Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 154 Seperangkat alat sholat


__ADS_3

"Eh malah pelukan disini,dicariin eyang juga." ucap Latifa bersungut-sungut. Mendengar suara Latifa,mita langsung melepaskan diri dari Yahya.


"Awas loh berduaan orang ketiganya pasti setan." itu kan istilah untuk pasangan belum halal beda dong sama yang sudah halal pegangan tangan saja bisa jadi pahala. Terus orang ketiga yang dimaksud bukankah dirinya sendiri,Mita tampak menahan tawa.


"Ekheem....ya sudah ayo." ditariknya tangan istrinya supaya berdiri lalu melingkarkan tangan ke pinggang istrinya,seperti sengaja menggoda kakaknya yang menatap sinis ke arah mereka berdua.


"Mentang-mentang sudah nikah pamer kemesraan." cibir Latifa berjalan melewati keduanya.


Lihat aja nanti kalau udah lama bosan pasti jutek-jutekan." sambungnya dengan menyindir lalu pergi dengan kesal.


"Abang ih kan malu." ucap Mita dengan cemberut karena malu.


"Ahaahaa...." Yahya hanya tertawa.


Digandengnya tangan Mita yang berusaha melepaskan namun tidak bisa,kalah sama tenaga laki-laki,yang pada akhirnya hanya bisa membiarkan,berusaha menebalkan muka dihadapan banyak orang dengan kelakuan suaminya yang tidak punya malu. Tapi Mita sudah menyiapkan ceramah gratis nanti pas berduaan tentang larangan mengumbar kemesraan didepan umum walaupun sudah menikah. Kriting....kriting deh kupingnya.


Sesampainya diruang tengah tempat berkumpulnya sanak saudara Mita melihat kehadiran Fadil bersama kedua orangtuanya dan dua anak kecil,apakah itu anak-anaknya?


"Mami...." teriak anak laki-laki yang berusia sekitar tiga tahun,langsung berlari ke arah ibunya yang hanya menatapnya datar. Anak itu merengek dengan mengacungkan kedua tangannya minta digendong ibunya yang masih juga menatapnya datar.


"Mami ikhsan kangen." suaranya terdengar memelas dan penuh kerinduan,matanya mulai berkaca-kaca karena ibunya belum menuruti keinginan kecilnya hingga anak itu menyek-menyek barulah ibunya menggendong dengan terpaksa. Bagaimana mungkin seorang ibu bersikap seperti itu? Dimana naluri keibuannya? pikir Mita kemudian mengalihkan pandangan,tidak ingin melihat lagi atau dia akan sedih dan menangis. Saat ini suasana hatinya sedang sendu. Melihat Diana dan anak itu ia jadi teringat almarhumah ibunya yang sangat ia rindukan.


Anehnya Fadil maupun orangtuanya hanya diam saja melihatnya seperti tidak peduli dengan kehadiran Diana yang pernah menjadi bagian dari keluarga mereka. Bersikap seakan tidak saling mengenal. Hubungan yang dibangun bertahun-tahun seperti tidak berarti. Tidakkah terpikir untuk memulai hubungan baru yang baik dengan menghilangkan ego masing-masing demi anak-anak yang masih polos itu walaupun bukan sebagai suami istri. Mita tidak habis pikir.


"Jadi ini istrinya Yahya?" sapa ibunya Fadil pada Mita.


"Iya assalamu alaikum wr wb ibu....senang bertemu dengan anda." balas Mita ramah langsung salim sebagai salam hormat pada yang lebih tua.


"Waalaikum salam wr wb....senang juga bertemu sama kamu." sambil mendekat ke arah Mita.


"Cantik....sopan,siapa nama kamu nak?" komentar ibunya Fadil sambil meneliti penampilan Mita dari atas sampai bawah.


"Iya mbak Rida makasih....maaf gak bisa ngundang ke acara akad nikah soalnya anak-anak mintanya yang sederhana aja makanya hari ini ngadain kumpul keluarga kan kalau gini jadi punya waktu banyak untuk saling mengenal lebih akrab." jelas mama Tita yang menyadari tatapan tidak suka dari putranya. Mama Tita memposisikan diri diantara ibu Rida dan Mita yang spontan bergeser hingga Yahya menariknya ke sisinya,menunjukkan kepemilikannya. Mita menyadari ada yang janggal artinya dia musti berhati-hati dan waspada,bersikap sewajarnya akan mendamaikan semuanya.


"Wah bagus dong pasti mikirnya ke depan yah." ibu Rida memiringkan kepala,terus memperhatikan Mita sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya ibu....kami mengadakan pernikahan sesuai kemampuan suami seperti kata ibu kami mikirnya ke depan....masih banyak keperluan yang musti dipenuhi." jawabnya diplomatis.


"Bagus....berapa usianya kok kayanya masih muda banget?"


"Dua puluh satu tahun." jawab Mita.


"Terpaut cukup jauh rupanya tapi gak pa-pa laki-laki yang matang bisa jadi kepala keluarga yang baik." ibu Rida mengangguk-angguk setuju.


"Insya Allah aamiin mohon doanya semoga pernikahan kami sakinah mawadah warohmah ibu." Mita melirik Yahya yang ternyata sedang menatapnya sambil tersenyum senang,merasa dihargai sebagai seorang suami.


"Kita kok ngobrolnya sambil berdiri."


"Mari mbak Rida mas Anwar kita duduk pasti capek yah?"


"Nak Fadil juga sama anaknya....mau minum apa?" mama Tita mencoba menyambut keluarga Fadil dengan hangat walaupun terlihat tidak normal.


