Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 68 Daerah terlarang


__ADS_3

Yahya POV


Aku kira tadi dia pura-pura ternyata tidur sungguhan mungkin karena kondisinya yang masih sakit jadi begitu mudah terlelap,hanya menggeliat saat diangkat ke tempat tidur lain khusus kamar perawatan. Benar-benar seperti bayi.


Melihat pesan yang ku kirimkan pada mas Dani masih belum dibaca,ditelpon juga gak diangkat. Aku hanya ingin mengabarkan padanya kalau Mita sudah dipindah kamar tapi kok sulit.


Melirik ke arahnya,aku tersenyum. Lucu dia tidurnya mangap. Allah maha adil secantik apapun orangnya pasti punya kekurangan. Kalau dipikir-pikir punya kekurangan saja manusia masih sombong apalagi gak punya kekurangan...Geleng kepala.


Tok...tok...suara dibuka sedikit dari luar dan menyembul sebuah kepala yang tengah tersenyum jika orang penakut melihatnya pasti ketakutan karena mengira hantu kepala.


"Masuk mas jangan kepalanya saja yang kelihatan seperti hantu kepala..." protesku yang disambut cengiran.


"Maaf mas!" dia langsung masuk membawa wadah stenliss dan minuman didalam gelas plastik berwarna cokelat sepertinya teh.


"Apa itu mas?" tanyaku penasaran.


"Makan malam buat pasien." jawabnya sambil meletakkan dimeja sebelah tempat tidur Mita. Memandang Mita yang masih memejamkan matanya rapat.


"Sendirian mas nungguinnya?" dia tipe peramah.


"Iya..." jawabku pendek. Dia masih menatap Mita lekat.


"Cantik mas istrinya!" kepedulian bocah ini berlebihan menurutku. Mulai gak suka. Bicara padaku tapi matanya setia menatap Mita tanpa berkedip sambil tersenyum. Aku bangkit berdiri lalu berjalan menghampirinya. Sengaja berhadapan langsung dengannya karena menurutku dia sudah bersikap gak sopan.


"Kenapa? gak pernah lihat perempuan?" tanyaku tegas. Dia mengangkat kedua tangan ke atas seakan menyerah sambil mundur ke belakang.


"Santai mas saya hanya ingin melihat." suaranya terdengar gak enak seperti menganggap remeh sikapnya sendiri. Tentu aku langsung menatapnya tajam sambil terus mengejarnya dengan langkah setapak dan dia juga terus mundur ke belakang sampai mentok ke pintu. Ku lihat dia sempat kaget karena telah menyentuh batas dan gak bisa menghindar jika ku tonjok sekarang juga. Ia langsung terlihat panik yang membuatku tersenyum sinis.


"Takut?" bisikku pelan sambil menyondongkan badanku eh badannya ikut ke belakang tapi lupa jika sudah mentok gak bisa ke mana-mana kecuali buka pintu dibelakangnya dan kabur.


"Saya pergi!" saat dia balik badan dan menyentuh gagang pintu aku mencegahnya.


"Tunggu!" ucapku lantang,dia gak berani bergerak,kaku seperti patung.


"Pandangan mu itu penuh nafsu." ucapku sambil menatapnya sinis.


"Lain kali jangan seperti itu lagi! gak semua perempuan suka dipandang dengan nafsu seperti yang kamu lakukan tadi." dia mengangguk patuh masih membelakangi ku.

__ADS_1


"Pergilah!" dia lari terbirit-birit.


Saat berbalik badan ku lihat Mita sedang melihat ke arah ku dengan banyak pertanyaan diwajahnya. Ku dekati dia lalu duduk diujung tempat tidur. Berusaha menjaga jarak karena gimana pun kami hanya berdua didalam satu ruangan.


"Maaf...suaraku terlalu keras ya?"


"Gimana keadaan kamu? masih pusing?"


"Kak Dani ke mana?" aku tanya apa jawabnya apa. Kulihat mukanya mendung banget. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? dahiku berkerut dalam.


"Belum balik tadi ku wa gak balas ku telpon gak diangkat..." wajahnya tampak murung.


"Jangan mikir aneh-aneh!" dia menatapku dalam. Menarik kursi agak menjauh dari tempat tidurnya lalu duduk.


"Kamar rawat?" ku balas anggukan.


"Kok besar? kelas berapa?" tanyanya dengan dahi berkerut.


"VIP." dia langsung melotot kaget.


"Aku mikirnya kamu butuh tempat yang nyaman dan tenang biar bisa istirahat dengan baik. Jadi nanti besok yang nungguin kamu juga bisa istirahat itu disofa." sambil nunjuk sofa dipojokan ruangan. Ketika menoleh ke arahnya,tatapannya kosong.


"Insya Allah aku yang bayar biayanya ." aku melongo saat dia bergerak membelakangi ku.


"Sayang uangnya..." suaranya terdengar pelan seperti berbisik. Ada apa lagi dengannya? Jika perempuan lain pasti jingkrak-jingkrak senang dibiayai nginep dikelas VIP serasa tinggal dihotel ini malah sedih. Aku hanya bisa menarik napas. Dia memang berbeda.


