
Mita bersimpuh,mendongak dan menatap lekat wajah kakaknya sambil tersenyum.
"Maafin aku kemarin bersikap kasar...bukan niatku seperti itu aku hanya berpikir ini adalah ikhtiar aku demi masa depan kita."
"Kita sudah tidak punya orangtua dan nanti saat kakak menikah,aku menikah kita akan hidup dengan keluarga masing-masing jadi sekarang biarkan aku memilih sesuai keinginanku asal nyaman itu lebih berkah daripada terpaksa tapi gak ikhlas..."
"Kak...belajar bukan hanya dengan sekolah,belajar bisa dimana saja...lihat aku sekarang dan bandingkan dengan yang dulu apakah bukan ilmu yang selama ini ku dapat?"
"Jadi bismillah aku akan kerja menggantikan kakak sekalian mencari pengalaman......" Tidak ada protes dan pertanyaan lagi,akhirnya Dani menyetujui permintaan adiknya.
Mita datang ke kafe tempat kerja kakaknya. Baru menginjakkan kaki dihalaman kafe,Mita sudah disuguhi pemandangan terbaik dari sebuah kafe,ah...lebih tepatnya warung berkedok kafe. Antara percaya dan tidak,ia sampai celingukan mencari papan bertuliskan 'Kafe Raja' tapi bentukannya seperti hutan tanpa penghuni. Apakah memang sudah ditutup atau bagaimana Mita tidak tahu sedangkan Dani tidak memberitahu apapun padanya?
"My princess..." empat sekawan menyambutnya dengan tangan terbuka sambil nyengir. Mita memperhatikan sekeliling,terasa pusing melihat sampah berserakan merata dimana-mana.
"Ini kenapa kafe gak dibersihin memang pak bos yang nyuruh atau gimana?" sindirnya tapi yang disindir santai saja malah terkekeh malu-malu.
"Eits...dilarang dekat-dekat bukan muhrim!" Mita mencegah duluan ikut mundur ke belakang melihat empat sekawan mendekatinya.
"Kami cuma pengen nyambut kedatangan kamu,my princess.....iya kan bro?" Alex sang pemimpin meminta persetujuan pada anak buah dan Mita hanya diam memperhatikan ke empat jejaka perkasa tapi kaleng-kaleng didepannya lalu menarik napas.
__ADS_1
"Apa kami seganteng itu hingga princess kita sampai terpesona?" Gio memainkan alisnya menggodanya yang sama sekali tidak tergoda. Mita justru berjalan mengitari sekitar kafe melihat seberapa luasnya kafe itu.
"Subhanallah...lebar banget sayang kotor begini gak pernah dibersihin?" Mita berkomentar dengan tangan dibelakang lagaknya seperti pengawas.
"Hehehe......sepi jadinya kami males bersihin." Mita mendelik sebal sudah bisa ditebak ke mana arah alasannya
"Pengen rame lagi?" empat sekawan mengangguk.
"Ambil sapu dan tempat sampah..." Mita memberi perintah dan empat sekawan patuh hanya saja otak mereka masih loading menerka-nerka tentang sapu dan tempat sampah,apa hubungannya???
"Bersihkan semuanya...." empat sekawan melotot tak percaya dan langsung ingin protes.
"Ya sudah pasti...ini apa hubungannya sama bersih-bersih,ada-ada saja..." Soni menggerutu kesal.
"Makanya dengerin dulu kalau orang ngomong isy...cewe cantik,bersih,bahenol butuh modal yaitu perawatan dan perawatan butuh tenaga sama duit...bener gak?" gayanya seperti guru mengajari anak TK.
"Iya..."jawab Soni malas.
"Sama kaya kafe ini dibersihin biar cantik dan sedap dipandang mata jadi orang tertarik masuk ke sini." Mita mendelik kesal saat ada yang mau protes lagi.
__ADS_1
"Jangan banyak protes ayo kerjakan!" ucapnya tegas.
Empat sekawan menghela napas,mereka mengerjakan dengan males-malesan dan Mita membiarkan saja asal tangan dan kaki bergerak itu sudah cukup baginya. Selesai dari halaman mereka berlanjut ke dalam kafe dua orang yang lain membersihkan bagian samping dan belakang kafe. Sambil membersihkan Mita sudah merancang akan diatur seperti apa lahan seluas ini? Semuanya ia simpan ke dalam memori otaknya pada saatnya baru dikeluarkan.
"Mita...aku capek!" keluh Alex sambil mengatur napas yang terasa ngos-ngosan.
"Aku juga...panas banget,haus." sahut Gio lebih parah langsung rebahan di tanah,Mita geleng kepala.
Mita beranjak pergi ke dalam kafe,bingung juga sama tata letak dapurnya,amburadul. Mau membuat minuman jadi menata dapur,aduh...kerja serabutan namanya.
Rencananya mau buat yang seger-seger tapi setelah mengecek isi kulkas tidak ada yang bisa diharapkan.
Mita mencari air juga sama,nihil. Apa-apaan ini katanya kafe tapi tidak ada apapun.
"Kak Alex,kak Ical air minumnya mana?" teriaknya dari dapur dan mendapati Ical menghampiri dengan tubuh loyo.
"Kaya nya habis..."
Ya salam alaika deh semuanya...mau minum pake apa coba?
__ADS_1