
Pelukan hangat dari seorang ibu membuat Mita tanpa sadar meneteskan airmata haru. Disamping itu juga adalah pengakuan statusnya sebagai seorang calon menantu dari mama Tita tanpa perlu memaksa ataupun marah-marah meminta pengakuan pada akhirnya sikap pasrah yang dia lakukan berbuah manis seakan Allah sedang memberikan hasil terbaik padanya.
"Maafin mama sayang...." diusapnya kepala Mita dengan penuh sayang,dicium lama kening Mita hingga memejamkan mata seakan rasa kasih sayang seorang ibu merasuk ke dalam jiwanya menciptakan kesyahduan yang mendalam.
Mita menangis tergugu,sudah lama rasanya ia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Kini giliran Mita yang memeluk erat mama Tita,menyalurkan kerinduan yang terpendam beberapa tahun ini kepada sosok seorang ibu berharap kerinduannya pada ibunya terobati hingga ia terbawa suasana,merasa sedang memeluk ibu kandungnya.
"Ibu....Mita kangen!" ucapnya lirih tanpa sadar sambil menangis. Tangisannya terdengar memilukan dan menyayat hati. Mama Tita yang ikut menangis langsung kaget dan bingung ketika mendengar Mita memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Tolong jangan tinggalin Mita lagi!" barulah mama Tita mengerti kalau Mita sedang merasa bahwa dirinya adalah ibu kandung. Saat itu pula airmata langsung mengalir deras,ikut merasakan kesedihan Mita yang merindukan ibunya.
Semula teman-teman mama Tita bingung melihat reaksi keduanya dan langsung mengerti saat mama Tita berkata.....
"Kalau kamu kangen sama ibu kandung kamu bisa peluk mama....kamu bisa cerita ke mama tentang apapun...." ucapnya sambil mengelus punggung Mita penuh sayang.
"Ya Allah....ternyata kamu sudah tidak punya ibu?" pertanyaan yang seperti gumaman dan tidak membutuhkan jawaban.
"Kamu juga bisa menganggap saya sebagai ibu kamu....panggil saya mami Sofia." sambung mami Sofia lalu mendekat,ikut menenangkan Mita dengan mengelus kepalanya.
"Kasihan sekali kamu nak!" mami Sofia jadi teringat pada diri sendiri yang juga sudah kehilangan ibu tercinta hanya bedanya meninggalnya pas beliau sudah berkeluarga dan punya anak. Rasanya jelas berbeda jauh dengan Mita yang ditinggalkan diusia muda,terasa lebih berat.
Semua orang diruangan yang melihat jadi ikut merasakan sedihnya ditinggalkan ibu tercinta.
Bersyukurnya restoran menyediakan ruangan privasi bagi yang ingin melakukan pertemuan seperti ini jadi kondisi yang mengharu biru tidak mengganggu atau menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
"Eh....maaf." saat ia sudah tenang tersadar dan langsung merungkai pelukan.
"Maaf....saya kebawa suasana." sambungnya sambil nyengir dan menghapus sisa airmata dipipi. Mita merasa tidak enak rupanya semua orang juga sama habis menangis seperti dirinya.
"Maaf....saya membuat semuanya sedih....saya gak bermaksud...."
"Sudah....sudah....kita ngerti."
"Ayo lanjut....itu makanan penutup datang." Mita terkejut,ada makanan penutup juga pikirnya padahal niatnya mau langsung pulang setelah ini tapi ternyata belum kelar. Dia ingat sudah janjian sama orang MUA.
Mita melirik jam dipergelangan tangannya dan ternyata sudah hampir pada waktunya.
Untuk MUA Mita sengaja mencari sendiri tanpa melibatkan keluarga calon suaminya. Dia mencari MUA yang ramah dikantong,tidak terlalu mewah dan bisa diajak kompromi dalam berdandan yang sesuai standartnya. Mama Tita sempat bertanya sudah dapat MUA yang langsung dijawab sudah walaupun mama Tita agak ragu sama jawaban Mita dengan segala pemikiran polosnya
,takutnya memilih yang biasa. Sedangkan Mita terpikir mencari sendiri dengan alasan sebaliknya takut mama Tita memilih MUA yang mahal. Aduuh silang pendapat ini namanya.....
"Kamu kaya yang gelisah? Kenapa?" tanya Mama Tita dengan dahi berkerut.
"Janjian sama orang?" tebak mama Mita yang mengira janjiannya sama teman bisnis. Mita hanya mengangguk sambil tersenyum tipis,takut ketahuan dan akhirnya mama minta ikut bisa-bisa gagal rencananya.
"Ya sudah....buruan gih habisin makanannya." Mita kembali mengangguk.
"Janjian sama siapa jeng?" tanya mami Sofia yang penasaran,mungkin bagianya kata janjian agak janggal,beda pengertiannya.
"Ini...dia kan punya usaha ternak ayam kampung,biasanya ada yang ambil telur atau kalau gak ketemu sama peternak lain....iya kan Mit?" jelas Mama Tita pada rekannya sambil memandang Mita meminta jawaban pasti.
