Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 160 Surga terletak dikaki ibu


__ADS_3

Saat ini yang paling bisa memahami situasi dan kondisi hanyalah Bu Indah. Dengan gerakan luwes Bu Indah mengangkat satu bayi laki-laki untuk diberikan pada Mita yang langsung menolak dengan alasan belum bersih musti cuci tangan dan kaki. Beralih pada Irham memastikan sudah bersih terlebih dahulu baru menyerahkan bayi itu untuk digendong Irham. Sekembalinya Mita langsung diserahkan bayi perempuan hingga akhirnya keduanya mendapatkan tugas masing-masing menenangkan satu bayi.


"Cup cup sayang anak Sholehah diem ya jangan nangis lagi." Mita mencoba menenangkan bayi digendongannya sambil mengayun pelan hingga akhirnya berhenti menangis.


"Kamu lihat bayi yang satunya sudah diam jadi jangan cemas. Bayi menangis,rewel itu biasa ibunya musti tenang biar bisa menangani kalau kamu panik bayinya jadi gak nyaman. Antara ibu dan bayi itu punya ikatan kuat." nasehat bu Indah pada Nuri yang tampak menyimak.


"Sekarang minum biar lebih tenang." Bu Indah mengulurkan segelas air putih yang langsung diminum Nuri hingga habis.


"Berpikirlah positif seorang ibu paling dibutuhkan anak-anak jadi seorang ibu lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya." sambung Bu Indah memberikan penguatan.


"Oek....oek...." bayi satunya masih menangis dengan keras tapi Nuri hanya memandanginya dengan tatapan kosong artinya Nuri belum bisa merespon.


"Cup cup anak Sholeh anak baik anak pintar anak berbakti diem ya nanti kakak Irham kasih permen deh." bujuknya meniru cara Mita mendiamkan bayi sambil mengayun-ayun hanya saja terdengar menggelitik membuat Bu indah menahan tawa sedangkan Nuri hanya melihat.


"Atau mau dikasih es krim." bujuknya lagi karena si bayi masih belum mau berhenti menangis. Nuri mulai tersenyum,merasa lucu mendengar cara Irham mendiamkan bayinya.


"Oh ok kakak ada tawaran yang lebih menarik atau mau naik odong-odong boleh boleh asal diem yah jangan nangis." pletak....akhirnya Mita tidak bisa menahannya lagi terpaksa menjitak kepalanya saking jengkelnya,mana ada mendiamkan anak bayi dengan mengiming-imingi dikasih permen,es krim sama naik odong-odong dikira anak balita.


Bu Indah menundukkan kepala menyembunyikan tawa. Beliau tidak mungkin tertawa lepas karena situasi yang belum kondusif.


"Apaan sih kak....sakit tau." protesnya kesal dengan cemberut.


"Kamu diemin bayi baru lahir serasa dunia milik sendiri,asal banget. Mana ada diemin anak bayi dikasih permen es krim sama apa itu naik odong-odong kamu kira adik kamu....kalau dikasih susu masih masuk akal." ucap Mita berusaha untuk bersabar dalam berbicara mengingat tidak boleh berisik atau bayi digendongannya akan menangis lagi.


"Ya aku kan cuma berusaha kak....eh iya....susu....kenapa gak bilang dari tadi kasih aja susu pasti diem bayinya." protesnya dengan cemberut kemudian tersenyum senang seperti mendapat pencerahan.


"Mana susunya sini biar aku kasihkan?" tanyanya polos yang membuat Nuri sontak menutup dada. Mita menepuk jidat,hari ini semua orang terlihat seperti orang bodoh pikirnya sambil menarik napas. Bu Indah menggelengkan kepala melihatnya.


Mita melihat ada kemasan susu formula diatas meja langsung mengarahkan Irham membuatkan susu yang langsung diprotes.

__ADS_1


"Aku laki-laki gak pantes bikin susu." tolaknya mentah-mentah. Mita berdecak sebal mendengarnya.


"Bagian susu menyusui itu tugas wanita bukan laki-laki." sambungnya asal,bahasa yang aneh apa itu susu menyusui pikir Mita sambil mendengus sebal kemudian menarik napas. Dia sadar mulai mengikuti sifat setan,mudah kesal pada orang lain


Bu Indah hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan mereka.


"Sudah jangan berdebat sini bayinya biar disusui ibunya,iya nak?" Irham langsung mendekat dan menyerahkan bayi yang masih menangis ke pangkuan Bu Indah.


"Lihat....kasihan bayi kamu nak menangis terus mungkin dia lapar." Bu Indah mencoba menarik simpati Nuri yang tatapannya tidak sekosong tadi,lebih hidup.


"Kamu bisa menyusui dia?" tanya Bu Indah meminta persetujuan dan akhirnya Nuri mengangguk. Bu Indah meletakkan bayi itu ke pangkuan Nuri.


Mita yang menyadari lingkungan langsung memberikan kode pada Irham untuk keluar.


"Apa?" tanyanya polos. Mita menarik napas berusaha menyabarkan diri.


"Bayinya mau disusui kamu musti keluar." jawabnya lirih,bicara harus jelas kalau sama ini anak biar gak ngabisin energi pikir Mita. Akhirnya Irham paham dan bergegas keluar.


"Tuh liat dia diam langsung mencari sendiri sumber makanannya,anak pintar." Mita ikut menyimak untuk mengambil ilmunya karena dia sudah menikah bisa jadi atas seizin Allah mungkin dia akan segera merasakan menjadi seorang ibu.


