Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 145 Surga ditelapak kaki ibu


__ADS_3

Mita ingin tertawa mendengar kalimat terakhir suster yang pada akhirnya berhasil membuat Nuri bungkam. Sindiran halus tapi memalukan. Sepertinya perdebatan antara suster dan pasien berakhir dengan sama-sama saling menyimpan kesal tampak dari raut suster itu ketika Mita mengucap salam dan meminta izin menemui Nuri yang malah terlihat marah sekali sambil meringis menahan sakit.


"Mau minum?" tawarnya,mungkin Nuri butuh sesuatu yang bisa mendinginkan suhu kepalanya setelah berdebat.


"Atau mau makan sesuatu?" mungkin juga energi sudah berkurang banyak karena tadi menahan sakit dan terus marah. Diatas meja nakas tersimpan jatah makan malam yang tampak belum tersentuh. Ini sebuah kelalaian dari suaminya yang tidak peka. Sudah tahu istrinya kesakitan kenapa pula dibiarkan kelaparan? Mita menghela napas memikirkan sikap kakaknya.


"Keterlaluan....." ucapnya disela rasa sakit tapi tidak berlanjut sepertinya sakit sekali terlihat dari ekspresinya. Bisa jadi efek lapar jadinya marah-marah terus.


"Sudah mbk jangan emosi terus kasihan bayinya."


"Aku tawarin minum sama makan bukannya untuk menghina."


"Tapi demi kebaikan mbak Nuri jadi nanti pas mengejannya kuat gak kehabisan energi." dia tidak menjawab sepatah katapun,hanya terdengar rintihannya.


"Pasti lapar kan?"


"Itu jatah makan malamnya belum dimakan." dia tidak menjawab hanya terus meringis.


"Jadi mau minum dulu biar tenggorokannya gak kering?" dia mengangguk. Mita memasukkan sedotan sebelum membantu Nuri minum.


"Bismillahirrohmanirrohim...." Mita mewakili berdoa dan mendekatkan minuman ke mulut Nuri yang langsung terlihat lega.


"Coba deh tarik napas panjang siapa tahu bisa mengurangi rasa sakit!"


"Iya betul mbk....memang musti narik napas panjang sudah dari tadi dikasih tahu tapi gak nurut akhirnya sakit sendiri kan." seorang suster menimpali dengan jutek.


"Denger kan mbk....suster jelas lebih berpengalaman jadi mbk mesti nurut demi kebaikan mbk sendiri." Nuri tidak menyanggah sama sekali.


"Bismillahirrohmanirrohim....sekarang tarik napas.....hembuskan perlahan....bagus terus lanjutkan lagi." Nuri melakukan sesuai instruksi Mita sampai beberapa kali.


"Gimana?"


"Yah...."


"Agak mendingan." jawabnya sambil masih menarik napas panjang.


"Alhamdulillah." ucap Mita dengan tersenyum.


"Sekarang mau makan?" Nuri kembali mengangguk. Dari tadi perutnya percampuran antara sakit mau melahirkan dan rasa lapar.


Mita mulai menyuapkan setengah sendok supaya mudah mengunyah dan menelannya disela menahan rasa sakit.


"Kalau terasa sakit tarik napas panjang lagi mbk." Mita dengan telaten menyuapi dan memberi instruksi menarik napas. Sesekali berinteraksi dengan bayi diperut Nuri sambil mengelus pelan hingga terasa tendangan agak kuat.


"Aduh....tambah sakit ini kalau nendang gak usah diajak bicara deh." protes Nuri dengan kesal.


"Anak baik nendangnya jangan kuat-kuat yah kasihan ibu kesakitan lebih baik kalian cepet cari jalan lahirnya biar bisa keluar boleh deh bergerak bebas....mau main sepak bola juga boleh." Mita tertawa geli.


"Kamu itu malah ngajak bercanda mereka." Nuri protes lagi.


"Ya ya....ok deh....sayang cepet lahirnya biar bisa main sama Tante Mita." bayinya bergerak pelan.


