
Semalam Mita tertidur begitu saja setelah memutus chat secara sepihak karena perasaan malu yang menggunung. Dan pagi ini pun masih terasa malu saat teringat yang semalam,bisa-bisanya saling berbalas chat layaknya yang sudah menjalin hubungan saja. Sepersekian detik berlalu tiba-tiba ia yang seperti terkejut,seakan terlempar kembali pada dunia nyata.
"Apa ini termasuk perasaan suka pada lawan jenis atau bisa disebut rasa cinta?" gumamnya sendiri,ekspresinya berubah dari yang seneng dan berbunga-bunga menjadi sedih,kecewa dan menyesal secara bersamaan. Sedih karena rasa cinta yang ia rasakan bukan untuk pasangan halalnya. Kecewa pada diri sendiri karena telah melewati batasan dalam berhubungan dengan lawan jenis. Benar-benar merasakan sendiri bahwa sebetulnya tidak ada yang namanya pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang ada muncul rasa suka karena terbiasa. Menyesal karena ia belum mampu mengendalikan nafsunya,tetap saja terhanyut dalam perasaan suka tanpa ia sadari.
"Ternyata aku terlalu meremehkan berhubungan dengan lawan jenis. Awalnya memang biasa saja tapi nyatanya ada rasa. Astaghfirullah....ya Allah ampuni aku atas perasaan yang tidak seharusnya aku miliki saat ini pada lelaki yang belum menjadi imam ku. Tolong tunjukkan jalan yang benar padaku aamiin!" menarik napas berusaha melupakan yang terjadi lalu beranjak ke dapur ingin sarapan ia mendapati sikap tidak sopan saudari iparnya kepada emak.
"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah marah-marah?" Mita mendekat dengan muka tidak bersahabat,memandang tajam ke arah Nuri yang tampak ketakutan dengan senyum yang seperti dipaksakan mungkin karena ketahuan olehnya telah bersikap kurang ajar pada yang lebih tua.
"Enggak...aku gak marah kok...ini aku cuma ngingetin emak kalau nyuci piring itu yang bersih,coba nih cium masih bau sabun colek kan gak enak dibuat makan,bikin mual." padahal yang Mita dengar bukan begitu,dia membentak emak dengan mata melotot tajam dan suara pelan seperti berbisik. Samar-samar terdengar dia marah-marah karena rasanya tidak enak.
"Maklum mbak,emak sudah tua. Kenapa gak mbak aja yang nyuci piring sekiranya mbak bisa lebih bersih nyucinya?" serangan balik yang tak terduga,dia seperti yang kaget. Dia pikir Mita tidak mengetahui perbuatan buruknya dibelakangnya. Allah Maha Tahu you know.
"Aku kan lagi hamil besar. Ini aja sudah susah gerak,gampang engap juga. Bisa pingsan aku kalau nyuci semua perabotan rumah." kilahnya dengan suara tidak berdaya,minta dikasihani. Memang besar perutnya karena hamil bayi kembar.
"Karena mbak gak mampu ya maklumin aja lain kali kalau mau makan masih bau sabun colek cuci lagi sendiri kalau perlu rendam sama air panas biar ilang baunya." sarannya seraya menarik kursi kemudian mendudukinya dengan pelan.
"Aku kasih tahu yah mbak kalau hamil itu ditahan emosinya,hindari sifat buruk terutama ghibah biar gak menurun sama anak nanti kalau mereka lahir."
"Usahain berbuat baik jadi menurunnya ke anak juga yang baik-baik."
"Nanti kalau mereka emosian baru deh mbak ngerasain susahnya ngadepin anak pemarah." ucapnya datar.
"Kamu kok doain gitu sih." ucap Nuri cemberut.
"Aku cuma ngingetin kaya mbak ngingetin emak tadi tapi sepertinya mbak gak terima yah maaf..."
"Ah...gak gitu juga." Mita memandangnya dan diam-diam tersenyum melihat mukanya yang serba salah.
"Kok diam,Mbak Nuri bukannya mau masak ya...emak sini minggir dulu kita sarapan bareng kayanya enak banget menu kita hari ini...ayam kecap sama urap sayur weis mantap,seger dimulut kenyang diperut." ucapnya dengan senyum penuh arti. Belakangan ini dia sering sekali membuat saudari iparnya kelojotan dengan sikapnya yang santai tapi terkesan menyerang balik dengan tamparan kuat tak terlihat.
"Bismillahirrohmanirrohim allahumma bariklana fiima rozaktana waqina adzabannar aamiin."
