
Mita Pov
"Assalamualaikum...." tidak ada yang lebih menyenangkan daripada kembali ke rumah sendiri walau bagaimanapun keadaannya tetap "rumah kita" yang paling nyaman.
"Waalaikum salam...." eh sampai kaget,kirain gak akan ada orang yang jawab rupanya ada yang nyusul dibelakang.
"Abang ih ngagetin" protesnya dengan cemberut.
"Abang laper banget nih mau sarapan!" ucapnya sambil lewat langsung menuju dapur,terlihat emak yang merapikan perkakas dapur sepertinya baru selesai digunakan soalnya masih basah. Langsung tercium aroma masakan yang luar biasa dan bikin kangen,dua Minggu gak ngerasain masakan emak serasa ada yang kurang.
"Assalamualaikum Mak!" Bang Yahya mendahului menarik kursi ingin duduk namun tidak jadi,beranjak ke sudut lain dapur ternyata mengambil piring dan sendok. Semenjak mengetahui aku hamil dia memilih untuk mengurus diri sendiri,tidak seperti sebelumnya yang terbiasa aku layani.
"Waalaikum salam....mas Yahya kapan....eh Masya Allah neng Mita juga ikut?" ucapan emak terpotong saat melihat kehadiranku dipintu masuk dapur dan tersenyum lebar ke arahku yang ku balas senyuman dan anggukan.
"Ya Allah emak kangen banget sama neng Mita." emak langsung menghampiriku dan menyambutku dengan pelukan hangat.
"Gimana keadaannya udah baikan?" tanya emak sambil memperhatikan tubuhku mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti memastikan tidak ada satu kekurangan pun ditubuhku. Aku hanya tersenyum.
"Eh iya ya Allah emak khawatir denger dari Irham neng Mita sakit pengen langsung ke sana tapi gak dibolehin...." emak cemberut tapi kemudian tersenyum lebar.
"Katanya udah isi yah....makin cantik sekarang apa jangan-jangan jabang bayinya perempuan ini?" ucap emak senang,ikut bahagia mendengar kehamilan ku.
"Aamiin mak....mau laki-laki atau perempuan sama aja yang penting ibu dan bayinya sehat dan selamat." sahut Yahya yang sudah memposisikan diri dengan nyaman siap menyantap hidangan yang telah tersedia diatas meja tanpa menungguku padahal aku pengen,mendadak laper tapi masih diajak ngobrol sama emak rasanya gak enak kalau aku ikut sarapan sekarang.
"Sarapan Mak!" aneh,siapa yang masak siapa pula yang nawarin,aku geleng kepala.
"Duluan aja mas,emak masih kangen ini sama neng Mita." Yahya hanya mengangguk,fokus pada sarapan didepannya.
"Ayo duduk neng kalau hamil gak boleh terlama berdiri atau duduk...kudu seimbang"
"Terus kemarin gimana ceritanya katanya sampai sakit neng Mita...iya?" tanya emak dengan tatapan khawatir.
"Nggak tahu juga Mak....tahu-tahu bangun tidur mual terus muntah kaya yang gak mau berhenti sampai pusing kepala aku." ceritaku kembali mengenang kejadian tempo hari yang seakan masih terasa gak nyamannya kalau ingat.
"Gimana gak mual Mak dia kan gak makan siang paginya juga makan dikit."
"Beberapa hari ke belakang juga tiap makan kaya yang penting perutnya ngisi makanan." aku melotot kaget,ternyata bang Yahya memperhatikan pola makan aku. Yah aku sadari beberapa waktu ini aku kehilangan nafsu makan jadinya yang penting makan biar gak lemes karena kalau dipaksa makan terlalu banyak perutku makin terasa penuh kaya yang melembung dan bikin gak nyaman juga eneg.
"Ya Allah emak gak nyadar padahal tiap hari ketemu...." emak terlihat menyesal karena tidak menyadari kondisiku saat itu.
"Enggak apa-apa emak terpenting Mita dan calon Ade bayinya juga baik cuma perlu banyak istirahat sama makan makanan sehat dan bernutrisi" jelasku yang mbuat emak tersenyum lebar.
"Alhamdulillah emak ikut seneng dengernya....emak nanti kebagian dipanggil Simbah yah sama anaknya neng Mita sama mas Yahya....boleh?"
"Tentu saja boleh Mak." jawabku cepat dan emak mengangguk senang,terpancar kebahagiaan dari raut muka emak.
"Anak kami cucunya emak juga karena emak sudah kami anggap sebagai orangtua kami." sahut bang Yahya yang bikin aku terenyuh bercampur bahagia mendengarnya. Aku jadi teringat sama almarhum bapak sama ibu yang pasti sama bahagianya seperti emak saat tahu akan punya cucu. Tanpa sadar airmataku menetes tapi tetap dengan tersenyum bahagia. Yah aku sadar orang yang telah meninggal tidak akan bisa hidup lagi namun orang yang meninggal bisa tenang saat orang terkasih yang masih hidup berusaha mengikhlaskan kepergiannya,berusaha menjalani hidup dengan baik.
