arah Fadil. Mita mengerti maksudnya.
"Bebek goreng yah." tawar Yahya dengan memaksa,Mita diam saja.
"Jika gak makan sama saja kamu menzolimi diri sendiri." Mita paling mempan jika diingatkan tentang ajaran agama dan akhirnya setuju.
"Andra...kepiting asam manis sama bebek goreng minumnya air putih hangat sama jus alpukat."
"Antar ke ruangan aku!"
__ADS_1
"Ok mas bos..." sambil mengacungkan jempol.
Ditariknya Mita untuk mengikutinya sebelum sempat berpamitan pada Fadil dan dia menolak.
"Sebentar ih aku mau pamit gak enak sudah dibantu gak bilang terima kasih." sambil menarik lengannya yang dipegang Yahya yang cemberut dengan tidak rela.
"Sudah dewasa gak pantes ah kaya gitu...bersikaplah sepantasnya ok belajar menjadi baik dihadapan Allah SWT." kasih senyuman manis sedikit biar luluh hatinya.
"Senyum dong selain ibadah juga membawa berkah." Yahya menarik napas lalu mencoba tersenyum dengan ikhlas.
"Aduuh saya manggilnya apa yah?"
"Dipanggil bapak ketuaan dipanggil mas nanti ada yang marah jadi dipanggil sama aja...kakak Fadil terima kasih atas bantuannya yah." Fadil tersenyum dan mengangguk.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya assalamu alaikum..."
"Waalaikum salam..." baru bisa pergi dengan tenang menuju ke ruangan Yahya dimana Irham sedang menunggunya.
Sampai diruangan,Irham heran sepasang manusia didepannya tidak terlibat atau saling melibatkan diri dalam percakapan malah sibuk sama hp masing-masing.
"Ada apa sih sama kalian?"
"Bukannya mau ngomongin acara lamaran resmi yah?" ucap Irham polos yang disambut baik oleh Yahya berbeda dengan Mita yang melotot kaget,disaat dia tidak tahu harus bicara apa,mengetahui muka bete Yahya setelah dia berpamitan pada Fadil. Justru Irham menjadi penengah sekaligus jadi juru bicara dari pihaknya.
"Jadi lamaran aku diterima nih?" tanyanya memastikan tapi Mita memalingkan muka. Ia mulai goyah,berpikir untuk mempertimbangkan lagi keputusannya setelah melihat sikap Yahya padanya barusan.
"Gak jadi." jawabnya singkat,Yahya berubah kecewa. Irham garuk kepala melihat interaksi keduanya.
"Aduuh gimana sih? Belum juga nikah kok sudah ngambek-ngambekan gini." tidak ada yang menjawab.
"Susah yah jadi orang dewasa."
"Tau gak?"
"Gak." jawab keduanya kompak membuat Irham terkekeh.
"Ujian sebelum menikah yah kaya gini,ragu sama keputusan dan takut menjalani hidup ke depan."
"Sok tau." kompak lagi jawabnya dengan ekspresi kaget,keduanya saling memandang lalu memalingkan muka.
"Jangan salah,meskipun aku masih bau kencur nyatanya saat ini aku yang paling dewasa,punya kewarasan bisa berpikir bijak!" Mita mencebik.
"Eh beneran ini...." merasa diremehkan Irham langsung menunjukkan kemampuan daya ingatnya yang tinggi.
"Aku pernah denger ini pas keponakan bapak yang mau nikah datang ke rumah ceritanya dia mengeluhkan calonnya yang katanya begini dan begitu sampai bilang mau batalin pernikahan padahal hari H besoknya...dipikir nikah main-main apa seenaknya ngebatalin,malulah keluarganya." omel Irham diakhir kalimat.
__ADS_1
"Lalu bapak dengan bijaknya bilang begini..."
"Adi...kamu menikah tujuan kamu apa?"
"Aku mencintainya...jawab bang Adi."
"Kalau kamu cinta kenapa kamu mengeluhkan sikapnya?....bang Adi jawabnya aku capek menghadapinya."
"Kamu tahu gak alasan dia bersikap seperti itu,mungkin ada sesuatu hal yang mengganggunya bisa jadi takut karena sesuatu."
