
Pagi ini seperti biasa setelah cek dan ricek kebun kecil dihalaman rumah rupanya ada banyak yang harus dipanen. Sekitar pukul tujuh pagi Mita keluar dari dalam rumah membawa ember kecil dan besar.
"Eh dede Irham kebetulan sudah datang let's go kita panen! Tapi sebelum terjun sudah sarapan belum kalau belum ke belakang gih sarapan dulu tadi kakak masakin spesial bakwan jagung,tempe tahu goreng sama sambel terasi lengkap sama lalapannya." ucapnya,melihat Irham tampak sibuk memunguti daun-daun yang menguning dan dimasukkan ke dalam kantong sampah. Irham menatap sekilas dengan ekspresi jengkel yang justru membuat Mita tergelak,menurutnya menggemaskan.
"Masih kenyang sudah sarapan dirumah. Kenapa sih panggilnya berubah jadi 'dede' memang aku bayi?" protesnya kesal sambil terus bersih-bersih.
"Syuka aja manggil dede soalnya kamu ngegemesin ngomong asal ceplas ceplos makanya kalau pengen dipanggil mas Irham lagi bicaranya yang sopan." goda Mita sembari tersenyum puas.
"Gak asyik..." Mita hanya mengangkat alis lalu memandang keberadaan Yahya dan Hafiz yang tampak akrab.
"Kak Yahya,kak Hafiz kalau laper makan ke belakang yah aku tinggal!" keduanya mengangguk sambil mengacungkan jempol tanpa melihat kearah Mita. Menyebalkan memang.
"Hehehe.....diasinin yah!" goda Irham balik yang tak mendapat respon malah terlihat lempeng.
"Ayuk gaspoll!" Mita melambaikan tangannya mengajak Irham panen. Irham pun langsung gerak cepat gayanya terampil dan luwes membabat habis area pohon tomat yang belum sampai setengah jam selesai dipanen. Kini dilanjutkan memotong tanaman kangkung yang sudah tumbuh tinggi dan besar. Mita hanya melihat dengan heran bisa secepat itu kerja Irham sedangkan dia baru dapat lima pohon cabe. Dari tadi gerakannya pelan dan hati-hati takut rantingnya patah kan sayang kalau yang belum matang terpaksa ikut dipanen,banyak pula buah cabainya.
"Kak ini timunnya mau dipanen juga gak sudah waktunya soalnya?" teriak Irham dari samping rumah. Mita bergegas menghampiri keberadaan Irham.
"Mana timunnya aku sampe lupa kalau kita nanam timun juga?" celingukan sambil menyelak lembaran daun,setahunya untuk tanaman merambat buahnya suka sembunyi jadi memang harus teliti biar tidak mubazir. Timun kalau sudah agak tua rasanya asem tidak enak kalau dikonsumsi kurang renyah pula jadi harus pas petiknya.
"Iya ini harus dipetik banyak yah kayanya. Harus manggil bala bantuan ini sih." bergegas menghampiri Yahya dan Hafiz.
"Tolong dong kak bantuin panen biar cepet kelar!" Keduanya mengangguk patuh. Kemudian Mita masuk ke dalam mengambil ember besar lagi tapi dia kebingungan sendiri.
"Kenapa neng kaya yang bingung gitu?" tanya Mak Jinem heran melihat sikap Mita.
"Gak muat Mak embernya buat nampung hasil panen takut tomatnya ketindih sama yang lain kan sayang kalau besoknya busuk." jawabnya panik.
"Pake tikar neng!" usul Mak Jinem yang diangguki Mita. Pergi ke kamar almarhum orangtuanya disana tersimpan beberapa tikar lalu ke depan dan menggelarnya diteras.
"Buat apa sayang?" terdengar suara Bu Indah tiba-tiba dari sebelah yang membuatnya terhenyak.
"Eh ibu kapan disitu Mita gak sadar ada ibu?" sambil menggelar tikar,sudah seperti membuka lapak jualan lesehan.
"Baru saja buat apa gelar tikar?" ulang Bu Indah lalu melangkahi pagar pembatas diantara rumah mereka dengan susah payah. Mita langsung melotot baru paham gaya melompat pagar Hafiz turunan dari ibunya.
