
"Masak apa?" tanya Yahya,ditariknya kursi lalu duduk sembari menemani istrinya didapur daripada sendiri didalam kamar. Sejak bangun tidur sampai detik ini Yahya melihat istrinya terus beraktifitas.
Mita menoleh sekilas sambil tersenyum.
"Belum tahu masih mau masak nasi ini....Abang mau dibikinin minuman apa?" tawarnya sambil mencuci beras diwastafel. Enaknya punya istri yang memahami tugas dan kewajiban,pagi-pagi sudah ditawari minuman. Yahya tersenyum merasa tersanjung dengan pelayanan istrinya.
"Kopi....teh atau....susu?" tuh kan disuruh milih sesuai kesukaan,nikmat manalagi yang kau dustakan?
"Maaf aku belum tahu kebiasaan Abang." bicaranya lembut dan sopan,enak didengar bikin suami klepek-klepek tidak mau jauh-jauh.
"Kopi....campuran manis dan pahit tapi enak....kaya kehidupan." ujar Yahya yang seperti pujangga.
Sambil menyelam minum air ibarat pepatah. Mita memasak air sembari meracik kopi begitu air masak langsung dituang ke dalam cangkir.
"Hmm harum...." aroma kopi yang diseduh memenuhi indera penciumannya.
"Walaupun begitu kopi tetap menjadi minuman favorit banyak orang....atau mungkin karena aroma dan sensasi rasanya yang meskipun aneh tapi pas dilidah." sambungnya dengan menerawang kemudian menggelengkan kepala heran.
"Jangan terlalu dipikirin....nikmati aja nih kopinya." tahu-tahu kopi sudah siap didepan mata tinggal dinikmati,nikmat mana lagi yang kau dustakan? Dititipi istri cantik,muda,pengertian sama Allah....Alhamdulillah.
"Makasih istriku sayang." ucapnya sambil tersenyum menggoda.
"Sama-sama suamiku sayang." sangat sangat romantis mereka berdua.
__ADS_1
Mita kembali berkutat dengan perbumbuan usai meletakkan secangkir kopi ke hadapan suaminya yang tampak menyambutnya dengan sumringah.
"Allah tidak akan memberi kehidupan yang manis terus-menerus pada manusia karena apa?" Mita melemparkan pertanyaan lanjutan tentang rasa kehidupan.
"Hmm Masya Allah Alhamdulillah insya Allah kopi ini betul-betul nikmat....terasa beda....apa mungkin karena buatan istriku hehehe...." goda Yahya,Mita hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum,merasa lucu mendengarnya dan merasa terhibur.
"Hidup gak akan berwarna dan gak akan nikmat....mungkin." sambung Yahya menebak, disela-sela menikmati kopi buatan istrinya sembari mengangguk-angguk.
"Bisa jadi...." Yahya mengerutkan dahi,merasa sedang kuis tebak kata,artinya juga jawabannya belum tepat mendengar kalimat "bisa jadi" istrinya.
"Lebih tepatnya....hidup itu ujian abang makanya kita yang hidup sering kali terasa ada manisnya ada pahitnya ada asinnya kadang juga terasa getir....tapi kalau seimbang bisa terasa nikmat dan gurih." jelas Mita sambil mulai memotong daging untuk dimasak rendang kampung,tidak pedas dan bisa dinikmati eyang yang memang tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan pedas diusianya.
"Bisa dibayangkan kalau dikasih seneng terus beuh makin cinta sama dunia makin lalai makin lupa sama kewajiban."
"Semoga saja kita gak sampai kaya gitu yah bang percaya pada selain Allah....aamiin." terasa berat napasnya membayangkan akibat menyekutukan Allah dengan yang lain,selain mendapatkan tambahan dosa,pahala yang didapatkan sebelumnya juga habis.
"Iya aamiin....semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk pada kita." balas Yahya.