"Ah aww....ya Allah makin sakit ini." rintihnya tidak jelas sambil meringis lalu kembali menarik napas panjang.


"Haah...." Mita tersentak kaget bercampur bingung.

__ADS_1


"Apa terasa ingin buang air besar?" seorang suster datang menghampiri karena penasaran dan cukup kagum dengan apa yang dilakukan Mita,masih muda tapi telaten mengurus Nuri yang emosional.


"Coba saya lihat yah mungkin udah nambah pembukaannya....biasanya ditandai rasa sakit yang lebih sering." sambil memakai sarung tangan.


"Terlentang yah....angkat kakinya."


"Gak kuat suster." ucapnya sambil berusaha mengangkat kakinya ke atas.


"Bukan diangkat kaya gitu tapi ditekuk....dibuka kakinya." suster membantu memposisikan kaki Nuri.


"Santai....jangan tegang biar gak sakit!"


"Tarik napas...." suster itu memasukkan jarinya ke jalan lahir.


"Alhamdulillah....sudah nambah pembukaannya....buka lima."


"Bagus....interaksi sama bayi diperut ternyata bisa memotivasi bayinya mencari jalan lahir secara alami."


"Ayo adek....yang semangat cari jalan lahirnya biar cepet ketemu ayah,ibu dan Tantenya." ucap suster sambil mengelus perut Nuri.


"Sabar yah....melahirkan memang sakit tapi begitu bayinya lahir bahagianya akan terasa luar biasa." suster itu berusaha memberikan semangat pada Nuri dengan ramah.


"Nanti kalau terasa mau buang air besar langsung kabari kami tandanya bayi siap untuk dilahirkan." jelas suster.


"Baik suster." jawab Mita sambil mengangguk patuh lalu suster itu beranjak pergi kembali ke tempatnya.


Mita masih terus membujuk Nuri yang menolak untuk makan karena rasa sakit yang seperti tidak ada jeda.


"Mau minum susu yah biar kak Dani yang beliin?" tapi Nuri menolak dengan gelengan kepala lemah,Mita merasa kasihan. Dia bisa membayangkan saat ibunya dulu melahirkannya dengan susah payah,ternyata sesakit itu. Tidak heran kalau surga terletak di kaki ibu sesuai dengan perjuangan seorang ibu yang melahirkan bayinya dengan taruhan nyawa.


"Ayolah....biar ada energi kasihan bayinya kalau mbak gak mau makan,mereka pasti lapar." Mita masih terus membujuk. Nuri terlihat terus menarik napas panjang sambil meringis menahan sakit.


"Jangan tinggalin aku!"


"Sakiit...." Nuri sampai meneteskan airmata membuat Mita terenyuh dan merasa prihatin. Yang dipikirkan Mita kok tega ibunya Nuri sampai tidak menunggui anaknya melahirkan kan seharusnya dukungan seorang ibu sangat dibutuhkan oleh anaknya.


"Sabar yah mbk!" sambil mengelus lengan Nuri sampai seorang suster berkata.....


"Dibuat miring aja mbk!" Nuri mengambil posisi miring menghadap Mita yang dengan salah satu tangan menggenggam tangannya seakan menyalurkan kekuatan sedangkan tangan satunya mengelus perutnya sambil menyenandungkan sholawat.


"Akh....Mita aku pengen buang air besar." napasnya mulai terdengar berat dengan keringat dingin yang membasahi dahi. Mita panik dan memanggil suster yang langsung menghampiri lalu mempersiapkan proses melahirkan.


"Mana suaminya?"


"Di....diluar suster." jawab Mita terbata karena panik dan gugup.


"Enggak....sus....saya....mau....di....temani....Mittha...."


"Haah...." Mita terlihat kaget,ini pertama kalinya,apa mungkin dia mampu melihatnya?


"Mbk Nuri ditemani kak Dani saja yah....aku takut." Nuri menggeleng sambil menangis,tidak mau ditinggalkan olehnya. Mita tidak bisa lagi menolak.


