Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 127 Nikah yuk!


__ADS_3

Setelah insiden kemarin hidup Mita kembali tenang,lebih normal,teratur dan santai. Bangun pagi masak dan bersih-bersih. Sebelum mulai merawat tanaman ia menyempatkan diri untuk sholat taubat. Dia ingat sebagai manusia tentu tidak lepas dari salah dan dosa entah dari cara berpikir atau dari hati yang paling dominan,tiba-tiba sedih,kecewa,marah,ini yang paling gampang yaitu perasaan jengkel pada sikap seseorang yang menurutnya tidak baik terus muncul ke permukaan lewat ekspresi dan ucapan jutek.


Usai sholat taubat lanjut sholat Dhuha dilanjut lagi memohon ampun dan terakhir mengaji tujuannya mengharap ridho Allah SWT dan supaya bisa menjadi amal ibadah yang akan dibawa ke akhirat kelak. Itu kalau bisa menahan diri untuk tidak menceritakan pada orang lain. Terus tidak ada pikiran kalau ibadah diri sendiri lebih baik dari orang lain. Terus tidak ada niatan untuk menunjukkan pada orang lain bahwa diri sendiri baik. Manusia sulit menghindari itu semua, kebanyakan merasa bangga,sombong dan pamer kalau sudah punya kelebihan apapun itu apalagi kalau sudah kaya beuh....lagaknya kaya mau menembus langit ke tujuh,orang lain dibawahnya mah kaya semut yang siap diinjak saat dilewatinya yuk istighfar....setan selalu mencari celah untuk menghasut manusia untuk melanggar syariat agama jadi memang harus waspada dan hati-hati. Bahkan yang sholatnya bagus,mengajinya bagus masih suka bablas contohnya nih mengaji biar dipuji orang lain Sholeh atau Sholehah.


Mita menyempatkan diri melihat dakwah favoritnya diyutub karena beberapa hari ini pikirannya semrawut akibat urusan dunia yang tidak kelar-kelar dan sekarang dia ingin kembali membangun keimanannya yang terasa mulai rapuh,kerasa dari cara berpikirnya yang mulai grusa grusu,perasaannya juga yang gampang ingin marah karena sesuatu hal. Jika ini diteruskan maka akan jadi tumpukan dosa yang lebih banyak lagi.


"Kak....darimana?" tanya Irham saat melihat Mita.


"Dari dalam." jawabnya singkat langsung ikut membungkus buah jambu kristal supaya aman dari gangguan ulat buah.


"Habis teleponan sama bang Yahya?" tanya Irham kepo,Mita hanya tersenyum.


"Ya elah mentang-mentang mau nikah sudah asik berdua...." goda Irham,Mita menghela napas seraya mengucap istighfar dalam hati. Menahan diri untuk tidak banyak bicara dan menata perasaan supaya lebih ikhlas menerima ucapan tidak mengenakkan dari Irham. Mengalihkan fokus pada aktifitasnya saat ini.


"Sudah sarapan belum?" tanya Mita akhirnya,dia ingat belum mempersilahkan anak buahnya makan. Irham menggeleng lemah. Mita tersenyum,pantas saja pikirnya. Orang dengan perut kosong suka ngawur bicaranya.


"Ajak yang lain sarapan!" perintahnya tanpa mengalihkan fokus pada tanaman.


"Ok!" jawabnya semangat langsung melesat pergi,Mita menggelengkan kepala.


Mita kembali memantapkan hati melewati ujian berikutnya seperti kata pak ustad bahwa setiap detiknya adalah ujian.


Menggumam memuji Allah SWT cara agar hati dan pikirannya lebih tenang hingga tiba-tiba ada seseorang yang menyapa....


"Selamat pagi!"


"Selamat pagi juga...." agak ragu mau jawab pakai salam takutnya bukan orang muslim meskipun orang muslim pun biasanya juga tidak mengucap salam.


Seorang pemuda dengan senyum menawan,tatapan teduh yang hangat mendekatinya,sejenak ia terpukau tapi langsung sadar dan mengucap istighfar pelan seperti berbisik.


"Yah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Tetangga baru yah....katanya jual tanaman hias makanya saya ke sini mau lihat-lihat siapa tahu ada yang cocok." Mita berusaha berpikir positif dan mempersilahkan pelanggan pertamanya hari ini untuk melihat-lihat.


"Maaf....saya sambil mengerjakan yang lain nanti kalau berminat bisa tanya sama saya kebetulan pegawai saya masih sarapan." jelasnya sambil mengangguk hormat.

__ADS_1


Mita tersenyum penuh syukur dilimpahi buah jambu kristal yang lebat,ia berdoa semoga diberi kelancaran sampai panen nanti dan semoga juga berkah bagi kehidupannya....aamiin.


Sudah selesai dan tidak ada tanda-tanda orang tadi berminat atau ingin pergi dan dia kepergok memperhatikan Mita dari jauh.