"Aku jadi banyak berhutang budi sama kakak,kita kan bukan sodara apa kata keluarga kak Yahya tentang aku...perempuan matre." eh ke situ pula mikirnya.


"Mikir apa sih? sama saja kamu suuzon sama keluarga ku." kesal juga ngedengernya tapi harus ditahan. Kondisinya memang gak bagus jadi bawaannya uring-uringan karena perempuan kan mikirnya pakai hati jadi gampang baper.


"Bukannya sesama umat Islam itu bersaudara dan memiliki kewajiban saling membantu." ucapku memunculkan bahasan agama biar lebih bisa diterima.


"Tapi ini berlebihan." lagi-lagi narik napas ngedengernya.


"Ya sudah anggap saja pinjaman nanti bisa kamu kembalikan kalau sudah punya uang." ini jalan terbaik agar dia gak kepikiran lagi dan bisa tenang. Namun dugaan ku salah,tubuhnya berguncang. Apakah dia menangis?


"Dek..." aku bangkit berdiri lalu berjalan mendekatinya. Ku telengkan kepala mengintip mukanya. Ah rupanya dia benar-benar menangis sambil gigit ujung bantal.

__ADS_1


"Menangis lah kalau itu bisa bikin kamu tenang!" akhirnya dia gak menahannya lagi,terdengar tangisan pelan dan terdengar memilukan seakan ia mengeluarkan isi hatinya lewat sebuah tangisan. Aku jadi bingung harus gimana? ini pertama kalinya aku denger perempuan nangis


"Akku thahu akku syalaah,bukhan maksudkhu seperti ithu..." ucapnya tersengal.


"Aaakhuu enggak thahu gimana tiba-tiba...akhu punya fira sat buruk tentang gha dis itu..."


"Aaaa ku merasa ber salah kare na suuzon sama o rang merasa ber salah sama kak Dani dan seka rang kak Dani gak mau ngurusin aaaku...hwaaaaa..." ucapnya disela isakan. Tanganku spontan terulur mengelus lengannya mencoba menenangkannya.


"Kata siapa mas Dani gak mau ngurusin kamu? mungkin dia punya kesulitan sendiri...bisa jadi kan?" ucapku menghiburnya tapi tiba-tiba dia balik badan,aku tersentak kaget. Bokong yang hanya nempel separo gak bisa untuk bertahan menjaga keseimbangan.


"Ah..." akhirnya bokongku menghantam kerasnya lantai.


"Aduh...sakit!" keluhku sambil mengelus bokong.


"Ya Allah...maafin aku!" Dia sudah bangun dari tempat tidur sambil menurunkan kedua kakinya.


"Jangan!" ucapku panik takut dia jatuh.


"Aku baik-baik saja!" aku bergegas bangkit berdiri.


"Maaf...mana yang sakit?" saking paniknya,tangannya bergerak ingin meringankan sakit ditubuh ku sayangnya mana mungkin ku izinkan,daerah terlarang bahaya jika dipegang bisa-bisa menggerakkan yang lain. Kami hanya berdua,orang ketiganya pasti setan. Aku spontan agak menjauh darinya tapi justru dia ingin semakin dekat melupakan kondisinya yang masih sakit. Melupakan tangannya yang dipasang infus. Lepas kontrol,melihatnya bergerak kuat,kantong infus ikut tertarik.


"Jangan bergerak!" ucapku keras sambil melihat ke arah kantong infus dan dia kaget. Mukanya sudah menyek-menyek kembali ingin menangis. Aku menghela napas, Dia sensitif sekali. Aku langsung mendekat tanpa sadar memegang pundaknya sambil menatapnya yang sedang menunduk sedih.


"Maaf...itu tadi aku panik,kantong infusnya ketarik hampir jatuh jadi aku gak sadar......" dia memelukku erat,melanggar batasannya sendiri. Menyembunyikan mukanya didadaku hingga membuat jantungku berdebar kencang. Tubuhku membeku ditempat. Rasanya panas dingin dibuatnya.


"Hiks...hiks..."


"Hiks...hiks..."


"Kali ini aku yang melanggar batasanku jadi maaf...!" ucapnya lirih dan aku gak bisa berkata apa-apa,lidahku terasa kelu.


Tangisannya mereda tapi dia malah ndusel-ndusel mengusapkan mukanya didadaku. Bisa dipastikan jaket bagian dada depan basah airmata campur ingusnya.


"Kenapa disini jantung jedag jedugnya kenceng? kakak sakit?" tanyanya sambil mendongak melihat mukaku dan ini gak bisa diteruskan atau akan terjadi hal yang gak diinginkan. Imanku gak sekuat perasaanku padanya. Aku gak kuat sama godaan setan,satu-satunya cara adalah memalingkan muka.


"Dek...kalian!" kakaknya Mita datang melihat posisi kami yang intim.

__ADS_1


__ADS_2