"Suster tolong panggilkan kakak saya juga namanya Dani biar dia tahu perjuangan istrinya melahirkan anak-anaknya." ucapnya cepat dengan dahi berpeluh.


Rupanya tidak hanya Nuri yang membutuhkan tarikan napas,Mita pun sama melakukannya untuk menghilangkan rasa takut dan gugup.

__ADS_1


Dani sudah masuk ke ruangan hampir bersamaan dengan dokter kandungan perempuan yang bertanya apakah semuanya sudah siap kepada semua orang,yang langsung dijawab siap dengan serentak,rasanya seperti dimedan perang.


"Suaminya tolong ditumpu bagian punggung istrinya agak setengah duduk...." Dani menuruti instruksi dokter.


"Yah cukup." beralih menatap Nuri,menanyakan kesiapannya.


"Bunda sudah siap?"


"Si....ap." jawab Nuri dengan terbata.


"Sekarang dengarkan saya....nanti dorong yang kuat yah bunda bukan hanya berteriak tapi mengejan." jelas dokter.


"Dengarkan instruksi dari saya!"


"Ok....Bismillahirrohmanirrohim....tarik napas panjang....keluarkan....tarik napas....keluarkan...."


"Tarik napas panjang...dorong bunda." Nuri berteriak keras.


"Aduh salah bunda....dorong perutnya bukan hanya berteriak ok kita lanjut...." maklum baru pertama kali jadi belum berpengalaman,dokter kembali memberikan instruksi.


"Iya bunda bagus....kepala sudah terlihat lanjut seperti tadi tarik napas lagi....ya bagus...."


"Dorong yang kuat!"


Setelah satu jam bayi laki-laki lahir dengan tangisan yang keras dan nyaring hingga membuat Mita terkulai lemas. Nuri yang melahirkan tapi dia ikut merasakan ketegangannya bahkan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Sedangkan Dani sudah seperti mayat hidup melihat istrinya melahirkan.


"Mbk jangan lemes dulu....suaminya juga....belum selesai masih ada satu bayi lagi." ucap dokter sambil tertawa.


"Haah...." Mita lupa keponakannya kembar jadi mau tidak mau dia kembali berdiri dengan sisa kekuatan yang ada.


"Suster tolong dikasih minum bundanya baru dilanjutkan!"


"Ayahnya sama tantenya juga boleh minum dulu!" keduanya kompak minum air dan Mita mengelap keringat didahinya dengan tisu.


"Astaghfirullahaladzim...." gumam Mita sambil menarik napas panjang.


"Tantenya sekalian belajar yah....sudah menikah?" dokter mencoba mengalihkan.


"Alhamdulillah baru tadi pagi akad nikahnya."


"Wah....artinya sebentar lagi dong!" sambil menepuk pundak Mita.


"Insya Allah dokter."


"Semangat yah bunda....jangan menyerah!"


Tampaknya sudah mulai tenang semua.


"Baiklah kita mulai!" para suster mengangguk yakin.


Dokter kembali memberikan instruksi dan ternyata lebih lama dari yang pertama karena mungkin tenaga Nuri yang tinggal sedikit tapi semua orang terus memberikan semangat dan tepat pukul dua lebih tujuh belas menit seorang bayi perempuan lahir dan langsung dibawa ke ruang bayi tanpa sempat ibunya melihatnya,kondisinya berbeda dari bayi pertama,agak lemah.


"Ada apa dengan bayi kedua saya dokter kok langsung dibawa pergi?" tanya Nuri yang tampak khawatir.


"Diobservasi bunda karena terlalu lama didalam rahim jadi butuh dibantuan pernapasan."

__ADS_1


"Tenang bunda insya Allah bayinya sehat....berdoa saja,doa ibu insya Allah diijabah Allah." dokter berusaha menghibur Nuri.


Dan akhirnya perjuangan selesai dengan baik sesuai kehendak Allah.


__ADS_2