Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 169 Garis dua


__ADS_3

"Dimana dia?" tanya Yahya pada mama,yang tidak mendapati kehadiran istrinya didalam kamar.


"Dikamar mandi lagi mandi." Yahya hanya mengangguk. Menyimpan bungkusan bakso ke atas meja dekat tempat tidur.


"Tadi mau makan ma dia?" tanyanya lagi sambil melepas jaket dan meletakkan ke sofa tapi kemudian bergegas menggantung bersama dengan baju-baju lain yang sealiran. Masih bersih karena baru dipakai sebentar jadi sengaja dipisahkan agar debu yang menempel tidak mencemari baju yang baru dicuci.


"Habis makannya....kelaparan kayanya dia lahap banget."


"Kenapa kamu kaya yang panik?" tanya mama heran melihatnya menggantung jaket dengan tergesa.


"Apa?" balik bertanya sambil menatap mama.


"Maksudnya ini?" Yahya menunjukkan jaket yang digantung.


"Hmm iya."


"Gak pengen bikin dia kepikiran sama kerjaan yang kaya gini."


"Kan lagi sakit." Yahya menarik napas panjang.


"Pernah beberapa kali diawal menikah dia ngingetin aku buat gak geletakin baju habis pake ke sembarang tempat tapi aku kan udah kebiasaan kebawa masa lajang....suka seenaknya sendiri cape main lempar." ceritanya mengenang yang lalu kemudian tersenyum kecut.


"Pantes aja gak ada yang boleh masuk ke kamar kamu sebelum kamu keluar maksudnya itu?" mama mendengus kesal tidak menyangka putranya sejorok itu tanpa sepengetahuannya. Yahya hanya mengangguk sambil nyengir.


"Yah kan maksudnya aku cuma mau bertanggung jawab pada diri aku sendiri."


"Udah besar kali ma....berani berbuat berani bertanggungjawab." ucapnya lagi.


"Terus dia udah gak pernah ngingetin aku lagi langsung beresin tanpa banyak bicara. Ngeluh juga enggak."


"Eh lama-lama aku ngerasa gak enak sendiri sama dia."


"Kita sama cape nya malahan bisa dibilang dia lebih cape dari aku."


"Pagi dirumah ini udah ngurusin kita nanti sampe dirumahnya sendiri masih juga kerja."


"Pulangnya masih nyempetin masak untuk makan malam,nyuci piring,nyuci baju....kaya yang gak bisa lelah dia." Yahya menggelengkan kepala. Jujur dia yang melihat saja merasa lelah apalagi yang menjalani.


"Dan yang bikin aku makin cinta sama dia....tiap ngeliat aku pulang pasti cium tangan sambil nanya "mau dibikinin minum apa?" gak ada duanya pokoknya...."


"Ngerasa dihargai banget aku sebagai suami."


"Walaupun dia menghasilkan uang sendiri gak pernah dia ngerendahin aku."


"Tiap aku kasih uang belanja dia bilang "Alhamdulillah makasih ya bang insya Allah aku akan belajar membelanjakan sesuai kebutuhan." terasa adem dengernya." Yahya menirukan ucapan istrinya yang kalem. Mama tampak termenung,teringat hal serupa tapi tak sama masih tergolong hal baik hanya beda tema.


"Iya....bulan pertama kalian menikah mama dikasih amplop berisi uang katanya "tolong diterima ya ma ini amanah dari bang Yahya sebagai bakti dan kewajiban anak lelaki pada orangtuanya" ya Allah mama terharu...." cerita mama yang meneteskan airmata.


"Katanya lagi "ini tugas kami sebagai anak yang ingin menyenangkan hati mama dan papa jadi tolong diterima" mama gak bisa nolak." mama menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Terus pas papa tahu disuruh buka rekening baru khusus menabung uang dari kalian siapa tahu nanti terkumpul bisa buat naik haji....Alhamdulillah mama gak pernah nyangka papa bisa kepikiran sampai sana." ucap mama antara terharu dan penuh syukur.


"Kata papa lagi niat baik anak kita dijadikan hal baik."


"Yang bulan ini juga udah dikasih." sambung mama. Yahya terlihat kaget,seingatnya kemarin dia tidak mau diberi full uang bulanan maunya setengah takut habis sebelum akhir bulan katanya.


"Kenapa kok kamu kaget gitu?" rupanya mama membaca reaksinya yang tampak terkejut.


"Gimana ya ma?" ucapnya sambil tersenyum kecut.


"Ada apa?" tanya mama menyelidik.


"Kemarin gak mau dikasih full uang belanja katanya takut habis sebelum waktunya."


