Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 98 Tanda orang merasa tidak punya salah


__ADS_3

"Tolong pak kasihani aku,pikirkan nasib ku dan anak dalam kandungan ku kalau kami tidak segera menikah!"


"Hamil diluar nikah dan harus menikah dengan lelaki kere macam dia,aib terbesar buat bapak." bentak si bapak sambil menunjuk muka Dani dengan muka bengis.


"Tidak bisa dibanggakan."


"Laki-laki yang hanya mengandalkan tampang memang bisa apa? Bahkan dia tidak lebih baik dari adiknya yang sudah punya pembantu."


"Kenapa dulu kamu tidak berpikir sebelum berbuat seperti ini hah? Setidaknya walaupun hamil kalau sama laki-laki mapan kamu sendiri yang enak." kesalahan yang mendapatkan dukungan.


"Sekarang terserah kamu,ingin menikahi dia maka jangan dirumah bapak,lakukan saja dirumah ini!"


"Bapak tidak sudi."


Dani sudah ingin merangsek ke depan langsung ditahan oleh Mita. Bagaimanapun juga beliau tetap orang yang lebih tua.


"Sabaaar kak,ini ujian buat kita istighfar!" ucapnya sambil mengelus lengan kakaknya dan membisikkan kalimat istighfar.


"Gak penting yang dikatakan orang tapi penting menjadi baik dihadapan Allah..."


"Astaghfirullahaladzim...jangan terpancing emosi kak!"


"Pak Darman tolong bawa kak Dani!" Dani menolak dibawa pergi.


"Tolong kak...aku gak mau terjadi sesuatu yang buruk!" Mita menatapnya menghiba dan merasa lega saat melihat Dani pergi hingga menghilang dari pandangannya barulah ia kembali fokus dengan orang didepannya. Rupanya bapak itu belum cukup memaki dan menghina putrinya jadi Mita membiarkannya saja. Tipe orang seperti ini percuma dihentikan malah semakin tidak terkendali,begitu puas pasti akan berhenti sendiri.


Setelah beberapa saat barulah bapak itu berhenti bicara dengan napas tersengal. Marah menghabiskan napas ternyata.


"Minum dulu pak!" Mita menuangkan sisa minuman ke dalam gelas lalu menyodorkan ke arahnya yang langsung disambar dan diteguk dengan cepat seakan suhu dingin dari minuman tidak mempengaruhi. Mita menatapnya ngeri.


Masih menunggu sampai si bapak kembali ke keadaan tenang. Berdiskusi perlu pikiran tenang.


Tampak si bapak menyender dengan mata terpejam sambil memijit pelipis mungkin merasakan pusing mendadak. Mita tertarik mengamati wajah-wajah disebelahnya si bapak. Si ibu yang tampak sedih dan murung,sesekali menghapus air mata yang mengalir pelan sedangkan si anak yang terus menunduk dengan jari-jari tangan yang saling meremas,seperti ketakutan dan air mata yang mengalir deras dengan suara tertahan. Anehnya tidak terlihat bersalah lebih ke menyalahkan apa yang terjadi,tanda orang yang merasa tidak punya salah. Mita menarik napas panjang melihat ekspresi ketiganya.


Setelah cukup lama diam,melihat orang-orang didepannya sudah terlihat tenang,Mita membuka suara.


"Sekarang bagaimana?" si bapak langsung merespon menatap Mita dengan muka serius.


"Dani harus memberi kompensasi pada saya!" ucapnya tegas dan berani.


"Kompensasi untuk apa pak?" Mita merasa aneh dan terdengar lucu ditelinganya untuk seorang bapak yang sudah tahu putrinya ikut bersalah malah meminta kompensasi.


"Yah karena sudah menghamili putri saya."


"Saya minta maharnya motor tapi langsung dikasihkan ke saya."

__ADS_1


"Bapak...mahar itu untuk istri bukan untuk mertua,artinya bapak menjual putri bapak pada kakak saya,begitu kah?"


"Tidak...itu KOMPENSASI supaya saya setuju dengan pernikahan ini."


"Oh sogokan?" Mita mengangguk-angguk.


"Tidak itu untuk kebaikan bersama." masih mengelak juga. Dilihat dari mananya untuk kebaikan bersama. Si bapak suka aneh ngomongnya,lain dimulut lain dihati.


"Ya Allah bapak menukar kebahagiaan putri bapak dengan motor?" Mita berpura-pura terkejut sambil melirik si anak yang ternyata ikut terkejut.


"Bapak belum lupa kan kalau putri bapak sedang mengandung."


"Ya saya masih ingat karena kesalahannya maka biarkan saja dia menanggungnya sendiri." Mita tidak habis pikir dengan pemikiran orang tua didepannya,seegois itu lebih memikirkan keuntungan diri sendiri.


"Kalau kami tidak mau?"


"Terserah dia tapi jangan harap saya mau menjadi walinya! Pernikahan tanpa wali dari pihak perempuan maka pernikahan tidak sah." artinya kumpul kebo jika dipaksakan. Nuri terhenyak,begitupun dengan ibunya,tidak menyangka dengan ucapan si bapak. Mita menghela napas pasrah,si bapak sulit diajak bicara baik-baik.


Akhirnya diskusi selesai disitu tanpa ada keputusan terbaik,membuatnya sulit berpikir dan membutuhkan waktu untuk berpikir lebih tenang agar menghasilkan solusi terbaik.