__ADS_1
Begitu makanan masuk ke mulut,Mita mengunyah sambil merem seperti menunjukkan kelezatan makanan tersebut hingga membuat orang lain menelan air liur. Sampai datang Dani merecoki acara sarapannya langsung mencomot dan memasukkan ke mulutnya.
"Apaan sih main comot." ucapnya sambil menepuk kesal tangan kakaknya yang spontan menghindar.
"Kejam amat sih dek!" protes Dani bersungut-sungut.
"Hargai kerja keras istri noh lagi masak buat suami." ucapnya dengan mata mendelik kesal. Dani langsung lemas tahu istrinya tidak bisa masak. Kalau tidak hambar ya keasinan. Mita memandang ekspresi mukanya dan menahan tawa.
"Terima nasib...ahahaha..." ucapnya pas kakaknya mengangkat kepala melihat dirinya dengan gerakan bibir tanpa suara,menertawakan kesedihan kakaknya.
Usai sarapan dia memandang emak dengan tatapan prihatin. Mengenggang erat tangan emak,menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya lewat sorot mata bersalah dan sedih. Emak mengangguk dengan senyum haru,merasa sangat disayangi dan diperhatikan.
Tanpa mereka sadari Dani memperhatikan dengan seksama dengan kerutan dahi bingung sekaligus heran.
"Kamu sama emak ngapain sih? Ngomong lewat ekspresi muka aku ngerasa jadi kambing congek,gak terlihat." Mita malas menanggapi,dia bangkit berdiri.
"Aku mau mulai kerja supaya bisa dapat cuan lebih banyak ah..."
"Santai...hidup perlu dinikmati!" ucap Dani bangga seperti sedang menunjukkan dirinya yang menikmati hidup.
"Iya saking nikmatnya sampe lupa diri itu dapat bonus langsung dua." dan langsung kabur ketika melihat kakaknya yang melotot dan siap menerkamnya.
Di depan Mita mulai memotret beberapa tanamannya untuk diunggah ke medsos,memberikan diskon besar-besaran yang langsung direspon baik.
"Berapa harganya?"
"Langsung ke sini saja."
Beres. Tiba-tiba muncul ide memberi diskon. Hingga beberapa menit berlalu orang mulai berdatangan.
"Busyet rame amat hari ini." komentar Irham yang disambut pelototan.
__ADS_1
"Rame kok busyet Alhamdulillah dong." jawabnya sengit.
"Iya Alhamdulillah...tumben?" Mita gemes sama itu anak.
"Ya Allah ini anak dikasih rame komentar tumben,gimana sih?" Mita sudah cemberut saja. Irham tertawa melihat reaksi Mita yang seperti ingin mencakarnya.
"Iya maaf...Alhamdulillah." mengalah dari pada kena getah.
"Udah ah kerja,rame nih!" mereka mulai melayani pengunjung yang banyak bertanya dan akhirnya memborong setelah diiming-imingi pilihan potongan harga atau gratis ongkir. Irham tepuk jidat melihat aksi atasannya yang pandai bermain kata.
"Bisa ae sih kak?" senggol Irham dan Mita hanya menoleh lalu tersenyum melihatnya yang berekspresi heran dan bingung.
"Lah pohon cabe sama tomat dijual juga?"
"Itu melon tinggal metik sama jambu kristal loh." tunjuk Irham dengan muka heran dan bingung,Mita mengangguk sambil tersenyum. Sampai sore pengunjung terus berdatangan hingga halaman dan samping rumah yang biasanya penuh dengan tanaman tampak longgar karena tanamannya berkurang banyak,menyisakan kangkung,beberapa pohon jambu kristal dan tanaman hias.
"Memang mau menanam ulang yah kak kok dijual semua?" Irham yang penasaran terus bertanya.
"Enggak." mendengar jawaban Mita,dia sudah panik saja,takut kehilangan pekerjaan.
"Terus?" suaranya terdengar penasaran.
"Kita lihat aja nanti." Irham garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan menarik napas.
"Jangan khawatir,insya Allah semuanya akan baik-baik saja!" hibur Mita yang mengetahui isi hati Irham yang seketika berubah lesu dan tidak bersemangat membuatnya tidak tega untuk terus merahasiakan niatnya.
"Insya Allah kita akan pindah makanya dihabisin." bisiknya pelan sembari melihat ke sekeliling takut terdengar orang lain.
"Edisi penghabisan."
"Hah...pindah." pekiknya kaget. Mita langsung meletakkan jari dibibir kode untuk diam dan gerakan mengunci bibir.
__ADS_1
"Hanya antara kita berdua." Irham mengangguk patuh dengan senyum lebar.