
Sore ini Mita tampak sangat bersemangat. Dia terpikir untuk pergi jalan-jalan layaknya gadis seumurannya yang mengisi waktu luang dengan nge mall tapi kemudian agak ragu mengingat dia yang hanya bisa pergi sendiri. Mana seru jalan-jalan sendiri. Teman perempuan satu-satunya adalah Ita dan ia yakin Ita tidak bisa diajak seru-seruan mengingat kondisinya yang mungkin sedang hamil besar atau malah sudah melahirkan dan apa kabar dia? Sudah lama tidak pernah memberi kabar dan dia sendiri terlupa menanyakan kabar sahabatnya itu,apakah keadaannya baik? Rupanya ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
"Sebaiknya aku menanyakan kabarnya?"
"Teman macam apa aku sampai melupakan keadaannya?" mengeluhkan diri sendiri sambil mengirimkan pesan pada Ita yang langsung dibalas dengan mengirim foto bayi mungil yang sedang terlelap.
"Masya Allah..." pekiknya dengan mata membulat terkejut sekaligus takjub dengan apa yang dilihatnya. Keponakannya sudah lahir dan dia tidak diberi tahu
"Ya Allah...maaf aku baru inget sama kamu pas mau jalan-jalan pengennya seru-seruan sama kamu..."
"Makanya sekarang aku langsung nanya kabar kamu eh gak tahunya dikasih surprise dengan munculnya bayi kecil yang imut dan ngegemesin."
"Terus kamu kenapa gak ngabarin?"
"Muncul...lahir kali dan aku yang ngelahirin dengan mempertaruhkan nyawa." Mita mencebik campur tersenyum,bisa membayangkan betapa sombongnya dia,merasa bangga dengan pencapaiannya.
"Ikhlas gak sih ngelahirin anak sendiri?" tanya Mita mengejek.
"Ya ikhlas dong."
"Ikhlas kok diomongin." Mita sambil terus mengetik dan tertawa-tawa sendiri,senang hatinya bisa mengganggu sahabatnya seperti kebiasaan pas masih SMA. Ita mengirim pesan dengan emot marah.
"Ih ngambekan udah jadi ibu itu...harus belajar ngasih contoh yang baik buat anak."
"Cewe apa cowo nih?"
"Cewe..." ia terhenyak kembali teringat tentang kisah Ita yang hamil duluan,merasa kasihan pada si anak yang tidak punya nasab nanti pas nikah walinya bukan ayahnya melainkan hakim. Begini akhirnya jika hanya mengikuti hawa nafsu bukan hanya diri sendiri dan keluarga yang menanggung akibatnya tapi juga pada si bayi yang tidak berdosa. Tidak hanya itu,si anak juga akan mengalami serangan mental dianggap sebagai anak haram.
Orang yang dikendalikan oleh keinginan kuat sebenarnya sedang dikuasai hawa nafsu,diingatkan tentang baik dan buruk, marah kerena menganggap dirinya benar akhirnya ngeyel sampai mengatakan ini hidup ku,aku yang menjalani dan aku yakin akan bahagia. Begitu merasakan akibatnya baru menyesal tapi ada pula yang protes menyalahkan takdir adeeh...
"Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Ita dan bayinya......bismillahirrohmanirrohiim berangkat..." melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Tidak ada salahnya menghibur diri sendiri sebelum statusnya berubah menjadi istri karena setelah menjadi istri tentu saja rasanya akan berbeda. Akan ada banyak hal yang harus ia perhatikan,terutama menjaga perasaan pasangannya kelak dan tidak akan sebebas sekarang nantinya setiap keluar dia harus seizin suami.
"Berapa pak?" tanyanya setelah memarkirkan motornya ditempat parkir
__ADS_1
"Dua ribu mbak." demi keamanan kendaraannya tentu saja harus membayar ongkos parkir untuk jasa yang diberikan petugas parkir lalu pergi dengan menganggukkan kepala sebagai rasa hormat.
Sudah lama rasanya ia tidak nge mall,rasanya senang. Pertama yang ia lakukan adalah berkeliling sambil melihat-lihat. Setelah puas berkeliling ia merasa haus dan membeli minuman.
Tujuan pertamanya sudah selesai yaitu jalan-jalan. Tujuan keduanya adalah membeli kado untuk anaknya Ita.
Masuk ke toko peralatan bayi,ia terdiam dipintu masuk sambil berpikir mau membelikan kado apa sampai seorang pegawai perempuan menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.
"Itu mbak,saya mau beli kado buat bayi kira-kira cocoknya dibelikan apa ya?"
"Baru lahir?"
"Iya..."
