Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 57 Perang badar


__ADS_3

"Oh...mau ke sini?"


"Iya...iya insya Allah saya siapkan sekarang."


"Iya Bu......walaikum salam." ucapnya sambil menutup telpon lalu menghela napas panjang.


"Mau sholat Dhuha sampe belum sempet padahal dari jam tujuh tadi sudah wudhu,jam berapa ini?" gumamnya sambil menengok jam dinding ditembok ruang tamu.


"Ya Allah jam sembilan...ini gimana udah batal belum ya wudhu ku?" mukanya menengadah ke langit sambil mengingat-ingat tapi malah melamun baru sadar saat ponselnya berbunyi,dia buru-buru mengambil wudhu lagi mengacuhkan ponselnya yang terus berbunyi.


Berulang kali berusaha fokus hanya mengingat Allah tetap saja setiap kali ponselnya berbunyi antara telepon dan pesan masuk pikirannya selalu pecah antara bingung dan panik.


Setelah salam akhirnya ia bisa bernapas lega walaupun hanya dua rakaat bisa membuat hatinya tenang.


"Dek...." ketukan dipintu kamar mengagetkannya,terdengar suara Dani memanggilnya. Yang harusnya diniatkan berzikir dan berdoa kembali tertunda.


"Iya...." jawabnya sambil berjalan cepat menuju pintu.


"Itu mas Yahya nelpon ke hp ku katanya kirim pesan gak kamu bales ditelpon juga gak kamu angkat." begitu pintu dibuka Dani langsung nyerocos.


"Sudah selesai sholat kan? katanya penting kamu hubungi balik gih!"


"Tuh...didepan juga ada orang lihat kembang!" sambung Dani lalu balik badan.


"Tunggu kak bisa tolong urus yang didepan dulu!" pintanya dengan suara memelas Dani membalas dengan anggukan masih membelakanginya.


"Makasih kak!" ucapnya sambil tersenyum lalu bergegas melepas mukena dan digantung asal. Resiko orang sibuk kamar yang dulunya rapi jadi terbengkalai. Ia menatap nanar kondisi kamarnya yang seperti kapal pecah sambil menggelengkan kepala.


"Harus cari orang buat ngurus rumah ini,aku gak sanggup kalau harus ngurus rumah juga lha gimana baru pegang sapu ada telpon jadi lupa semuanya." keluhnya lalu berjalan sambil mengecek hp.


"Assalamu alaikum....!"


"Ada apa?"


"Maaf aku belum sempet buka pesan kamu kak baru selesai sholat."


"Ayam untuk dipanggang coba ku cek dulu nanti aku kabari lagi." dia langsung putar arah ke belakang rumah.


"Gak usah ditutup?" tidak mau banyak tanyak lalu menjauhkan hpnya langsung bertanya pada salah satu pekerjanya pak Bowo yang kebetulan dekat dengannya.


"Pak Bowo ayam untuk dipanggang masih ada gak?"


"Bentar neng.....pak Darman ayam untuk dipanggang masih ada gak?" teriak pak Bowo kepada pak Darman yang berada didalam kandang sehingga bisa terdengar diseberang yang langsung mengetik pesan pada pembeli.


"Jantan apa betina?" teriak pak Darman.


"Jantan apa betina neng?"


"Jantan apa betina?"


Katanya 'aku sudah dengar jangan diulangi kaya lagi kuis komunikata aja' terdengar kekehan diujung kalimat membuat Mita tersenyum kecut.


"Campur pak...." teriak Mita. Benar juga sampai tidak sadar suka ngomong berulang-ulang. Mita menggelengkan kepala.


"Masih 25 neng." teriak pak Darman agar langsung terdengar.


"Tolong diurus pak"


"Siap neng!"

__ADS_1


"Ini ayamnya udah diurus tinggal ambil mau jam berapa?"


"Satu jam lagi...insya Allah....ya walaikum salam."


