
"Mit...."
"Mita....kamu menangis." panggilan dan sentuhan Nuri dilengannya menyadarkannya dari lamunan panjang.
"Menangis?" tanyanya dengan dahi berkerut kemudian mengusap pipinya yang rupanya benar basah dengan airmata. Nuri menatapnya prihatin.
Mita heran,kejadian masa lalu hanya terlintas dalam otaknya tapi ternyata mempengaruhi emosinya dalam dunia nyata hingga tanpa sadar menangis.
"Ada apa kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Nuri prihatin dengan muka sendunya. Mita menggelengkan kepala pelan lalu tersenyum tipis,menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Jangan berlagak sok kuat,aku tahu kondisi kamu sedang rapuh."
"Menikah tanpa kehadiran orang tua menyedihkan."
"Ditambah dengan mendampingi aku melahirkan pasti kamu teringat perjuangan ibumu melahirkan kamu kan?"
"Aku juga merasakan hal itu."
"Aku sama sedihnya sama kamu hanya bedanya aku agak kecewa karena ibuku gak mendampingi aku melahirkan." Mita menarik napas,sesi untuk menghiburnya berubah menjadi sesi curhatan Nuri yang terlihat kesal pada ibunya.
"Kak...tolong jaga mbk Nuri. Perhatikan makanannya!" melihat Dani yang berdiri disebelah Nuri,ia langsung terpikir untuk mengingatkan kakaknya supaya lebih sigap mengurus istrinya yang baru melahirkan,yang butuh asupan gizi lebih banyak karena harus menyusui dua bayi setelah ini.
"Iya aku tahu." jawab Dani dengan malas.
"Serius kakak!" tatapnya tajam.
"Tadi saja kakak gak memperhatikan makanan mbk Nuri." sanggah Mita dengan galak,keteledoran Dani bisa berakibat fatal.
"Kakak gak mikir mbk Nuri butuh tenaga untuk melahirkan mestinya disuapi sampai kenyang sudah tahu istrinya kesakitan bukannya diusahain makan malah ditinggal sendiri." protes Mita kesal.
"Aku kan pusing dengerin dia teriak-teriak kalau gak marah-marah." suaranya terdengar tidak terima disalahkan hingga mendengus.
"Lagipula sekarang sudah gak pa pa kan,semuanya selamat sehat wal'afiat. Nuri saja gak banyak ngomong kenapa kamu yang jadi repot banyak omong." gerutunya kesal. Mata Mita membulat,tidak habis pikir sama isi kepala kakaknya. Bukannya belajar dari kesalahan ini seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Allahu Akbar....kakak bukannya ngerti dikasih tahu masih ngerasa gak bersalah." suaranya meninggi tanpa sadar.
"Pelankan suaramu....ini rumah sakit." ucap Dani kesal. Mita langsung menarik napas panjang berusaha menenangkan gejolak api kemarahan yang langsung terasa naik ke ubun-ubun. "Untuk menjadi orang waras maka aku harus bisa mengendalikan hati dan otak,marah hanya akan membuatku terlihat seperti orang gila....astaghfirullahaladzim...." pikirnya sambil memejamkan mata.
"Aku ngomong begini bukan menyalahkan kakak tapi supaya kakak bisa belajar dari kejadian hari ini dan gak mengulangi." ucapnya setelah kembali tenang.
"Coba kakak pikirkan kalau mbk Nuri tadi gak sempet makan dan gak kuat mengejan,bisa kakak bayangkan apa yang terjadi pada ibu dan bayinya?" jelas Mita menggambarkan kemungkinan terbesar atas keteledoran Dani berharap kakaknya mengerti.
"Kakak yang melihat proses kelahiran bayi langsung pucat seperti mayat hidup."
"Siapa yang tadi lemes sambil nyender ditembok?" cibirnya.
"Aku yakin kakak memahaminya apalagi pas mbk Nuri bilang gak kuat lagi mengejan dipersalinan bayi kedua." Mita sudah ketakutan ketika melihat Nuri yang kehabisan tenaga didetik kelahiran bayi kedua tapi syukur Alhamdulillah Nuri seperti mendapatkan kembali kekuatan untuk melahirkan bayi kedua.
__ADS_1
"Kakak bukan bujangan lagi tapi sudah menjadi kepala keluarga mesti belajar bertanggungjawab pada keluarga kecil kakak." Mita melirik ke arah Dani ingin mengetahui reaksinya seperti apa,yang ternyata diam sambil berpikir.
"Dan untuk mbk Nuri juga...." Mita mengarahkan pandangan pada Nuri.
"Kita sudah sama-sama dewasa,sudah punya tanggungjawab juga."
"Kalau diingatkan jangan langsung emosi tapi direnungkan."
"Belajar mempertahankan rumah tangga kalian....BUKAN MENGHANCURKAN." Mita menegaskan.
"Buang sifat egois kalian."
"Kalau ada masalah bicarakan baik-baik.... mencari solusi."
"Ingat ada anak yang harus kalian jaga perasaannya."
"Masa depan mereka tergantung dari sikap kalian orangtuanya."
