
Mita POV
Tangisku langsung pecah,ternyata kak Dani merealisasikan ucapannya beberapa waktu lalu. Sepertinya aku meremehkan kegigihannya. Mikirnya dia tidak akan bisa menggadaikan tanpa persetujuan aku,mengingat sertifikat masih atas nama almarhum bapak jadi kemungkinan besar kalaupun di ACC harus dipindah nama kepemilikan dulu. Itupun harus ada tanda tanganku sebagai salah satu ahli waris namun rupanya dia selangkah didepanku. Kepikiran untuk menggadaikan sama kak Yahya tapi bagaimana dia bisa tahu kak Yahya anak orang kaya hingga berani meminjam lima puluh juta sedangkan aku tidak memberitahu apapun tentang kak Yahya. Ah...aku lupa kak Yahya sempat membawa mobilnya ke rumah beberapa kali jadi siapapun bisa dengan jelas melihat jika kak Yahya anak orang kaya. Dugaan kedua,dia pasti menyimpan nomer hp kak Yahya mungkin semula ingin meminjam sepuluh juta dan setelah melihat kak Yahya yang memiliki restoran sendiri jadi mengajukan pinjaman sebanyak itu. Aku merasa kalah telak. Yang ku pikirkan sekarang,buat apa uang sebanyak itu sedangkan bilangnya ke aku cuma butuh sepuluh juta? Sepenting itukah urusannya hingga tega menggadaikan sertifikat rumah? Banyak pertanyaan di kepalaku tapi ku simpan dahulu. Untuk saat ini aku hanya ingin menangis agar tenang perasaan aku.
"Dek...diskip dulu nangisnya ayo ikut aku kita cari tempat yang nyaman biar kamu nangisnya juga enak gak ketahan kaya gitu. Ngeri aku dengernya kurang lepas begitu." dia pikir nyanyi kurang lepas. Aku sedang sedih,tahu tidak sih kok ngomongnya begitu? Lagipula mana ada sedang sedih terus nangis dan disuruh skip memangnya video,kesel aku.
"Bukannya aku gak peduli sama kesedihan kamu tapi lihat orang-orang memperhatikan kita ntar dikiranya aku ngapa-ngapain kamu lagi." sambungnya dengan muka bersalah. Dititik ini aku pengen ketawa melihat ekspresinya antara tidak tega sama aku tapi juga malu. Aku jadi kasihan. Ku hapus airmata yang menggenang dipelupuk mata agar penglihatan ku lebih jelas. Melihat ke sekitar barulah ku sadari,ternyata meja penuh dengan orang-orang yang ingin makan dan tatapan mereka ke arahku seperti ingin tahu apa yang terjadi padaku hingga aku menangis lalu menatap sinis ke arah kak Yahya seakan mengatakan 'kamu apakan gadis didepanmu sampai nangis gitu?' Aku jadi malu sendiri. Kalaulah mereka tahu siapa orang yang berada di hadapanku pastilah tidak akan bersikap seperti itu. Akhirnya ku sudahi acara menangis,malu dilihat orang,takut timbul fitnah yang lain.
Aku beranjak duluan dengan kepala menunduk. Ditengah perjalanan aku kebingungan mau ke mana? Aku kan tidak hapal dengan restoran kak Yahya. Ya Allah malunya terpaksa berhenti ditengah jalan lalu balik badan tapi kok yah disambut senyuman tertahannya aaahhh tambah malu.
"Ayo ikuti aku!" dia melewati aku. Aku tahu dia pasti sedang menertawakan sikapku tadi. Yah mau bagaimana lagi,ikuti saja dia.
Jalan tidak fokus,pikiran ke mana-mana. Kepalaku yang menunduk,menabrak punggungnya yang berhenti mendadak.
"Aduuuh...." mengelus kepala yang terasa tidak nyaman akibat tabrakan.
"Maaf aku gak sengaja,sakit?" suaranya terdengar panik dan aku balas dengan gelengan.
"Cuma kaget." terdengar helaan napas leganya.
Langsung tercium aroma masakan yang menggugah selera. Mengangkat kepala,tampak beberapa orang melihatku dengan fokus dan penuh tanya. Aku mengangkat alis tinggi,mereka seperti tidak pernah melihat perempuan saja. Tidak mempedulikan mereka,aku lebih tertarik dengan lingkungan. Mengedarkan pandangan ke sekitar,rupanya dapur direstoran ini. Pantas saja aku mencium aroma masakan.
"Ekheeem...dek mau melanjutkan yang tadi atau mau makan?" aku langsung melengos,dia seperti sedang mengingatkan kejadian tadi. Malu lagi jadinya. Semoga saja mukaku tidak terlihat memalukan.