"Oh ya Allah." pikir Mita sambil menarik napas. Dia kepikiran pakai masker atau bagaimana supaya orang bisa lebih menghargainya dengan tidak mencuri pandang seperti itu. Mita berpikir,semua tetangganya sudah tahu kalau dia sudah punya calon tapi tetap saja ada yang mengganggunya setiap kali dia keluar atau bertemu tetangga lelaki.


"Apa sebaiknya aku segera menikah saja?" pikirnya,daripada terus begini. Lama-lama dia risih dan merasa terganggu.


"Kak aku selesai buruan sarapan nanti pingsan lagi....bang Yahya pasti bingung." anak ini selalu saja,pikirnya tapi dia terselamatkan,ada alasan untuk menghindar dengan tetap meninggalkan kesan sopan.


"Tolong yah Ham dilayani pelanggan pertama kita hari ini!"


"Siap."


Dititipkan rupa yang cakep,bukan alasan seseorang bisa tampil percaya diri dan berbangga diri didepan orang lain yang sedang menatap kagum justru malulah jika ada lawan jenis yang melirik atau melihat dengan tatapan penuh nafsu....bukannya itu memalukan,merasa tidak dihargai kan???


Ada batasan dalam setiap hal. Memandang lah atas dasar sopan santun. Bicaralah dengan kata yang baik dan tidak menyinggung. Menjaga silaturahmi supaya tetap rukun dan damai,bukankah begitu seharusnya berinteraksi dengan sesama???


**********************************************


"Ada apa?" Mita meletakkan kepalanya diatas meja dengan lesu.


"Aku risih sama laki-laki disini." ada yang mau curhat,Yahya masih ingin tahu lebih jauh jadi dia diam mendengarkan saja dulu.


"Tiap keluar ada aja yang godain,aku gak nyaman."


"Katanya mau lihat tanaman hias tapi malah ngelihatin aku....aku gak suka....."


"Parahnya yang beristri pun gangguin adduuhh....aku kan takut dikira godain suami orang." keluhnya dengan frustasi.


"Kemarin-kemarin sudah ada yang nyindir pas belanja sayur....aku malu." ucapnya sedih.


"Masak bilangnya begini....hati-hati yah ibu-ibu jagain suaminya takut kesengsem sama cewe lain." ceritanya dengan berapi-api dan marah.


"Esoknya aku pake masker biar gak digangguin lagi secara gak lihat muka aku kan dan nyampe diwarung sayur lagi-lagi aku ditegur....eh mbak yang sopan dong belanja pake masker emangnya kami pembawa virus takut ketularan gitu....ya Allah serba salah akunya....." ucapnya sambil cemberut,Yahya menatapnya prihatin.

__ADS_1


"Terus gimana dong....masak aku gak belanja mau makan apa?" mukanya tampak murung.


"Aku gak pernah ada niatan kaya gitu."


"Nikah aja yuk....aku gak sanggup kaya gini."


"Yah setidaknya saat kita menikah laki-laki di sini ngerasa sungkan sama kamu mas sebagai suami aku...." ini yang Yahya tidak suka,serasa dijadikan tameng.


"Kenapa aku ngerasa nikah bukan karena ibadah ini?" dia tampak terkejut dan serba salah.


"Maaf...." kepalanya tertunduk.


"Coba deh niatnya diperbaiki....aku maklum kalau kita menikah untuk menghindari fitnah orang tapi jangan dijadikan alasan utama untuk menikah."


"Terus ingat sama ucapan kamu yang belum siap jadi istri sepenuhnya....apa sekarang sudah siap?" Mita tampak berpikir keras.


"Dipikir lagi itu!"


"Jangan sampe nanti sudah nikah kamu gak mau aku sentuh....aku masih laki-laki normal." Yahya menegaskan dengan serius.


"Dan sudah kewajiban kamu sebagai seorang istri nanti." sambungnya lebih tegas.


"Tidak ada yang mudah untuk bisa meraih surga. Menjalankan kewajiban masing-masing salah satu kuncinya seperti sholat sebuah kewajiban manusia pada Tuhannya nanti me****** suami adalah kewajiban istri."


"Kamu paham!" Mita mengangguk-angguk.


"Ya sudah....aku kasih waktu,yakinkan dirimu dulu sholat istiqoroh baru kasih tahu aku."


"Perjalanannya nanti tidak akan mudah jadi pikirkan...."


"Kalau kamu sudah siap insya Allah akan aku urus semuanya." Mita kembali mengangguk-angguk.


"Istirahatlah!" ucap Yahya lembut,serasa diusap sayang puncak kepalanya meninggalkan rasa hangat.


Malam itu diakhiri dengan tekad bahwa nanti malam dia akan mengerjakan sholat istiqoroh meminta petunjuk pada Allah SWT untuk keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2