"Mulai sekarang pikirkan semua hal untuk kebaikan anak-anak kalian."
"Satu lagi....sebaiknya kalian tinggal dirumah jangan tinggal dirumah orangtua mbk Nuri!"
"Kalian sudah berkeluarga jadi belajar hidup mandiri." alasan yang tepat daripada mengatakan keburukan orangtua Nuri yang jelas-jelas ingin menumpang hidup pada anak menantu. Memang anak punya kewajiban memberi uang pada orangtua tapi bukan seperti itu caranya dengan meminta terus-menerus seperti memerah susu sapi.
"Masalahnya dua bayi terus gimana caranya kami mengurusnya sekaligus?" Dani terlihat bingung.
"Cari orang dong yang mau bantuin." jawab Mita cepat sambil menahan kesal.
"Itu masalah juga mana ada yang mau bantuin gratisan." mata Mita membulat,bicara dengan Dani sungguh sangat menyebalkan.
"Siapa yang bilang gratisan yah dikasih upahlah." jawab Mita emosi,dia merasa kakaknya mendadak bodoh.
"Terus aku kan gak punya uang." jawab Dani polos,Mita menepuk jidat,pusing lama-lama bicara sama Dani tidak mendapatkan solusi malah bikin kesel.
"Kak Dani laki-laki bukan sih?" ucapnya dengan muka ditekuk.
"Kamu masih nanya aku laki atau bukan,buktinya kan sudah ada...lahir dua bayi dan aku ayah mereka." jawabnya kesal bercampur bangga. Mita mulai jengah dengan kesombongan kakaknya.
"Maksudnya....kalau laki-laki yah musti siap sama resiko."
"Kerja kak....cari tambahan supaya bisa bayarin orang buat bantuin ngurus anak,gimana sih?"
"Tapi kan gak mungkin secepat ini....butuh proses." masih juga beralasan.
Dari tadi Nuri hanya menyimak perdebatan antara kakak dan adik,malas ikut campur disaat kehabisan tenaga seperti ini.
"Bodo amat....itu urusan kakak."
__ADS_1
"Makanya mikir dulu sebelum enak-enak sekarang kalau sudah begini anak brojol dua pula....banyak alasan gak guna."
" Sekarang gak ada jalan keluar selain berusaha....KERJA BANTING TULANG DEMI KELUARGA." Ucapnya menegaskan lalu menarik napas.
"Urusanku sudah selesai besok masih ada acara dirumah mertua."
"Ya Allah pengantin baru begadang dirumah sakit bukan begadang dikamar pengantin....astaghfirullahaladzim...." gerutunya tapi kemudian merasa bersalah telah mengeluhkan keadaannya
"Aku pulang assalamualaikum wr wb...."
Sebelum pulang ia menyempatkan diri menengok keponakannya diruangan tempat bayi berkumpul setelah dilahirkan. Melihat wajah kedua keponakannya rasa lelahnya sedikit berkurang berganti dengan rasa senang.
"Mereka lucu banget yah....gak sabar pengen gendong mereka." ucapnya gemas.
"Iya..."
"Jadi gak sabar pengen punya bayi sendiri." timpal Yahya sambil tersenyum.
Mita hanya diam karena wajar bagi pasangan menikah merencanakan punya anak apalagi mengingat usia suaminya yang sudah waktunya memiliki anak. Resiko menikah katakanlah tidak peduli usianya yang masih muda. Memiliki keturunan adalah salah satu tujuan dari pernikahan.
"Jam berapa sekarang?" sambil menghidupkan layar hp lalu melihat jam.
"Sudah jam setengah empat pagi." ucapnya lirih.
"Alamat gak akan bisa istirahat ini." sambungnya sedih. Yahya mengusap kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.
"Mau gimana lagi....ini ujian."
"Pulang yuk!" Mita mengangguk pelan lalu keduanya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Masih gelap jadinya tidak takut dilihat orang,bisa leluasa mengekspresikan diri dengan pasangan asal tidak berbuat diluar batas masih bisa dimaklumi.
"Terus kita naik apa pulangnya kan gak bawa kendaraan." tanya Mita sampai didepan lobby rumah sakit.
"Itu dia...." tunjuk Yahya pada mobil yang baru datang dan berhenti tepat didepan mereka.
"Mobil online?" tanya Mita.
Saat kaca mobil terbuka,terlihat seorang laki-laki muda yang merengut kesal.
"Masuk!"
"Si**** tengah malam telepon minta dijemput dikira aku supir pribadi."
Mita tampak mengingat-ingat,seperti pernah melihat tapi dimana dia lupa. Bertepatan dengan Alvian yang menoleh padanya dia baru ingat....dia adalah Alvian,masih saudara Yahya sempat mendekatinya dulu. Yahya hanya tertawa tidak peduli dengan kemarahan Alvian sedangkan Mita masih bengong.
"Ayo sayang kita masuk!" direngkuhnya pundak Mita sambil memanasi Alvian yang langsung mengeluarkan seribu makian pada Yahya yang tertawa terbahak,puas mengerjai sepupunya Alvian.
"Jahil banget sih jadi orang." komentar Mita.
__ADS_1