
Mita POV
"Kalau gitu menurut neng Mita dari kami semua siapa yang paling ganteng?" dia memainkan kedua alisnya sengaja menggodaku. Sejak kapan sih anak ini jadi seperti salah didikkan gini baru ditinggal beberapa hari sudah berubah haluan. Aku hanya bisa tarik napas panjang.
"Ayo dong neng jawab gak kasihan apa sama kita yang nungguin penilaian Eneng." eh ini anak sembarangan ngomong minta dicubit memang. Gak enak lah masak disuruh menilai penampilan orang,baik buruk kan relatif sesuai pemikiran orang. Ini namanya mengadu domba kalau satu disebut ganteng yang lain pasti sakit hati dan aku menjadi pihak yang paling menyakiti. Lagipula ini seperti aku sedang menilai ciptaan Allah,menanggung dosa besar aku nantinya. Harus bisa mengalihkan,satu-satunya orang yang pintar mengalihkan adalah kak Yahya. Pengen minta bantuan sayangnya dia menunduk gak tahu apa yang dilihatnya dibawah tampak lebih menarik dari apapun juga. Tarik napas lagi.
"Jawab aja kenapa sih!" eh disampingku rupanya kak Hafiz sedang memandang ku dengan tatapan kesal dan suaranya terdengar gak sabar. Aneh deh. Dikira gampang ya memutuskan masalah ini,gak menyinggung hati orang gitu.
"Iya dek jawab aja kasihan kelamaan nungguin mau kerja juga. Lagian kakak penasaran juga sama selera kamu. Kerenan mana sama kakak?" bisiknya bikin kesel pake menyombongkan diri sendiri. Bukannya bantuin malah nambahin perkara serasa didorong ke neraka. Mikir cepet harus dialihkan segera.
"Aduh kok keringetan yah kayanya mataharinya makin naik jam berapa ini yah sudah masuk waktu kerja belum?" dengan gaya mengelap keringat di pelipis. Tiba-tiba aja bisa ngomong selancar ini lumayan buat mengalihkan.
"Kak berangkat gih kesiangan entar!" kak Dani mendengus kasar.
"Alesan aja kamu dek! Buruan gih kakak tungguin baru jam enam kok!" aku hanya melirik kakakku sambil berdecak sebal. Sekilas terpesona,orang ganteng mah gaya ngeliat jam ditangan aja kelihatan keren.
"Eh malah terpesona sama kegantengan kakak tuh ditungguin noh lihat didepan temen-temen kakak juga!" tunjuk Dani ke arah teman-temannya yang posisinya duduk diatas jok motor,kalau dihitung ada tujuh orang. Memang kurang kerjaan mereka mantengin rumah orang gak kira-kira.
"Kemarin pas tahu muka kamu dilayar hp kakak mereka tertarik deketin kamu pada minta nomer hp kamu." sret ini mata gerakannya sudah seperti pedang tajam menatap kak Dani.
"Jangan dikasih!" ucapku tegas,dia menatapku malas.
"Iya kakak tahu buruan jawab gih biar mereka tahu selera kamu dan gak berniat deketin kamu lagi bisa dibilang mematahkan hati mereka sebelum tumbuh bibit-bibit suka. Kamu pikir kakak gak pusing apa tiap hari ditagih nomer kamu malah ada yang modus pinjem hp dengan alasan segambreng padahal niatnya nyuri nomer kamu." aku jelas terperangah lalu cemberut. Gak habis pikir sampai segitunya mereka.
"Terus bisa nyuri?" dia menggeleng.
"Aku lebih pintar dari mereka." dia tersenyum sinis,kumat sombongnya.
"Terus dihapus nomer akunya?"
"Gak lah tapi ku ganti nama."
"Ganti nama apa?"
"Ijah ahaaahaa..." aku melengos tapi gak pa pa lah daripada digangguin mereka bisa ngebayangin hp ku yang bentar-bentar dapat wa atau telpon malah bikin pusing kepala.
