Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 159 Konsekuensi


__ADS_3

Mita lega melihat Irham sudah bisa menghandle hampir seluruh pekerjaan dengan baik bahkan ada yang dari inisiatif sendiri. Dia tidak khawatir lagi kalau seandainya disuruh memilih antara keluarga atau usaha insya Allah dia akan memilih keluarga alasannya....bagi seorang wanita keluarga adalah prioritas utama lagipula sudah ada penerus sekarang,tenang jadinya. Bisa dikatakan mengutamakan keluarga adalah salah satu konsekuensi dari keputusannya untuk menikah jadi yah musti bertanggung jawab sama pilihan sendiri.


"Dek....hari ini ada kerjaan penting enggak?" tanyanya,Irham menoleh sambil mengingat-ingat kemudian menggeleng.


"Hanya ngerawat tanaman kaya gini daripada nganggur makan gaji buta aku memilih memaksimalkan ikhtiar hasilnya terserah sama yang diatas." balas Irham sambil menunjuk ke langit,mulai memahami arti hidup ini anak pikir Mita.


Mita menarik napas seakan tersentil hatinya oleh ucapan Irham yang mengatakan "memaksimalkan ikhtiar hasilnya terserah sama yang diatas" Mita seketika termenung. Sebagai seorang muslimah rupanya dia belum bisa sepenuhnya mempercayai Tuhannya. Takut kekurangan yang asalnya dari hembusan setan yang menghasutnya untuk meragukan Tuhannya. Khawatir tidak bisa memberikan gaji pada pegawainya mengingat usahanya yang baru dirintis kembali belum ada hasil sedangkan Allah pemberi rezeki bagi siapa yang dikehendaki Nya.


"Astaghfirullahaladzim...." gumamnya lirih dengan kepala tertunduk merasa berdosa akan cara berpikirnya yang mungkin salah dihadapan Allah. Bukankah pasang surut dalam dunia usaha termasuk ujian supaya dia jangan sampai terlena dengan kesenangan dunia? Ya itu benar pikirnya sambil menghembuskan napas.


"Dek....jalan-jalan yuk!" ajaknya,berharap keluar rumah bisa mengubah cara berpikirnya menjadi semakin baik agar lebih bersyukur juga.


Menjadikan Irham sebagai ojeg solusinya yang ingin bepergian tapi malas nyetir sendiri merangkap sebagai teman hangout daripada sendirian keluar rumah biar makin semangat sekaligus ada yang bisa diajak bertukar pendapat seperti saat ini.


"Menurut kamu bagusan yang mana?" tanyanya,menunjukkan beberapa pilihan topi bayi dengan berbagai warna dan model. Ternyata diajak ke toko peralatan bayi.


"Buat anaknya kak Dani?" dia malah balik bertanya.


"Memang buat siapa lagi." jawab Mita malas.


"Yah kan siapa tahu persiapan buat anak sendiri." jawab Irham asal seperti tidak punya dosa. Mita langsung melotot.


"Ngeselin banget sih kamu." protes Mita dengan cemberut. Sebetulnya malu,baru nikah sudah disinggung soal anak kaya yang aneh padahal wajar saja punya anak. Tujuan menikah kan memperbanyak keturunan.


"Ayolah kak gak bisa diajak bercanda banget sih sekarang....baperan deh." Mita menarik napas. Mungkin efek pasca menikah jadi makin banyak yang dipikirkan gampang emosi.


Menyadari perubahan ekspresi Mita,Irham tidak ambil pusing orang hidup pasti bermasalah. Berjalan agak ke depan meneliti satu persatu topi bayi yang dipajang.


"Masih bayi gak akan nolak dipakein warna apa aja cuma mungkin nangis rewel kalau gak nyaman." ucapnya memecah keheningan setelah diam beberapa saat.


"Lagian fungsinya sama-sama sebagai penutup kepala,melindungi ubun-ubunnya yang masih empuk." jelasnya membuat Mita mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Empuk....kamu kira bantal empuk." protes Mita sewot.


"Yeay protes aku ngomong serius,orang tua nyebutnya kaya gitu."


"Waktu baru lahir jelas banget ubun-ubun adikku kaya yang berdenyut kaya gak ada tempurung kepalanya jadinya sering dipakein topi khawatir kena sesuatu yang tajam terus berlubang gimana kan mengerikan." ucapnya sambil bergidik ngeri,Mita mengangkat dahi tak percaya karena belum pernah memperhatikan kepala bayi.


"Aku yang ngeliat ngeri." Irham bergidik ngeri membayangkan kepala bayi berlubang karena terkena benda tajam.


"Ngaco kamu....jangan suka sembarangan ngomong,gak baik tahu."


"Ucapan bisa jadi dia tahu." sambung Mita mengingatkan.


"Yah kan ini cuma contoh." Mita hanya menggelengkan kepala malas menanggapi soalnya ini anak kalau dilanjut suka keluar jalur ngomongnya bikin geregetan.