Dua hari berlalu belum ada keputusan karena dari pihak lelaki enggan membahas hingga membuat pihak perempuan sering menelponnya,meminta tolong dengan menangis agar pernikahan bisa segera terlaksana.


"Masalahnya saya gak punya uang sebanyak itu." jujur Mita kehabisan uang apalagi sekarang sedang proses pembangunan rumah barunya.


"Tolong bicara sendiri sama kak Dani! Maaf saya sibuk assalamu alaikum..." Mita langsung memutus sambungan telepon secara sepihak dan terpaksa memblokir nomer Nuri. Menemui kakaknya yang seperti tidak punya masalah dikamarnya.


Soal dari mana Nuri bisa mendapatkan nomernya karena dulu saat masih baik-baik saja,bunga-bunga cinta menguasai hati dan pikiran hingga keduanya sepakat saling menautkan perasaan. Disitulah awalnya Dani memberikan nomer hpnya pada Nuri supaya lebih dekat dan cepat terlaksana keinginan menjadi keluarga.


"Kak...!" Dani menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan hp nya.


"Apa?" Jeda sebentar dengan pandangan lurus ke depan.


"Kak kita sudah dewasa rupanya,kakak sudah mau punya bayi,mau dipanggil apa nanti?" Mita tersenyum sambil membayangkan seorang anak kecil memanggil kakaknya dengan panggilan...


"Ayah?"


"Papa?"


"Papi?"


"Atau bapak seperti kita memanggil almarhum bapak hihihi..." Mita terkikik,merasa lucu.


"Atau Daddy,panggilan untuk anak orang kaya disinetron ahahaha..." Dani mendengus kesal. Dia jadi ikut memikirkan omongan adiknya yang terasa menggelitik,mengingat akan ada seorang anak yang akan memanggilnya bapak atau yang lain.


"Sedangkan aku mungkin akan menikah dan saat punya anak dipanggil ibu. Gak terasa yah kita sudah sampai diumur segini tapi masih suka kekanakan."

__ADS_1


"Mungkin kalau bapak dan ibu masih hidup pasti seneng."


"Kebayang aku bapak sama ibu berebut menggendong bayi kakak." matanya sambil menerawang jauh dengan tersenyum.


"Dan kita melihat mereka dengan bahagia." Dani mulai terpengaruh,merenung saat itu ada.


"Tapi itu hanya mimpi yah kak. Sedih yah kita gak didampingi orangtua disaat moment seperti itu." Dani tersentak kaget seperti dilambungkan lalu dihempaskan begitu saja.


"Mungkin mereka sedih sekarang."


"Apalagi melihat kakak yang gak berusaha bertanggung jawab atas kesalahan kakak. Merasa gagal mendidik kakak menjadi lelaki berbudi baik bahkan tega menzolimi orang lain."


"Ini bukan salahku siapa suruh mereka menghinaku,aku masih punya harga diri."


"Kamu tahu aku bukannya gak ingin bertanggungjawab tapi mereka sendiri yang cari masalah. Jadi jangan salahin aku!" jawabnya dengan emosi tinggi.


"Aku tahu perasaan kakak,aku ikut merasakan sakitnya dihina dan dimaki tapi kita gak bisa memaksa orang untuk baik sama kita,menghargai kita dengan semua kekurangan kita."


"Yang harus kakak lakukan adalah memperbaiki kesalahan dengan menjadi lelaki bertanggungjawab apapun alasannya."


"Ini juga bagian dari ujian kesabaran,mau kah kita memaafkan orang lain dengan sikap buruk mereka terhadap kita."


"Menjalani gak semudah bicara." sanggahnya.


"Iya aku tahu tapi apa manfaatnya kakak marah begini. Ingat kak,anak dalam rahim mbak Nuri itu anak kakak juga,yang harus kakak jaga sebagai titipan dari Allah."


"Kamu ngomong gitu karena kamu gak tahu tabiatnya. Dia itu sama kaya bapaknya,PEMERAS. Kalau bukan karena dia aku gak akan menggadaikan sertifikat rumah. Sekarang aku terlilit hutang." teriaknya kesal dan Mita terhenyak kaget mengetahui kebenarannya.


Setelah ketahuan hamil Dani merasa ketakutan. Nuri menyudutkannya untuk segera menikahinya sementara ia tidak punya uang hingga ia seperti dijadikan sapi perah. Nuri yang terus meminta ini dan itu dengan alasan pemenuhan kebutuhan kehamilan. Dia yang tidak berpikir jernih hanya menurut dan baru sadar saat ditagih oleh orang,ternyata hutangnya cukup banyak.


"Sekarang kamu bisa bayangkan jika aku menikah dengan dia,akan seperti apa hidup ku. Gali lubang tutup lubang." Mita menggelengkan kepala.


"Insya Allah jika kakak niatnya baik akan dimudahkan sama Allah."


"Pikirkan anak kakak dan doakan mbak Nuri dilembutkan hatinya sama Allah." Dani melengos.


"Sekarang berapa sisa uangnya?"


"Dua puluh satu juta."


"Itu cukup buat beli motor."


"Jangan gila kamu ngapain juga mikirin permintaan mereka,uang segitu banyaknya nanti aku juga yang bayar."


"Uang itu mau aku pake modal usaha biar bisa nyicil hutang ke Yahya." Mita menyerah,malas berdebat. Dia belum bisa memutuskan. Akhirnya ditunda lagi penyelesaiannya. Sampai disini semakin rumit masalahnya. Semua orang seperti sedang pada ego nya masing-masing dan hanya Allah yang bisa melembutkan hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2