
Membingungkan. Tadi sebelum mengenal Mita,eyang seperti yang meremehkannya tapi setelah tahu kemampuan Mita dalam urusan dapur eyang terlihat senang. Eyang juga memberikan cek sebesar seratus juta sebagai hadiah pernikahan tanpa berpikir panjang. Heran deh....memberi uang seperti menebar senyum,mudah sekali.
Sebetulnya sudah ditolak sama Mita yang merasa hadiah pernikahan dengan cek seratus juta menurutnya berlebihan tapi kata eyang "Terima ini karena kamu sudah memuaskan eyang dengan rasa masakan yang luar biasa hahaha...." eyang tertawa senang lalu kembali berkata "Kamu merasa keberatan? Bisa kok dibayar dengan makanan,kamu kirimkan langsung ke rumah eyang." sambil menepuk pundaknya pelan sambil berbisik "Eyang suka cara kerja kamu,lincah dan gesit tanpa membuang waktu" eyang mengangguk-angguk dengan puas.
Masalahnya Mita tidak tahu alamat tempat tinggal eyang,apakah jauh atau dekat? Belum ada kesempatan untuk berkenalan lebih jauh dengan eyang juga dengan saudara yang lain. Bagaimana tidak? Begitu bertemu eyang langsung memberi tugas memasak.
Mita meminta persetujuan menerima atau menolak pada Yahya yang mengangguk sebagai persetujuan.
"Kamu yang pegang karena ini hasil kerja keras kamu." tolak Yahya,meminta Mita menyimpan cek itu kemudian berbisik....
"Karena yang aku butuhkan adalah pelayanan terbaik dari istriku bukan cek." Mita membulatkan mata lalu melotot kesal sambil memukul lengan suaminya dengan merengut. Yahya tertawa.
"Mas Yahya ih....mesum." ucap Mita semakin mengerut kesal. Lupa kalau ada eyang,papa,mama dan saudara lain yang terlihat baper melihat mereka berdua.
"Halah....malah mesra-mesraan ngamar sana." usir eyang sambil mengibaskan tangan,tidak mau melihat kemesraan mereka berdua lagi.
"Yes....hahaha...." Yahya tampak kegirangan,merasa diatas angin berbanding terbalik dengan reaksi Mita yang tidak suka.
"Kepalaku pusing ngantuk mau tidur." Mita beranjak pergi duluan meninggalkan Yahya yang bengong beberapa saat kemudian mengejar Mita namun terlambat,pintu kamar sudah dikunci dari dalam. Yahya terlihat kaget.
"Dek....buka dong pintunya!" suaranya terdengar memelas.
"Enggak....aku mau tidur,capek." jawab Mita.
"Ayolah sayang aku juga ngantuk,capek mau tidur." Yahya masih berusaha membujuk tapi Mita tidak akan percaya semudah itu. Semenjak menikah beberapa jam lalu dia mulai memahami sifat suaminya pasti tidak jauh dari skin to skin begitu berdekatan. Untuk saat ini dia hanya ingin istirahat tanpa gangguan.
"Aku gak percaya,tidur dikamar lain aja aku mau istirahat tanpa gangguan." Yahya tampak kecewa,berdecak sebal karena angan-angannya tidak bisa terlaksana,rupanya istrinya mulai berpikir cerdas tidak mudah diperdaya olehnya.
"Iya....aku janji gak akan ngapa-ngapain....hanya tidur." akhirnya Yahya mengalah daripada tidak diperbolehkan masuk ke kamar,gengsi kalau dilihat orang lain.
Ucapannya barusan mempan,Mita membuka pintu dengan tersenyum senang sambil berkata....
"Janji adalah hutang hahaha...." Mita tertawa puas meninggalkan Yahya yang tersenyum kecut,tidak berani menggerutu takut mendapatkan hukuman yang lebih berat dari istrinya.
__ADS_1
Yahya menghela napas panjang berusaha menyabarkan diri. Dia sadar memaksakan keinginan pada istri yang sedang kelelahan juga tidak boleh.
"Ya." Mita menahan tawa melihat suaminya yang terlihat murung seperti anak kecil yang keinginannya tidak dituruti.
Mita dan Yahya melaksanakan sholat berjamaah baru kemudian tidur dengan saling memunggungi,solusi terbaik agar Yahya juga bisa tidur. Melihat tubuh istrinya hanya akan membuatnya bergairah.
