Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 27 Memilih sesuai kebutuhan


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Mita langsung bertanya tapi semuanya diam hanya terdengar suara Hanif sedang menenangkan putranya.


"Kakak...ayam ku mana?" Si kecil Maira mendekatinya sambil menarik kulot panjangnya. Mita mengerutkan dahi bingung dengan ayam yang mana pikirnya.


"Ayam apa dik?" Mita berjongkok menyamai tinggi Maira sambil menghapus air mata yang terus menetes di pipi anak itu.


"Ayam keliting..." Mita mengangkat alis mencerna maksud Maira.


"Bulunya keriting..." Maira menggeleng sedih.


"Terus apa dong...kakak gak ngerti..." Maira kembali menangis kencang,Mita panik tidak terbiasa mendengar tangisan anak kecil dan si bayi Zidan ikutan nangis pula.


"Apa sih ini maksudnya?" tanyanya frustasi sambil menatap orang serumah satu persatu meminta penjelasan.


"Heeheee...ayam Kentucky nya habis..." hanya Bu Indah yang berani menjelaskan. Mita menarik napas panjang.


"Gimana kalau beli di McD?" Mita menawarkan yang langsung ditolak mentah-mentah.


"Nanti sekalian beli es krim mau ya?" Mita terus membujuk siapa tahu berhasil tapi juga ditolak malah makin kencang nangisnya.


"Ya Allah..." alamat harus buat lagi tapi jam segini mau beli ayam di mana pikirnya.


"Ya sudah kita buat lagi ok...tapi diem dulu tu adik Zidan ikut nangis kasihan..." Maira langsung diam masih terdengar isakannya.

__ADS_1


Beberapa kali Mita menarik napas sambil memejamkan mata ingin apa yang akan dilakukannya jadi amal ibadah bukan sebuah keterpaksaan. Meyakinkan diri bahwa ini ujian baginya dan akhirnya ia bisa berpikir positif.


"Bu...jam segini beli ayam dimana?"


"Di pasar mungkin masih ada..."


"Ya sudah Mita mau beli ayam dulu..."


"Pah...minta uang..." Bu Indah mengacungkan tangan dan setelah menerima uang langsung diberikan pada Mita.


"Itut..." rengek Maira dan Mita kembali menghela napas. Bakalan repot kalau mengajak anak kecil begini mau ditinggal pasti nangis Mita jadi serba salah.


"Aku anter aja..." Hafiz menawarkan bantuan dan ditolak sama Mita.


"Yang lain..."


"Sama saya saja..." Akhirnya Mita dan Yahya pergi bersama awalnya Mita merasa tidak enak tapi terpaksa dia butuh cepat.


Sampai dipasar ternyata masih lengkap sekalian belanja yang lain pakai uang Bu Indah dulu.


"Dek Maira sama Om Yahya dulu ya kakak mau belanja dulu..."


"Itut..." ini anak baru kenal tapi sudah nempel saja pikirnya.


"Boleh ikut tapi digendong sama Om ya!" Maira mengangguk dan dibalas senyuman Mita.

__ADS_1


Mita belanja diikuti Yahya dan Maira dibelakang.


"Mita...bisa masakin tumis kangkung lagi gak...tadi rebutan jadi kurang puas makannya..." ucapnya memelas,rasanya Mita pengen ketawa melihat seorang pak Yahya yang terkenal tegas dan dingin bisa seperti itu.


"Insya Allah..." Mita menambah kuota kangkung dan ebi kering sekalian beli ayam 2 kg dia berharap semoga cukup.


Sampai dirumah Mita langsung pada proses pembersihan ayam lalu direndam bumbu yang ternyata sudah disiapkan sesuai takaran Mita. Kerja cepat. Sambil menunggu ayam Mita mulai mengiris bumbu dibantu perempuan sepuh dibelakangnya yang sedang memotong kangkung.


"Bumbunya apa aja?" Mita kaget tiba-tiba mendengar suara pak Yahya yang sangat dekat dengannya.


"Eheeem...bukan muhrim..."Hafiz ikutan nimbrung dengan tatapan tajamnya. Mita merasa sebal jika sudah begitu berpikir ada apa dengan kedua pria ini sejak tadi bertemu seperti musuh,satunya geradak geruduk satunya tenang sekali.


"Bau-baunya persaingan sengit ini..."celetuk Latifa yang ikut memperhatikan,niatnya pengen belajar masak e malah dapat tontonan gratis. Jarang-jarang melihat adik iparnya berusaha mendekati cewe kalau bukan karena punya rasa suka.


Mita mengernyitkan dahi bingung dengan maksud Latifa lalu menghela napas. Hari ini dia sudah capek jadi untuk hal kecil saja dia bisa marah.


Mita memutuskan untuk membiarkan saja asal tidak ribut dan dia bisa berkonsentrasi memasak agar hasilnya memuaskan.


Setelah dua jam berlalu akhirnya selesai juga. Mita duduk selonjoran melepas lelah.


"Ini minum..." Hafiz dan pak Yahya sama-sama memberikan minum satunya jus jeruk dingin dan satunya air putih anget. Tentu saja Mita memilih air putih anget yang dibawa Pak Yahya Insya Allah lebih bermanfaat bagi tubuhnya disaat tubuh sangat lelah.


"Harusnya kamu pilih jus jeruk dingin lebih menyegarkan ketimbang air putih anget..." ucapnya kesal.


"Kak Hafiz gak tau apa yang ku butuhkan..." Pak Yahya tersenyum lebar membuat Mita seperti tersihir karena belum pernah melihat senyum setulus itu dari pak Yahya.

__ADS_1


__ADS_2