
Hari ini memang sengaja diliburkan jadi pagar rumah ditutup rapat dan tulisan close terpasang didepan pagar. Setelah memberi makan ayam,Mita berangkat mengecek pembangunan rumah barunya yang katanya sudah selesai digarap tinggal menunggu perintah selanjutnya,mau diteruskan atau disudahi sampai disini.
"Mau kemana?" tanya Nuri saat berpapasan didapur. Mau sarapan sepertinya tapi yang kebingungan melihat meja makan kosong,dia tidak berani bertanya tentang makanan.
Bukannya Mita tidak tahu,dasar ndableg (keras kepala) sudah dibilang belajar mengurus rumah tangga sendiri,masih suka diam-diam makan apa yang dimasak emak. Hari ini sengaja emak tidak boleh masak dan diajak keluar biar tidak disuruh-suruh sama dia.
"Jalan-jalan." sengaja memanas-manasi. Umpan dimakan dia nampak cemburu.
"Kenapa harus ngajak emak bukannya ngajak aku yang masih satu keluarga?" tanyanya sewot.
"Ngajakin mbak banyak maunya,ngabisin duit aku mending ngajak emak nyenengin orang tua yang beneran sayang sama aku bukan hanya sayang sama uangku." sindir Mita.
"Sudah ah aku pergi,ayo Mak kita jalan-jalan!"
"Kita makan ke restoran kak Yahya kayanya bebek gorengnya enak?"
"Atau kepiting asam manis lagi masih kepengen aku?" sengaja bicara keras biar didengar dan makin panas. Sesekali mengerjai kakak iparnya,puas hatinya.
Satu jam perjalanan mereka sampai ke tempat tujuan setelah sebelumnya mampir ke ATM mengecek isi tabungannya yang khusus untuk rekening yutub dan ternyata sudah ditransfer. Lebih banyak dari bulan lalu malahan,Alhamdulillah.
"Rumah siapa ini neng?" tanya emak yang terlihat bingung sambil mengamati sekitar. Lahan yang sangat luas dengan bangunan sederhana dan lumayan besar. Sudah bisa ditempati tapi masih banyak yang harus dirapikan. Memandang ke sekeliling yang belum banyak berdiri bangunan,hanya beberapa bangunan rumah.
"Rumah kita."
Emak mengikuti Mita yang berjalan masuk ke dalam rumah,rupanya Yahya sudah menunggu didalam sambil mengamati bentuk bangunan bersama beberapa orang yang bisa dipastikan mereka adalah tukang bangunan.
"Assalamu alaikum eh yang punya rumah malah datang belakangan yah hihihi...." spontan Yahya balik badan saat menyadari kedatangannya sambil tersenyum puas. Puas bisa bertemu setelah hampir dua bulan tidak bertemu,terakhir bertemu saat Dani menikah.
"Waalaikum salam..." jawaban serentak dari mereka.
"Pagi pak! Mas nya pagi juga!" sapanya ramah.
"Wah Alhamdulillah sudah selesai yah?" sambil berjalan melihat-lihat bentuk bangunan.
"Alhamdulillah bagus kok." ucapnya sambil tersenyum puas.
"Bapak dan masnya tukangnya yah?"
"Iya mbak..."
"Oh yah kenalkan nama saya Mita. Terima kasih sudah dibangunkan rumah yah pak!" Dari awal pembangunan rumah diserahkan sama Yahya.
"Iya mbak Mita."
"Mau tanya nih pak kalau mau sekalian dipasang keramik kira-kira butuh biaya berapa pak?"
"Dan butuh waktu berapa lama?"
"Soalnya mau ditempati segera." Yahya yang mendengar hanya menyimak belum ingin bertanya walaupun sebenarnya penasaran dengan niatnya.
"Harga keramik macam-macam,kalau yang murah mulai harga limapuluh ribu per meternya. Untuk luas rumah 10 kali 10 begini tinggal mengalikan jadinya seratus meter atau seratus kardus,teras belum masuk hitungan."
"Pasir mungkin sekitar dua truk."
"Untuk semen beli sepuluh dulu nanti kalau kurang bisa beli lagi." orangnya jujur banget menjelaskan sampai ke akar-akaknya,terbuka.
__ADS_1
"Mbak Mita beli keramik sendiri biar bisa pilih warna sesuai keinginan dan mau yang harga berapa? Gimana?"
"Bapak tunjukin toko bangunan langganan disini yang bisa dipercaya dan bisa nego untuk harga."
"Kalau masalah berapa lama pasangnya tergantung berapa tukang berapa kuli?"
"Biasanya berapa?" tanya Mita.
"Tukang dua kuli tiga,bisa berapa lama?" tanya Yahya.
"Insya Allah paling lama sepuluh hari."
"Ok ayo berangkat mumpung libur saya!" sahut Mita.
"Naik mobil aku." Mita mengangguk setuju membawa serta emak yang hanya mengikuti tanpa banyak bicara.
Mobil berhenti tepat didepan toko bangunan dengan tulisan "Toko bangunan Ahmad Jaya" kayanya sesuai nama pemiliknya. Begitu turun Mita sudah seperti medan magnet yang berhasil menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Mita sampai harus mengangguk-angguk,tidak enak dipandang seperti itu,harusnya pakai masker saja tadi supaya tidak jadi pusat perhatian.
