Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 124 Ridho orangtua ridhonya Allah SWT


__ADS_3

Mita ngaso sebentar,menegakkan badan,beberapa menit mengepel lantai membuat pinggangnya agak pegal.


"Fiuhh.....kayanya aku terlalu memanjakan diri." gerutunya,kembali melanjutkan mengepel lantai.


Dari pagi habis subuh,Mita mengerjakan sendiri pekerjaan rumah,sudah berlangsung selama hampir dua minggu karena emak harus memasak direstorannya Yahya. Emak sih masih memaksa masak buat sarapan dengan alasan tidak enak sudah dikasih tempat tinggal tapi tidak mengerjakan apa-apa namun langsung ditolak sama Mita 'Kita keluarga jadi jangan bilang begitu' dan emak hanya bisa patuh.


"Kak Mita,Iam coming,assalamu alaikum!" teriak Irham dari luar rumah. Mita menggelengkan kepala.


"Waalaikum salam wr wb ya Allah ini anak kaya hidup dihutan tiap kali datang pasti teriak-teriak."


"Dan apa itu....mentang-mentang sekarang sekolah kejar paket C segalanya disempilin bahasa Inggris tapi bagus juga yah sekalian menghafal." komentar Mita sambil tersenyum. Hidupnya serasa berwarna dengan kehadiran Irham yang membawa keceriaan lewat gaya bahasa dan cara bicaranya yang ekspresif.


"Jangan khawatir soal biaya kamu cukup manfaatkan kesempatan ini untuk belajar dengan giat dan tekun!"


Atas dorongan Mita,sekarang Irham melanjutkan pendidikan kejar paket C. Menurutnya sayang saja anak secerdas dan setangkas dia harus puas dengan ijazah SMP.


"Ayo kita sarapan!" kebiasaan dipagi hari,ketika semua orang sudah datang adalah sarapan sebelum memulai aktifitas,pikirannya langsung melayang kepada kakaknya,apakah dia juga sedang sarapan pikirnya tapi segera ditepis. Ia ingat kakaknya sudah berumah tangga jadi apapun yang terjadi memang sudah jadi urusan masing-masing,terus ingin membantu kesulitan kakaknya bukanlah hal baik karena sebagai pria dewasa kakaknya sepantasnya belajar mengurus diri sendiri dan keluarganya agar semakin kuat menghadapi kenyataan hidup,tidak tergantung sama bantuan orang lain.


Saat masuk ke kamar seperti ada dorongan melihat hp ternyata ada pesan masuk dinotifikasi hp,mama Tita. Lidahnya sudah mulai terbiasa memanggil mama pada Bu Tita.


"Hari ini kita akan fitting baju pengantin nanti dijemput Yahya dan Mama jadi bersiaplah!" Ini perintah bukan tawaran jadi dia tidak bisa menolak. Semakin ke sini dia semakin mengenal sifat calon mama mertuanya yang tidak menerima penolakan.


Mita beranjak ke depan mencari keberadaan Irham.


"Dek....."


"Iya kak."


"Aku harus fitting baju pengantin tolong yah kamu urus semuanya."


"Ok..." Irham mengacungkan jempol dengan senyum lebar. Anak itu sudah bisa diandalkan dan tampak tidak terbebani setiap kali dimintai tolong olehnya. Mita bersyukur sekali,terpikir akan mengajarkan Irham untuk meneruskan usahanya saat kelak dia disibukkan mengurus keluarga.


Tadi pagi sebelum subuh sudah mandi tapi setelah melakukan aktifitas badannya terasa lengket karena keringat jadi harus mandi lagi.


Saat dibutik,pasangan itu hanya tersenyum ketika bertemu pandang lalu menunduk dengan malu-malu. Semakin mendekati pernikahan keduanya malah tidak banyak bicara malahan tampak canggung.

__ADS_1


"Coba lihat baju pengantin ini,bagus kan?"


"Desain terbaru...." Bu Tita menunjukkan pilihannya yang menurutnya terbaik dengan senyum bahagia.


Mita mengerutkan dahi,bajunya memang tertutup tapi pas dibadan itu akan memperlihatkan lekuk tubuh seorang wanita.


"Maaf Ma....." Mita menggelengkan kepala. Bu Tita meneliti sekali lagi baju pengantin yang terpasang dimanekin,rasanya bagus dan tidak ada yang salah.


"Why?" terdengar aneh ditelinganya tapi harus menyesuaikan diri,calon mama mertuanya memang dari keluarga berada jadi gaya bicaranya pun berkelas.


"Terlalu ngepas dibadan hehehe...." Mita nyengir.


"Kamu cari yang longgar bukannya nanti malah kedodoran." Mita tersenyum lalu berdiri,melihat beberapa baju pengantin dengan gaya berhijab namun sayangnya semuanya nge pas dibadan.