"Mita kamu juga musti belajar dari sekarang soalnya sudah menikah siapa tahu setelah ini kamu nyusul...." Mita hanya mengangguk.


Kondisinya sudah kembali kondusif saat mereka berkumpul diteras rumah menyisakan Nuri yang dibiarkan istirahat setelah memastikan kedua bayinya selesai disusui.


"Aku masih penasaran sama baby blues." celetuk Irham.


"Baby artinya bayi blue artinya biru digabung jadi bayi biru....bukannya ibu bilangnya mbk Nuri kena baby blues sedangkan menurutku mbk Nuri bukan bayi dan warnanya gak biru terus maksudnya apa?" sambungnya panjang lebar.


"Bukan itu maksudnya nak." balas Bu Indah sambil menggelengkan.

__ADS_1


"Baby blues syndrome adalah istilah kedokteran yaitu kondisi ketika seorang ibu mengalami depresi ringan setelah melahirkan. Ini disebabkan ibu kurang tidur dan kelelahan dalam masa-masa mengurus bayinya terutama dimalam hari bayi cenderung rewel gak mau tidur karena disiang hari tidur terus. Ini biasa terjadi dibulan pertama setelah bayi lahir yang akhirnya bisa memicu munculnya cemas yang berlebihan."


"Penyebab lain adalah seorang ibu yang baru melahirkan tentu saja kondisi fisiknya belum sehat sepenuhnya setelah melewati persalinan yang melelahkan,dijahit pula lalu rahimnya butuh waktu untuk kembali seperti semula. Jadi untuk mengurus bayi seorang ibu merasa belum mampu dengan kondisi fisik yang terbatas,butuh bantuan suami. Karena itu suami harus mengerti kebutuhan istri dan mendukung istri dalam mengurus bayinya." jelas Bu Indah.


"Jadi siap gak siap musti siap yah." tanya Mita. Bu Indah mengangguk.


"Hidup memang tempat ujian yah Bu. Punya anak senang tapi juga musti ngelewati banyak rintangan mulai hamil melahirkan habis itu ngerawat bayi yang ternyata menguras energi kudu kuat mental banget itu. Gak salah kalau surga terletak di kaki ibu bukan dikaki ayah."


"Iya....baru hamilnya aja sudah banyak rintangannya."


"Mual diawal kehamilan ada yang sampai gak bisa makan apa-apa biasanya usia kandungan sampai tiga bulan ada yang lebih....pusing juga gampang lelah."


"Di tri semester kedua perut mulai membuncit mulai sulit untuk bergerak bebas terutama untuk membungkuk,pinggang mulai terasa gak nyaman kadang nyeri."


"Di tri semester ketiga makin banyak keluhan,pinggang makin terasa sering nyeri. Susah tidur. Bayi menendang sampai ke tulang rusuk rasanya sakit sekali. Makin suit bergerak,napas engap apalagi kalau banyak melakukan aktifitas....pokoknya banyak deh perjuangan seorang ibu gak bisa hanya dibayangkan." ucap Bu Indah tercekat sambil menggelengkan kepala kemudian menarik napas. Terbayang kembali ke masa lalu saat beliau mengandung,melahirkan dan merawat anak-anaknya. Ada senangnya,ada susahnya,ada kesalnya,ada marahnya,ada kecewanya pokoknya semua rasa ada.


"Tapi saat anak dewasa mereka kaya yang lupa....banyak ngeyelnya,banyak membangkangnya tiap kali dinasehati. Menganggap nasehat orang tua seperti membatasi kesenangan mereka. Marah seakan memusuhi saat keinginannya gak dituruti padahal orang tua menasehati karena kami sudah pernah mengalaminya,gak mau anak-anak kami merasakan hal yang kami alami dulu." cerita Bu Indah sambil mengingat kelakuan anak-anaknya dari kecil sampai dewasa ini.


"Iya Bu....sebagai anak yang kami inginkan hanya apa yang membuat kami senang tapi dengan ngeyelnya membangkangnya kami justru dari situ kami mendapatkan hasil dari perbuatan kami....mau enak ataupun gak enak kami jadi tahu rasanya dan mulai memahami oh ternyata apa yang dikatakan orangtua benar."


"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya kalau kita gak mencoba apa itu rasa pahit maka kita gak akan tahu seperti apa rasanya pahit,begitu kan Bu...."


"Walaupun salah....." sambung Mita sambil tersenyum kecut.


"Iya."


"Ada banyak hal yang musti dipelajari sendiri daripada hanya mendengarkan yang akhirnya terlihat seperti dongeng tapi masalahnya kalau yang kita pelajari sifat buruk dalam tanda kutip terus kita dapat balasan dari Allah apakah kita yakin kuat menerima?" Mita tampak berpikir kemudian membenarkan perkataan Bu Indah.


"Kalau misalnya mempelajari hal baik sih ndak pa pa contohnya menanam melon dengan beberapa metode lalu melihat hasilnya seperti apa,besarnya,rasanya?"

__ADS_1


"Lha kalau mempelajari minum pil ekstasi gimana rasanya kan bahaya,merugikan diri sendiri kan?" Mita mengangguk-angguk setuju.


Intinya hidup harus berdasarkan pada kebenaran bukan pada keinginan karena keinginan belum tentu benar sedangkan kebenaran sudah pasti benar.


__ADS_2