Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 126 Belum siap jadi istri


__ADS_3

Yahya POV


Kemarahanku langsung memuncak begitu mendengar pernyataan mama tentang arisan dan cicilan barang branded lalu yang lebih mencengangkan lagi dapat uang arisan hanya untuk mentraktir teman-teman,tidak terpikir untuk mengasihani papa yang bekerja keras mencari nafkah malahan hampir tiap hari dimarahi....geleng kepala....aku kira karena apa....eh ternyata kesalahan dari mama sendiri herannya justru mama yang terus emosi dan marah-marah....marah karena keinginan yang tidak terpenuhi....aku hanya bisa menarik napas.


Aku juga kalau diposisi papa yah sama pasti marah minta uang tidak kira-kira seminggu untuk arisan dan cicilan dua setengah juta belum keperluan rumah tangga seperti biaya makan,biaya listrik dan lain-lain apalagi mama terbiasa dengan menu ikan atau daging atau ayam,jelas jatah bulanan tidak sedikit. Aku merasakan sendiri bagaimana susahnya mencari uang. Memang punya usaha sendiri tapi tetap saja butuh modal yang lumayan besar,butuh menggaji karyawan,terus harus pintar-pintar meningkatkan pemasukan,menarik pembeli supaya tertarik untuk membeli pokoknya dituntut aktif dalam berpikir dan bertindak. Sedangkan mama sebagai istri tidak bisa mengelola keuangan bisa dipastikan papa yang mumet.


Saat ini aku bisa berpikir logis memang seharusnya tidak perlu memanjakan diri dengan makanan enak lebih baik membiasakan diri dengan makanan sederhana asal kenyang apabila pengen makan enak yah cukup sesekali jadi ketika posisi sedang dibawah orang tidak kaget dan bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Lebih bagus lagi bersikap sederhana dalam segala hal.


Aku jadi heran sama orang yang kepikiran memilih pasangan yang kaya kalau perlu tujuh turunan tidak akan habis supaya hidup bahagia. Nyatanya itu salah,pengen harta tidak habis tujuh turunan yah harus kerja,harta banyak kalau males kerja tetep habis lama-lama. Terus bahagia? Bahagia darimana,orang kaya pun tetap bertengkar judulnya juga sama tentang uang kalau seperti mama yang tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Ada pula yang bertengkar karena warisan orangtuanya....huffttt salah kaprah kalau dengan harta orang bisa bahagia.


Aku kembali menarik napas. Sesalah-salahnya mama,beliau tetap orangtua ku yang banyak berjasa dalam hidupku. Dan semarah-marahnya aku....tidak akan tega meninggikan suara dihadapan beliau yang telah melahirkan aku dengan mempertaruhkan nyawa.


"Mas....lebih baik baju pengantinnya dibatalkan aja gimana?" aku menatapnya lekat. Dia bisa memahami kondisiku saat ini.


"Mungkin aja orangnya belum beli bahan kan jadi masih bisa dicancel....sayang uangnya pasti mahal bajunya."


"Dengan kondisi keuangan sekarang...." dia menggelengkan kepala. Segera aku minta nomer hp pemilik butik pada mama dan langsung menghubungi. Begitu tersambung dan memperkenalkan diri sebagai anak mama yang tadi baru pulang dari sana, langsung bicara pada intinya....


"Maaf mengganggu Bu....apa ibu sudah mulai menggarap pesanan tadi?" aku menanti dengan harap-harap cemas dan aku lega karena ternyata belum diapa-apakan termasuk membeli bahannya.


"Maaf Bu....bolehkah kami membatalkan pemesanan?" dari sebrang belum ada jawaban sepertinya masih mikir.


"Soalnya pernikahan kami diundur...." alasan yang tepat menurutku,tidak mungkin kan aku harus jujur. Terdengar tarikan napas dari sebrang.


Jawabannya "Ya sudah gak pa pa tapi jangan diulangi lagi." sewot ngomongnya,bisa dimaklumi mungkin orangnya kecewa karena tidak jadi mendapatkan pesanan artinya kesempatan mendapatkan uang pupus.


"Makasih Bu atas pengertiannya semoga diganti dengan rezeki yang lebih baik...." aku meniru trik Mita,merayu seseorang dengan perkataan yang baik,beliau jawabnya heem....setengah menerima.


"Eh mas ini desain baju pengantinnya saya pake boleh?" tiba-tiba saja orang itu meminta izin desain Mita dipake,ini harus tanya Mita dulu tidak bisa langsung diiyakan.....


"Boleh." jawabnya dan langsung aku sampaikan ke pemilik butik. Beliau menyambut dengan senang.


Akhirnya selesai satu masalah,aku bisa bernapas lega. Setelah ini mikir urusan mama....


"Soal mama aku yang urus mas Yahya fokus sama kerjaan bantuin papa nyari uang lebih banyak." langsung ku peluk dia yang berontak dipelukanku.


"Lepas ih....mana boleh pelukan belum menikah juga." sungutnya kesal sambil memaksa melepaskan diri. Aku malah terkekeh,ternyata sesenang ini mengganggu dia,tidak mempedulikan dia yang cemberut.


"Maaf....aku tuh gemes sama kamu...." dia melengos,aku tersenyum.

__ADS_1


"Aku memang meluk kamu tapi kan gak sampe skin to skin...." kilahku sambil tersenyum,dia masih juga cemberut dengan muka ditekuk. Kalau seperti ini dia terlihat makin imut,kelihatan banget masih bocah,masih abu-abu berinteraksi sama laki-laki. Eh...mukanya merah jadi pengen godain lagi tapi kasihan nanti besok malu ketemu aku....gawat....bisa-bisa dia tidak angkat telepon aku.


