Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 118 Percakapan ringan


__ADS_3

Yahya POV


Aku mencoba menahan diri untuk tidak mengirim pesan padanya,ingin tahu responnya dan aku akui dia sangat kuat dengan tidak menghubungi aku SAMA SEKALI!!! Kok bisa???


Tapi justru disini aku yang kelimpungan menahan rasa rindu yang menggunung dan apakah disana dia terpikir tentang aku???


Kayanya enggak deh....sedih banget diasinin.


Sebenarnya dia suka gak sih sama aku???


Arg.....pikiran-pikiran ini seperti ingin membunuhku. Kenapa begini sih kaya anak remaja yang lagi bucin-bucinnya.....Harusnya tidak begini diusia aku saat ini!!!


"Kenapa kok kaya yang stress begitu?" tiba-tiba dia muncul seperti dedemit,mengagetkan saja. Dia mengambil posisi duduk mepet-mepet didekatku. Aku hanya meliriknya.


Akhir pekan.....sore ini kak Latifa,kak Hanif dan kedua anaknya menginap dirumah,bukan karena permintaan mama tapi rutinitas setiap bulannya. Mau diambil diawal,ditengah atau diakhir bulan terserah yang penting tujuannya mengunjungi orangtua.


"Yeay.....ditanyain juga malah ngelirik.....gak jelas banget.....huuh....." dia mendengus,sudah jadi ibu dari dua anak tapi masih juga kaya anak gadis,ngomongnya masih asal dan tidak tertata beda jauh sama Mita walaupun kami hanya berdua dia tetap sopan ngomongnya....yah...yah...jadi keinget dia lagi,gimana sih makin rindu akunya.


Dia terus menatapku dengan lekat seakan mencari jawaban diwajahku atas pertanyaannya yang tidak terjawab.


"Galau yah....ahahaha...." tunjuknya ke muka aku sambil mentertawakan kondisiku yang benar sedang galau.


"Merana???"


"Kangeeen....bangeeet....???" dia mengejekku,aku melengos. Mukanya sengaja dibuat terkejut dengan gaya menutup bibir.


"Yaa ampyuun..." tuh kan....punya sodara asem banget,bukannya menghibur malah membuatku kesal.


Daripada mendengarkan keisengannya mending ngamar aja,tidur. Bodo amat sama kebersamaan keluarga sedangkan hatiku merana karena cinta....


"Mau ke mana kamu?" tanyanya jutek karena ku tinggal sendiri dipinggir kolam.


"Mau ke kamar mandi,ikut?" tanyaku sambil tersenyum sinis,balas menjahilinya yang membalas dengan dengusan.


Entah terbuat dari apa hatinya,seorang ibu tapi sifatnya jauh dari kata keibuan masih suka menjahili adik sendiri,tidak ingat umur memang.


Melewati ruang tamu,ada mama,papa,kak Hanif,Maira dan Zidan yang sedang bermain bersama.


"Mau ke mana nak?" harusnya begini kan seorang ibu,bertanya dengan lemah lembut.


Aku bingung nih mau jawab apa? Kalau sama kak Latifa bisa bohong soalnya orangnya nyebelin tapi kalau sama mama aku tidak tega,rasanya seperti membohongi diri sendiri dan bikin sedih.


"Sini....kita duduk bersama." mama menepuk sofa didekatnya dan aku hanya bisa patuh. Aku sangat menghormati mama jadi aku tidak mau mengecewakannya,berjalan pelan menghampiri lalu duduk didekatnya.

__ADS_1


"Mamanya kak Hanif bilang pengen malam mingguan disini tapi capek karena dari pagi bantuin ngepak barang-barang Mita,dia sudah mulai mencicil barang-barang untuk diantar ke sana." ikatan batin antara ibu dan anak ini namanya,tidak banyak tanya,bicaranya biasa saja tapi bikin aku tenang seketika,hilang pikiran-pikiran buruk yang tadi seakan sedang menghasutku untuk emosional.


"Halah.....udah gak pantes kamu kaya gitu,kangen yah telepon pake jual mahal." ini nih yang makin bikin aku ragu,beneran yah dia ibunya Maira sama Zidan,kolokan gitu orangnya.


"Mamanya Maira...." ultimatum mama,rasain dipelototin mama.


"Jaga hati......jaga pikiran......jaga mulut karena mulutmu harimaumu...." aku tidak perlu membela diri karena mama pasti akan menasehati anak-anaknya untuk bersikap yang baik. Ku lihat kak Hanif geleng kepala. Bersyukur kak Hanif orangnya kalem kalau sama-sama brangasan....tidak bisa dibayangkan,bisa-bisa adu jotos tiap hari.


"Mama....." Zidan berlari kecil menghampiri mamanya dengan cemberut.


"Ada apa sayang?" kak Latifa kalau berurusan dengan anaknya berubah kalem layaknya seorang ibu betulan.


"Akak Maila......" tunjuknya ke Maira,mengadulah. Maira langsung berdiri dengan muka marah,tidak terima diadukan pada mamanya.


"Adek Zidan nakal mama.....dia ngerusak mainanku nih kepala Barbie nya pisah dari badannya makanya tidak dipinjami lagi sama kakak." jelasnya lantang dan tegas. Aku jadi teringat mereka yang merebutkan Mita pas akad nikahnya mas Dani,apa bakalan ribut besar lagi???


