
"Ayo pulang!" terlihat muka mama ditekuk dan cemberut,suaranya juga terdengar sengak mengalahkan sengaknya cabai rawit. Emosinya seperti gelombang air laut yang tidak mau surut,terus menghantam apapun yang ada didekatnya. Mita dan Yahya saling memandang,menarik napas lalu mengikuti dibelakang.
"Mampir dulu ke resto,mama mau diskusi sama papa soal tanggal pernikahan kalian." ucapnya kesal,Yahya sudah mau protes mengingat situasi restoran yang sedang ramai,tidak akan baik membiarkan orangtuanya bertemu atau akan terjadi keributan melihat sikap mama yang sedang emosi tapi langsung disanggah....
"Mama harus ke sana SEKARANG!" sambungnya dengan mata melotot,tidak ingin dibantah.
"Tapi Ma....." dan langsung dicekal tangannya oleh Mita,memberi tanda untuk tidak bicara. Yahya teringat pesan Mita tempo hari ketika dia bercerita tentang masalah orangtuanya,disaat semuanya tidak bisa diselesaikan maka pasrahkan pada Allah SWT,mungkin jalannya bisa terlihat buruk tapi Allah maha mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Dia mengangguk mengerti dan menarik napas panjang,berusaha mempercayakan keadaan pada sang pemberi kehidupan.
"Bismillahirrohmanirrohim...." ucapnya lirih kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam hati Yahya berdoa semoga ini yang terbaik.
"Ayo lebih cepat mau sampe kapan nyampek sana kalau jalannya pelan begini." gerutu mama Tita,terus melampiaskan emosinya kali ini pada Yahya yang tampak berusaha menyabarkan diri. Dan kali ini juga Mita merasa harus mengalihkan perhatian mama Tita dengan sesuatu yang ringan dan menghibur.
"Ma.....sabaaar,orang sabar pantatnya lebar....hihihi...." Mita melempar guyonan sambil terkekeh geli.
"Inget gak mas kalimat barusan?" Mita memainkan alisnya dan sengaja juga memanggil mas untuk menghibur hati Yahya yang ia yakin sedang menahan diri karena terus menjadi sasaran kemarahan mamanya. Mita bisa merasakan itu.
Yahya langsung tersenyum lebar,dipanggil mas serasa berbeda dan membuatnya bahagia.
"Bisa ulangi....."
"Apa?" Mita berpura-pura tidak tahu dengan dahi berkerut.
"Yang tadi...."
"Yang mana...." goda Mita.
"Orang sabar pantatnya lebar...." sambung Mita masih pura-pura bodoh.
"Panggilan....aku suka dipanggil mas,rasanya menyenangkan." Yahya tersenyum sambil mengerling dengan ekspresi manja,membuat Mita tersenyum campur malu-malu. Ini mereka seperti sedang memainkan peran,Mita melempar umpan Yahya dengan sigap menyambut,tampak natural tidak kelihatan dibuat-buat. Mama Tita yang menyimak jadi ikut tersenyum melihat kebahagiaan anak dan calon istrinya yang sebetulnya remeh.
"Kalian ini....mama kaya obat nyamuk ngelihat keromantisan kalian ck...." Mama Tita berdecak sebal bercampur tersenyum senang,Yahya dan Mita hanya tersenyum canggung,saling melirik dengan kepala tertunduk.
"Yang kaya gini yang bikin Mama gak sabar ngelihat kalian segera menikah." sambungnya sambil memandang keduanya dari kursi belakang.
"Gimana menurut kalian?" Yahya menarik napas,bukan menikah yang jadi persoalan tapi angan-angan mamanya tentang resepsi pernikahan mewah yang menjadi pertimbangannya. Sedangkan papanya memang tidak bicara apa-apa tapi terbaca dari mukanya yang tampak kepikiran.
"Ma....boleh Yahya mengungkapkan keinginan Yahya?" ini salah satu cara membujuk orang yang secara halus.
"Tentu dong sayang,bicara saja." ucap mama Tita lembut,sepertinya upaya Mita berhasil,suasana hatinya sudah lebih tenang.