"Aah iya.....betul itu." jawabnya pendek sambil menghela napas lega.
"Padahal masih mau ngobrol banyak tapi kayanya waktunya belum yah pas nanti ajalah kalau kamu longgar....gimana?"
"Boleh....kapan-kapan bisa main ke rumah saya." jawab Mita sambil tersenyum.
"Tapi mami belum punya nomer kamu."
"Minta ke mama Tita....maaf saya buru-buru." Mita berdiri,mengacungkan tangan lalu salim sama mami-mami dan pergi sambil dadah-dadah setelah mengucap salam.
Ditempat parkir Mita mendapat panggilan dari pihak MUA yang terus merepet meminta kedatangannya dengan segera karena akan sibuk dengan urusan lain.
"Ya ya saya otw ini." hanya itu jawaban Mita sambil menjauhkan ponselnya dari kuping karena si penelepon yang terus berteriak kesal padanya. Setelah ada kesempatan menyela dia berkata....
"Iya maaf....untuk sampai ditempat anda saya harus menutup telepon supaya segera jalan,ok." jawabnya mulai kesal lalu menggumam salam karena yang diseberang tidak mau mengucap salam,langsung main mutus telepon. Mita menatap hanphonenya kesal sebagai pelampiasan lalu menarik napas panjang.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim....jangan marah bagimu surga." ucapnya meyakinkan diri.
"Bismillahirrohmanirrohiim....." setelah kembali menarik napas lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Bodo amat sama yang sedang menunggu,lebih penting keselamatan diri sendiri kan pikirnya.
Setengah jam kemudian Mita sampai. Sekarang jadi bingung mau masuk atau tidak jika mengingat orangnya tadi marah-marah ditelepon,takut ditolak karena telat.
"Astaghfirullah kok jadi suuzon gini sih....dicoba dulu aja....bismillahirrohmanirrohiim...." Mita kembali menarik napas melangkah dengan tegas,terlihat pintunya terbuka setengah. Sudah tahu kalau akan ada yang datang jadi dibuka setengah pintunya,pikirnya.
"Assalamualaikum......" belum ada yang menyahut.
"Assalamualaikum wr wb...." ucapnya sekali lagi sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam...." terdengar balasan dari dalam namun wujudnya belum kelihatan.
Dan yang keluar bencong membuat Mita melongo. Seingatnya tadi suaranya seratus persen perempuan sungguhan kenapa yang keluar perempuan jadi-jadian.
"Siapa?" tanyanya kemayu. Sepertinya salah posisi harusnya aku yang bertanya begitu pikirnya. Hanya tersimpan didalam hati.
"Hmm....saya mencari ibu Dianita seorang MUA....sudah janjian dan tadi sempat teleponan,barusan." jelasnya sambil berpikir tidak mungkin bencong didepannya adalah ibu Dianita. Kalaupun benar dia akan langsung membatalkan.
"Siapa Sasmi?" ada suara lain yang terdengar dari dalam tanpa wujud lagi dan menyebut nama depannya,sempat kaget namun langsung bersikap normal.
"Ini madam....ada tamu katanya sudah janjian sama madam." Mita melotot kaget,nama bencong didepannya Sasmi juga lalu menggelengkan kepala. Mita langsung beristighfar dalam hati membuang jauh-jauh pikiran aneh yang melintas.
Bencong juga manusia,seperti apapun dia tetap layak dihormati urusan dosa ditanggung masing-masing,pikirnya.
Munculah seorang perempuan setengah baya,memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan garang.
"Kamu....namanya siapa?" Mita bersyukur periasnya bukan perempuan jadi-jadian.
"Ehmm....saya Sasmita." berdehem untuk menetralkan perasaan yang sejak tadi campur aduk.
"Wow....nama kita sama....Sasmi." sahutnya sambil tersenyum centil.
"Duduk." ucapnya tegas,Mita patuh langsung duduk dengan tegak.
"Jangan kaku....santai saja....Sasmi tolong ambilkan minum."
"Kamu tadi yang saya marahi ditelepon?" tanyanya setelah Sasmi pergi.
"Ehmm....Iya." sudah berdehem juga tapi nada suaranya masih terdengar kaku.
"Mau pakai jasa MUA saya?" ini pertanyaan atau sebuah cibiran,pikirnya sambil mengernyit bingung.
"Kamu yakin mau pakai jasa MUA saya?"
"Gak mau mikir dulu?" dia tersenyum mengejek seperti yang meremehkan.
Dari sini Mita mulai memahami satu hal,ibu didepannya hampir sama sifatnya dengan teman-temannya mama Tita jadi untuk menghadapinya caranya bisa sama. Kini dia bersikap lebih santai,banyak tersenyum.
"Insya Allah kalau cocok." jawabnya santai,ibu Dianita tampak tersenyum sinis.
"Saya suka mengatur orang dan saya tidak suka diatur." ucapnya tegas.
"Terbukti semua orang mengagumi hasil karya saya sebagai MUA handal."