"Tenang Mita kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri."
Mendadak kesedihan tadi menguap begitu saja dan akhirnya aku menerima tawarannya untuk makan,kebetulan juga aku sedang lapar.
__ADS_1
"Makan." jawabku pendek masih terus berusaha membuang rasa malu yang tersisa.
"Mau apa?"
"Apa saja." sekedar basa basi padahal aku menginginkan sesuatu yang spesial.
"Disini menunya,mie goreng,nasi goreng,kepiting asam manis,udang goreng,udang asam manis,ayam goreng,bebek goreng,tumis pare,tumis kangkung,salad juga ada." pinter deh,dia tahu yang aku mau tapi tetep kontrol senyum walaupun didalam hati jingkrak-jingkrak, jangan sampai ketahuan ngarep banget,memalukan lagi entar.
Masih mikir nih mau makan pake apa? Pengennya sih kepiting asam manis,udang goreng,udang asam manis,bebek goreng sama tumis pare tapi kok malu minta semuanya,kesannya aku perempuan yang memanfaatkan orang lagipula rakus itu namanya,dosa. Yang paling ku inginkan saja yang lain bisalah ke sini kapan-kapan.
"Mau dibuatin semuanya?" kok tahu sih dia sama isi kepalaku langsung ku balas gelengan kepala.
"Aku pengen nyoba kepiting asam manis aja."
"Wah pinter ini mbaknya,kepiting asam manis disini juara." langsung senyum lebar dengan muka tidak sabar. Mimpi apa aku semalam,selama ini belum pernah merasakan dan hanya bisa lihat acara makan-makan ditelevisi. Sekarang Alhamdulillah diberi kesempatan merasakan.
"Minumnya mau apa? Jus?" tawarnya tapi aku kepikiran air putih anget.
"Air putih anget." dahinya tampak berkerut.
"Kenapa air putih anget?" tanyanya penasaran.
"Pengen aja." jawabku asal.
Salah satu koki langsung eksekusi membuat pesanan ku eh tapi aku tertarik melihat cara memasaknya. Saat kak Yahya mengajakku untuk menunggu diruangannya aku menolak,berdiri disamping sambil memperhatikan cara memasak koki itu yang dengan percaya diri memperlihatkan kemampuannya sambil melirikku dengan senyum paling menawan. Ah...aku benar-benar terpesona dengan semua gayanya. Apalagi pas gaya luwesnya meletakkan masakan didalam piring wow amazing,aku sampai melongo.
"Spesial untuk gadis cantik." ucapnya bangga.
__ADS_1
"Jangan macam-macam ingat tunangan,sekali lagi rayu-rayu cewe lain aku laporin!" yang aku pedulikan hanya kepiting asam manis bukan yang lain.
"Makasih buat kokinya semoga jadi amal ibadah yah! Kak Yahya kita mau makan dimana ini." ucapku semangat.
"Diruangan aku aja gimana?" aku mengangguk setuju.
"Gak perlu repot-repot biar saya bawa sendiri." langsung mengambil saat ada yang ingin membawakan. Senyum lalu mengangguk kepada semua orang didapur. Melengang pergi bersama kak Yahya yang menatap ku senang.
Rasanya sungguh luar biasa,Alhamdulillah. Saat aku ajak makan kak Yahya menolak,katanya bosan setiap hari melihat hidangan itu.
"Aku kangen sama telur ceplok buatan kamu." aku tersipu,merasa dispesialkan. Disini menunya enak-enak dia malah kangen sama telur ceplok buatan aku.
"Bisa aja ih kak Yahya. Memang begitu yah selalu aja yang gak biasa dicari. Kalau ada waktu main ke rumah,mau telur ceplok berapapun gratis buat kak Yahya." dia tertawa sambil menggelengkan kepala.
Nasi sudah habis. Mau dihabiskan perutku sudah kenyang dan masih tersisa banyak kepiting asam manisnya.
"Kok gak dihabisin?"
"Kenyang,bungkus aja bawa pulang." jadi ingat emak dirumah. Dibawa pulang biar emak juga bisa merasakan nikmatnya kepiting asam manis ini. Kak Yahya mengangguk.
"Mau dibungkusin yang lain?"
"Gak usah,ini aja cukup." tolakku tegas. Tidak mau terlalu merepotkan orang. Sudah cukup menerima gratisan.
"Gak pa pa,buat emak." dia masih membujukku dengan alasan untuk emak.
"Gak usah,beneran." minum air hangat,memang tidak menyegarkan tapi insya Allah menyehatkan tubuh.
__ADS_1