
Pada awalnya dia khawatir kalau-kalau ada keributan yang terus terjadi diantara Yahya dan Hafiz. Bukan deh lebih tepatnya Hafiz yang orangnya emosian membuat Yahya kesal. Takut pekerjaan berantakan tapi akhirnya dia bisa bernapas lega. Semuanya aman terkendali dan berjalan lancar.
"Alhamdulillah...." ucapnya penuh syukur sambil tersenyum senang. Yang ada didunia ini bergerak atas seizin Allah termasuk hati manusia mudah berubah dari yang buruk menjadi baik sesuai kehendak Allah. Hanya saja manusia itu sendiri sering berprasangka yang tidak baik,takut gini takut gitu semua dipikirkan.
Dua Minggu ini bahkan berjalan diluar dugaannya. Dia yang merasa happy dengan semua aktifitasnya dan merasa lebih tenang. Tidak grusa grusu seperti sebelum-sebelumnya karena sekarang punya asisten dan dia sudah seperti bos tinggal menyetujui saja semua beres. Dia malahan menikmati hari-harinya yang santai dengan mencoba beberapa resep kue dan makanan juga bisa beribadah dengan tenang.
"Ini aku buatin cemilan,nyoba resep baru." ucapnya saat ke depan dengan senyum sumringah lalu menyimpannya ke atas meja. Hafiz bereaksi mencemooh,tahu tujuan Mita sesungguhnya.
"Kita kaya dijadiin kelinci percobaan ujung-ujungnya disuruh komentar gimana rasanya enak gak? Iya kan?" Mita cengengesan tidak ingin menolak kebenaran,menjunjung tinggi kejujuran.
"Yah gak pa pa hanya disuruh nyobain rasa makanan bukan nyobain racun." Yahya membela Mita yang langsung mengacungkan jempol sambil terus mengangkat pot yang ditanami bunga sakura,meneliti dengan mengerutkan dahi seperti sedang berpikir tentang sesuatu.
"Ih kak Yahya memang pengertian." pujinya sambil bertepuk tangan dengan senangnya seperti anak kecil dan Hafiz mendengus sebal.
"Memuji karena ada maunya." cibirnya dan Mita hanya terkekeh.
"Eh aku kayanya kebanyakan makan sama nyemil kemarin pas aku pulang mama kaget ngelihat aku katanya aku gemukan sekarang,emang bener yah?" Yahya berdiri dengan dahi mengernyit sambil meratakan kaos bagian perut memperhatikan perutnya berubah buncit atau tidak.
"Masih rata kok ya?" Yahya meminta pendapat Hafiz dan Irham yang ikut memperhatikan bagian perutnya. Berbeda dengan Mita yang langsung menjauh mengarahkan pandangan ke tempat lain tapi masih sambil melirik,siaga satu takut terjadi adegan tidak senonoh.
"Ketutup kaos mana kelihatan jelas coba angkat ke atas biar tahu itu perut berlemak gak kalau berlemak tandanya ada belutnya." alisnya terangkat mendengar istilah belut diperut lalu tersenyum lucu.
"Jangan!" teriak Mita panik spontan menutup mata dengan tangan. Yahya terkekeh.
"Kamu itu bikin anak gadis panik aja gimana sih?" protes Yahya disambut Hafiz yang cuma nyengir.
"Sudah buka matanya aku masih punya urat malu gak akan main buka-bukaan ditempat umum apalagi didepan perempuan." Mita pelan-pelan menurunkan tangannya sedikit mengintip dan langsung lega ketika mengetahui Yahya tidak memperlihatkan perutnya.
"Takut banget sih ternyata walaupun perut bukan auratnya kaum pria tapi bikin jerit-jerit perempuan yang melihat." sambung Yahya sambil tersenyum menggoda. Mita langsung melengos.
"Apalagi kalau ada ABS nya makin jerit-jerit lah antara malu tapi mau." Hafiz ikutan menggoda sambil memainkan alisnya.
"Jangan dibahas gak penting!" ucapnya sambil melengos kesal yang disambut cekikikan mereka berdua.
"Ngomongin belut diperut itu yang gimana?" masih lanjut bahas belut Mita menatap malas lalu menyingkir duduk dikursi teras sambil main hp.
"Itu perutnya bergelombang gak rata." Jawab Hafiz dan Yahya mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong soal gemuk aku juga dikomentarin mama gitu katanya gemuk terus gini nih katanya 'kaya gitu nanti kalau punya istri kamu tinggal kerja mau apa aja dilayani sama istri apalagi kalau dikasih uang belanja full kedip aja istri tahu maunya apa?' bener yah?" sambung Hafiz.
__ADS_1
"Percaya aja memang istrinya punya ilmu kebatinan bisa tahu isi hati suami." sahut Mita rupanya meskipun kelihatan main hp pendengarannya tajam juga.
"Aku sih percaya." Yahya menimpali. Mita mengangkat alis merasa tertarik dengan topik pembahasan lumayan buat ilmu masa depan setelah menikah dengan siapa hanya Allah yang tahu.
"Gimana ceritanya?" tanya Hafiz penasaran.
"Ke mana aja sih sampe gak tahu kebiasaan ortu pasti kelayapan kan?" Hafiz bungkam karena kenyataannya benar dia jarang dirumah keseringan hangout sama temen-temennya atau kalau dirumah pasti ngamar keluar cuma buat makan dan minum. Semua fasilitas ada didalam kamar termasuk televisi jadi kurang berkumpul sama keluarga.
"Kok tahu sih kak aku jadi ingin tahu,nambah ilmu." Mita langsung mendekat lalu berjongkok siap mendengarkan kisahnya.