"Tarif saya mahal." sambungnya dengan congkak,menyombongkan diri.
Dahi Mita mengerut dalam,belum apa-apa sudah tidak terbantahkan gayanya. Mita meyakinkan hatinya,bersikap lebih hati-hati sebelum bicara.
"Insya Allah saya setuju asal sesuai keinginan saya....karena memang saya tidak bisa merias diri sendiri dan tentunya ibu lebih handal bisa saya minta ibu membantu saya...." main tarik ulur,sedikit memuji juga memberi tantangan dan merendah.
"Sepertinya kamu punya tantangan buat saya?" dahinya tampak berkerut. Mita hanya tersenyum tipis.
"Saya tidak sejahat itu memberi tantangan untuk ibu yang sudah berpengalaman...." sambil tersenyum. Dahinya semakin berkerut dalam.
__ADS_1
"Saya cuma mau nanti riasannya terlihat natural tanpa mencukur alis....tanpa memasang bulu mata dan konde....saya pengen yang berhijab syar'i tanpa memperlihatkan lekuk tubuh saya."
"Terus dadanya juga tertutup hijab....bisa?" Mita menatap lekat ibu Dianita yang berpikir keras.
"Aneh....biasanya orang pengen riasan seperti barbi biar manglingi ini mintanya yang kaya anaknya pemilik pesantren....sederhana kan maksudnya?" Mita hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Duh....kalau mau yang sederhana gak usah nyari MUA kali ibu-ibu biasa juga bisa." ucapnya mencemooh.
"Begitu saja kok ribet."
Hari ini melelahkan. Sejak pagi Mita menghadapi orang-orang yang menyombongkan kepunyaan,kemampuan,suka menghina dan terutama bicara tanpa berpikir,main ceplos.
Mita berusaha bersikap tenang terus mencoba tidak terpengaruh.
"Ibu....ini pernikahan dan sebagai MUA profesional dan handal melayani keinginan customer tentu menjadi prioritas anda bukan?" dia melengos.
"Lagipula kalau saya meminta IBU-IBU BIASA merias saya tentu saja menolak diberi bayaran karena itu saya memakai jasa anda yang jelas memberikan tarif....sama-sama enak jadinya....tidak perlu sungkan kalau punya keinginan juga karena dibayar." mukanya langsung merah padam sambil menatap Mita tajam. Mita mengerutkan dahi heran melihat reaksinya.
"Jadi kamu menghina saya?" ucapnya nyolot. Mita mengangkat alis.
"Tidak...."
"Saya tidak bermaksud menghina....sama sekali tidak." sambil menggelengkan kepala.
"Anda memberikan jasa....saya memakainya dan membayar jasa anda."
"Atau anda mau menyedekahkan jasa anda sebagai MUA tanpa dibayar?" aneh perasaan Mita ngomongnya biasa saja tapi ibu didepannya merasa terhina.
Ibu itu terdiam seperti yang ngambek,tidak mau melihatnya. Mita salah memprediksi,orang didepannya lebih sulit daripada teman-teman mama Tita yang masih mau menerima hal baik sedangkan ibu ini sangat keras kepala dan pemarah.
Mita kembali menarik napas panjang lalu berdiri siap untuk pergi.
"Lho mau kemana? Ini minumannya baru dibawain." padahal sudah lama bahkan mereka berdua sudah selesai berdebat Sasmi malah baru nongol kemana saja ini orang dari tadi.
"Gak cocok jadi saya mau cari yang lain." jawab Mita.
"Iyakah madam?"
"Sayang banget lho madam orangnya cantik nanti kalau hasilnya bagus bisa kita jadikan contoh biar makin famous kita." bisik Sasmi.
"Kamu itu gak tahu apa-apa." langsung ngegas jawabnya sambil menatap tajam membuat Mita kaget dan mengurut dada.
"Dia itu mintanya aneh....mau menjatuhkan image saya sebagai MUA handal." orang ini bicara lembut apa tidak bisa kenapa musti marah-marah terus pikirnya.
"Maksudnya gimana madam?" tanya Sasmi bingung. Sepertinya si Sasmi sudah terbiasa sama perilaku madamnya jadi kebal.
"Tanya aja tuh....sama orangnya." ucapnya tajam.
"Memangnya mintanya gimana neng?" tanya Sasmi sambil mepet-mepet,spontan Mita menjauh.
"Jangan dekat-dekat!" Sasmi mengerutkan dahi bingung.
"Kita bukan muhrim."
"Eheheee....kita kan sudah sama-sama cantik neng." ucapnya sambil cengengesan.
"Iya....tapi bukan sepenuhnya."
"Maksudnya?" tanyanya semakin bingung.
"Kamu....masih setengah-setengah." jawab Mita ragu-ragu.
"Iiih....gak ngerti aku." ucapnya sambil cemberut.
"Dasar bodoh....kamu itu laki bukan perempuan juga bukan makanya disebut setengah....PAHAAAM." bentak ibu Dianita sambil menatap garang.
__ADS_1