"Insya Allah kami siap menikah dalam waktu dekat....hanya aja tidak bisakah dilakukan dengan sederhana." ucap Yahya lembut. Yahya masih menunggu reaksi mamanya sekiranya marah maka dia tidak akan melanjutkan.
"Sesuai dengan kemampuan kami berdua,cukup mengumpulkan keluarga."
"Sebagai anak,Yahya sudah sangat berterima kasih sama mama papa yang telah mengurus Yahya sampai sekarang,membiayai semua kebutuhan Yahya....menyayangi Yahya...."
"Apapun yang mama papa lakukan tidak akan pernah bisa Yahya balas....jadi tolong....untuk pernikahan jangan buat Yahya semakin berhutang budi sama mama papa....merepotkan mama papa."
"Iya Ma....benar yang dikatakan mas Yahya,resepsi pernikahan bukan masalah buat kami karena yang terpenting adalah niat kami adalah ibadah."
"Menjadikan rumah tangga sakinah mawadah warohmah...." sambung Mita,memberikan dukungan pada Yahya untuk meyakinkan mama.
__ADS_1
"Yahya kasihan sama Papa....beliau sudah tua tapi sekarang masih harus bekerja lagi...."
"Bagaimana kalau papa sakit karena kelelahan?"
"Yahya pasti akan semakin merasa bersalah."
"Yahya sudah dewasa tidak mau lagi membebani kalian,sudah cukup......" Yahya menggelengkan kepala,Mama Tita termenung memikirkan ucapan anaknya.
"Tapi mama malu sama temen-temen arisan mama...." ucap mama lirih setelah terdiam beberapa saat.
"Mereka pasti akan mengejek mama yang kadung ngomong akan mengadakan pesta pernikahan kalian dengan mewah dan meriah." Mama kembali meradang dan cemberut. Yahya kembali menarik napas.
"Tapi kasihan papa kalau harus dibebani dengan biaya pernikahan kami yang mewah."
"Tapiiii....." Mama tidak jadi meneruskan. Mita memberi kode untuk memelankan laju mobil pada Yahya sebelum melangkah pindah duduk dikursi belakang. Untuk meraih relung hati seseorang haruslah didekati dan bicara dengan lembut.
"Ma....berteman boleh tapi juga harus pintar membawa diri." sambil menggenggam tangan dan menatap mama lekat.
"Teman.....lingkungan mempengaruhi kepribadian seseorang....jika berteman dengan orang yang suka mengaji insya Allah kita akan suka mengaji dan sebaliknya jika berteman dengan orang yang suka foya-foya maka kita pun akan suka foya-foya....." Mita mengusap tangan mama Tita.
"Benar begitu?" Mita mengetes mamanya Yahya yang tertunduk,tampak berpikir dalam.
"Daripada memikirkan ucapan orang lain yang mengejek atau menghina kenapa mama tidak belajar memikirkan perasaan keluarga sendiri yang jelas-jelas lebih peduli....."
"Kalau sekarang saja mereka mengejek mama bagaimana saat mama nanti susah bukankah mereka akan semakin mengejek mama...." Mama Tita balas memandang Mita,seakan mencari kebenaran didalam matanya.
"Bahkan kita gak tahu dibelakang mama bisa saja mereka menghina mama...." Mama masih mendengarkan,tidak ada niat menyela sedikit pun.
"Untuk apa memaksa diri sendiri kalau hanya untuk menyenangkan orang lain sedangkan keinginan mama membuat papa,orang terdekat mama tertekan?"
"Tapi mama sakit hati mendengarkan ucapan mereka yang katanya Yahya itu anaknya secara fisik ok,pekerjaan ok tapi kenapa kaya ogah sama perempuan....belum menikah juga apa jangan-jangan gay...." ucap mama Tita berapi-api lalu mendengus kasar.
"Seakan mereka senang sekali mentertawakan derita Yahya...." sambungnya dengan kesal.
"Jadinya mama pengen membungkam mereka,Yahya bukan gay dan sekarang bisa menikah dengan pesta pernikahan yang mewah." Mita tersenyum,disini yang kurang tepat adalah mama Tita memilih teman yang salah jadi seperti menggali lubang untuk diri sendiri dan akhirnya jatuh ke dalam,untuk keluar pun serasa berat.
