
Seminggu belakangan ini ia sibuk mengurus pernikahan yang ternyata menguras energi dan waktu sampai tidak ada waktu untuk memantau usahanya tapi sekarang ia sangat bersyukur saat melihat hasilnya,tanaman yang tumbuh dengan subur. Tampak calon buah yang lebat memenuhi pohon tomat yang menjulang lumayan tinggi sekitar satu meter dengan disangga kayu dibeberapa sisi agar bisa kuat menahan beban dari buah yang membesar nantinya.
Mita mengangguk-angguk,tampaknya Irham lebih bisa diandalkan daripada dirinya melihat caranya merawat tanaman. Irham memperkirakan semuanya dari awal dengan tepat.
Beralih ke deretan cabe,matanya langsung berbinar melihat pohon cabe yang pendek dengan ranting yang melebar ke segala sisi dengan calon buah yang lebat pula,sepertinya menanamnya hampir bersamaan dengan tomat jadi berbuahnya juga barengan. Mita kembali mengangguk-angguk dengan tersenyum puas. Anak ini memang berbakat dalam pertanian,tidak tahu darimana dapat ilmunya kayanya otodidak atas petunjuk dari Allah.
"Eh kamu apain itu kok calon buahnya dipotongin sih kan sayang." protesnya dengan tidak rela melihat Irham memotong beberapa calon buah tomat ditiap pohon.
"Ini biar buahnya besar kalau buahnya kecil harganya jadi murah." jelas Irham sambil terus melanjutkan aktifitas.
"Ini juga gak asal potong dicek betul-betul pilih buah yang cacat terus yang gandengan tiga gini musti dipotong supaya gak rebutan nutrisi." sambung Irham kembali menjelaskan. Ternyata gak hanya manusia dan hewan yang rebutan pasangan cakep buah pun sama rebutan nutrisi tapinya pikir Mita sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Begitu ya....aku bisa kok ngebedain buah yang cacat karena digigit hama cuma gak bisa ngebedain hati yang cacat gak kelihatan soalnya hehehe...." Irham mendengus mendengar guyonan Mita yang terlihat bahagia tiada tara.
"Iya yang pengantin baru bawaannya seneng teruuuus...." balas Irham mencibir yang diaminkan oleh Mita sambil tersenyum manis.
"Kayanya kamu kebanyakan ngumpul sama tanaman sampai segitunya memahami pertumbuhan dan perkembangan tanaman hihihi...." Mita cekikikan,Irham melengos merasa terhina dikatai kebanyakan ngumpul sama tanaman.
__ADS_1
"Lah siapa yang mau ngumpul sama tanaman terus aku kalau bisa milih juga mau kaya temen-temen bisa nongkrong sambil ngopi diwarung pas ada cewe lewat langsung suit suit ngegodain mereka kayanya asik banget." curhatnya dengan senyum tengilnya diakhir kalimat sambil memperagakan bersiul. Mita membulatkan mata,anak ini kepikiran ngegodain cewe-cewe lewat,dasar calon laki-laki kurang kerjaan dia bersyukur deh Allah tidak memberinya kesempatan menjadi anak gak sopan pikirnya sambil menggelengkan kepala dan menarik napas.
Tapi kasihan juga kalau harus terus bekerja keras diusianya yang masih belum dewasa,terasa ada perasaan kecewa dihati karena seperti kehilangan masa remaja yang sering kali membuat orang senyum-senyum sendiri saat mengingat tingkah aneh dan tidak masuk akal sewaktu dulu. Hufftt tapi apa boleh buat mau senang ataupun susah tergantung dari niat seseorang,ikhlas lillahi ta'ala menjalani hidup atau terus mengeluh dengan kata lain kufur nikmat. Intinya semua pilihan ada ditangan masing-masing dan pasti dapat ganjaran.
Akhirnya Mita memilih berjongkok disebelah Irham yang sedang meneruskan aktifitasnya menyortir calon buah yang akan dipertahankan dan tidak.
"Kamu tahu gak sebetulnya setiap yang terjadi ada sisi positifnya." ujar Mita dengan tatapan menerawang. Irham terdiam sejenak berpikir lalu kembali dengan aktifitasnya.
"Lanjut deh aku mau denger." perintah Irham yang ingin mendengar kelanjutannya.