"Makasih mas." ucap emak sambil menoleh ke arah bang Yahya dengan terharu. Akupun ikut senang mendengarnya walaupun terasa ada yang kurang tanpa kehadiran orangtua. Aku usap airmata yang jatuh tanpa permisi sebelum ketahuan orang lain atau akan keterusan menangisnya.
"Sama-sama Mak" jawab bang Yahya sambil tersenyum. Darah memang lebih kental daripada air tapi untuk menjalin hubungan kekerabatan yang baik tidak butuh darah yang kental hanya butuh keikhlasan dalam bersikap dan berbuat.
__ADS_1
"Udah berapa bulan usia kandungannya neng?" tanya emak sambil mengelus perutku,tidak terbayang deh nanti kalau perutku mulai membuncit mungkin bakalan banyak yang mengelus perutku. Suamiku setiap nempel bawaannya ngelus perut sekarang emak adeeh....
"Enam minggu tiga hari Mak dan Alhamdulillah udah kelihatan janinnya." jelasku dan emak mengernyit bingung.
"Emak gak ngerti hitungan minggu tahunya bulanan."
"Lah enam minggu sudah kelihatan janin maksudnya jabang bayinya?" tanya emak heran sambil mengerutkan dahi bingung.
"Waktu anak-anak emak hamil mereka biasanya ke bidan kalau gak ada keluhan artinya bagus,pas tiga bulan baru periksa ke dokter katanya biar jelas kondisi kehamilannya." cerita emak.
"Iya Mak....kemarin Mita habis tes kehamilan hasilnya positif langsung periksa ke dokter katanya biar gak ragu-ragu lagi soalnya Mita masih gak yakin baru nikah kok udah hamil...masih gak percaya sampai sekarang kaya aneh aja" emak menepuk tanganku pelan sambil tersenyum penuh arti seperti yang meledek.
"Nggak nyangka bakalan secepat ini langsung gol yah mas tanpa dikasih jeda sama Allah." tuh kan bener,yang disinggung langsung batuk-batuk.
"Uhuuk....uhuuuk....." dia sampai tersedak. Langsung berdiri mendekatinya dan menepuk pelan punggungnya berharap tersedaknya segera berakhir.
Adeeh dikira main bola sepak apa langsung gol masuk ke gawang. Aturan habis gol bolanya diambil buat main lagi lah ini yang udah masuk gak bisa diambil lagi malah langsung nempel jadi calon bayi terus darimananya bisa disamakan dengan permainan sepak bola,aneh-aneh saja.
"Minum dulu bang!" sambungku saat batuknya mereda,terlihat mukanya yang memerah. Dilihat dari isi piringnya tampaknya makan dengan sambel. Aku meringis bisa ikut merasakan panas dikerongkongannya apalagi kalau sampai masuk ke hidung pasti gak nyaman banget. Tuh kan bener meler hidungnya.
"Maafin emak yah mas....becanda hehehe...." ucap emak sambil nyengir,terlihat bersalah.
"Eh iya emak masih ada urusan....ditinggal bentar yah!" malah kabur,menyebalkan.
Melihat reaksi emak apakah orang lain yang mendengar tentang kehamilanku akan bereaksi yang sama atau yang lebih parah berpikir kalau kami kemaruk melakukannya sampai akhirnya aku langsung hamil karena keseringan main aaah gaswat jangan-jangan dikiranya aku hamil duluan. Mataku langsung melotot memikirkannya,aku langsung lemas jadi gak nafsu makan. Rasa lapar tadi mendadak hilang tak berbekas.
"Mikirin apa sih?" narik napas lalu geleng kepala,gak mungkin aku cerita isi hatiku karena aku sadar ini termasuk berprasangka buruk pada orang dan hukumnya dosa jika terus dipelihara.
"Malah sedih....kasihan bayinya kalau kamunya sedih begini." aku sedih bukannya karena apa-apa tapi karena aku melakukan kesalahan,suuzon ke orang.
"Coba bilang apa yang kamu pikirin hmm biar gak jadi beban." kaya yang semakin dingatkan rasanya sedih dan pengen nangis,air mata sudah menggenang di pelupuk mata dan langsung mengerjap dengan pandangan ke atas supaya gak jatuh airmatanya.
"Kok diem?" aku hanya menggeleng lemah lalu berdiri. Aku butuh sesuatu yang bisa mengalihkan perasaanku yang bisa mengubah suasana hatiku.
"Mau kemana?" tanyanya khawatir.
"Sarapan dulu tadi belum sempat sarapan kan?" teriaknya saat aku mulai menjauh.