"Sebetulnya aku pengen cepet nikah sama kamu tapi dananya masih amburadul....maaf."


"Gak pa pa....santai lagian aku juga belum siap jadi istri." jawabnya,dahiku berkerut. Belum siap jadi istri tapi menerima lamaran ku,bukankah ini aneh. Berarti ada sesuatu yang membuatnya takut.


"Belum siap....kenapa?" matanya bergerak gelisah seperti yang kebingungan menjawab padahal tinggal jawab saja apa susahnya.


"Kenapa?" desakku,aku pengen tahu penyebab ketidaksiapannya menjadi seorang istri biar nanti bisa aku bantu. Eh dia malah malu-malu.


"Nanti aku bantuin apa yang kamu gak bisa...." dia malah melotot kaget,aku bingung....menjurus kemana arti tidak siapnya.


"Sebagai perempuan aku kira kamu sudah memenuhi semua syarat...."


"Apalagi yang kurang,masak bisa,dandan bisa,bekerja juga malahan kamu sudah mandiri...." dia memalingkan muka,dahiku makin berkerut dalam. Heran,apa coba isi kepalanya?


"Ayolah jujur padaku!" dia diam seribu bahasa.


"Ck....kamu gak siap jadi istri tapi nerima lamaran aku." lama-lama kesel juga kalau dia tidak mau jujur. Dia makin bingung campur bersalah.


"Aku malu ngomongnya...." ucapnya dengan kepala tertunduk sambil memilin ujung hijabnya.


"Kenapa harus malu....ngomonglah biar aku gak salah paham sama kamu." mendesak secara halus.


"Apa?"


"Aku gak siap jadi istri sepenuhnya." hah....aku garuk kepala,ngomongnya diputer-puter aku tidak mengerti.


"Mengurus suami aku sanggup tapi megurus di......kasur.....aku belum siap." ucapnya,tidak berani menatap ku,otakku masih loading....MENGURUS DI KASUR....


Hingga beberapa saat aku terus berpikir dan lemas saat mengetahui maksudnya.


"Aku masih kecil...." sambungnya. Apa-apaan itu masih kecil? Dilihat dari mananya? Kalau dari kaca mata aku dia wanita ideal secara garis besar,badannya tidak kecil ataupun kurus tapi pas,untuk hamil pun sudah ukuran.


"Justru itu yang banyak pahalanya,menyenangkan suami." jawabku diplomatis sambil tersenyum,dia cemberut.


"Iya...itu kan yang seneng suami....diatas penderitaan istri makanya bilangnya begitu." jawabnya sewot,aku melongo pikiran dari mana itu.


"Ya enggak lah...."

__ADS_1


"Keduanya akan sama-sama seneng." jawabku lagi seakan memberi pembelaan pada diriku sendiri.


"Mana ada....itu ibarat baju anak kecil dipake orang dewasa,gak muat dimuat-muatin jadinya sobek." jelasnya sambil manyun.


"Dari mana asalnya mikir begitu?"


"Aku kemarin gak sengaja lihat di internet tentang alat ********* wanita....katanya sakit diawalnya karena lubangnya kecil dan butuh proses untuk memperbesar lubangnya."


"Bahkan ada yang sampe berhari-hari belum bisa gol."


"Ya karena baru awal....lumrah itu tapi kalau sering berproses enggak kok." jelas ku, berabe nih kalau tidak dijelaskan adeeh bisa-bisa dia ketakutan terus tidak mau aku nikahi terus gimana nasib aku.....


"Katanya juga diawal sakit terus perih dibuat proses lagi masih perih nunggu beberapa waktu baru bisa terbiasa." ah pusing aku jadinya.


"Aku belum berani." jawabnya.


"Ok....semua memang ada waktunya tapi lihat jika memang gak enak kenapa banyak orang yang mau menikah dan salah satu tujuannya ituuuuu...."


"Gak usah panjang juga kali ngomong di itunya." protesnya,lupakan itu dan lanjut saja kasih penjelasan.


"Ibadah terpanjang selama hidup adalah menikah dan menikah sendiri menjadi ladang pahala bagi setiap pasangan...." dia tampak menyimak dengan baik.


"Mulai dari apapun itu....mengurus suami pahala,memberi nafkah pada istri pahala...."


"Berpegangan tangan....pahala...."


"Pokoknya yang baik-baik itu pahala." dia menatapku lekat.


"Bisa kamu bayangin pahalanya seberapa banyak melebihi berpegangan tangan?" dia melengos seperti sensitif membicarakan.


"Terus hamil.....mulai dari awal kehamilan itu pahala dilanjut mengurus anak sampe dewasa Masya Allah pahalanya...."


"Semakin banyak anak makin banyak pahala....subhanallah insya Allah masuk surga...." dia mendengus.


"Aku tidak mengatakan salah....hanya saja wanita butuh keyakinan untuk melakukan itu semua apalagi saat terbayang sakitnya."


"Intinya bersabar dalam kesakitan insya Allah pahalanya besar." ucap ku bijak.


"Lagipula sudah kodratnya wanita sedangkan laki-laki sama beratnya,mencari nafkah."

__ADS_1


"Iya....aku tahu." dia menghela napas.


"Tapi kenapa yah aku ngerasa mas Yahya ini seperti sedang menguatkan aku untuk kepuasan pribadi." sambungnya sambil menatap sinis ke aku.


__ADS_2