Bagi yang tidak paham pasti bingung ngomong ayam tapi sambungannya campur. Apanya yang campur?


"Dek...ini aku gak ngerti harganya." Dirumah belum ada setengah hari Dani ikutan riweh.


"Iya ayok belajar biar nanti selesai lulus kuliah terjun langsung ngurusin tanaman hias...capek aku kak harus ada yang bantuin!" Dani mendengus.


"Gak mau..." tolaknya sambil melengos kesal.


"Kenapa?"


"Mending aku ngelamar kerja dikantor daripada ngadepin ibu-ibu centil didepan nih dagu sampe lecek dijawil sama mereka." balasnya sewot. Mendengarnya Mita ingin tertawa tapi ditahan bisa-bisa ngambek tujuh turunan.


"Aku bantuin dibelakang aja!" pamitnya langsung ditahan sama Mita dengan muka heran.


"Bentar....tumben dirumah gak kuliah." Dani tersenyum lebar.


"Udah lulus dong!" ucapnya bangga.


"Alhamdulillah....gak boleh sombong gitu kak keberhasilan kakak itu dari Allah bukan semata dari usaha kakak sendiri."


"Iya Alhamdulillah deh." Mita hanya bisa menarik napas panjang menghadapi kelakuan kakaknya yang suka meremehkan saat diingatkan. Urusan membuka pintu hati itu urusan Allah sedangkan urusannya adalah membuka pintu surga......aamiin.


Halaman rumah dipenuhi ibu-ibu cetar membahana dengan pakaian ketat nan modis,dandanan menor dan pakai kacamata pula. Serasa jadi tempat rekreasi ini rumah pikirnya.


"Assalamu alaikum ibu-ibu cantik...." sapanya ceria.


"Waalaikum salam..." balasnya serentak dengan muka dingin sambil menoleh ke arahnya.....menakutkan.


"Maaf...maaf...tadi ada yang mau beli ayam soalnya."


"Maaf ya ibu-ibu yang cantik mari silahkan duduk dulu biar gak capek mau ya diambilin minum...ini juga kasihan ibunya yang lagi hamil sini Bu duduk yang nyaman!" ucapnya ramah. Dia sengaja menyediakan beberapa kursi panjang untuk pengunjung yang ingin melihat ataupun membeli tanaman hias.


"Mbaknya ngehina saya...siapa yang hamil?" ibunya langsung nyolot sambil melotot membuat Mita takut.


"Hahaha..." semuanya tertawa.


"Makanya olahraga dong biar punya bodi goal kaya aku!" Mita melongo.


"Iya jangan salahin mbaknya emang perut jeng aja kelihatan kaya lagi hamil hahaha..." ini kok jadi saling menghina dan mengejek. Mita jadi bingung sama sikap ibu-ibu itu bukannya saling menghormati malah saling merendahkan. Jika seorang ibu yang harusnya bisa memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya bersikap begini lalu akan seperti apa garis keturunannya nanti pikirnya sambil menggelengkan kepala.


"Maaf ya Bu saya bener-bener gak tahu bukan niat saya menghina ibu...maaf ya Bu!" ucapnya dengan tulus.


"Dimaafin dong jeng mbaknya sudah minta maaf jarang lho anak muda mau minta maaf!"


"Iya saya maafin!" jawab beliau dengan ketus.


Mita semakin bingung melihat interaksi diantara mereka. Berteman tapi kok saling menghina,saling mengejek,saling menjatuhkan lalu atas dasar apa menjalin pertemanan?


"Bagaimana ibu-ibu mau melihat-lihat bunga atau gimana ini?" Mita berbasa-basi untuk menghilangkan ketegangan diantara mereka setelah saling menjatuhkan hingga lupa memberikan minum.


"Melihat-lihat? sorry ya mbak saya pasti beli secara buat apa coba uang dibrangkas kalau bukan buat memanjakan diri!" eh...malah seperti menyulut emosi,Mita jadi pusing kenapa setiap ucapannya selalu disalah artikan hingga membuat emosi orang.