Kedua anak ini bersitegang,adu kekuatan lewat tatapan matanya yang tajam,setajam pedang. Saat ini kesimpulanku adalah kedua anak ini mirip ibunya,sama-sama tidak mau mengalah dan satu lagi memiliki jiwa pemberani. Heran deh kenapa tidak ada yang kalem kaya bapaknya.


Kak Latifa menatap suaminya seperti memberi isyarat yang langsung ditanggapi dengan baik sama kak Hanif.


Kak Hanif mendekat lalu berjongkok didepan Maira.


"Coba sini ayah lihat!" kak Hanif mengambil boneka itu tanpa adanya penolakan dari Maira dan melihat kondisi kepala Barbie yang terpisah dari badannya.


"Ya Allah kasihan sekali bonekanya...." ekspresinya dibuat sesedih mungkin seakan ikut merasakan sakitnya boneka itu yang kepalanya putus.


"Ah.....Alhamdulillah bisa...." suaranya seperti anak kecil yang kegirangan karena berhasil melakukan sesuatu dan Maira bertepuk tangan dengan senyum lebar.


"Yeay.....Alhamdulillah boneka ku sembuh." Maira memeluk bonekanya dengan sayang. Kini beralih menatap Zidan dengan muka serius.


"Adeek....siniii!" kak Hanif melambaikan tangan ke arah Zidan yang terlihat enggan lalu memandang mamanya yang langsung mengangguk mencoba meyakinkan Zidan untuk mendekati ayahnya.


"Tangannya mana?" Zidan sudah ketakutan kayanya takut dipukul ayahnya.


"Mana tangannya?" ulang kak Hanif tegas tapi tidak kasar. Dengan ragu Zidan mengacungkan tangan kiri.


"Tangan kanan!" perintah kak Hanif dan Zidan mengacungkan tangan kanan.


"Adek minta maaf ke kakak....!" perintahnya lagi. Zidan kembali memandang mamanya seperti meminta persetujuan. Menurutku anak ini nurutnya ke mamanya dan takut sama ayahnya.


"Adek kan salah sama kakak jadi harus minta maaf." kak Latifa tidak kalah tegas,aku salah ternyata Zidan meminta dibela dan akhirnya Zidan meminta maaf pada kakaknya.


"Akak....adee maaf...." Zidan meminta maaf semampunya karena usianya yang masih kecil,belum bisa berkata dengan baik dan benar.

__ADS_1


"Kakak.....tolong yah maafin adek!" pinta ayahnya tulus dengan muka memelas. Maira terdiam sebentar lalu mengangguk.


"Iyah....kakak maafin tapi jangan diulangi yah...!" Maira memeluk Zidan dengan sayang. Ajaran yang bagus sih kata aku tapi sayangnya tidak berlaku untuk ibunya dan aku. Ini nih yang sering diabaikan,mengajarkan anak-anaknya untuk bersikap baik tapi orangtuanya malah tidak melakukannya.


Kedua anak itu kembali bermain bersama dan tampak sangat senang berbagi mainan.


"Mama mau telepon Mita,sibuk gak ya dia?" ucap mama sambil melirik ke arah ku. Mama seakan tahu arti diamku.


Setelah beberapa saat telepon tersambung,terpampang dirinya dengan muka kuyu terlihat lelah.


"Assalamu alaikum....."


"Walaikum salam...." balas kami serentak. Dia masih belum fokus,pandangannya tertunduk ke bawah seperti sedang mencari sesuatu.


Pengennya langsung bicara tapi aku tahan,biar mama yang bicara dan aku cukup mendengarkan.


"Lagi apa sayang?"


"Hah....!" dia mengangkat pandangan.


"Maaf....ini lagi nyari kancing tadi ngegelinding ke bawah meja."


"Malam-malam begini?"


"Iya....mumpung ada waktu." jawabnya berusaha tersenyum lebar tapi namanya lagi capek jadi aja senyum capek.


"Ada yang bisa dibantu buat besok?" dia kaya yang mikir.


"Kayanya belum deh Bu.....nanti aja pas pindahan. Ini masih sibuk ngepak barang yang mau dibawa." dia masih manggil mama dengan sebutan ibu.


"Lha katanya Bu Indah sudah ada yang dianter ke rumah baru...." dia tersenyum lagi.


"Tadi itu yang besar-besar Bu.....lemari dan perkakas dapur." mama mengangguk-angguk paham.


"Capek yah?"


"Alhamdulillah bisa ngerasain capek." mama terlihat bingung. Aku yakin jawabannya bakalan beda. Mama mengerutkan dahi.


"Insya Allah tanpa ngerasain capek kita tidak akan tahu rasanya badan enak yang kaya gimana." betul kan apa ku bilang. Mama masih loading,aku tertawa.


"Maksudnya Ma.....kaya sakit rasanya tidak enak kan Ma?" aku mencoba menjelaskan dan mama mengangguk paham.


"Beda kan kalau sehat.....enak mana?"

__ADS_1


"Ah iya.....maklum sudah uzur suka gak paham....ehehehe....." aku jadi ikut tertawa.


Dan malam ini hanya diisi percakapan ringan tapi membuatku lega. Mengetahui dia baik-baik saja aku sudah bahagia dan ku lihat dia menikmati percakapan ringan ini,tampak mukanya yang lebih ceria tidak sekuyu tadi.


__ADS_2