Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 23 Awali basmalah akhiri hamdalah


__ADS_3

"Sayang...ke mana aja anak gadis ibu gak pernah main...ibu kangen...bannngeeeet..." Bu indah mengirimkan pesan. Mita terkikik geli bisa membayangkan ekspresi sedih sambil teriaknya ibu angkat karena harus memendam rasa rindu terhadapnya bisa terlihat dari ujung kalimatnya yang panjang dan penuh penekanan.


Dia hampir melupakan keberadaan ibu angkatnya saking asik menonton video dakwah favoritnya rasanya tak mau berhenti kalau sudah menonton seperti candu baginya.


"Buruan ke sini bantuin bikin kue..." perintah yang harus dituruti dan dipatuhi.


"Oke ibuku sayang...otw." cuma alasan supaya ibu angkat tidak ngamuk kenyataannya dia baru masuk ke kamar mandi dan mau keramas juga setelah beberapa hari belum keramas terasa lepek rambutnya.


Usai mandi Mita mengenakan pakaian santai langsung meluncur ke rumah Bu Indah dan sampai disana disambut Bu Indah yang merajuk.


"Katanya otw kenyataannya hampir satu jam baru nyampek " protes Bu Indah.


"Tega banget sudah berhari-hari gak nengokin ibu,kenapa sih?"


"Lagi sibuk apaan?" Mita tersenyum sambil memeluk tubuh Bu Indah dari belakang.


"Lagi belajar ilmu agama Bu!" Bu Indah melotot merasa terabaikan bisa-bisanya belajar agama tidak mengajak beliau.


"Ceritanya lupa sama ibu nih belajar agama gak ngajakin ibu?" Bu Indah semakin merajuk langsung diberi ciuman singkat dipipinya oleh Mita sebagai kompensasi,Bu Indah tersenyum senang lalu mengelus lengan Mita yang berada diperut beliau.


"Mas Hafiz gak dicium juga?" Tiba-tiba saja Hafiz nongol sambil menunjuk pipinya minta dicium.

__ADS_1


"Bukan muhrim...dosa... nih dicium sama ibu aja." Mita sengaja mendekatkan posisi ibu dan anak itu sambil terkekeh.


"Ck...mana asik udah gede dicium sama mama cari yang seger dan daun muda dong baru berasa dan pasti langsung semangat!"


goda Hafiz yang langsung dijewer oleh mamanya.


"Kamu pengen daun muda sini mama kasih lihat daun muda sesungguhnya..." Mita melongo melihat Hafiz yang dijewer kupingnya sambil ditarik keluar rumah menuju teras rumah terus meringis dan mengaduh kesakitan.


"Kamu lihat...ini namanya daun muda cium sampe puas sana." ucap Bu Indah penuh penekanan. Mita yang dari tadi melihat dan mengikuti dari belakang menunduk menahan tawa dia ingat bahwa menertawakan kesulitan orang itu juga dosa. beuh...sulitnya menjaga akhlak.


"Pergi sana...ngerecokin aja!" emosi Bu Indah nampak tidak stabil entah sedang memikirkan apa? Hafiz lari terbirit-birit meninggalkan rumah namun belum jauh dia kembali lagi tapi Bu Indah langsung melotot tajam.


"Mau ambil dompet sekalian kunci motor masak mau jalan kaki?" Hafiz memberi alasan yang tak dipedulikan oleh Bu Indah.


"Tadi bikin kue apa? Mau buat cemilan sendiri atau buat acara?" Mita seperti sedang membujuk anak kecil.


"Sebenernya mau ada acara ultah cucu ibu tapi ibu gak yakin sama rasanya mana besok acaranya..." pantesan dari tadi bawaan marah melulu ternyata sedang bingung,orang tua mah segala diributkan.


"Kan bisa beli..." saran Mita yang tidak direspon baik oleh beliau katanya kurang berkesan kalau beli pengen yang berbeda bisa dijadikan kenangan nantinya.


"Sini biar Mita cobain,boleh?"

__ADS_1


"Boleh..." Mita mengernyitkan dahi heran sama rasa kue buatan Bu Indah seperti ada yang kurang walaupun dia tidak pandai memasak apapun tapi dulu dia selalu jadi komentator pertama untuk setiap masakan ibunya termasuk kue.


"Gak enak ya?" tanya beliau lemah,sudah berputus asa sama hasilnya.


"Coba deh diingat-ingat ada yang kelupaan bahannya gak Bu?" tanya Mita juga sambil memikirkan pokok permasalahannya.


"Ini agak bantat soalnya..." sambung Mita dengan jujur karena percuma kan mencoba kalau harus berbohong rasa kurang enak ngomongnya enak sama saja menjerumuskan.


"Pengembangnya sudah gak aktif mungkin Bu!" tebak Mita,kalau bahan-bahan kue dia hapal diluar kepala hanya saja belum pernah mencoba sendiri.


"Tadi ngembang sih waktu di mixer artinya masih akit pengembangnya." jawab Bu Indah yakin.


"Biasanya dikasih susu bubuk gak Bu?"


"Gak..."


"Biasanya almarhum ibu bikinnya untuk ukuran segini delapan butir telur utuh dan dua butir kuningnya saja katanya kuning telur itu membuat tekstur kue lebih lembut...dikasih susu bubuk juga biar gurih...mau coba?" Bu Indah mengangguk sambil tersenyum optimis. Ya...keberhasilan sebuah usaha harus dibarengi keoptimisan pembuatnya.


"Bismillahirrohmanirrohiim...biar semakin berkah dan dinilai ibadah sama Allah Bu jangan lupa mengawali basmalah mengakhiri hamdalah..."


"Wah...jadi itu ilmu agama yang kamu pelajari?" Mita mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kalau gak gitu gak dapat apa-apa dong?" sambung Bu Indah dan dibalas anggukan.


"Rugi dong selama ini..."Ucap Bu Indah lemas merasa menyesali ketidaktahuannya.


__ADS_2