
Matanya masih mengantuk tapi untuk tidur nyenyak rasanya sulit. Sebentar-sebentar bangun,tidur lagi,bangun lagi,tidur lagi. Mungkin karena bukan dirumah sendiri jadi tak terbiasa.
Mita menarik napas. Matanya terbuka sempurna. Melirik jam didinding menunjukkan pukul dua malam artinya masih tengah malam. Melihat ke sekitar kok sunyi,sepi merinding jadinya,otaknya langsung terbayang ada mata yang mengawasinya,entah dari sudut mana. Terbayang pula jika ada sesuatu yang tiba-tiba terbang didepannya. Teringat pula orang berkata 'dirumah sakit memang banyak begituan kan tempatnya orang mati'. Mendadak suasana berubah mencekam. Mita langsung menutup mukanya dengan selimut.
"Astaghfirullah...astaghfirullah..." gumamnya lirih sambil memejamkan mata. Berdoa agar hatinya kembali tenang.
"Ya Allah bantu aku! Hilangkan rasa takut dihati dan pikiranku! Yakinkan aku untuk takut hanya dengan Mu bukan dengan setan yang hanya makhluk ciptaan Mu...astaghfirullah..."
Membuka pelan selimut dan melihat sekitar. Mita bernapas lega.
"Bodoh kamu Mita namanya tengah malam ya sepi,orang kan pada tidur..." makinya pada diri sendiri.
Bangkit lalu duduk diatas tempat tidur,melirik ke sofa hanya ada Dani. Mita manyun. Mendadak merasakan kosong didalam hatinya ketika melihat Yahya tidak ada.
"Jadi beneran dia pulang!" gumamnya lirih. Semalam rupanya ia tertidur kembali sampai tidak tahu kapan Yahya pulang tapi memikirkan Yahya,ia jadi mengingat yang semalem. Seperti sedang memutar rekaman,setiap kejadian dari awal sampai akhir terulang jelas diotaknya membuatnya sangat malu sampai menutup mukanya dengan tangan.
"Ah...malunya!" sambil senyum lalu menggelengkan kepala kuat berusaha menepis ingatan memalukan itu dari pikirannya. Bisa dibayangkan seperti apa besok dia berhadapan dengan Yahya. Semakin dipikirkan semakin melelahkan.
"Astaghfirullah...lupakan Mita! anggap gak terjadi apa-apa." sambil menyemangati diri sendiri. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Aku kan belum sholat isya pantesan kaya punya tanggungan." sambil menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
Saat ingin bergerak turun dari tempat tidur ia sadar tangannya masih terpasang jarum infus. Tapi dia ingin ke kamar mandi. Mau jalan sendiri takut jatuh karena kondisinya masih lemah. Satu-satunya cara adalah memanggil kakaknya tapi jarak antara tempat tidurnya dan sofa lumayan jauh.
"Kak Dani!" mencoba panggilan pertama untuk kakanda belum berhasil.
"Kak Dani!" dia menaikkan volume suaranya dan belum berhasil juga,malah sebel jadinya. Masalahnya dia berasa menahan pipis walaupun belum kebelet.
"Kak Dani!" volumenya semakin tinggi,sayangnya Dani cuma bergerak tapi tidak bangun. Ah...rasanya Mita pengen nangis. Hpnya juga tidak ia pegang sendiri. Menyesal, semalam gara-gara malu ia lupa meminta hpnya,saat genting begini dia sendiri yang kelabakan.
Kasihan sebenarnya harus membangunkan Dani kalau bukan darurat ia pasti memaklumi kondisi kakaknya yang capek seharian bekerja pulang-pulang membawanya ke rumah sakit.
Dia mencari sesuatu dimeja sebelah tempat tidurnya sambil mencari ide untuk membangunkan kakaknya. Yang ada hanya wadah makan stenlis dari rumah sakit ini. Dia berpikir lama,menimbang apakah caranya benar tapi apa boleh buat,tidak ada cara lain.
"Suara apa itu?" Dani terduduk sambil celingukan dan langsung melotot melihat wadah stenlis terongok dilantai menyemburkan isi didalamnya membuat lantai kotor penuh dengan bubur.
"Kak Dani tolong bantuin aku ke kamar mandi!" tidak ada waktu berbasa basi karena ia sudah tidak bisa menahan lebih lama. Tapi Dani belum terlalu merespon. Hanya menoleh ke arah Mita dengan muka cemberut.
"Ternyata ulah kamu!" ucapnya cemberut sambil menurunkan kakinya dari sofa.
"Ayo buruan kak...aku kebelet ini atau aku bakalan pipis disini!" suaranya terdengar seperti ingin menangis. Mendengar kata 'kebelet pipis' Dani langsung berdiri,berjalan menghampiri Mita dengan tergesa. Meraih kantong infus,diturunkan dan dipegangnya dengan tangan sebelah sementara tangan yang lain merangkul pinggang Mita lalu menuntun Mita sampai ke kamar mandi.
"Kakak tunggu diluar!" perintah Mita saat sudah sampai didepan pintu kamar mandi dan Dani mengangguk patuh masih memegang kantong infus diluar pintu sementara Mita didalam kamar mandi dengan pintu sedikit terbuka memberi celah bagi selang infus supaya tidak kegencet.
__ADS_1
Sekalian Mita wudhu padahal sebenarnya tidak pantas berwudhu di dalam kamar mandi apalagi yang campur sama WC tapi ini diluar kemampuannya,Allah maha mengetahui jadi biar Allah yang menilai usahanya,mau dikasih apapun Alhamdulillah saja.
Begitu keluar dari kamar mandi,dia melihat mata kakaknya tertutup sambil menyender ditembok dengan kepala terantuk-antuk,untungnya kantong infus gak terlepas dari tangannya. Sampai jarum infus tidak pada tempatnya lagi bakalan dicoblos lagi dia,seperti semalam. Drama tangisannya membuat jarum infus terlepas dan terpaksa harus dipasang ditangan satunya sebagai ganti.
"Ya Allah tidur lagi!" Mita menggelengkan kepala lalu berusaha membangunkan pelan kakaknya dengan mengusap-usap lengannya.
"Ayo...aku sudah selesai!" mata Dani setengah terbuka dan kali ini Mita hanya digandeng tangannya. Sampai didepan tempat tidur ia langsung naik.
"Kak...bawa mukena aku gak?"
"Gak..." jawab Dani pendek dan berjalan menuju sofa sambil menguap. Ia lupa jika ada tumpahan bubur dilantai. Kakinya tidak sengaja menginjak bubur itu dan sreeet bang. Dani jatuh. Pantatnya menghantam wadah stenlis itu.
Mita syok dengan yang menimpa kakaknya sekaligus merasa sedih karena tidak bisa membantu.
"Aw..." rintihnya menahan sakit dibagian pantat dan Mita meringis seakan ikut merasakan sakitnya.
"Apes banget sih!" keluh Dani sambil berusaha kembali berdiri. Meraba pantat,tangannya penuh dengan bubur.
"Ah...sial!" ucap Dani marah dan kesal.
Mita tidak berani berkata apa-apa,mengingatkan pun ia takut. Hanya menyimak saja. Setelah beberapa saat ia kembali fokus pada dirinya sendiri. Menjalankan sholat dengan seadanya dari pada tidak sama sekali. Usai sholat ia memohon ampun lalu memohon senantiasa diberikan petunjuk sama Allah.
__ADS_1