"Orang mau menikah itu banyak pikiran apalagi untuk kita kelas bawah segala bumbu dapur dipikirin karena uangnya mepet takut gak cukup atau gimana..."
"Jadi jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Coba bicara saling terbuka biar kalian tahu masalah masing-masing dan bisa mencari solusi."
"Intinya jangan ada dusta diantara kita!" Mita jadi ingin tertawa mendengar ucapan Irham.
"Satu lagi niatkan menikah karena Allah bukan karena yang lain. Ingat menikah itu ibadah terpanjang selama hidup. Menjadikan samawa insya Allah masuk surga dan sebaliknya akan masuk neraka."
"Hidup itu pilihan,mau jadi lurus alhamdulillah mau jadi sesat silahkan. Intinya tidak ada yang sempurna tinggal bagaimana caranya bisa empat M..." Mita dan Yahya mulai memakan umpan,tampak penasaran ingin tahu arti empat M.
"Bapak bisa aja aku kan ikut penasaran hehehe..." Irham seperti selingan dalam tayangan sinetron,membuat orang ingin tertawa melihat tingkahnya.
"Aku menajamkan pendengaran ternyata empat M adalah saling menghargai,menghormati,melengkapi, mengingatkan."
"Bapak juga bilang...siapapun jodoh kamu pasti akan memiliki kekurangan seperti kamu yang memiliki kekurangan."
"Kamu tahu kenapa banyak yang bercerai padahal katanya cinta mati tapi baru menjalani belum sampai mati mengeluh capek,bilangnya tidak cocok."
"Namanya manusia mana ada yang cocok,jenis kelamin beda,bentuk tubuh beda,bajunya beda apalagi pendapat tentu saja beda,satu ke sana satu ke sini. Ingat empat M...menghargai dan menghormati pendapat pasangan,saling melengkapi disaat pasangan tidak mampu menjalankan tapi kita bisa menjalankan,jangan menganggap diri sendiri yang paling benar sehingga menekan pasangan untuk melakukan sesuai keinginan kita,adakalanya walaupun benar tapi harus diam supaya tidak terlibat pertengkaran nanti saat sudah tenang baru mengingatkan,panggil dengan sebutan sayang atau cinta sebetulnya kamu tidak salah hanya saja pendapat kamu kurang tepat coba pikirkan dari segi ini..." Irham menirukan gaya bapaknya.
"Setiap orang memiliki kesulitan masing-masing jadi jangan disama ratakan. Ketika ada yang pintar memasak itu karena dia ahli tapi belum tentu dia juga ahli yang lain misalnya ahli ibadah."
"Pertengkaran itu memang boleh saja jika dilihat dari sudut pandang manusia tapi bagi Allah itu tetap tidak baik,dosa dan membuat rezeki seret."
"Jadi ambilah keputusan karena Allah agar hidup terasa lebih ringan walaupun sebetulnya sulit bukannya karena nafsu. Segala sesuatu yang dilakukan karena nafsu hanya akan membuat beban bagi hidup."
"Paham." tanya Irham,lagaknya seperti orang tua yang banyak makan asam garam.
"Mulai hari ini tiap ada masalah saling terbuka biar gak salah paham terus kaya gini. Aku sedih ngelihatnya karena aku benci pertengkaran. Diam kalian gak akan membawa apa-apa kecuali perceraian. Belajar untuk memahami sifat masing-masing. Jika yang satu pendiam maka yang satu harus banyak bicara biar seimbang seperti timbangan atau akan ada yang berada diatas dan dibawah sehingga kalian gak akan bisa saling bertemu."
"Kalian gak tahu gimana rasanya jadi aku,saudara banyak ditambah orangtua jadi tujuh orang,semuanya punya keinginan sendiri terutama adik-adikku yang belum mengerti arti hidup pada akhirnya bapak ibu dan aku yang lebih banyak mengalah demi apa...."
"Demi hidup yang lebih baik kata bapak...mau miskin ataupun kaya sama rasanya miskin tapi kaya hati bisa terus bersyukur kaya tapi miskin hati ujung-ujungnya debat terus kecuali kaya harta seimbang dengan kaya hati tapi tetap saja yang namanya hidup pasti ada ujian."
"Sudahlah cukup sampai disini tausiah ustad Irham ya Allah aku lapar...kapan makanannya datang." teriaknya tidak sabar.
__ADS_1