"Ya pas makan bersama itu papa cuma bilang Ma langsung mama mengisi piring sama makanan terus dikasih ke papa. Mungkin karena hidup bersama jadi tahu kebiasaan masing-masing." Mita merenung mengenang kebersamaan dulu saat orangtuanya masih hidup.
"Iya juga malahan bapak gak perlu minta pagi-pagi ibu sudah bikinin wedang jahe langsung disuguhi ke bapak sambil berkata 'ini pak wedang jahenya semoga bapak suka dan maaf kalau rasanya mungkin kurang sesuai dilidah bapak soalnya ibu lupa beli gula jadinya seadanya' hihihi..."
"Ingat banget aku sama ekspresi ibu yang malu-malu terus bapak celingukan lihat kanan kiri takut kedengeran sama anak-anaknya mungkin ngomongnya pelan-pelan 'gak pa pa sayang makasih sudah dibuatin' sambil senyum manis kaya yang bahagia banget eh aku jadi malu..." Mita menutup mukanya seakan dia pelakunya.
"So sweet nanti kalau aku sudah nikah pengen deh kaya gitu sederhana tapi bahagia."
"Bisa-bisa nanti aku wujudin deh." celoteh Hafiz sambil tersenyum.
"Terus kamu dimana kok bisa tahu?" tanya Yahya dan Mita tersenyum malu.
"Hebat-hebat bisa kaya gitu." Hafiz mengangguk-angguk lalu tersenyum penuh arti.
"Wah kalau mau eheem eheeem tinggal ngode juga tahu dong." ucapnya cengengesan. Mita menatap jengah selalu saja ke situ mikirnya.
"Bang Hafiz sadar gak sih ada aku yang masih dibawah umur." si Irham ikut komentar judes. Mita dan Yahya saling pandang lalu tersenyum melihat interaksi keduanya yang seperti musuh.
"Memang ngerti kamu artinya eheeem eheeeem." cibir Hafiz sambil menatap sinis.
"Enggak...tapi difilter dong ngomongnya ini aku jadi gak fokus kerjanya kepikiran apa maksudnya jadi suka ingin tahu." aduduh ini anak pintar membuat alasan.
"Irham......" suara tegas itu berasal dari Yahya dan Irham langsung bungkam. Kalau tidak dibungkam kemana-mana ngomongnya.
"Eh patuh amat itu anak sama kamu kak?" tanyanya heran.
"Mantan bapak guru jadi sudah biasa ngadepin anak macam dia,asal tahu kelemahannya pasti bisa diatur." jawab Yahya asal. Tidak tahu saja mereka Irham sering dapat bonus dari Yahya.
"Pantesan ada yang bilang cinta itu datang karena terbiasa mungkin maksudnya terbiasa melihat jadi timbul rasa rindu kalau lama gak bertemu dan terbiasa bersama jadi timbul rasa kangen kalau berjauhan."
__ADS_1
"Beda ya rindu sama kangen?" tanya Hafiz dengan tampang bodoh.
"Bedalah rindu kan r i n d u kalau kangen kan k a n g e n ahahaha..." Hafiz melengos merasa dibodohi.
"Lagian nih yah kak Hafiz umurnya lebih tua dari aku ngelihat modelan kakak pasti pernah pacaran kan? Masak gak tahu bedanya rindu dan kangen? Aku aja yang gak pernah pacaran tahu bedanya." ucapnya bangga lalu terkekeh.
"Garing..." balasnya sewot. Mita tiba-tiba teringat.
"Eh aku jadi ngeri kita kan sering bersama takut terbiasa jadi rindu dan kangen." Mita beringsut menjauh.
"Mulai hari ini mending kita jaga jarak."
"Sekalian kerja juga jaga jarak nanti kalau ada yang ambil telur lempar aja biar jadi telur ceplok mentah." ucap Hafiz sambil mendengus kesal dan Yahya geleng kepala melihat sikap mereka.
"Gak pa pa dilempar juga asal mau ganti rugi." sambil full senyum dan memainkan alis. Hafiz mendengus sebal.
"Bang Yahya itu kenapa dipasangin kawat terus dibentuk?" tanya Irham dengan mengerutkan dahi yang rupanya dari tadi menyimak kerja Yahya mengabaikan perdebatan dua manusia disisinya.
"Iseng-iseng kemarin sempet lihat yutub cara membonsai tanaman harganya mahal yah walaupun harus sabar lama prosesnya sampai membentuk bonsai." Hafiz dan Mita yang mendengar jadi ikutan ingin tahu.
"Mumpung ada bunga sakura buat percobaan langsung siapa tahu rezeki."
"Itu bunga Bougenville kalau mau bentuk dan distek sama warna lain nilai jualnya bisa lebih mahal tergantung berapa banyak warna dalam satu pohon." sambung Yahya menjelaskan disambut kerutan dahi Mita.
"Terus maksudnya mau digituin tanaman aku?" supaya tidak salah paham harus bertanya,hitung-hitungannya harus jelas.
"Ya ini nanti aku beli kamu hitung berapa totalnya potong gaji aku." Mita manyun.
"Kirain totalitas dalam bekerja gak tahunya sambil menyelam minum air." Yahya terkekeh. Mita tersenyum kecut.
"Aku mau ikutan ah ajarin tapi yah bang?" Yahya mengangguk.
"Aku juga neng Mita samain bang Yahya lumayan kalau rezeki bisa nambahin uang belanja ibu." sambung Irham.
"Aku juga dong Mita." Hafiz ikut menimpali. Mita tepuk jidat.
"Aku sebagai bos ngerasa kalah punya anak buah pinter gini sekali tembak bisa tembus tiga." Mita geleng kepala.
"Dalam Al Qur'an tertulis bekerjasama lah dalam kebaikan!" ucap Yahya.
__ADS_1
Mita jelas kalah telak kalau sudah menyinggung isi Al Qur'an sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman.