Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 43 Ghibah pagi-pagi


__ADS_3

Baru jam 8 pagi mataharinya sudah sangat cerah,terasa gerah didalam rumah,Mita memutuskan keluar,duduk-duduk diteras rumah.


Sudah lama rasanya tidak sesantai ini,menikmati udara pagi setengah siang pada musim kemarau.


Mengamati sekitar nampak gersang kok ya sepet mata. Mendongak ke atas matanya langsung berbinar melihat pohon mangga yang nampak berbuah lebat,besar-besar dan ranum. Matanya juga tak sengaja melihat pohon jambu air yang juga berbuah lebat ini namanya rezeki nomplok. Sayang sekali tangan kanannya masih sakit jadi harus menahan diri.


"Kasihan sekali kalian...!" Mita masuk ke dalam rumah berniat mengambil selang tapi dia kesulitan.


"Ya Allah belum apa-apa capek begini...pake gayung sama timba ajalah dikit-dikit lama-lama jadi bukit..." daripada mengeluh lebih baik berusaha semampunya saja pelan-pelan asal selamat jangan apa-apa dijadikan beban.


Mita meletakkan timba dibawah keran lalu menyalakan keran air sambil bersenandung dia menyirami tanaman dihalaman rumahnya yang nampak terabaikan karena pemiliknya sibuk mencari duit. Memikirkan itu Mita tersenyum kecut.


"Mbak Mita...ya Allah kok tangannya digendong kenapa? jatuh ya?" sapa seorang tetangga bersama beberapa ibu lain yang kebetulan lewat didepan rumah sambil menenteng belanjaan.

__ADS_1


"Kesleo Bu gara-garanya kurang hati-hati." jawabnya sambil tersenyum ramah.


"Oalah...lain kali hati-hati ya mbak!"


"Iya Bu...makasih perhatiannya." Mita melanjutkan aktifitasnya mengisi gayung dengan air lalu menyiramkan pada pohon mangga dan pohon jambu secara bergiliran.


"Ibu-ibu sudah denger belum kabar si Ibnu habis kecelakaan bonceng perempuan gak bener..." mulai deh rumah orang dijadikan tempat bergosip,Mita menatap jengah.


"Iya...saya dengernya juga gitu...booming lho sampai ke komplek sebelah." jawab satunya lagi meyakinkan dan terdengar makin seru.


"Kok bisa...gini ni kalau anak gak dididik bener-bener lagian ibunya kerja diluar negeri gak pulang-pulang anak kurang perhatian jadinya ugal-ugalan." ini poin baru bener,kurang perhatian anak suka tak terarah memang harus diberi contoh yang baik.


"Terus ke luar negeri buat apa kalau akhirnya anak jadi korban...saya sih gak mau lebih baik pas-pasan toh harta gak dibawa mati tapi anak Sholeh sholehah bisa mendoakan kita orangtuanya...sudahlah saya mau pulang belum masak buat makan siang." si ibu pakai hijab pamit pulung duluan.

__ADS_1


"Eh lanjut yuk mumpung ada waktu...bapaknya juga sering ke tempat begituan kata suamiku...." matanya membulat 'dilanjut mumpung ada waktu' ini nih seperti menyiram minyak tanah ke dalam kayu bakar yang menyala,dia menyibukkan diri dan agak menjauh dari sumber berita supaya tidak mendengar.


"Ya iyalah secara udah pernah ngerasain nikmatnya terus ditinggal lama pastilah itu burungnya minta pelepasan mana kuat ditahan terus...jajanlah diluar hahahaa...." ini pakai tertawa ngakak,ibu-ibu kalau sudah bicara perburungan bisa semangat begitu dari jauh pun sampai terdengar,Mita menarik napas.


"Ngomong-ngomong suaminya ibu kok tahu emang pernah ngikut ya?" ledek ibu bibir tebal,gaya bicaranya fasih sekali seperti sengaja menabur benih kecurigaan.


"Ya gak lah orang dirumah selalu saya servis sepuasnya mana mungkin nyari diluar...lihat nih penampilan saya gak kalah kan sama Luna Maya..." ibu paling cetar berucap bangga,memperlihatkan penampilan seksinya sambil berputar dan mengibaskan rambutnya dengan percaya diri.


Alamak...apa wanita terlahir sebagai tukang gosip ya? Mita tidak tahan lagi segala burung yang diservis diomongin kenceng pula.


"Ekheeem...ibu-ibu mohon maaf kalau ngobrolin perburungan mbok ya jangan keras-keras malu didenger orang...saya ini masih perawan lho Bu suka ngeri denger begituan..." ibu-ibu itu cuma nyengir sambil bubar jalan.


Selalu saja 'semut diseberang lautan nampak jelas tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatan' Mita menarik napas lalu menggelengkan kepala. Ia merasa berdosa telah ikut mendengarkan...astaghfirullahaladzim...

__ADS_1


__ADS_2