"Ma....orang bebas berpendapat dan kita....tidak bisa meminta mereka sependapat dengan kita,tidak bisa membungkam mulut orang yang memang terbiasa begitu."
"Sekarang Mita tanya....apa mama punya uang untuk acara pesta pernikahan kami?" Mama menggeleng lemah.
"Terus?"
"Minta sama papa...." jawab mama pendek. Mita menarik napas.
"Terus kalau papa tidak punya uang harus apa?"
"Hutang?" tanya Mita,Mama kembali merenung.
"Jika sudah begitu,apa yang terjadi?" Mita meminta mama untuk membayangkan sendiri.
"Apa yang kita dapatkan dari pesta yang mewah?"
__ADS_1
"Dipuji semua orang tapi uang habis bahkan mungkin punya hutang.....bukankah itu menyiksa diri sendiri namanya?" Mama terlihat bingung.
"Mita bukan menasehati hanya mengingatkan....kalau bisa tinggalkan teman-teman yang kaya begitu."
"Mama masih punya arisan....masih punya cicilan barang branded...." jelas mama sambil melirik ke arah Yahya seperti ketakutan.
"Kembalikan barang branded nya...." usul Mita memberi solusi.
"Nanti uang mama hilang dong karena barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan."
"Sudah dapat arisannya?" sela Yahya,Mama mengangguk lemah.
"Buat traktir mereka sama beli perhiasan." jawab mama jujur sambil merem,takut melihat respon putranya yang mungkin akan marah.
"Memang berapa dapatnya Ma?" Mama menunjukkan sepuluh jarinya. Mita dan Yahya melotot kaget.
"Sepuluh juta?" tanya Yahya memastikan,mama mengangguk dengan muram,seakan menyesali perbuatannya. Selama ini menuntut suaminya untuk menuruti keinginannya,tidak sadar jika sudah terlalu jauh bertindak diluar batas.
"Setiap kali arisan bayar berapa?" Mama menunjukkan satu jari.
"Sudah berapa kali?" Mama menunjukkan lima jari.
"Sebulan sekali?" Mama menggeleng lemah.
"Seminggu SE KA Li...." ucap mama ragu dan terbata.
"Hah......" keduanya kompak merespon hah....karena terkejut.
"MAMA....." Yahya berubah kesal,Mita menghela napas,dia tidak ingin terlibat.
"Pantesan aja papa tertekan...." Yahya mendengus.
"Aku juga kalau diposisi papa males ketemu mama,capek kerja mama foya-foya....artinya satu bulan empat juta cuma buat traktir temen?" Yahya kembali menggeleng.
"Mama tidak menghargai kerja keras papa,gak mikirin perasaan papa." kini gantian Yahya yang mengomel dan Mita tidak bisa menghentikan.
"Maaf...." ucap mama dengan tertunduk sambil memainkan jemarinya.
"Itu cicilannya berapa?" Mama menunjukkan satu jari,menekuk setengah jari satunya. Yahya dan Mita kembali melotot kaget.
"Ini mama yang keterlaluan seminggu minta dua setengah juta?"
"Apa mama gak takut papa stress?" Mama semakin menunduk dalam,malu atas perbuatannya. Kemarahannya yang tadi menguap begitu saja.
"Terus kenapa marah-marah?"
"Bukannya menyesal dan minta maaf...."
"Pantesan papa sering ngamuk ke mama jadi ini masalahnya?"
"Harusnya papa yang marah-marah bukannya mama...."
__ADS_1
"Habis ini kalau bayar langsung pulang jangan nongkrong....atau mama mau ditemenin sama aku atau Mita?" sejarah mengenal Yahya,baru kali Mita melihat Yahya banyak bicara karena kesal. Dia marah tapi masih bisa mengendalikan diri,tetap dalam volume stabil walaupun agak sewot.
Tanpa persetujuan mama,Yahya membelokkan kemudi jadi langsung mengantarkan Mita pulang.