
Dani POV
"Assalamu alaikum...aku pulang." Dia pulang aku merasa lega. Entah kenapa setelah mendengar keputusannya yang akan pindah dari rumah kami,aku jadi tidak semangat bekerja selalu ingin dirumah supaya bisa melihatnya setiap saat. Aku seakan tidak ingin melewatkan sisa kebersamaan kami. Setiap jam nya yang terasa cepat berlalu dan membuat hatiku tidak nyaman.
"Waalaikum salam...darimana?" sapaku padanya yang tersenyum lepas.
"Nge mall...ini beli kado buat anaknya Ita,sudah lahiran dia." dia tampak bahagia dan aku tersenyum. Baru kali ini aku seperti ikut menikmati kebahagiaannya. Mendadak dadaku sesak saat menyadari betapa selama ini aku tidak mempedulikannya,mengabaikan perasaannya.
"Anaknya cewe...lucu banget...gemes..." dia terus bercerita dengan antusias.
"Aku jadi gak sabar pengen lihat keponakan ku lahir...eh iya mbak Nuri kok gak ikut pulang?" dia bertanya tentang Nuri seakan tidak terjadi apa-apa kemarin. Sepeninggal orang tua,aku sibuk dengan diri sendiri hingga aku baru menyadari jika dia banyak berubah malah lebih dewasa dari aku dengan menjadi orang yang pemaaf meskipun Nuri telah menyakitinya secara mental.
"Kemarin diusg apa jenis kelaminnya?" ku balas gelengan.
"Nunggu mereka lahir biar berkesan.....jadi surprise." ku tatap dengan lekat dia yang mengacungkan jempol sambil sibuk memeriksa isi tas kertas besar yang dia bawa dari mall. Aku ingin merekam moment-moment kebersamaan kami sebelum dia benar-benar pindah dari sini.
"Aku mau ganti baju dulu." pamitnya dengan membawa serta tas kertas besar yang tidak tahu apa isinya itu bersamanya. Aku menatap kepergiannya lalu menarik napas panjang. Sekarang aku merasa dia sangat berharga untukku. Aku jadi berandai-andai kalau saja aku tidak terburu nafsu hingga membuat Nuri hamil dan menikahinya mungkin dia tidak akan bersama kami dan adikku juga tidak akan pergi dari rumah ini. Namun apalah daya,nasi sudah jadi bubur,dibuang mubazir sekalian saja dimakan.
"Kak...tolong kunci pintunya sekalian jendelanya juga!" teriaknya dari dalam kamar,aku tidak tahu apa tujuannya. Kalau biasanya aku malas disuruh-suruh dan banyak bertanya tentang alasannya kini aku hanya bisa patuh tanpa banyak bicara.
"Sudah belum?" teriaknya lagi.
"Sudah." jawabku pendek. Aku tersenyum,kami saling berteriak seperti sedang berada di hutan.
Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan rambut tergerai membuatku terpana. Wajahnya yang ayu alami dengan kulit yang bersih seperti seorang bidadari turun dari kayangan,rambutnya hitam dan panjang dengan ujung bergelombang mungkin karena setiap hari terus diikat tergulung. Aku jamin siapapun yang akan menjadi suaminya akan kelojotan melihat penampilannya yang seperti ini. Inilah spesialnya perempuan berhijab,dia akan tampak bersinar bak mutiara ketika hijabnya dibuka dan itupun dikhususkan untuk mahram dan ajnabinya.
"Akhirnya rambutku bisa bernapas." gumamnya,menjepit rambutnya asal lalu beranjak ke kamar mandi. Jadi ini maksudnya dia menyuruhku menutup pintu dan jendela supaya bisa menampakkan auratnya hanya didepan mahramnya. Sedari tadi mataku terus mengawasi pergerakannya hingga suara emak memutus tatapanku.
"Mas Dani terkesima......hihihi..." celoteh emak sambil terkikik geli dan aku tersenyum malu kedapatan mengagumi kecantikan adik kandungku.
"Hehehe......iya Mak." jawabku salah tingkah sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
"Hati-hati dengan hati mas Dani......neng Mita masih adik kandung mas Dani jadi jangan berlebihan." emak memperingatkan dengan tegas dan aku mengangguk paham.
"Iya Mak......mungkin karena sudah lama gak melihat dia buka hijab jadi kelihatannya luar biasa......beruntung suaminya nanti ya Mak bisa memiliki istri kaya Mita yang bisa menjaga auratnya."
"Iya mas insya Allah......" emak menata hidangan diatas meja makan yang masih mengepulkan asap panas. Aku yang meminta emak menyediakan makan malam setelah Mita pulang karena aku menginginkannya,makan bersamanya.
Dua hari ini tanpa kehadiran Nuri suasananya berbeda lebih tenang dan damai,biasanya ada saja yang tidak mengena dihatinya dan langsung nyap-nyap bikin kuping sakit. Akhirnya daripada makin ngomel panjang aku diam saja tapi justru nahan perasaan yang bikin capek jiwa dan raga. Kalau begini aku jadi males jemput dia pulang,kehadirannya benar-benar membuat suasana lebih berwarna......hitam maksudnya. Bagaimana tidak? Setiap hari bicara sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain,bikin sakit hati.
