Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 150 Eyang


__ADS_3

"Kalian itu nikahin anak laki-laki satu-satunya kenapa musti buru-buru." begitu menuruni anak tangga Mita dan Yahya disambut dengan suara eyang yang marah-marah. Terlihat beberapa orang yang duduk bersama termasuk Latifa,suami dan anak-anaknya tapi kemudian langsung membawa pergi anak-anaknya menjauh dengan mengiming-imingi membeli es krim.


Yahya menghibur Mita yang tampak tidak suka mendengar kata-kata eyang barusan. Mita menarik napas,menyabarkan diri.


"Milih menantu itu harus jelas bibit bebet bobotnya jangan asal comot." ini seperti sinetron keratonan milih calon istri atau menantu kudu jelas bibit bebet bobotnya. Atau ini hanya luapan kekesalan eyang karena tidak diikut sertakan dalam pemilihan calon istri Yahya.


"Katanya udah gak punya orangtua aduuh kebangetan kalian apa tidak ada gadis lain?" Mita mengernyit,dirinya adalah pilihan Yahya bukan hasil dari perjodohan jadi jelas tidak ada gadis selain dirinya.


"Ini hanya masalah waktu." bisik Yahya menghibur Mita yang kembali menarik napas panjang. Masalahnya tidak mudah menahan perasaan dihina dan direndahkan seseorang didepan mata.


"Gimana kalau anaknya susah diatur,gak punya atitud,gak bisa apa-apa terus yang susah siapa?" belum mengenal tapi sudah berkomentar buruk tentang orang lain pertanda seseorang merasa paling benar. Orang bijak tidak akan menilai keburukan orang lain karena ia sadar tidak ada manusia yang sempurna.


"Kasihan kan cucu mama." eyang terlihat murung seakan cucunya sangat menderita padahal belum melihat kenyataannya.


"Kamu juga...." tunjuk eyang ke arah papa dengan murka.


"Gimana ceritanya langsung setuju,sengaja gak ngasih tahu mama biar gak kena omel begitu." sungut eyang dengan tatapan tajam mengarah pada papa.


"Apa kamu gak mikirin kebahagiaan anakmu sendiri." bentak eyang yang merasa dirinya terbaik dalam menentukan kebahagiaan cucunya.


"Kemana sopan santun kalian gak ngabarin orang tua." teriak eyang,merasa terhina dengan tindakan anak menantunya. Menganggap diri sendiri memiliki sopan santun dengan memarahi,menghina anak menantu didepan menantu papa dan mama juga didepan keluarga yang lain. Apakah ini cara yang benar?


"Paling enggak mama bisa nyeleksi dulu biar gak salah pilih." seakan-akan eyang lebih tahu mana yang terbaik untuk cucunya. Berpikir cucunya akan hidup bahagia dengan istri pilihannya. Bukankah ini termasuk kesombongan.


"Mama trauma sama pilihan kamu putra tunggal mama....milih istri kok manja,gak bisa apa-apa,mintanya dituruti kemauannya sampai sekarang kan?" eyang tersenyum mengejek,menatap remeh mama. Mita menatap mama dengan sedih. Bisa merasakan perasaan mama yang seperti tidak dihargai oleh eyang,ibu mertuanya sendiri.


Bisa dikatakan mama adalah menantu tidak diharapkan jadi selalu dianggap salah.


"Jangan pikir mama gak tahu kelakuan istri kamu diluar rumah!" eyang melirik ke arah mama yang tampak gelagapan,tidak bisa menyangkal karena ucapan eyang adalah kebenaran.


"Kalau sudah terlanjur nikah begini gak bisa apa-apa,terpaksa menerima." terlihat jelas sifat ego dan keras kepala eyang yang mendominasi hingga tidak ada yang berani menyela atau membantah ucapan eyang yang tidak terbantahkan. Mita menghela napas panjang,menenangkan diri dan mencoba berpikir positif.


Nasi sudah menjadi bubur. Mita sudah menikah dengan Yahya. Yang artinya Mita harus belajar untuk menerima kekurangan keluarga Yahya terutama kekurangan eyang. Bagaimanapun juga beliau tetap orang yang dituakan. Ucapan pedas cukup didengarkan saja tidak perlu dimasukkan ke dalam hati.


"Mana gak ngabarin pas akadnya....ngabari pas udah akad nikah selesai bener-bener keterlaluan." eyang merasa tidak dianggap orangtua.


Mita menghela napas berusaha menenangkan diri. Melihat didepannya seperti ada batas yang tidak terlihat tapi bisa ia rasakan. Seperti akan memasuki medan perang,saat ia masuk ke dalamnya ia harus bersiap dengan berbagai genjatan senjata dari eyang yang mungkin akan ditujukan padanya.


Eyang menyadari tatapan beberapa orang yang mengarah ke belakang punggungnya hingga akhirnya menoleh dan memandang tepat ke arah Mita yang berdiri disebelah Yahya.

__ADS_1


"Sejak kapan kalian disitu?" tanya eyang,rupanya takut ucapan buruknya didengar oleh Mita dan Yahya yang tampak tidak bereaksi.


Mita berusaha tersenyum tulus,mendekati eyang sambil menyapa....


"Assalamualaikum wr wb eyang perkenalkan nama saya Mita." Mita menghulurkan tangan untuk salim pada eyang yang tampak seperti mengetes Mita. Eyang memperhatikan penampilan Mita dari ujung kepala sampai ujung kaki,Mita tidak berani mengangkat pandangan.