"Yeay ditungguin malah diskusi sama bang Dani!" protesnya langsung ku balas pelototan. Dikasih makan apa sih dia pagi ini bisa cerewet banget. Aku punya ide langsung pasang senyum manis.
"Eh daripada ngomongin hal gak penting gimana kalau sarapan aja dibelakang biar kuat kerjanya!"
"Kamu itu nawarin kira-kira dong memang dibelakang masih ada makanan?" bisik kak Dani sewot yang membuat ku panik seketika. Iya aku lupa.
"Masih ada gak?"
__ADS_1
"Lah kamu masak gak tadi pagi malah tanya kakak?" aku kan gak masak yang masak emak manalah ku tahu dibelakang masih ada makanan.
"Kan upayaku buat ngalihin bocah itu sogok sama makanan." ucapku lemas.
"Sogok pake makanan pake duitlah."
"Ayo dong neng jawab penasaran nih!"
"Mas Irham ngapain sih bahas gituan masih pagi juga belum sarapan gak bisa mikir nih." dalihku berharap cukup sampai disini bahasnya.
"Neng Mita ngeles teruuuus!" aku capek dituntut seperti ini pengen masuk kamar terus tidur.
"Diibaratkan nih yah neng Mita ini kembang yang lagi mekar-mekarnya. Saking cantik dan wanginya jadi banyak kumbang akan bersaing untuk bisa lebih dekat. Kumbang makin banyak mendekat menimbulkan suara bising...nguing...nguing terus apa gak sakit kupingnya Eneng tiap hari dengernya mending pilih satu biar yang lain mundur dan gak ngerasa diphp in sama eneng." aku terperangah dari mana bocah itu belajar menjadi pujangga kelas teri kaya gitu. Ah bikin sakit kepala.
Geplaaak......aku meringis darimana itu suaranya terdengar keras dan menyakitkan.
"Auw bapak sakit gak boleh pak mukul kepala." keluhnya sambil mengelus kepala. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan yang lain tertawa melihat Irham kena apesnya.
"Terus yang boleh dipukul mana?" Tanya pak Darman dengan mata melotot. Irham langsung menciut.
"Dari tadi ngomong gak karuan disabar-sabarin juga masih terus aja." sambungnya kesal dan marah.
"Ya aku kan cuma bantuin neng Mita......" semakin lirih dia ngomongnya takut dipelototin bapaknya.
"Sudah sudah mas Irham jangan berdebat lagi sama bapaknya dosa." aku menengahi supaya suasananya lebih damai. Takut aku ngelihat kemarahan pak Darman pada putranya.
Tarik napas dulu. Sebelum memutuskan sesuatu jelas harus dilihat dulu dengan teliti baru bisa menilai. Dimulai dari melihat kak Dani,kak Hafiz dan seterusnya. Dahiku mengerut bingung.
"Kenapa sih begitu banget ngeliatnya?" tanyanya dengan muka kesal.
"Yah katanya disuruh menilai mana yang paling ganteng ini lagi dinilai gimana sih?" eh aku ikutan kesel diprotes mulu astaghfirullahaladzim... Harus dikelompokkan biar gampang.
"Kak Hafiz sono ngumpul sama yang lain deketan sama kak Yahya!" dia malah melongo bingung pengen ketawa aku jadinya.
"Kak Dani sono ngumpul sama temennya biar mudah menilainya!"
"Apaan sih dek pake dikumpulin kaya hewan aja dikumpulin sesuai spesiesnya!" sungutnya kesal tapi nurut juga langsung jalan ke arah kawanan. Ya juga aku nahan tawa dengernya.
"Ah...banyak protes mau dinilai gak atau ku tinggal nih!" ucapku dengan bibir cemberut. Eh mereka malah yang gemes gitu ekspresinya apa aku salah ngomong? Bodo amat deh!
Makin bingung ini dinilai secara keseluruhan memang kak Dani dan kawan-kawan pemenangnya kalau dilihat dari penampilan jomplang,beda kelas. Satunya kelas pabrik satunya kelas apa ya susah disebutnya. Aku hanya bisa garuk kepala.