Dan percakapan mereka terpotong dengan suara pintu yang dibuka,keluarlah Mita dari dalam kamar mandi dengan rambut basah.


"Lho katanya pusing kok keramas?"


"Iya biar seger pusingnya ilang."


"Emang gak pa pa?" tanya Yahya cemas.


"Insya Allah gak pa pa." jawabnya pendek.


Yahya terus memperhatikan istrinya yang sedang mengeringkan rambut basahnya sampai tidak berkedip. Baginya tidak ada yang menandingi kecantikan istrinya meskipun artis Korea. Mama yang melihat reaksinya hanya bisa menggelengkan kepala dan langsung mendekat.


"Ekheeem...." suara deheman terdengar sangat dekat dengannya yang membuatnya menoleh.


"Puasa dulu kamu!" bisik mama membuat Yahya mengernyit bingung. Masih satu bulan lagi puasa ramadhan tapi mama sudah menyuruhnya puasa. Mama menatap malas.


"Maksud mama puasa ehem-ehem."


"Istrimu lagi gak sehat dan kita belum tahu istrimu hamil atau enggak." baru Yahya paham maksudnya dan terlihat lesu. Seneng istrinya hamil tapi ternyata ada yang harus dikorbankan.


"Kata kamu....berani berbuat berani bertanggungjawab." ucap mama dengan senyum tertahan.


"Sabar...." ucap mama lagi sambil menepuk pundaknya pelan memberi penguatan padanya yang hanya meringis.


Sepeninggal mama,Yahya menawarkan bakso pada Mita yang beralasan sudah kenyang dan nanti saja dimakannya. Oh hati rasanya kesal tapi hanya bisa menyabarkan diri.


Semalam sudah diberitahu untuk mengetes urin pertama dipagi hari saat bangun tidur dan inilah waktunya.


"Bang kok aku deg-degan yah." Mita mengernyit,terlihat cemas.


"Nih pegang....dingin kan?" Mita menggenggam kan tangannya yang terasa dingin ke tangan suaminya.


"Yah dinginlah sayang masih pagi diluar masih gelap....hehehe...." dia malah ngajak bercanda.


"Abang ih aku serius." ucap Mita dengan bibir manyun.

__ADS_1


"Abang juga serius."


"Bilang aja kamu ragu-ragu kan." tebak Yahya,Mita tidak membantah karena itu benar.


"Aku takut Abang kecewa." ucapnya murung.


"Kalau aku gak hamil gimana?" tanyanya gusar.


"Yah gak apa-apa."


"Makanya dites dulu biar tahu."


"Jaga-jaga sayang!" Yahya berusaha meyakinkan istrinya.


Mita tampak berpikir,masih ragu-ragu khawatir mengecewakan saat hasilnya negatif. Tidak terbayang perasaan keluarganya yang sangat berharap bisa mendengar kabar kehamilannya tapi ternyata dia tidak hamil.


"Atau mau dibantu?" godanya sambil tersenyum nakal yang disambut dengan Mita yang melengos malu.


"Aku bisa sendiri." Yahya tertawa tertahan umpannya dimakan oleh istrinya yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Satu menit....dua menit....sepuluh menit berlalu,Yahya menanti dengan tidak sabar. Dia pun sebenarnya merasa gugup hanya saja tidak ditunjukkan didepan Mita.


Lima menit kemudian....


"Abang...." panggil Mita dengan kepala yang menyembul diantara celah pintu yang terbuka sedikit. Mukanya mulai ditekuk. Yahya tampak kaget saat Mita memanggilnya.


"Gimana hasilnya?" tanyanya penasaran dengan muka penuh harap.


"Minta tespeck lagi?" ucapnya cemberut.


"Haah...." Yahya bengong,yang dibawa masuk sudah tiga tapi masih minta lagi.


"Yang tadi kayanya rusak." jelas Mita,dahinya langsung berkerut heran.


"Rusak gimana? Coba lihat!" Yahya menyodorkan tangan meminta tespeck yang sudah dicoba. Mita menggeleng lemah.


Yahya menarik napas berusaha kembali menyabarkan diri.


"Ya udah biar Abang yang coba keburu kadaluarsa pipisnya."


"Emang ada pipis kadaluarsa?" tanya Mita polos.


"Aaaah kelamaan kamu....!" Yahya yang mulai kehilangan kesabaran langsung masuk ke dalam kamar mandi ingin mengetes sendiri namun dikagetkan dengan hasilnya....


"GARIS DUA."


"POSITIF."


"POSITIF."

__ADS_1


Krik....krik....masih loading kemudian menatap Mita yang hanya terdiam dengan muka bingung.


"Alhamdulillah....."


__ADS_2