"Kalau menurut aku ini yah yang sudah berpengalaman punya adik-adik yang lebih dari satu mending beli yang bahannya nyaman bukan yang bagus karena bayi butuh kenyamanan." ucapnya bangga dengan sok tahunya tapi masuk akal. Bayi memang butuh kenyamanan apalagi yang baru lahir yang kerjaannya bobo terus. Tahu-tahu gede aja anak bayi mah.


"Bayi gak butuh tampil cantik atau ganteng....gak butuh dapat pujian yang penting bisa bobo dengan tenang biar cepet gede hehehe...." ini juga betul tapi bikin Mita melongo,anak ini bicara maksudnya menyindir kelakuan orang dewasa.


"Bukannya nyindir tapi bicara jujur." balasnya membela diri sambil tersenyum tengil bikin kesal.


"Udahlah malah ngomongin yang lain."


Mita memutuskan tidak lagi meminta pendapat Irham kalau pada akhirnya jadi kebablasan ghibahin orang.


Yang Mita ingat "memilih bahan yang nyaman" jadinya dia membeli barang dengan bahan yang halus,sesuai untuk kulit bayi yang sensitif. Masalah harga sesuaikan dengan kualitas.


Selesai shopping sekarang waktunya makan siang.


"Wuaah warung Padang." ucapnya senang.


Mita tersenyum,hanya dengan membawanya makan ke warung Padang bisa membuat Irham sesenang ini.

__ADS_1


"Sana ambil sesuka mu." dengan semangat Irham mengambil sesuai seleranya kemudian makan dengan lahap.


"Hieeek...." suara sendawa Irham membuat semua pelanggan mengarahkan pandangan pada mereka. Mita yang merasa tidak enak hati langsung meminta maaf pada semua pelanggan dengan tersenyum malu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Akhirnya demi menutupi rasa malu Mita mengajak Irham untuk segera keluar dari warung usai membayar makanan yang mereka makan dan langsung otw ke rumah lama,tempat tinggal Dani beserta keluarga kecilnya.


"Assalamualaikum...." pintu terbuka lebar namun salamnya tidak berbalas. Melongok ke dalam sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupannya didalamnya.


"Langsung masuk ajalah kak masih mantan rumah sendiri juga gak perlu sungkan." saran Irham dengan bahasa yang aneh,Mita menarik napas mendengarnya. Malas menanggapi.


Begitu masuk ke dalam rumah dahinya berkerut,suasananya agak berbeda. Seingatnya kemarin pas ia tempati memang sunyi karena dibiarkan kosong hanya beberapa kali ditengok oleh kakaknya jadi wajar rumah seperti tidak punya ruh tapi kali agak panas apa mungkin bawaan dari penghuninya pikirnya.


"Ya Allah jadi mikir yang aneh-aneh." keluhnya kemudian menghembuskan napas.


Mengecek ke dalam kamar rupanya semua penghuninya sedang tidur nyenyak. Mita menggelengkan kepala melihat kecerobohan saudari iparnya. Kalau ada yang masuk terus menggondol semua barang berharga siapa yang mau disalahkan pikirnya.


"Kalau dari luar mau pegang bayi musti cuci tangan sama kaki katanya orang tua biar gak diganggu setan bayinya." ucap Irham memberikan informasi. Mita menarik napas,dari segi kesehatan memang harus mencuci tangan dan kaki logikanya sebagai upaya menjaga kebersihan karena di luar rumah banyak debu dan bakteri yang menempel ditangan dan kaki. Mau ada bayi ataupun tidak aturannya tetep sama.


"Iya makasih." malas berdebat takut bayi-bayi itu menangis mendengar suara berisik dan benar saja baru juga diomongin mereka langsung menangis.


Mendengar bayinya menangis Nuri langsung terduduk dengan muka syok. Memandang kedua bayinya didalam box bayi dengan tatapan sedih.


"Ya Allah bangun lagi nangis lagi." keluh Nuri dengan lemas.


"Kalau begini terus kapan aku bisa istirahat." keluhnya lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak siap...."


"Aku cape huwaaa...." Nuri menangis kencang layaknya anak kecil saat mendengar tangisan kedua bayinya. Mita dan Irham tercengang melihatnya.


"Ya Allah ada apa ini?" Bu indah datang dengan tergopoh-gopoh setelah mendengar suara tangisan bayi yang nyaring saling bersahutan dengan tangisan orang dewasa yang ternyata berasal dari suara Nuri dan kedua bayinya.


"Aduuh kayanya ibunya kena baby blues ini." komentar ibu Indah setelah melihat keadaan Nuri yang seperti tidak siap menjadi ibu. Kalau sudah begini terus bagaimana? Bukankah ini termasuk konsekuensi menikah dan punya anak?

__ADS_1


__ADS_2