"Ibu ih inget umur pake acara lompat pager kan bisa muter ke depan!" protes Mita sambil menghampiri,membantu memegangi tangan Bu Indah takut jatuh.
"Lama Mit....pelan-pelan ini pasti gak pa pa." masih ngeles juga,Mita hanya bisa menarik napas panjang. Begitulah orang tua biasanya merasa benar jadi tidak bisa dikasih pengertian suka seenaknya sendiri.
"Mama...."
__ADS_1
"Inget umur sudah tua ngapain naikin pager kaya anak kecil?" nah kan ketahuan sama suaminya langsung kaget hampir jatuh ke bawah bersyukur dipegangi Mita jadi aman. Mana marah banget papanya Hafiz seperti singa mau makan orang.
"Hehehe...maaf pa nyari yang patas." jawab Bu Indah dengan senyum kaku dan takut-takut. Sedangkan Mita deg-degan rasanya jantungnya seperti mau copot saat merasakan Bu Indah akan jatuh.
Mendengar teriakan,Hafiz dan yang lainnya bergegas keluar dari persembunyian ingin tahu keadaan sebenarnya.
"Mama apa-apaan sih pake nunggangin pager mama kira punggung kuda?" protes Hafiz marah dan disambut keplakan dikepalanya.
"Aw sakit Ma...!" keluh Hafiz.
"Ayo turun papa pegangin dari sini!" ucap papanya Hafiz sambil memegang bokong istrinya agar memudahkan mengangkat sebelah kakinya mengarah ke depan.
"Angkat kakinya Ma!" sambung papanya Hafiz.
"Ibu sini kakinya diangkat dulu dibantuin melangkah aduh ini aku kok takut yah!" keluh Mita melihat Bu Indah yang kesusahan menggerakkan kakinya.
"Aduh aduh bentar kesemutan ini kakiku!" keluh Bu Indah dengan muka meringis. Situasinya berubah tegang. Kelihatan papanya Hafiz yang menahan marah akibat perilaku kurang kerjaan istrinya.
"Mama cari perkara sekarang tahu kan rasanya!" komentar papanya Hafiz.
"Aduh ini gimana?" rasanya Mita seperti berhenti bernapas melihat kondisi Bu Indah yang sedang terjebak diatas pagar.
"Mas Hafiz sini hadep ke depan agak jongkok." perintah Yahya yang langsung dituruti Hafiz.
"Gimana Tante sudah bisa gerak?" Bu Indah mengangguk pelan.
"Naik dikit mas Hafiz biar mudah Tante naik ke punggungnya!" dan akhirnya dengan bantuan empat pria Bu Indah terselamatkan didudukkan diatas tikar. Mita masuk ke dalam rumah mengambil segelas air putih dan langsung meminumkan pada Bu Indah.
"Gimana sudah tenang Bu!" Bu Indah membalas dengan anggukan dan semua orang bisa bernapas lega.
"Alhamdulillah..." ucapnya langsung mendelik ke arah Hafiz saat tahu Hafiz akan mulai mengomeli mamanya. Bagaimanapun juga Bu Indah adalah orang tuanya dan harus dihormati. Dosa mengomeli orang tua. Kata orang,orang yang sudah tua sifatnya akan kembali seperti anak kecil.
Melihat papanya Hafiz sedang duduk didekat istrinya. Keduanya tidak terlibat obrolan malah terlihat saling mendiamkan dan saling melirik lalu membuang pandangan ketika bertemu pandang. Aih...seperti anak kecil yang sedang berantem.
Mita menggerakkan dagunya sebagai kode untuk pergi dan dikuti yang lain. Memberikan waktu dan tempat untuk keduanya agar bisa saling menyelami hati masing-masing.
Sekarang waktunya panen lagi,area pohon cabe ia tinggalkan untuk melihat yang lain jadinya dibereskan sama Irham. Sementara Yahya dan Hafiz memetik timun tapi sambil banyak tanya karena memang belum pernah.
"Segini dipetik?" tanya Hafiz pada Irham sambil memperlihatkan timun yang dipegangnya dengan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Untung timun bukan bayi bisa patah tulangnya. Aneh-aneh saja.