"Wah tumben-tumbenan kedatangan bidadari cantik mimpi apa aku semalam,biasanya juga yang datang emak-emak dasteran cerewet kalau gak gitu emas-emas dan bapak-bapak tukang bangunan. Sama-sama punya pedang gak asik. Ini baru asiiiik. Serasa dapat vitamin,menyegarkan mata." celetuk seorang pegawai muda dengan girang sambil mendekat.
"Mau dibantu apa neng cantik? Silahkan!" si bapak tadi langsung menghadang.
"Minggir....gak tahu apa sudah punya gandengan...itu!" tunjuk si bapak dengan gerakan mata ke arah Yahya yang hanya tersenyum dan Mita yang hanya diam. Biarkan saja si bapak ngomong tidak benar yang penting dia terselamatkan disarang lelaki yang menatapnya dengan senyum genit.
"Bos gw kalah jauh elu sama ganteng dan tajirnya." Mita menggelengkan kepala,tua-tua pakai bahasa elu gw,ya salam.
"Cocok sama-sama cakep." dengan bangga memuji didepan yang lain sampai Mita tampak sungkan dan malu dibuatnya.
"Bos mau lihat keramik!" si bos toko malah kesengsem sama kecantikan Mita yang memandang sambil tersenyum jadi tidak mendengar omongan si bapak.
"Bos jangan jelalatan,sudah ada yang punya. Bos memang tajir tapi bujang lapuk jadi aku saranin cari yang sepadan." ngomongnya los,biasa atau luar biasa tidak ada beda mukanya tetap datar.
"Bos kita mau lihat keramik!" baru deh sadar dari alam kayangan.
"Oh ya ayo!" si bos langsung memberikan jalan,menawarkan diri menjadi penunjuk arah jalan aji mumpung dia ketemu cewe cakep.
Sampai diarea contoh keramik,Mita melihat-lihat dengan mengajak Yahya disampingnya. Dia merasa horor ditatap mata lelaki padahal sudah memasang masker diwajah tapi masih saja jadi pusat perhatian. Mungkin mereka jarang melihat perempuan jadi kemaruk begitu.
"Aku suka motifnya tapi kurang suka warnanya?" bisik Mita.
"Cari warna apa?"
"Putih netral biar mau tembok dicat warna apapun cocok." Yahya mengangguk.
"Bos,contoh keramik gak ada yang lain?" Yahya ikutan memanggil bos.
"Gak ada."
"Yah sudah gak pa-pa yang ini saja." tunjuknya pada contoh keramik warna putih dengan corak abstrak.
"Yang ini berapa bos?" tanya Yahya pada si bos yang langsung mendekat.
"Itu 82000 per meternya,bagus berkilau itu bisa buat ngaca." ada saja kalau orang mempromosikan barang dagangannya,keramik lantai disamakan cermin.
"Gak bisa kurang bos,sudah langganan ini?" si bapak siaga menawar.
__ADS_1
"Butuh berapa?"
"Seratus meter,gimana?"
"Yah sudah pas 80.000."
"Masak beli segitu banyak cuma turun 2000 perak?"
"Bawel orang beli lebih dari itu buat proyek perumahan aku turunin empat ribu."
"2000 kali 100 sudah 200.000 itu turunnya."
"Saya ngeborong ini belum sama yang lain,pasir sama semen kalau jadi cocok harga." main tarik ulur si bapak biar makin turun harga.
"Turun lagi lah bos."
"Disini sudah yang paling murah coba ke tempat lain mana boleh harga segitu." sudah mentok tidak bisa turun lagi.
"Gimana mbak Mita mau harga segitu?"
"Loh buat mbak cantik to?"
"Iya...kenapa?" si bapak memandang sinis.
"Ok aku kasih 75.000 per meter."
"Eh b***** tadi aku minta turun lagi gak mau tahu cewe cakep turun gak kira-kira." omel si bapak dan si bos hanya nyengir.
"Gimana mbak?" Mita mengangguk setuju,sudah tidak betah berlama-lama ditempat itu.
"Sekalian total pasir dua truk sama semen sepuluh."
"Dipas in tapi yah ngeborong banyak kita." sambil berjalan kembali ke depan lalu mulai menghitung totalnya.
"Eh tunggu pak,bisa bayar pakai kartu soalnya saya gak bawa uang tunai."
"Ambil dulu saja mbak,saya tungguin kok." jawab si bos.
"Berapa pak totalnya?" tanya Mita.
"Sebentar,keramik lantai tujuh lima kali seratus,pasir sejuta dua ratus kali dua,semen enam puluh kali sepuluh totalnya sepuluh juta lima ratus ribu."
"Roni antar ke rumah mbak cantik ini!"
"Ok bos siap." si bapak masih melongo.
"Gila lu kemarin gw beli pasir masih harga sejuta dua ratus lima puluh,semen enam puluh tiga,asem banget lu. Mentang-mentang gw bukan cewe cakep." maki si bapak sambil mendengus sebal,yang tidak dipedulikan oleh si bos yang masih setia menatap kepergian Mita.
"Alamat?"
"Nomer hp?" si bapak hanya memberikan alamat lengkap.
"Nomer hp biasanya soalnya gw yang nunggu itu rumah,pemiliknya belum pindah." si bos langsung mengantongi alamat seraya tersenyum penuh arti.
"Jangan macam-macam lu bos!" si bapak menatap curiga.
__ADS_1