"Aku dulu anak yang manja dan kamu tahu rasanya saat tiba-tiba mendengar berita kematian kedua orangtua yang sangat aku sayangi....hancur." ceritanya dengan tersenyum sedih.
Irham sampai menghentikan aktifitasnya,menoleh sekilas dan termenung mendengar cerita sedih Mita. Tidak terbayang olehnya jika hal tersebut menimpanya sedangkan sekarang masih punya orangtua lengkap juga adik-adik terkadang dia merasa bosan dengan hidupnya ditambah dengan himpitan ekonomi dalam keluarga seringkali membuatnya ikut merasa frustasi dan putus asa. Betapa tidak bersyukurnya ia? Kepalanya tertunduk,rasanya ia malu dengan dirinya sendiri.
"Hidup bersama kak Dani yang masih kuliah sambil kerja paruh waktu yah walaupun ada tabungan peninggalan dari orangtua terus uang takziah dari orang-orang tapi apa bisa menggantikan kehadiran orangtua?" Irham beranggapan hidupnya menderita ternyata kisah hidup Mita lebih menyedihkan,lebih berat.
"Jawabannya enggak...." ucapnya sambil menggelengkan kepala lemah. Airmata mengalir perlahan.
__ADS_1
"Waktu itu aku masih kelas tiga SMA mau ujian kelulusan,bisa kamu bayangkan perasaanku." Mita mengusap airmata dipipinya.
"Aku yang gak bisa apa-apa seperti dipaksa jadi dewasa karena keadaan." terdiam sejenak sambil mengatur napas yang terasa menyesakkan dada.
"Sekolah....." Mita sambil menarik napas agar tidak keluar isakan.
"Mengurus rumah...." jeda lagi
"Mengatur pengeluaran belum lagi kalau pas tahlilan memperingati tujuh hari,seratus harinya bapak sama ibu." ucapnya tercekat dan menarik napas.
"Aku sempat marah....menolak semua itu terjadi padaku lalu aku sadar huffftt seberapapun aku menginginkan kebahagiaan didunia tidak akan pernah aku dapatkan huffft...." Irham menyimak dengan tercenung.
"Saat itu aku kaya diberi petunjuk dipertemukan dengan kajian ceramah diaplikasi yutub yang mengajarkan ketahuidan. Dari situ aku memahami bahwa hidup itu ujian bagi orang-orang beriman sedangkan bagi orang-orang kafir hidup itu kebahagiaan yang menurut mereka berasal dari banyaknya harta dunia,kesenangan dan kepuasan dalam semua aspek hingga melalaikan mereka dari mengingat Allah.....naudzubillahimindzalik...." Mita kembali menggelengkan kepala,merasa takut membayangkannya.
"Inilah yang buat aku bangkit dari rasa terpuruk. Aku mulai meyakini bahwa yang mati tidak bisa kembali dan yang hidup masih bisa berusaha,berkesempatan untuk menata hidupnya menjadi lebih baik. Orangtua yang sudah meninggal membutuhkan doa dari anaknya yang Sholeh Sholehah dan ini menjadi penyemangat ku bukan hanya demi orangtua tapi demi diriku sendiri yang sampai saat ini belum siap untuk mati mengingat dosaku yang masih banyak dengan berusaha belajar lillahi ta'ala." sambungnya sambil menunjuk ke langit maksudnya karena Allah semata.
"Aku jadi lebih mensyukuri apa yang telah berlalu. Kehilangan orangtua memang menyedihkan tapi membawa banyak manfaat untukku salah satunya menjadi mandiri yang awalnya anak manja hehehe jadi kebawa nangis gini tiap ingat masa lalu...." ucapnya sambil nyengir dan menyusut hidung dengan lengan bajunya. Irham yang melihat tidak berpikir dia jorok karena yang dipikirannya adalah cerita Mita dari A sampai Z penuh makna dan ilmu.
__ADS_1
"Jadi kamu jangan berkecil hati dengan keadaanmu saat ini bisa jadi ini cara Allah menguji kamu sebelum dititipi harta biar kamunya gak sombong,gak lupa diri dan tetap rendah hati." Mita menepuk-nepuk pundak Irham,menyemangati. Irham tersenyum kemudian mengangguk yakin.
"Insya Allah kak."