"Baju bayi mungkin mari ikuti saya." pegawai itu membawanya menuju rak baju bayi mulai dari baru lahir,usia satu sampai enam bulan. Lagi-lagi dia kebingungan soalnya belum berpengalaman.
Melihat kebingungan Mita,si mbak pegawai langsung paham dan menawarkan yang lain.
"Peralatan makan bayi..."
"Peralatan mandi bayi..."
"Kaos kaki dan sepatu bayi..."
"Atau handuk bayi..." berbagai pilihan disebutkan membuat Mita semakin bingung dengan banyaknya pilihan.
"Hehehe...saya jadi makin bingung mbak." ucap Mita sambil tersenyum pasrah dan Si mbak tersenyum.
"Belikan sesuatu yang bisa dipakai dalam waktu lama..." benar juga,Mita merasakan si mbak sangat berpengalaman.
"Wah mbak kayanya berpengalaman...sudah punya anak? Eh maaf saya jadi lancang menanyakan hal yang pribadi...hehehe..." Mita tersenyum canggung dan si mbak hanya tersenyum lalu mengangguk...Mita spontan membulatkan mata,tampak terkejut. Melihat penampilan si mbak yang masih langsing dan seperti anak gadis,Mita tidak percaya itu.
"Serius nih mbak?" tanya Mita sambil berkedip lucu membuat si mbak kembali tersenyum sambil mengangguk yakin. Matanya langsung membulat,masih belum percaya. Dipikiran Mita si mbak,perempuan yang lembut dan sangat sopan,nilai plus lain cantik dengan kulit mulus terlihat sangat menjaga penampilan widiiih seperti apa yah suaminya mungkin tidak kalah keren...bisa jadi punya jabatan,pikirnya.
__ADS_1
"Sesuatu yang bisa dipakai dalam waktu lama ya..." gumamnya seraya berpikir keras.
"Handuk bayi...tapi mungkin sudah punya kan biasanya nyiapin sebelum lahir,pas lahir langsung dipakai."
"Peralatan mandinya..."
"Biasanya berbentuk paket lengkap ada sampo,sabun,bedak..." jawab si mbak tapi Mita terpikir yang lain.
"Ah kayanya peralatan makan yah bisa jadi belum terbeli kan make nya nunggu beberapa bulan lagi,iya kan mbak..."
"Iya..." dan akhirnya sudah membeli sekalian minta dibungkus kado. Sambil menunggu Mita berkeliling. Matanya dimanjakan dengan banyaknya barang bayi yang lucu dan menggemaskan terutama buat anak cewe.
"Mita..." dahinya berkerut mendengar namanya disebut tapi dia tidak berani menoleh takutnya bukan dia yang dipanggil bisa saja orang lain,nama Mita kan banyak,pikirnya.
"Hei...Mita..." kembali mendengar seseorang memanggilnya,kali ini terdengar dekat dengannya. Terpaksa menoleh ke samping kanan dan terkejut melihat kehadiran Adnan dengan menggendong anaknya yang sedang menatap Mita tanpa kedip. Mita bingung harus bereaksi seperti apa,sudah lama tidak bertemu apalagi teringat dulu pernah menolak lamarannya,terasa canggung.
"Apa kabar?" bertanya kabar untuk mengalihkan perasaan canggung.
"Ah...baik" jawab Mita sambil tersenyum,terasa aneh baginya dan yang semakin membuatnya tidak nyaman adalah tatapan Adnan padanya,lekat dan penuh arti hingga sebuah suara seorang perempuan mampu mengalihkan perhatian Adnan padanya,ia merasa lega.
"Aku sudah selesai...." rasanya ia ingin kabur saat itu juga kalau bukan karena perempuan itu bertanya tentangnya...
"Ini siapa?" tanyanya dengan dahi berkerut karena merasa belum pernah mengenal ataupun melihat tapi mantan suaminya tampak akrab.
"Dia...adiknya temen kerja aku." Mita merasa lega karena Adnan memilih berkata jujur dengan tidak mengatakan kebenaran lain.
"Dia Mita adiknya Dani..."
"Dan Mita dia ibu dari anakku..." dengan senang hati Mita mengajak berkenalan dengan berjabat tangan sambil menyebutkan nama...
"Mita..."
"Denia..." saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing dengan tersenyum simpul. Setelahnya Mita bingung harus bagaimana lagi,terasa kehabisan kata-kata mau bicara pun takut terdengar konyol. Untunglah pegawai perempuan yang melayani dia tadi mendekatinya lalu mengatakan barang yang ia beli sudah siap.
"Ah maaf aku harus pergi...aku pamit assalamu alaikum......dadah adek..." pamitnya sambil dada dada...dan melesat pergi.
__ADS_1