Yahya memang lelaki sejati yang menepati janji. Sedikitpun tidak menyentuh istrinya yang sedang tidur lelap sampai Mita terbangun kembali.
Tidur nyenyak selama dua jam sudah cukup untuk tubuhnya kembali segar dan bersemangat,siap menghadapi kenyataan hidup. Membangunkan suaminya yang ikut tertidur.
"Mas....bangun." tidak ada respon.
"Mas....bangun." sambil mengguncang pelan tubuh suaminya.
"Hmm...." hanya itu respon suaminya dengan mata terpejam.
"Mas....banguuuun." Mita mulai kehilangan kesabaran.
Mita menghela napas,belum ada dua puluh empat jam menikah muncul bibit-bibit emosi dihatinya menghadapi sikap suaminya. Mungkin ini arti dari selamat menempuh hidup baru? Bayangan pernikahan yang bahagia karena perasaan cinta yang membuncah diantara sepasang pengantin baru ternyata hanyalah bayangan semu,yang terjadi justru sesuatu yang sebetulnya sepele bisa memicu pertengkaran.
"Diluar ada tamu kan jadi gak baik kalau kita terus mengurung diri dikamar." Mita berusaha menekan suaranya agar terdengar seperti biasa walaupun ada sedikit perasaan kesal yang muncul tapi mencoba untuk menghilangkan rasa kesal itu. Dia sadar ini termasuk ujian dan tugasnya adalah belajar sabar dan ikhlas menerima sesuatu yang tidak mengenakan.
Yahya memandang Mita lekat tidak tahu mengapa?
"Maaf....aku ngeselin yah?" Mita mengangkat alis,rupanya Yahya sadar diri. Mita mengangguk,merasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
"Maafin aku sayang." Yahya meraih kedua telapak tangan Mita lalu menciumnya bergantian membuat Mita terharu.
"Maafin sikap aku yang ngeselin lillahi ta'ala." ucap Yahya lagi,suaranya terdengar tulus dari hati.
"Iya....aku juga minta maaf kalau aku menyimpan kesal sama mas Yahya lillahi ta'ala." balas Mita dengan tulus.
"Sama-sama sayang." Yahya tersenyum.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal panggilan aku pengen ngerubah panggilan." Mita mengangkat alis.
"Aku gak mau disamain dengan laki-laki lain....mau yang beda karena aku jelas berbeda dari mereka,aku suami kamu." protes Yahya kesal,terdengar kekanakan sekali.
"Terus mau dipanggil apa?"
"Akang....gendang." Mita tertawa geli,Yahya mendengus.
"Gak mau....yang mesra dong panggilannya,sayang kaya aku manggil kamu." Yahya tersenyum,Mita berekspresi tidak suka.
"Geli aku dengernya,lebay lagian aku gak minta dipanggil sayang kan?"
"Bi?" Yahya tampak berpikir keras.
"Aah....entar dikira manggil bibi Ida lagi." Yahya cemberut,Mita terkekeh mendengarnya.
"Abang aja gimana?" menurut Mita "abang" adalah panggilan yang paling rasional untuk saat ini.
"Abang Yahya....pantes gak sih?" Mita mulai jengah sama keinginan suaminya.
"Terus apa kok aku jadi serba salah gini." keluh Mita.
"Kalau masih gak cocok pikirin sendiri mau dipanggil apa,kelamaan bicara mau masuk waktu asar inih." suara Mita kembali terdengar kesal. Sulitnya menahan perasaan kesal pada orang lain.
"Mau mandi juga,gerah."
Mendengar kata mandi,otak Yahya langsung traveling.
"Sekalian sunnah rosul kita biar jadi orang beruntung." Yahya langsung melakukan gerakan cepat menindih Mita dibawahnya.
"Aaaaa....enggak mau." teriak Mita yang tersentak kaget dengan tindakan Yahya yang tiba-tiba. Dia tidak bisa mengelak lagi. Seberapapun usahanya tetap tidak bisa menandingi tenaga suaminya yang langsung menyerangnya dengan liar dan ber*****
Yahya seperti sengaja menggodanya dengan tersenyum kemenangan melihat Mita yang tak berdaya dibawah kungkungannya. Tanpa banyak bicara Yahya melanjutkan aktifitas panjangnya bersama Mita dan semoga tidak ada gangguan dari luar agar bisa menyelesaikan misi membuat istrinya mendapatkan dua garis diawal pernikahan.
__ADS_1