"Dek buruan napa keburu telat nih!"
__ADS_1
"Yah berangkat ajalah susah amat,gak penting juga." aku ngerasa akan segera selesai nih,sudah bisa senyum.
"Eh gak bisa gitu nanggung ditungguin dari tadi buruan!" kak Dani selalu gak sabaran turunan siapa sih dia?
"Sabar dong ini juga lagi dipikirin,susah..."
"Gak bisa..." sambil geleng kepala.
"Gak bisa apanya?" tanya kak Hafiz terlihat bingung dan heran.
"Beda kelas,beda Medan tempur. Jelas kelas pabrikan tampilannya lebih keren dari ujung kepala sampe ujung kaki lah kalian kan kerjanya kotor-kotoran ketemunya sama ayam sama taneman. Tuh lihat kakinya aja beda sono pake sepatu sini sandal jepit....hihihi..." aku baru nyadar juga. Yang grup pabrik merasa menang disebut keren.
"Lihat mukanya aja neng jangan badan ke bawah!" mukanya kelihatan asem banget tadi katanya minta dinilai sekarang ngomong jujur gak terima. Aku geleng kepala.
"Gak ngaruh mas Irham,mereka rambut diolesi minyak Gatsby lah kalian pake apa?"
"Enggak kan? Ngerasa kerjanya kotor-kotoran ketemu sama ayam tampil seadanya yang penting mandi,bener kan?"
"Mereka gak hanya mandi muka pasti pake sabun muka biar putih kaya bedakan,pake minyak wangi,baju disetrika rapi,pake sepatu." ku lihat dari tadi Irham ikut membandingkan lalu nyengir sedangkan kak Hafiz terlihat merasa terhina.
Grup pabrikan tersenyum senang sampai adu TOS bangga disebut memiliki banyak kelebihan.
"Kalau aku......coba bayangin aku pake baju bagus pasti bisa ngalahin mereka." eh ini malah ngajakin stress. Gak tahu dia mikir dari tadi bikin perut laper. Kak Yahya terlihat menunduk aku yakin sedang menahan tawa.
Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Tarik napas dulu biar bisa ngomong bener jangan sampe ada pihak yang merasa dirugikan. Ambil tengah aja karena sekarang aku punya ide bagus.
"Nih dengerin aku sudah memutuskan!" sambil menatap mereka satu persatu yang yang ternyata terlihat antusias disebelah sana seperti merasa yakin bakalan kepilih dan disebelah sini yang terlihat biasa aja,ada pula yang kesal.
"Menurut aku yang paling ganteng yah pak Darman dan pak Bowo!" ucapku sambil tersenyum mereka semua terperangah kecuali kak Yahya seperti sudah tahu jawabanku selanjutnya.
"Kok bisa?" protes kak Dani terdengar gak suka,mewakili kelompoknya. Sementara pak Bowo dan pak Darman terlihat bangga,merasa menang.
"Kita dibandingin sama orang tua." celetuk yang lain.
"Disini yang sudah menikah siapa?"
"Bapak sama pak Bowo neng!" jawab Irham dengan muka polos.
"Sadar gak kalian yang masih muda,ganteng dan keren belum menikah artinya kalian belum laku sedangkan beliau berdua walaupun sudah tua mereka jelas lebih laku ahaaahaaaaa......" semua orang jadi senyum gak jelas. Ada yang reaksinya malu bercampur kesal juga membuat aku tertawa bahagia.
"Kita kalah ganteng sama yang tua." celetuk teman kak Dani sambil tersenyum kecut.
"Ah nyesel gw nungguin adik lu kalau akhirnya kena prank gini." langsung pada pake helm.
__ADS_1
"Ayok kerja-kerja!"
Akhirnya mereka semua bubar jalan menyisakan kak Dani yang terus melotot ke arah ku. Mending kabur ah ngisi perut.