
Mendapat kabar dari mama,atas perintah eyang semua anggota keluarga diminta untuk berkumpul karena ada pengumuman penting jadinya setelah menurunkan tiga orang yang duduk dikursi penumpang mereka bergegas pulang.
"Assalamu alaikum wr wb...." Mita terperangah begitu masuk rumah sepi.
"Lha kok sepi katanya eyang datang ke sini bang?" tanyanya heran sambil celingukan dan melihat ke lantai atas tetap sama tidak orang lalu ke mana semua orang
"Waalaikum salam wr wb....belum datang mungkin eyang dan mama siang-siang begini palingan lagi istirahat dikamar." beranjak menuju sofa kemudian mendudukkan diri disana sambil nyender.
"Kalau dikamar mah sekarang pasti juga dengar kita salam langsung keluar menyapa....ini enggak."
"Mau minum?"
"Boleh." jawabnya pendek,merogoh ponsel disaku celananya dan tampak menghubungi seseorang. Sedangkan Mita beranjak ke dapur membuat minuman untuk suaminya tapi lupa nanya mau minum apa,dasar teledor.
"Bang mau minum apa?" teriaknya dari arah dapur yang membuat Yahya kebingungan mau bicara sama siapa dulu ini sementara sambungan telepon sudah terhubung
"Assalamualaikum....apa? Kamu ini telepon malah mama yang ngomong duluan." suara mama terdengar kesal entah apa penyebabnya.
"Waalaikumsalam....iya ma maaf...." terlanjur kepotong lagi sama suara teriakan istrinya.
"Abaaang mau dibikinin minum apa?" Yahya tidak menjawab jadinya dia menaikkan suara supaya terdengar.
"Ya Allah istrimu tumben teriak-teriak begitu." Yahya tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya ma bentar aku jawab pertanyaan Mita dulu biar dia nya gak mengira aku belum denger."
"Apa aja dek." jawabnya pendek sambil menjauhkan hp nya.
"Es jeruk mau yah." tawarnya,melihat jeruk yang kulitnya keriput mungkin sebentar lagi akan kering terlintas ide memanfaatkan untuk dijadikan minuman segar.
"Iya terserah." balasnya pendek langsung kena protes sama mama.
"Kalian itu ngomong kaya dihutan pake teriak-teriak." tiba-tiba muncul mama dari pintu belakang bersama eyang yang tidak bereaksi hanya melewati saja. Mita tampak terkejut sambil mengurut dada lalu menarik napas.
"Sekalian buatin kita." mama memberi kode untuk dibuatkan minuman juga eyang lalu melangkah menuju ruang keluarga dimana Yahya berada.
"Anak nakal....bisa-bisanya telepon orang dirumah bukannya nyariin kaya yang jauh aja." protes mama pada Yahya.
"Maaf ma lagi cape....papa udah pulang?" mama menarik napas sambil ikutan duduk menyender disebelahnya.
"Belum....mungkin bentar lagi."
"Kakak kamu lagi otw katanya." Yahya mengangkat dahi rupanya betulan ada pengumuman penting dari eyang sehingga harus mengumpulkan semua anggota keluarga sampaikan Latifa juga ikut berkumpul.
Yahya beralih memandang eyang dengan rasa ingin tahu.
"Ada apa sih yang?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Sabar....eyang haus butuh sesuatu yang menyegarkan biar gak kering tenggorokan biar enak ngomongnya."
"Nunggu semua orang berkumpul gak usah berkali-kali ngomongnya....cukup sekali aja."
Kalau sudah begini percuma ditanya juga. Yahya beranjak ke dapur ingin melihat istrinya yang hanya bikin minuman tapi kok lama.
Ternyata sedang mengupas beberapa jenis buah-buahan.
"Pantesan lama." Mita langsung menoleh dan tersenyum melihat suaminya.
"Ditungguin sama eyang minumannya."
"Aku mikirnya sekalian ke depannya bawa buah eh tapi gak pa pa kalau Abang bawa duluan ke depan. Aku ngerasa sayang ngelihat buah dikulkas yang sudah layu kalau dibiarin busuk kan mubazir,duit ini bang." jelasnya sambil lanjut mengupas buah yang lain.
"Iya Abang bawa ke depan dulu." Mita hanya mengangguk dan terpikir sekalian dibuatkan bumbu rujak siapa tahu ada yang suka sekalian buat diri sendiri yang tiba-tiba teringin makan rujak membayangkannya saja membuat air liurnya keluar.
Kemunculannya bersama rujak buah bertepatan dengan kedatangan Latifa dan kedua anaknya yang terdengar membuat keributan diluar rumah namun tidak dihiraukan karena sudah biasa.
"Wah apa ini? Rujak buah ya?" mama....orang pertama yang mengomentari.
"Kayanya seger banget cocok dicuaca yang sepanas ini." sambung mama sambil mencomot sepotong buah yang dicocol ke bumbu rujak dan hap langsung masuk ke mulut.
"Pedes?" tanya eyang yang matanya terus terfokus pada makanan didepannya hanya saja ragu untuk mencicipi.
"Enggak kok ma....pas ini sih menurut aku tapi gak tau kalau buat mama mending dicoba dulu biar tahu rasanya kalau kepedesan bisa berhenti makannya." balas mama yang terus mencomot. Mita sampai melongo melihatnya dan tidak ingin kehabisan langsung ikut mencomot. Tadi itu kan niatnya buat diri sendiri malah yang lain pada suka. Yahya yang melihat keasyikan menyantap rujak buah hanya bisa menggelengkan kepala.
"Abang gak mau coba aaaa...." Mita menyuapi suaminya yang disambut baik.