"Adek mau minum....susu mungkin?" mama Tita beralih bertanya pada anak kecil yang digendong Fadil. Mama terlihat berusaha bersikap sewajarnya namun berbeda dengan saudara yang lain yang diam sambil saling melirik,eyang juga seperti hanya menghargai kedatangan mereka. Mungkinkah ada cerita dimasa lalu yang belum kelar?


Mita menarik napas panjang. Ini terasa tidak nyaman tapi bersyukur terdengar bacaan surah pendek dari masjid terdekat pertanda akan segera memasuki waktu sholat Maghrib.


"Alhamdulillah sudah mau azan maghrib mari kita bersiap untuk sholat....kayanya lebih baik lagi kalau sholat berjamaah dimasjid." usul Mita memecah kecanggungan diantara semua orang.


"Sayangnya gak ada." Mita mengernyit heran.


"Terus kalau mau sholat berjamaah dimasjid musti keluar komplek begitu?" tanya Mita memastikan.


"Gak juga....ada masjid dikomplek sini jaraknya kira-kira sepuluh rumah dari sini." Mita menepuk jidat.


"Ya Allah bang itukan dekat kan tinggal jalan kaki aja." baru saja minta maaf masak sudah kesal lagi sih pikir Mita yang akhirnya menyabarkan diri.


"Rumah disini gede-gede jarak sepuluh rumah pastinya jauh musti naik motor atau mobil biar gak capek sayang." Mita menggelengkan kepala,orang kalau terbiasa hidup enak segalanya terasa susah,mau jalan kaki saja terasa jadi beban padahal fungsi kaki kan untuk berjalan bukan hanya untuk berdiri.


"Jauh justru banyak pahalanya dihitung dari berapa banyak langkah kita sampai ke masjid...termasuk amal ibadah ini." jelas Mita bersemangat.


"Tapi...."

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapian buruan ambil wudhu keburu azan katanya masjid jauh....yang mau ikut ayo kita cari pahala sama-sama bagi yang gak kuat jalan jauh bisa sholat dirumah."


"Yang perempuan bawa mukena dari rumah kan?" tanya Mita pada semua wanita yang hanya terdiam. Mita kembali menghela napas,terasa sedih hatinya melihat wanita berkerudung tapi tidak membawa mukena saat bepergian,apakah mengandalkan mukena pemilik rumah? Padahal kan orang mampu kemana-mana bawa mobil masak tinggal memasukkan mukena satu pasang ke dalam mobil terbebani Masya Allah....


"Eyang....kayanya uang seratus juta dari eyang dibuat bangun masjid di halaman depan aja gimana?" Mita meminta persetujuan dari eyang. Mama Tita sudah panik saja takut eyang menyetujui permintaan menantunya yang artinya mama harus merelakan taman bunganya disingkirkan.


"Terserah kamu." jawab eyang datar. Mama Tita langsung lemas,terbayang nasib bunga kesayangannya.


"Tapi kalau kurang nanti ditambahin yah pa biar berkah rezekinya." merayu si papa paling mudah,beliau mah langsung mengangguk setuju.


"Yang lain juga boleh menyumbangkan sedikit rezekinya biar berkah hidupnya." Mita menambahkan embel-embel keberkahan hidup untuk menarik perhatian orang-orang kaya didepannya.


"Dimohon yang ikhlas yah ngasihnya bukan supaya digantikan berlipat ganda sama Allah....tidak ikhlas itu namanya." kesal juga melihat orang kaya yang pelit sama masa depan sendiri. Mikirnya cuma didunia akhiratnya kok tidak dipikirkan.


"Mama tenang aja nanti taman bunganya insya Allah dipikirin sama Mita....gak akan dibuang kok." ujarnya sambil melihat ke arah mama yang tersenyum kecut.


"Masjid untuk masa depan diakhirat tapi membuang tanaman juga dosa....meskipun tanaman mereka tetap membawa manfaat untuk kita dan bukan berarti mereka tidak berarti."


"Abang juga kenapa gak kepikiran bangun masjid yah minimal menyediakan satu ruangan buat mushola?" Mita menuntut jawaban dari Yahya yang hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Kemarin maharnya apa....coba diingat-ingat?"


"Seperangkat alat sholat." jawab Yahya pendek.


"Tahu artinya seperangkat alat sholat?" Yahya menggeleng lemah. Mita kembali menghela napas.


"Namanya seperangkat artinya Abang musti nyiapin tempat sholatnya untuk istri."


"Ini musti dipahami kalau bisa cari tahu dulu sebelumnya....janji adalah hutang jadi jangan asal mengucap apalagi ini ijab qobulnya pernikahan nanti diakhirat dimintai pertanggungjawaban Abang." jelas Mita lembut,memaklumi ketidaktahuan suaminya.


"Maaf sayang." entah sudah berapa kali Mita menghela napas.


"Abang kita hidup didunia cuma sementara justru masa depan kita adalah akhirat....kehidupan setelah hari kiamat."


"Aku gak minta perhiasan mahal,berlian atau rumah mewah....hanya satu....penuhi tugas Abang sebagai seorang suami yang menjaga keluarganya dari api neraka." Mita menatap lekat suaminya.

__ADS_1


"Ya Allah astaghfirullahaladzim....maafin aku bang kalau aku banyak bicara."


"Maaf juga buat semuanya kalau kata-kata saya tidak berkenan dihati kalian semua." Mita mengakhiri percakapan mengingat waktu sholat Maghrib semakin dekat dan tidak bisa ditunda lebih lama lagi.


__ADS_2