"Alah sok-sokan pamer uang dibrangkas jangan-jangan dibrangkas bank ya!"


"Iya...mana buktinya punya uang diajak senam rame-rame aja gak mau...huh..."

__ADS_1


"Eh...jangan sembarangan kalau ngomong mau digrauk itu muka ayo sini!"


"Iya mentang-mentang suaminya anggota DPR."


"Ibu-ibu tolong jangan jangan bertengkar!"


"Minggir kamu jangan ikut campur!" ada yang mendorongnya keluar dari arena peperangan.


Mita deg-degan sampai mengeluarkan keringat dingin melihat adu mulut terus berlanjut takut terjadi perang badar.


"Mita ada apa ini?" terdengar suara disampingnya dan saat menoleh adalah Bu Indah.


"Bu ini gimana?" Tapi Bu Indah juga bingung.


"Ibu panggil pak RT ya!" Mita mengangguk dan langsung mengirim pesan ke Dani.


Mita semakin panik melihat ibu-ibu itu sudah membusungkan dada saling menantang siap berperang.


"Kak buruan ke depan bawa pak Darman sama pak Bowo ada yang berantem!" bersyukur centang biru artinya Dani membawa hp.


"Ibu-ibu tolong tenang ya jangan ribut malu dilihat orang!" ucapnya berusaha melerai namun kembali didorong dan hampir jatuh.


"Kak Dani,pak Darman,pak tolong pisah mereka!" mereka muncul dengan tergopoh-gopoh.


"Ayo buruan dipisah malah bengong!" ucapnya tak sabar melihat ketiga pria hanya menyaksikan sambil melonggo.


Saat mencoba melerai Dani terpental duluan karena tersenggol pantat besar dari salah satunya.


"Kakak ih gimana sih keok duluan ah..." ucapnya kesal.


"Kamu seenaknya mereka gede-gede gitu!" jawabnya sambil mendengus sebal.


Pak Darman dan pak Bowo masih bertahan namun terbawa arus dengan posisi ditengah diseret oleh ibu-ibu itu.


Mita terhenyak dengan mata melotot kaget melihat Pak Darman dan pak Bowo yang niatnya melerai malah digebuki sama ibu-ibu itu sambil berteriak kesakitan dan meminta tolong. Dani menjadi saksi bisu bukannya menolong dia malah diam sambil melongo.


"Kakak...gimana sih malah diem aja bantuin mereka!" Mita yang panik mendorong punggung kakaknya agar membantu pak Darman dan pak Bowo.


"Gak..." Dani menggeleng kuat.


"Tapi nanti mereka babak belur!"


"Aku takut mereka kejam dan anarkis lihat pak Bowo sama pak Darman ditonjok habis-habisan....esesss" tunjuk Dani sambil mendesis seakan ikut merasakan sakit.


"Penakut!"


Mita mencoba meminta bantuan pada orang sekitar yang sedang menonton juga sama menolak.


Matanya tidak sengaja menangkap beberapa remaja tanggung asik merekam video sambil terkikik geli.


"Ngapain direkam...hapus!" ucapnya sambil melotot tapi tidak digubris. Mita bingung sendiri,ia akhirnya kembali pada peperangan yang jadi pusat perhatian.


"Sudah Bu jangan berantem!" Mita berusaha memisahkan ibu-ibu itu tapi naas dia terdorong ke belakang. Dia pasrah saat merasakan tubuhnya serasa melayang dan bisa dipastikan akan sakit ketika mendarat ditanah sambil merem.


Dia membuka mata saat merasakan tubuhnya ditahan seseorang.


"Gak pa-pa mbak?" dia masih syok dan tersadar.


"Mas tolong pisahin mereka!" ucapnya sambil dibantu berdiri oleh pria itu.

__ADS_1


"BERHENTI!"


__ADS_2