
Akhirnya Mita bisa bernapas lega sesaat setelah keluar dari tenda pernikahan tetangga,perasaan mencekam yang tadi dirasakannya perlahan menghilang begitu ia berada diluar dan rupanya Irham sudah menantinya.
"Ayo naik!" perintahnya dan Mita langsung membonceng dibelakang setelah memakai helm tanpa mempedulikan bentuk hijabnya yang agak penyok,nanti bisa diperbaiki pikirnya.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam sambil termenung,berpikir jika ditempat baru mungkin akan lebih baik nyatanya sama saja,selalu ada konflik didalamnya malahan sekarang dengan para tetangga yang tidak menyukainya entah karena apa diapun tidak tahu.
Mita menarik napas,berusaha memaklumi pendapat orang tentangnya. Tidak mungkin kan dia memaksa orang lain untuk berpikiran baik tentangnya. Dan sebagai manusia biasa ia hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
"Sudah nyampek kak!" ucap Irham dan Mita langsung turun,merapikan penampilannya sebelum masuk ke dalam.
Seperti tadi kini ia kembali disambut oleh penerima tamu.
"Temennya manten?" tanya salah satunya.
"Iya." jawabnya cepat. Orang itu langsung menggiring ke suatu tempat yang ternyata khusus tamu undangan mempelainya.
Kedatangannya disambut oleh Ayyesa sang mempelai wanita sekaligus teman sekelasnya dan betapa terkejutnya,dia bisa memastikan itu Rendra dalam balutan baju pengantin sepasang dengan Ayyesa yang berarti suaminya Ayyesa. Mereka tampak bahagia atas dasar pernikahan karena cinta.
"Mita....apa kabar?" sapa Ayyesa ramah.
"Baiiiik." dipeluknya Ayyesa dengan akrab padahal dulu semasa sekolah mereka berdua sempat terlibat percekcokan akibat baper dimasa-masa remaja,biasalah iri melihat teman dikelilingi anak cowo karena cantik.
"Kamu cantik." puji Mita sambil tersenyum lebar yang dibalas senyum malu Ayyesa.
"Seingatku kalian gak pacaran dulu sekarang tiba-tiba kalian menikah?" tanya Mita menyelidik. Ayyesa tampak malu-malu.
"Sudah jangan bahas itu....temen-temen bos muda kita sudah datang!" teriak Ayyesa heboh.
"Kamu tahu....Alif juga datang mungkin masih dalam perjalanan." bisiknya sebelum membaur dengan yang lain. Mita langsung gugup tapi berusaha terlihat tenang.
"Oh hai Mita....weiiis bos kita tetep bersahaja yah." goda Dika sambil tersenyum menggoda.
"Makin dewasa...." sambungnya sambil melirik yang lain seperti meminta persetujuan.
__ADS_1
"Iya....aku setuju....makin cantik juga." seloroh Hakim juga sama tersenyum penuh arti. Mita tidak bereaksi.
Mereka semua terus menggoda Mita sampai akhirnya kedatangan Ita yang langsung mencak-mencak melihatnya sampai duluan tanpa mengajaknya barengan.
"Maaf....aku niatnya cuma bentar,masih ada urusan." alasan Mita.
"Aku kira kamu gak dateng...." sambungnya dengan tatapan memelas.
"Heeh....mentang-mentang sudah jadi bos muda sibuk teruuuus...." ledek yang lain.
"Kamu gak boleh cepet-cepet pulang ini nanti sekalian reunian." Ayyesa menimpali dengan tegas.
"Aku juga ngundang guru ganteng kesayangan kita....pak Yahyaaaa....." sambung Ayyesa membuat Mita panik. Dalam hati Mita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
Baru juga dibicarakan orangnya masuk bersamaan dengan Alif. Mita melotot kaget,Yahya dan Alif dalam satu ruangan yang sama lalu dia harus bersikap bagaimana? Yahya memang calon suaminya tapi teman-temannya tidak ada yang tahu kalaupun dipublikasikan sekarang pasti akan tidak nyaman baginya. Dari tadi dia terus digoda,bagaimana reaksi teman-temannya saat tahu mereka sudah lamaran,bisa habis dia. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering,ingin minum tapi rasanya tidak sopan kalau belum saling menyapa. Mita menarik napas,mempersiapkan mental yang kuat untuk menghadapi kenyataan hidup.