"Ayo makan neng!" mataku kembali beralih menatapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan muka cerah habis cuci muka.
"Kenapa sih kak ngelihatin aku kaya gitu banget." protesnya kesal dan aku terkekeh.
"Tahu gak......kamu kaya bidadari turun dari kayangan......anggap aja sekarang latihan buat nanti pas kalian udah nikah,aku yakin Yahya ngelihatin kamu sama kaya aku atau mungkin lebih..." ternyata menyenangkan bisa menggodanya yang terlihat cemberut campur senyum malu.
"Apaan sih kak?" protesnya dengan salah tingkah.
"Ahahaha......aku yakin reaksi kamu nanti bakalan lebih dari ini." godaku lagi sambil tertawa dan aku akan mengingat hari ini.
Selanjutnya makan malam bertiga. Mita banyak berinteraksi dengan emak dan aku hanya menyimak. Aku bisa melihat jika kehadiran emak seperti menggantikan tempat orangtua kami dihati Mita,membuatnya lebih bahagia.
"Kak Dani juga makan yang banyak,puas-puasin makan masakan emak mungkin nanti kak Dani hanya akan merasakan masakan istri." begitu pula padaku,dia menyendok lauk ke dalam piringku.
"Kecuali nanti kak Dani mau sering-sering main ke rumah ku." aku sedih mendengarnya.
"Apa gak bisa kamu mengurungkan niat mu?"
"Setidaknya sampai kalian menikah." dia menggeleng lemah.
"Aku butuh tempat pasti yang nyaman supaya bisa mengembangkan usahaku.......disini aku kaya tertekan jadi maaf......" ucapnya lirih dan menarik napas.
"Tenang......aku sudah bicara sama pak Darman,pak Bowo sama Irham untuk menginap disana malamnya,bisa pulang ke rumah masing-masing secara bergiliran." aku tahu dia akan memikirkan solusi sebelum pindah.
__ADS_1
"Aku gak tahu keputusanku ini benar atau salah......menurutku ini yang terbaik." ucapnya lagi sambil menatapku lekat.
"Saat berjauhan,mbak Nuri gak ada kesempatan untuk mengeluhkan aku,emak dan yang lain......membicarakan tentang aku pada tetangga."
"Mungkin juga nanti mbak Nuri bisa kangen sama aku......"
"Biasanya kan gitu kalau dekat berantem kalau jauh kangen......ihihihi......" dia masih bisa tertawa walaupun aku tahu dia sama sedihnya kaya aku. Terlihat dia menegarkan diri. Rumah ini adalah rumah kenangan jadi mana mungkin dia bisa begitu mudah melepaskan diri dari rumah ini.
"Maaf......." aku merasa bersalah padanya dan dia menggeleng lemah.
"Insya Allah mbak Nuri ujian buat kita tapi sayangnya aku gagal bersabar." dia seakan menyalahkan dirinya sendiri membuatku makin sedih.
"Bagaimanapun juga mbak Nuri,istri kak Dani,orang yang lebih tua dari aku yang harus di hormati jadi tolong jangan hentikan aku......" aku heran,dia bisa berpikir sebijak itu diusianya yang masih sangat muda.
"Insya Allah ini yang terbaik daripada kami terus bertengkar lebih baik aku yang mengalah......lagipula aku sudah punya rumah sendiri kalau bukan ditinggali lalu buat apa?" ucapnya sambil tersenyum,berusaha terlihat baik-baik saja.
"Dan juga yang aku pikirin pak Darman,pak Bowo sama Irham jika usaha ini berhenti lalu bagaimana dengan mereka?"
"Bukannya aku meragukan kekuasaan Allah......tapi aku ngebayangin hidup keluarga mereka jika kepala keluarga gak punya penghasilan."
"Bagi mereka,sehari aja gak kerja sudah kebingungan apalagi sampai satu bulan."
"Alhdulillah kalau langsung dapet kerjaan baru kalau enggak......kan kasihan."
"Aku hanya perantara untuk membantu mereka kak......."
"Jadi jangan merasa bersalah....mungkin ini waktunya." Mita kembali meyakinkan aku untuk tidak merasa bersalah atas sikap istriku.
"Semoga aja saat aku gak ada,mbak Nuri jadi lebih mengerti kewajibannya dan dibukakan pintu hatinya untuk berubah lebih baik.......aamiin."
"Aamiin......" aku ikut mengaminkan doanya.
__ADS_1
"Aku sedih karena kita akan berpisah." ucapku sendu dengan kepala tertunduk.
"Halaaah......kaya mau pisah jauh aja lha wong masih dekat juga palingan setengah jam dari sini.....udah ah jangan sedih-sedih!" sambil mengibaskan tangan. Tapi bener juga katanya. Haaah.....mungkin karena dari kecil kami tidak pernah berpisah jadi sedih membayangkan kami akan pisah rumah.