"Kamu takut sama saya?" bukannya menjawab salam eyang malah menanyakan hal lain,seakan menunjukkan kekuasaan sebagai orang berharta.


"Insya Allah tidak eyang." tidak boleh takut pada manusia,takutlah hanya kepada Allah.


"Mita hanya gugup ketemu sama eyang karena ini pertemuan pertama." eyang mengangguk dengan tersenyum sinis mendengar jawaban Mita.


Yahya terlihat santai karena ia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Menurutnya Mita dan eyang hanya butuh waktu saling mengenal saja sebelum menjadi akrab.


"Usia berapa kamu?" nada suara eyang masih terdengar sengit seperti musuh.


"Dua puluh satu tahun eyang." jawab Mita lugas,ia berusaha bersikap sopan,bicara seperlunya seperti kata mama.


"Lulusan apa?"


"SMA." eyang langsung menatap tajam pada papa dan mama,tidak menyukai kebenaran Mita yang satu ini.


"Alhamdulillah kerja eyang."


"Dimana?"


"Alhamdulillah saya punya usaha kecil-kecilan dirumah eyang." tidak ingin menunjukkan apa yang dipunya karena semua itu hanyalah titipan,eyang tampak berpikir kemudian mengangguk. Dipikiran eyang,Mita bukan pemalas.


"Bisa masak?" suara eyang mulai melembut,melihat respon Mita yang sopan dan bicara seperlunya."


"Insya Allah bisa eyang." dipikiran eyang istri cucunya ini cukup berkemampuan,masih muda tapi bisa masak dan kerja.


"Kamu bisa masak apa?" tatapan eyang juga berubah lembut tidak sesengit tadi.


"Hanya beberapa masakan sederhana eyang." jawab Mita terus merendah tanpa berani mengangkat pandangan. Eyang mengangguk.


"Hmm kenapa dari tadi gak berani melihat ke eyang? Takut?" Yahya tersenyum mendengar eyang mulai membahasakan diri dengan sebutan eyang pada Mita,artinya eyang sudah mulai menyukai Mita.


"Mita hanya merasa tidak sopan kalau menatap langsung ke eyang,Mita masih baru dikeluarga ini." Eyang tersenyum samar.

__ADS_1


"Hmm eyang pengen kamu masak buat kami semua....Tita apa persedian bahan makanan ada dikulkas?" mama tampak terkejut.


"Sebentar coba Tita cek...." mama langsung kabur ke dapur,eyang terlihat kesal.


"Masih saja gak berubah." eyang terlihat kesal.


Mita merasa sedang diuji tes ketrampilan sebelum menjadi karyawan tetap tapi terserahlah,banyak berpikirpun percuma anggap saja melakukan amal sholeh dengan menyenangkan orang.


Mita mencuci tangan sebelum eksekusi sambil mengucapkan basmalah. Mengecek isi kulkas,masih ada bahan makanan meskipun tidak banyak. Ada telur,ikan,udang,ayam,cabe,tomat dan bumbu dapur. Mita mengeluarkan semua bahan dengan dahi mengernyit.


"Sayurannya tidak ada."


"Tahu tempe juga tidak ada." gumam Mita yang masih bisa didengar oleh eyang yang langsung mendekat.


"Kamu butuh yang lain?" Mita mengangguk.


"Gizi seimbang eyang musti ada sayur yang berserat,baik untuk percernaan dan protein nabati dari tempe dan tahu." jelas Mita,eyang mengangguk setuju.


"Terus mau dibelikan apa sekarang?" Mita tampak berpikir menudian bertanya....


"Sayur sop bagaimana eyang,sayuran lengkap dan bergizi,bagus untuk anak-anak juga."


"Boleh." jawab eyang sambil tersenyum.


"Jadinya beli sayuran apa?" tidak tahu ini adalah tes atau bukan.


"Untuk sayur sop....wortel,kol,brokoli,kentang,jamur kancing kalau ada sama daun bawang terus tempe sama tahu." jelas Mita sambil tangannya bergerak lincah mulai mengupas bawang.


"Masih ada yang perlu ditambah untuk ikan-ikanan?" tanya eyang.


"Terserah eyang saja." mendengar jawaban Mita,eyang jadi penasaran sebesar apa kemampuannya dalam memasak.


"Bisa masak daging?"


"Insya Allah bisa eyang hanya saja dikulkas tidak ada rempah-rempahnya musti beli." jelas Mita,eyang kembali mengangguk kemudian memerintahkan mama Tita mencatat apa yang akan dibeli. Mita banyak bertanya mau diolah apa ikan,ayam dan udangnya baru bisa menyebutkan bahan yang diperlukan. Eyang sampai takjub dengan kemampuan Mita yang hafal diluar kepala soal urusan dapur dengan perkiraan berapa banyaknya.


"Ok....bibi Ida tolong belikan sesuai catatan,agak banyakan yah bi soalnya buat makan banyak orang." bibi Ida adalah art dirumah mertua Mita.


"Iya nyonya besar."

__ADS_1


Sementara bibi Ida belanja,Mita segera membersihkan bahan ikan-ikanan sebelum dimarinasi dan diolah sedangkan semua orang hanya menonton dari belakang. Eyang sengaja mengkode yang lain supaya tidak membantu. Yahya hanya tersenyum melihatnya karena dia tahu seperti apa istrinya kalau dalam urusan dapur.


__ADS_2