"Kamu aneh bukannya nge pas dibadan kelihatan bagus ini malah cari yang longgar." komentar Bu Tita dengan cemberut,tidak menyukai pemikirannya.


Mita tampak menarik napas,setiap orang mempunyai pendapat masing-masing dan belajar memaklumi adalah solusinya.


Mita mendekat,memeluk erat Bu Tita dari samping lalu berbisik....


"Ma....saya hanya ingin menjaga kehormatan saya dan kehormatan calon suami serta keluarga saya dengan tidak mengenakan pakaian yang nge pas dibadan,memperlihatkan lekuk tubuh sehingga bisa dinikmati laki-laki lain." tersenyum,menatap lembut wajah calon mertuanya.


Akhirnya daripada mengecewakan Bu Tita,Mita meminta untuk diperbaiki dibagian pinggang atau ditambahkan sesuatu agar kesan nge pas dibadan bisa tersamarkan. Mita memberikan gambaran mulai dari bentuk baju dan hijabnya.


"Bisa Bu?" kebetulan juga pemilik butik ada ditempat jadi bisa langsung memberitahukan keinginannya.


Pemilik butik ternyata seorang desainer. Langsung menggambar sesuai dengan permintaannya dan jadilah.....


"Wah....ternyata lebih bagus ya." komentar pemilik butik sambil mengangguk-angguk.


"Kayanya punya bakat desainer juga nih!" celotehnya lalu tertawa.


"Alhamdulillah....."


"Ini sih bisa saya buatkan lagi sesuai gambar,warnanya mau apa?"

__ADS_1


"Masalah warna biar calon mama mertua saya yang memilihkan,saya ikut saja." Bu Tita langsung sumringah diberi kesempatan untuk ikut andil dalam acara penting anaknya,serasa dihargai.


Bu Tita tampak antusias mendiskusikan baju pengantin dan Mita senang melihatnya.


"Terima kasih."


"Untuk?" Mita mengangkat alis.


"Semuanya....menerima kekurangan orangtua ku mungkin perempuan lain belum tentu bisa menghadapi khususnya mama...." Mita hanya tersenyum tulus.


"Menghormati orangtua adalah tugas yang lebih muda....aku seneng kok. Menurutku mama hanya menunjukkan kepeduliannya pada anak-anaknya. Terlepas salah atau benar,orangtua lebih banyak pengalaman daripada yang muda dilihat dari usia mereka yang banyak makan asam garamnya hidup jadi tidak ada salahnya mendengarkan kalaupun tidak setuju bisa kok menyampaikan dengan kata-kata yang baik."


"Ridho orangtua ridhonya Allah SWT."


"Lihat....betapa senangnya mama."


"Semudah itu menyenangkan orangtua jadi kenapa harus meributkan masalah yang bisa dianggap tidak penting." Mita memandang interaksi Bu Tita dan pemilik butik sambil tersenyum sedangkan Yahya malah memandangnya dengan tatapan lekat dan dalam,seakan terharu.


"Aku menganggap mama seperti ibu kandung ku." Mita berusaha tertawa dibalik kesedihan didalam hatinya karena teringat ibu kandungnya yang tidak bisa berada disampingnya,menemani acara penting didalam hidupnya.


"Dengar....pada akhirnya mama malah memberikan baju pengantin sesuai keinginanku." Mita tersenyum senang lalu menoleh dan gugup saat melihat Yahya begitu lekat memandangnya.


Mita menggeleng,dia harus menghindar atau setan akan menjadi orang ketiga ditengah mereka.


"Mau ke mana?" rupanya Yahya menyadari pergerakannya yang akan beranjak pergi.


"Aku takut...."


"Pada orang ketiga?" Mita mengangkat alis lalu tertawa,ternyata Yahya sudah hafal dengan cara berpikirnya.


"Setan kan?" Mita membalas dengan anggukan dan mereka berdua tertawa.


"Dua hari lagi kalian harus foto prewed....." Bu Tita mendekat dengan membawa amarah.


"Dan Mama gak mau dengar penolakan."

__ADS_1


"Sepulang dari sini Mama minta data diri kamu Mita biar Mama yang urus ke KUA nungguin kalian kelamaan." gerutu Bu Tita.


"Sibuk terus sama kerjaan,papa juga....ah Mama jadi sendirian dirumah....membosankan." Bu Tita terus menggerutu kesal,seakan meluapkan kekesalannya yang menumpuk selama beberapa waktu ini,terlihat dari ekspresi muka beliau. Mita mengerjap dan mengangguk ke arah Yahya saat kembali bertemu pandang sebagai kode untuk diam dan bersabar.


__ADS_2