"Ini bumbunya pake apa aja nak?" tanya mama sambil terus mengunyah.
"Cabe,garam,gula merah sama buah asem."
"Asam?" tanya mama heran.
"Iya....kebetulan tadi bawa dari rumah niatnya besok mau masak sayur asem sama ikan asin kayanya enak,kepengen. Tapi ngeliat buah pada keriput kepikiran bikin rujak buah aja biar gak kebuang kan sayang." jelasnya disela-sela mengunyah.
"Ya Allah....kalian malah enak-enakan makan eh apa ini? Rujak?" datang satu lagi langsung main comot sampai tidak menggubris kedua anaknya yang meributkan mainan hingga saling dorong.
"Ya Allah kak itu anaknya berantem." ucap Mita saat melihat kedua ponakannya bertengkar sedangkan ibunya makan.
"Udaaah biarin aja nanti juga berhenti sendiri." ucapnya tidak peduli malah asik makan.
"Enak seger yah." celotehnya sambil mengunyah.
"Cocok dicuaca panas begini."
"Kak....itu mereka nangis." ucap Mita memperingatkan.
__ADS_1
"Cape aku ngeliat mereka berantem terus,makin diurusin kaya yang sengaja minta perhatian."
"Eh malah mas Hanif bilangnya mau nambah anak cewe dikira gampang ngurusin anak ngeliat mereka berantem tiap hari bikin pusing." keluhan demi keluhan terus meluncur dari mulutnya. Mita menarik napas lalu memandang suaminya dengan tatapan penuh harap sambil berkedip-kedip memberi kode padanya untuk mengurus kedua anak itu.
Yahya tampak menarik napas panjang kemudian menjalankan tugas dengan mengalihkan fokus anak-anak itu pada sesuatu yang lebih menyenangkan.
"Kamu itu....gak mau bikin malah ngabisin paling banyak makannya dari tadi." dipukulnya tangan mama dan Latifa oleh eyang yang merasa kurang puas makannya,penyebabnya adalah gigi eyang yang mulai kehilangan kekuatan dalam mengunyah makanan yang keras jadinya lambat mengunyah.
Mama hanya menganggap angin lalu ucapan eyang yang terbiasa bicara ketus berbeda dengan Latifa yang langsung manyun.
"Insya Allah besok dibikinin sama Mita yah eyang." Mita menengahi agar perdebatan tidak berlanjut. Kebiasaan eyang kalau tidak suka sama sesuatu pasti akan terus mengomel.
"Bisa gak yang bisa dinikmati eyang dengan mudah?"
"Gigi eyang sudah gak bisa dibuat ngunyah yang kaya gini."
"Potongan besar bikin gigi eyang cape ngunyah." Mita berusaha menahan tawa. Tadi dia tidak sampai terpikir ke situ yang ada dikepalanya hanyalah memuaskan keinginannya sendiri.
"Insya Allah besok dibikinin rujak yang mudah dimakan sama eyang." eyang langsung mengacungkan jempol tanda suka.
"Emang besok gak kerja?" tanya mama dan Mita membalas dengan gelengan.
"Pengen istirahat dirumah lagian kasihan bang Yahya kita sampai gak punya waktu berdua mungkin sorenya mau ngajakin abang jalan-jalan." itu alasan paling masuk akal daripada harus berkata jujur tentang keadaannya yang beberapa hari ini mudah merasa lelah dan tiba-tiba tidak bertenaga juga pusing apalagi saat terkena panas matahari. Khawatir yang lain jadi panik.
"Terus gak jadi dong bikin rujaknya kan katanya pengen istirahat."
"Cape kan pastinya?" Mita hanya tersenyum. Merasakan cape hal biasa bagi yang bernyawa. Kurangi mengeluh dengan cara istirahat kalau cape.
"Istirahat kan gak seharian juga kak."
"Biar besok bahan-bahannya dibelikan supir eyang kamu tinggal ngomong butuh apa aja."
Selesai semua urusan. Ternyata banyak uang memudahkan segalanya tinggal tunjuk semuanya tersedia asal jelas maksudnya.
"Aku sama anak-anak nginep disini yah Ma sama papanya anak-anak." rupanya Latifa tidak ingin melewatkan kesempatan berkumpul dengan keluarga. Mama hanya mengangguk.
"Eyang nginep?" tanyanya pada eyang yang langsung mengangguk.
"Gitu dong eyang mau nginep disini tapi kayanya semenjak Mita jadi mantu dirumah ini eyang jadi rajin ke sini." keluh Latifa yang merasa tidak suka,dia yang cucu kandung malah tidak mampu membuat eyang menginap dirumah orangtuanya justru orang lain.
"Kapan lagi kita bisa berkumpul kaya gini....mumpung eyang masih hidup." kalimat terakhir eyang membuat semua orang berubah sendu. Nyatanya kehilangan pasti akan meninggalkan kesedihan yang mendalam.
Mita langsung mendekat,meraih tangan eyang sambil berjongkok,menengadah menatap mata eyang yang menyimpan kesedihan mungkin terbayang beliau yang sudah tua jelas ke mana lagi kalau tidak kembali pada sang pencipta.
"Eyang gak boleh ngomong begitu." Mita menimpali.
"Kematian adalah rahasia Allah jadi jangan mendahului kehendak Allah."
__ADS_1
"Mau besok atau nanti itu urusan Allah....yang terpenting adalah belajar melakukan yang terbaik."
Membicarakan kematian selalu memunculkan perasaan sedih dihati yang mendengarnya tapi tanpa membicarakan kematian seseorang tidak akan pernah ingat untuk mencari bekal kematian,yang ada seseorang hanya akan terus disibukkan dengan urusan dunia.