"Aamiin ya robbal alamiin." ucap Mita mengaminkan doa sambil meraup muka.
"Biar aku ingatkan lagi kalau gak salah aku pernah bilang yah kalau senang susah beriringan...." Mita berpikir keras sambil mengingat-ingat.
"Contohnya kia....bisa nikah senang kan? Aku gak mau ngomong bahagia takutnya Allah ngasih ujian ke kita karena bahagia didunia itu gak ada....adanya bahagia diakhirat kelak itu kata pak ustad." jelas Mita menegaskan dan Yahya baru tahu itu.
__ADS_1
"Lanjut ini yah....nikah seneng kan apalagi atas dasar saling cinta senengnya luar biasa tapi ada susahnya mikir persediaan uang cukup gak buat acaranya terus capek juga belum mikirin yang lain....iyakan?" Yahya tampak berpikir lalu mengangguk setuju.
"Ya Abang ingat kamu pernah bilang susah senang beriringan....dulu waktu Abang yang sudah suka sama kamu tapi kamunya kaya yang ngasih batasan katanya gak mau dekat sama laki-laki yang bukan muhrim tapi belum mau nikah juga akhirnya Abang nyimpen perasaan cinta Abang ke kamu takut ngomong jujur kamunya ngejauhin Abang." Yahya malah jadi gagal fokus pada kisah masa lalunya. Mita berdecak sebal.
"Yah kok jadi beralih pembahasan....udeh yang lalu biarlah berlalu Abang lagipula sekarang kita sudah berjodoh kan?" Mita mengingatkan status mereka berdua yang sudah suami istri agar tak berkepanjangan menceritakan kisah masa lalu.
"Maafin sayang tadi Abang keinget waktu dulu jadinya kebawa...." Yahya nyengir.
"Iya dimaafin." Mita kembali membuka kulkas,apakah ada sayuran dan rupanya ada beberapa jenis sayuran yang bisa ditumis sebagai pelengkap gizi yang mengandung serat. Yahya yang melihat kesibukan istrinya langsung mendekat ingin membantu.
"Ada yang bisa Abang bantu nih?" Yahya menawarkan bantuan,Mita menggelengkan kepala. Urusan dapur adalah urusan perempuan dan selama dirinya masih sanggup mengerjakan maka suami tidak perlu membantu. Mita tidak ingin suaminya terlalu memanjakan dirinya hingga ia terlalu bergantung dan terlena,melupakan apa yang seharusnya.
Yahya hanya mengangguk,tidak perlu banyak bertanya karena dia yakin dengan keputusan istrinya insya Allah demi kebaikan. Akhirnya dia hanya membantu mengaduk dan mencicipi masakan istrinya.
"Bang....aku izin mau nengok rumah kalau ada waktu mau nengok ponakan,boleh?" Yahya mengizinkan saja lagipula dirumah ada dua pengganggu siapa lagi kalau bukan eyang dan Maira yang dari kemarin seperti berebut perhatian Mita,sebentar-sebentar memanggil minta ini dan itu jadi kalaupun dirumah mana bisa berduaan.
Semalam sudah tidak bisa berduaan karena Maira memaksa ingin tidur bersama mereka tapi untunglah mama berinisiatif memindahkan Maira ke kamarnya. Sayangnya percuma juga mau minta jatah Mita susah dibangunkan,tidur nyenyak sampai langit ke tujuh yang pada akhirnya semalam ia harus puas dengan hanya memeluk tubuh istrinya.
"Abang juga mau ke resto....kerja,sekarang sudah punya kewajiban ngasih nafkah." itu lebih baik daripada dirumah takutnya malah uring-uringan menahan kesal.
"Nafkah batinnya udah kan ya....giliran nafkah lahirnya." bisik Yahya kemudian mengedipkan mata dengan tersenyum menggoda.
"Apaan sih bang." jawab Mita malu-malu sambil celingukan takut didengar orang makin malu jadinya.
__ADS_1