"Aku belum lapar mau nyari angin segar" balasku berteriak,yang aku butuhkan sekarang adalah sesuatu yang bisa mengubah aliran negatif dalam otakku menjadi aliran positif. Hufftt aku sedang hamil jadi musti senantiasa berpikir baik,berbuat baik agar anaknya nanti berakhlak baik pula.
Aku tatap perutku yang masih rata kemudian mengelus pelan sambil berkata "Maafin ibu ya nak!"
Saat menatap ke hadapan baru sadar kalau halaman rumah bisa secantik ini,kemana saja perhatianku sejak tadi.
"Masya Allah cantik sekali"
Tampak depan dibuat seperti pintu masuk dengan pagar bunga melati hanya saja atapnya masih berupa bambu yang dibentuk melengkung. Aku bisa menebak rencananya,pada saatnya nanti bunga melati akan ditata merambat ke atas bambu,bisa dibuat pengayom begitu. Cakep...
"Irham sini..." aku memberikan tanda melambaikan tangan memintanya untuk mendekat.
"Apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ini ide kamu?"
"Ya iyalah memang siapa lagi?" ucapnya menyombongkan diri dan aku hanya menggelengkan kepala melihat kesombongan yang ia tampakkan.
"Gak boleh sombong aah dosa...kamu bisa seperti ini juga karena Allah bukan semata kemampuan kamu...paham?"
"Iya iya..."
"Berhubung kakak sedang hamil dan mungkin gak bisa fokus lagi sama ini semua boleh deh kamu lanjutin....terserah deh sama kamu diapain pokoknya kamu atur sendiri" aku rasa bisa memberikannya kebebasan untuk menggali kemampuannya dalam berwirausaha dan nantinya aku hanya akan sering mengambil video untuk diunggah ke channel yutub ahahahaaa cerdasnya aku eh astaghfirullah malah memuji diri sendiri....
"Bener nih kak!" aku langsung mengangguk yakin dan dia terlihat senang.
Jadi pengen healing ke kebun kan dulu sempet menanam buah juga dari rumah lama oh iya jambu kristalnya mungkin sudah berbuah....kalau ngebayangin yang seger-seger gini bawaannya pengen....
Langsung capcus....
Aku mengangguk-angguk melihat tanaman yang terawat sambil sesekali memunguti daun-daun yang menguning sampai mataku menangkap pohon anggur yang terselip diantara pohon jambu kristal dengan daunnya yang lebat merambat. Aku meneliti ke mana arah merambatnya sampai menemukan sesuatu berwarna ungu pekat kebiruan dan memanjang diantara celah daun anggur dan jambu. Mataku membulat aku ingat pernah iseng membeli bibit anggur import.
"Ya Allah aku deg-degan ini....bismillahirrohmanirrohiim...." sambil melihat lebih dekat menyingkirkan beberapa daun yang menutupinya.
"Masya Allah...." jeritku tanpa sadar dan kemudian menutup mulut melihat buahnya yang lebat dalam satu tangkai hanya saja belum semuanya berwarna ungu pekat artinya belum tua semua tapi cukup membuatku senang. Ini seperti hujan yang datang setelah mengalami kekeringan yang cukup lama,rasanya seperti mendapat berkah.
"Ada apa kak?" teriak Irham yang mendengar jeritanku.
"Ham....cepat ke sini!" teriakku tidak sabar. Tergopoh-gopoh ia menghampiriku tapi kemudian menatap ku kesal.
"Apaan sih kak ngagetin?"
"Aku kira ada apa-apa sama kakak....lagi hamil juga....bikin panik." omelnya tapi aku tidak peduli.
"Itu..." tunjukku ke arah buah anggur itu.
"Apa?" jawabnya ketus sambil melirikku sinis.
"Ih lihat dulu!" ku arahkan mukanya ke depan buah anggur.
"Apa sih?" tapi dia belum melihatnya juga,dasar ini anak suka mengedepankan emosi bukannya melihat jeli.
"Lebih dekat!" sambil kusingkirkan daun yang menghalangi pandangan kami.
"Anggur?" ucapnya terkejut,aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi kapan nanamnya aku gak ingat?" dia tampak berpikir keras.
"Ini dulu aku iseng beli bibitnya jadi digeletakin sembarangan gak nyangka malah berbuah." ucapku senang.
"Coba lihat siapa tahu masih ada temennya!" instruksi ku padanya yang hanya bisa patuh. Kelamaan membungkuk pinggangku pegal apa bawaan hamil.
"Wah banyak ini buahnya tapi masih kecil-kecil." ujarnya yang membuatku tersentak kaget sekaligus senang.
Masya Allah ini namanya keberkahan dalam hidup aku yang hamil dan dikasih kejutan dengan pohon anggur yang asal ditanam ternyata berbuah atas seizin Allah. Tidak menyangka tapi Allah maha berkuasa.
__ADS_1