"Sore pak....sore Alif." Ayyesa pertama kali menyapa dengan tersenyum penuh arti. Ayyesa menatap Alif seakan memberi isyarat melihat ke Mita yang terus menunduk dengan gelisah. Yahya yang memahami itu hanya bisa menghela napas,dia akan berusaha mengikuti permainan selama masih wajar tapi jika dianggapnya kelewat batas maka dia akan bertindak sewajarnya.
"Apa kabar Mit?" sapa Alif sambil tersenyum lembut,tatapannya masih sama kali ini lebih dalam seakan menyimpan kerinduan yang mendalam. Ini yang Mita khawatirkan,ia kembali menarik napas panjang yang terasa berat.
"Ekheem....ada yang canggung nih mending kita minum air biar adem." celetuk yang lain sambil saling pandang dengan senyum penuh arti. Kemudian mereka duduk melingkar dilantai yang beralaskan karpet,makanan ringan dan minuman tersedia ditengah disiapkan untuk dinikmati.
"Mita....kenapa dari tadi gelisah?" Mita terhenyak kaget,ekspresinya terbaca oleh Dika.
"Gugup kali." goda yang lain,Mita hanya bisa menunduk.
"Alif elu ngelihatin anak gadis orang kaya yang mau nelen aja jelas dia gugup." goda yang lain lagi membuat Mita seperti berhenti bernapas takut ada yang salah paham. Ingin rasanya ia keluar dari tempatnya,dia butuh udara segar untuk mengisi paru-parunya yang terasa kehabisan napas.
Ting.....suara denting ponsel berbunyi menandakan pesan masuk,dari Yahya. Matanya langsung terbelalak.
"Maaf yah....aku tadi ke sini sama adek,aku mau keluar dulu kasihan dia nungguin lama." kilahnya sambil buru-buru berdiri.
"Adek yang mana? Bukannya kamu anak bungsu?" tanya Ayyesa dengan bingung.
__ADS_1
"Pegawainya itu yang sudah kaya adek sendiri." timpal Ita.
"Kenapa kamu tinggalin kasihan kan diluar,ajak masuk gih!" Mita hanya mengangguk,dia tidak berjanji untuk kembali karena ini kesempatannya untuk kabur.
"Tasnya ditinggal aja."
"Haaah...." dia tampak kebingungan.
"Sini tasnya biar aku bawa." Mita menatap tasnya pasrah yang diambil paksa oleh Dira temannya tanpa bisa melakukan perlawanan.
"Tuh hp kamu kayanya ada pesan masuk,bawa aja siapa tahu penting?" Mita tidak bisa berkutik,menghembuskan napas entah sudah berapa kali,dia merasa sangat tidak nyaman dalam posisi seperti ini.
Mita berjalan keluar dengan pandangan kosong lalu saat menyadarinya ia hanya bisa berpasrah sama Allah,mau nantinya ketahuan soal hubungannya dengan Yahya,dia tidak peduli. Dia tidak harus menyembunyikannya dari teman-temannya lagipula kasihan Yahya kalau harus terus disembunyikan seperti tidak diinginkan.
Sekarang kesempatannya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil memejamkan mata. Lalu ia mencari-cari keberadaan Irham yang tidak kelihatan rimbanya.
Membuka hp,ada dua pesan dari Yahya dan dia tidak menyadari masuknya pesan ke dua.
"Jangan tegang atau kamu akan pingsan!" menyertakan emot senyum.
"Aku tidak akan bertindak selama masih wajar." perasaannya langsung lega,dia hanya harus berpikir tentang menjaga jarak dengan Alif supaya tidak terjadi letupan api.
Kembali pesan masuk lagi.
"Masuk atau Alif akan menyusul kamu....aku tidak mau melihat itu." menyertakan emot permohonan. Mita bingung harus apa dulu. Akhirnya dia menelpon Irham,terdengar nada sambung beberapa saat barulah terdengar suara Irham....
"Dek....kamu pulang dulu aja soalnya sekalian reunian ini....." terdengar protesan Irham yang merungut kesal dari sebrang sampai Mita menjauhkan hpnya.
"Iya....maaf....ini dadakan,tas aku sampai disandera sama mereka gak boleh pulang dulu." ucapnya sambil terus berjalan kembali masuk hingga berpapasan dengan Alif yang tersenyum padanya dan dibalas anggukan olehnya.
"Tolong yah nanti dijemput!" suaranya terdengar memohon.
"Iya....kamu minta apa?" bujuk Mita.
__ADS_1
"Hmmm....iya terserah kamu."
"Iya....assalamualaikum wr wb...." Mita menghembuskan napas lega setelah mendengar suara ceria Irham,yang penting anak itu tidak marah lagi.