"Iya." jawab Irham.
__ADS_1
"Ham ini kok kekuningan yah,diambil gak nih?" giliran Yahya bertanya.
"Kalau itu gak usah ketuaan biarin tua lagi dipohon nanti bijinya diambil bisa buat benih." Yahya mengangguk.
"lho lho kok ada melonnya juga siapa yang nanam yah? Dek kamu yang nanam melon?" tanyanya pada Irham yang geleng kepala punya bos muda tapi sudah pikun.
"Wih besar-besar pula...satu dua tiga......dua puluh tiga pohon..." ucap Mita takjub.
"Masya Allah makasih ya dek sudah nanam melon buat kakak seneng deh Alhamdulillah." sambungnya sambil tersenyum senang.
"Aneh deh kak Mita sendiri yang nanam tapi lupa gimana sih?" keluh Irham.
"Masak? Kok aku lupa yah, kapan?" dahinya mengernyit dalam sambil mengingat-ingat lalu kembali melihat-lihat.
"Wah ini namanya pesta panen ada jambu kristal juga sudah berbuah kecil waktunya dibungkus plastik biar gak digigit lalat buah! satu dua tiga empat lima...ini aku juga yah yang nanam bakalan makin banyak kerjaan nih soalnya kan pohon jambu cabangnya bisa banyak butuh ruang yang lebar!" Mita garuk-garuk kepala bingung.
"Besok juga aku ada pesenan kue basah,bisa-bisa keteteran nih!"
"Kemaruk jadi orang gak pake mikir kalau banyak kerjaan bingung fiuuuh......rekosone pengen dadi wong nduwe. Ealah ya Allah wong urip kok sambat ae astaghfirullah..." sambil narik napas panjang.
( Kerja kerasnya ingin jadi orang kaya. Ealah ya Allah orang hidup kok mengeluh terus astaghfirullah...)
Setelah dua jam akhirnya selesai dan dapat bonus tiga buah melon matang dipohon,tidak sabar pengen dibelah. Puas juga melihat hasil panen hari ini berjejer rapi diatas tikar.
Jekrek...jekrek...ambil dari beberapa posisi siap ditawarkan lewat medsos seperti biasa.
"Langsung timbang dan packing biar aku yang anter gak perlu layanan grab lagi neng eh kak soalnya sebel aku sama orang grabnya masak kirim dari jam sembilan sampe jam dua siang belum nyampek barangnya kena omel akunya." belum terbiasa jadi masih sering salah sebut. Sepanjang ini memang untuk pesanan sayur organik Mita meminta Irham yang handle sekalian mengajarkan bisnis ke itu anak. Sudah kelihatan bakat berdagangnya sayang kalau tidak dikembangkan. Siapa tahu nanti dia bisa punya usaha sendiri dan bisa mengangkat derajat keluarganya.
"Lha terus siapa yang ngurusin disini kalau kamu tinggal?" tanya Mita dengan muka bingung. Irham tersenyum jahil sambil memandang kedua pria didepannya.
"Mereka berdua jangan dianggurin kak keenakan makan gaji buta,manfaatin secara maksimal biar sama-sama menguntungkan." cerdas,Mita mengangguk paham sambil tersenyum lebar.
"Eh busyeet ngatain orang makan gaji buta,seenaknya saja." sanggah Hafiz dengan mata melotot yang dibalas juluran lidah.
"Sudah kak jangan ditanggepin ini bocah ngabisin tenaga." menengahi sebelum ribut lagi kebiasaan jadi tom and Jerry mereka berdua,tidak ada yang mau mengalah.
"Bagus juga ide kamu ok tapi kamu gak minta tambahan gaji kan?" biar sama-sama jelas harus dirembuk dulu jadi tidak ada yang merasa dirugikan. Irham tampak menimbang-nimbang.
"Yah kamu kan tahu nganter barang sendiri artinya pake motor baru aku itu terus ngisi bensin juga. Waktu kerja kamu kan jadi banyak diluar bukan lagi ngurusin tanaman,gimana?" Irham menarik napas panjang.
"Iya aku setuju!" jawabnya malas.
__ADS_1