Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 134 Tulang rusuk


__ADS_3

Usai menelpon Mita kembali termenung bukannya masuk ke dalam ruangan tadi,tempat berkumpul semua teman-temannya sehingga membuat Alif yang masih berada dibelakangnya mengerutkan dahi bingung sambil menggumam "ada apa dengannya?"


"Ayo masuk!" pada akhirnya Alif berinisiatif mengajaknya masuk. Mita sempat tersentak kaget tapi langsung berusaha kembali normal.


"Hmm kamu duluan saja aku masih mau menelpon seseorang." kilahnya sambil tersenyum tipis. Alif terlihat mengerut kesal karena rencananya gagal,dia keluar untuk menyusul Mita namun orangnya sulit didekati seakan terus menghindarinya.


"Apa aku punya salah?" tanya Alif dingin,Mita langsung menggelengkan kepala tegas.


"Lalu kenapa kamu terus menghindari aku?" Mita menarik napas panjang.


"Maaf bukannya menghindar tapi aku berprinsip bahwa ada batasan antara laki-laki dan perempuan,kamu lihat kan sama semuanya juga sama." mencoba memberi alasan lain yang masuk akal menurut pemikirannya. Alif tampak tidak memahami ucapan Mita.


"Maksudnya?" Mita terlihat bingung mau menjelaskan dari mana,situasinya juga tidak tepat mereka berdiri pasti capek terus berdiri dan hanya berdua.


"Intinya kita laki-laki dan perempuan tidak baik terlalu dekat dengan status hubungan hanya sebagai teman,saudara bukan,suami istri juga bukan takut timbul fitnah....aku gak ingin orang lain berpikiran buruk tentang aku dan kamu." jelas Mita yang berharap Alif mengerti maksudnya. Alif nampak kecewa.


"Duluan saja ya aku masih ada urusan lain soalnya ada yang kirim pesan ke hp aku tadi,penting." diputuskan sepihak saja dari pada berkepanjangan,Mita menjauh sambil terlihat sibuk menelpon orang lagi dan siapa yang ditelepon? Dia adalah Dani yang langsung berteriak kesal diseberang karena mendengar Mita yang bicara tidak nyambung.


"Apa pak?" yang diseberang ngamuk karena ditanya kenapa,ada apa,Mita malah menjawab tidak jelas.


"Maaf tadi saya tidak tahu ada pesan masuk soalnya masih ada acara." lagi orang diseberang mengatainya gila dengan terus memaki.


"Oh iya pak....besok yah pak." dia terus berakting bicara lemah lembut padahal dalam hati ia kesal setengah mati mendengar ucapan kasar kakaknya tapi saat membayangkan muka kesal kakaknya dia jadi ingin tertawa.


"Oh begitu yah pak." sambil melirik,memastikan Alif sudah masuk apa belum sedangkan orang diseberang sudah seperti orang gila yang terus mengomel dan akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak dengan mendengus kasar.


"Oh....ya Allah keriting kupingku dengerin omongan kak Dani." ucapnya sambil menggosok kuping lalu tertawa sendiri.


Dan tiba-tiba saja terasa tidak nyaman dibagian bawah perut dan ia merasa harus ke kamar mandi untuk mengeceknya. Mita bergegas masuk mendekati Ayyesa dengan berjongkok lalu berbisik.


"Ayok!" Ayyesa berdiri diikuti Mita yang tampak gelisah.


"Kalian mau ke mana?" tanya Rendra dan Ita bersamaan.


"Kamar mandi." hanya itu jawabannya dan beranjak pergi.


Sepanjang jalan mereka berdua berjalan beriringan dengan Ayyesa yang ribet mengangkat baju pengantinnya,mau cepat-cepat juga mana bisa sementara Mita sudah panik takut ngeflek dibaju luarnya ah pasti memalukan pikirnya.


"Sini aku bantu pegang!" Ayyesa menolak dengan alasan makin sibuk mikir gimana jalannya takut saling tubruk. Akhirnya bertemu salah satu saudara Ayyesa yang perempuan langsung berbisik dan akhirnya kedatangan tamu bulanan bisa diselesaikan.


"Aku mau langsung pulang ya,gak nyaman." ucapnya memelas setelah keluar dari kamar mandi dan sekarang berada dikamar Ayyesa yang sudah didekor menjadi kamar pengantin. Ayyesa diam memperhatikan Mita.

__ADS_1


"Aku boleh tanya sesuatu?" Mita mengangguk ragu mendengar suara Ayyesa yang tegas dan serius.


"Punya hubungan apa kamu sama pak Yahya?" Mita mengerutkan dahi bingung dan heran mendengar pertanyaan tiba-tiba Ayyesa.


"Ini tadi ada telepon masuk dari "Mas Yahya" aku kira mas Yahya yang lain tapi....." mata Mita terbelalak.


"Maaf....awalnya aku gak mau angkat tapi terus telepon jadi aja aku angkat."


"Dia nanyain kamu kenapa? Terus aku jawab gak pa-pa,pas denger suara aku dia langsung kaya yang kaget terus gelagapan,malu-malu begitu pasti karena ketahuan sama aku....ngucap salam terus dimatiin." jelas Ayyesa sambil tertawa. Kali ini Mita tidak bisa mengelak lagi,dia duduk didekat Ayyesa.


"Kami akan menikah." jawab Mita lirih dengan kepala tertunduk bercampur malu. Terbayang kalau posisi mereka diruangan tadi pasti akan lebih tidak nyaman.


"Whaat?" ucap Ayyesa kaget.


"Serius?" Mita menggangguk lemah.


"Gimana bisa?"


"Pantesan kamu kaya yang gak nyaman,aku bisa ngebayangin rasanya jadi kamu....sudah punya calon suami tapi masih dipasangkan sama Alif untung pak Yahya orangnya tenang kalau Rendra mah pasti langsung kalap main tonjok."


"Salah kamu juga...."


"Kalau ditanya gimana bisa....jawabannya atas seizin Allah." jawab Mita diplomatis,Ayyesa kicep kalau berurusan dengan Tuhannya manusia.


"Malu itu pasti secara dia mantan guru kita kalian pasti meledek kami habis-habisan,iya kan?" tebak Mita cemberut,Ayyesa nyengir sambil garuk kepala,tidak bisa memungkiri itu pasti akan terjadi secara sudah kebiasaan saling meledek.


"Aku belum ngasih tau alasannya yah nanti pas nikah aja ngundang kalian ke nikahan kami."


"Insya Allah saat aku benar-benar ditakdirkan sebagai tulang rusuknya." Jawab Mita sambil mengangguk-angguk.


"Lamaran masih bisa gagal menikah kan?" Ayyesa terdiam sambil terpekur memikirkan,membenarkan ucapan Mita.


"Gak ingin berprasangka buruk sama Allah tapi kan jodoh hanya Allah yang tahu." Ayyesa mengangguk mengerti sambil berkata.....


"Kamu benar." dan tersenyum menggoda. Mita langsung menarik napas panjang,kumat jahilnya pikirnya.


"Apa?" tanyanya sinis.


"Terpaut berapa tahun kalian?" tanya Ayyesa langsung menghadap Mita dengan muka penasaran sambil tersenyum.


"Tahu gak....aku ngerasa cerita kalian kaya dinovel hehehe....menikah dengan guru sendiri." ucap Ayyesa sambil menutup mulut menahan tawa.

__ADS_1


"Aku mau dua puluh satu tahun tiga hari lagi....dia dua puluh tujuh tahun kalau gak salah." jawab Mita dengan dahi berkerut.


"Wah terpaut enam tahun dong." mata Ayyesa membulat.


"Eh tiba-tiba terpikir...." Ayyesa menggigit bibirnya sambil menahan tawa.


"Ihihihi....aku ngebayangin kamu manggil MAS gimana gitu ya....aneh geli-geli asoy....dulunya kan BAPAK...." Ayyesa mulai deh jahilnya,Mita memutar mata.


"Nanti habis akad nikah,gituan....ayo teruuus mas ahahahaaa...." Mita langsung mencubit lengan Ayyesa yang langsung meringis kesakitan....


"Aw....sakit Mita,gimana sih?" sungutnya kesal.


"Lagian itu otak gak jelas banget,mesum....kalau kepengen mending ngamar jangan sampai muncul ke permukaan muka kamu...." ledek Mita sambil mendengus kesal.


"Tuh....kelihatan dimuka kamu."


"Atau....jangan-jangan kalian sudah lebih dari sekedar ciuman yah?" tebak Mita dengan tatapan menyelidik sambil menunjuk ke muka Ayyesa yang terhenyak kaget.


"Tuh kan apa aku bilang....makanya jangan suka deket-deket sama lawan jenis kalau belum nikah,digrepe-*****,dosa tahu mendekati zina." Ayyesa mendengus lalu melengos.


"Alhamdulillah sekarang sudah jadi suami istri cuma diraba sama satu laki-laki kan." Ayyesa cemberut dengan muka ditekuk. Mita kembali menarik napas.


"Maaf bukannya aku menghina tapi coba deh bayangin kalau kita pacaran karena saking cintanya suka lepas kendali rela menyerahkan semuanya...."


"Kalau gak sampe nikah terus udah pada punya pasangan terus ketemu apa gak malu inget pernah diraba-raba....ngeri aku ngebayanginnya juga." sambil tersenyum sedih.


"Bikin ilfil gak sih?"


"Makanya kalau ada perempuan suka dipegang-pegang sama lelaki yang bukan suaminya mikirnya aku kok mau? Apa gak jijik itu kan bukan suaminya?" Ayyesa diam tapi mendengarkan. Mita kembali menarik napas panjang dengan tatapan lurus ke depan.


"Inilah salah satu alasan agama Islam melarang berpacaran yang sebetulnya adalah nafsu supaya manusia gak kebablasan....bisa dianggap mencegah dari dosa dan saat sudah menikah bisa jadi pahala." Mita menatap ke arah Ayyesa yang tampak berpikir panjang.


"Aku lega kalian ditakdirkan menikah sekarang bisa dianggap memperbaiki kesalahan setelah berbuat buruk dan jangan lupa untuk memohon ampun atas perbuatan kalian sebelumnya....ok." Ayyesa mengangguk setuju.


"Alhamdulillah...." sambung Mita sambil tersenyum lebar.


"Aku tahu kamu peduli sama kami....terima kasih." Mita membalas dengan anggukan kepala sambil tersenyum lembut.


Kekhawatiran yang tadi Mita rasakan kini berubah menjadi ketenangan hati hingga tanpa sadar mereka melupakan teman-teman yang sudah menunggunya.


"Yeay....malah disini ditungguin juga." protes Rendra yang tiba-tiba datang tidak diundang lalu keduanya tertawa lepas lebih tepatnya mentertawakan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2